Kapten Tampan Milik Perawat Cantik

Kapten Tampan Milik Perawat Cantik
Chapter 8 Kelakuan Tuan Max


__ADS_3

Kesokan harinya, Nadine dan seluruh anggota rumah mewah itu dibangunkan oleh suara keributan, semua keluar dari kamar maisng-masing untuk melihat apa yang sedang terjadi, dan semua terkejut melihat Tuan Max sudah stand by di meja makan padahal ini masih pagi sekali.


"Loh, kamu ini sedang apa, kamu mau makan, ini masih jam enam pagi, dasar memang tidak tau aturan ini, sudahlah yah, ini terlalu pagi untuk sarapan" seru Eva kesal melihat tingkah Tuan Max yang semakin menjadi semenjak kedatangan Nadine.


"Ayah, ini terlalu pagi, kami semua baru saja bangun, belum juga bersiap-siap, kami bersiap-siap dulu ya" ucap chaow dengan lembut, berharap ahti sang ayah luluh atas bujukannya.


"Tidak! mulai hari ini kalian harus bangun pagi, dan kamu Nadine, sebagai menantu yang baru, kamu harus menunjukkan skill mu, apa yang kamu bisa berikan dan apa yang kamu ketahui tentang masakan, saya mau besok pagi kamu membuat sarapan pagi untuk kita semua" ucap Tuan Max dengan wajah sinis dan penuh kelicikan, ia sengaja mempermalukan Nadine di depan semua anggota keluarga, medengar ucapan tuan Max, semua anggota keluarga hanya terdiam, tidak ada yang berani melawannya.


"Ayah, Nadine ini pintar sekali kalau memasak, selama di desa, semua warga desa memuji nya  selain kecantikannya, ia juga sangat pintar memasak dan memikat hati para lelaki, tetapi untungnya Chaow lah pemenangnya" ucap chaow dengan suara keras agar semua anggota dengar.


"Wahhh bagus sekali, besok kita bisa belajar masak dari ipar bungsu" sambung Diana dengan sumringah


"Iya benar, kamu mau kan mengajariku juga, supaya Andrew semakin sayang sama ku" timpal Syarla memelas.


Mendengar semua basa-basi di hadapannya, tuan Max semakin muak karena semua anggota keluarga memujinya, "Ahhh! sudah, sudah, pokoknya besok kamu harus masak dan ready jam enam pagi!" tegas tuan Max lalu pergi dengan ekspresi yang kesal.


"sayang, kamu tenang saja, besok suamimu ini akan membantumu" goda Chaow di depan semua orang.


Mendengar perkataan Chaow yang menggelikan telinga Nadine, ia menginjak kaki Chaow agar berhenti menggodanya.


"Wahh, bagus kalau begitu, kalian berdua harus bekerja sama untuk meluluhkan hati ayah, ibu senang melihatnya" timpal Eva bahagia kemudian dianggukan yang lainnya seolah-olah mendukung.


"Apa ayahmu tidak ada kerjaan lain, selain mengganggu kehidupanku? meskipun misimu nanti selesai, apa wanita yang akan menjadi istrimu kuat menghadapi ayah yang keras kepala seperti itu?" tutur Nadine dengan kesal.


"Sudahlah Din, kamu sabar dulu ya, dan aku minta maaf atas perlakuan ayah terhadap kamu, aku janji akan selalu ada disaat ayah menyerang kamu" ungkap Chaow dengan serius.

__ADS_1


"Tapi kamu harus janji, kalau ayah kamu bisa baik sama aku, aku ngga kuat kalau begini setiap hari, yang ada aku bisa spot jantung menghadapinya, satu lagi, kapan aku bisa mendaftar kuliah?" tanya Nadine penuh harap.


"Kapan kamu mau, tapi, aku tidak bisa mengantarmu untuk mendaftar, nanti aku suruh supir saja ya mengantarmu".


"Eee, tidak perlu, tidak perlu, aku naik taxi saja, sekalian aku mau mengenali setiap jalanan di kota ini, kalau begitu nanti siang aku pergi ya.


"Iya".


Setelah kepergian Tuan Max beserta anak-anaknya ke kantor, Nadine bisa bernafas lega untuk sementara di rumah, pagi itu ia melihat asisten rumah tangga yang sedang memijat kepalanya seperti sedang kesakitan, tanpa pikir panjang lagi, Nadine menghampirinya, "Bu, kenapa, apa ada yang sakit?" tanya Nadine.


"Eh non Nadine, saya hanya seidkit pusing saja None, sepertinya kurang minum, ditambah lagi cuaca beberapa hari ini sangat panas" jawab sang art.


"Kalau gitu, Nadine ambil alat dulu ya keatas, biar bibi saya periksa dulu, daripada nanti kenapa-napa" kata Nadine segera pergi ke kamarnya untuk membawa alat-alat kesehatannya yang biasa ia gunakan saat memeriksa pasiennya.


"Wah, non Nadine sangat pintar ya, tidak sia-sia tuan muda Chaow meminang non sebagai istrinya" puji sang art.


Melihat Nadine yang sedang ngobrol serius dengan sang asisten, membuat Eva penasaran dan menghampiri mereka berdua, "Ada apa ini, kelihatannya serius sekali" seru Eva berjalan ke arah mereka berdua.


"Eeeee, ini nyonya, non Nadine barusan memeriksa saya, katanya saya tensinya tinggi" gumam asisten


"Aduhh, kok bisa bi, makanya bibi jaga makanan ya, mulai dari sekarang di perhatikan, sudah sana bibi istirahat saja dulu di kamar" perintah Eva, sang asisten bergegas pergi untuk istirahat seperti yang nyonya besarnya perintahkan.


"Makasih ya nak, kamu sudah membantunya, ibu senang jika ada orang yang memiliki rasa empati yang tinggi seperti kamu, Chaow sangat beruntung" tutur Eva dengan lembut sambil mengusap rambut Nadine.


Kejadian ini di saksikan langsung oleh Syarla sebagai menantu tertua di rumah itu, ia tersenyum melihat kedekatan Eva dengan Nadine, lalu pergi dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak.

__ADS_1


Siangnya, Nadine sudah beriap-siap untuk mendaftarkan kuliah di universitas yang tidak jauh dari rumah mertuanya, ia pergi naik taxi ke sana, sesampainya disana ia segera ke ruang pendaftaran dan mengisi beberapa formulir pendaftaran, setelah selesai ia melakukan registrasi pembayaran untuk tahap awal sebagai mahasiswa kedokteran, karena ia tidak memiliki uang sebesar tagihan yang harus dibayar, ia menelpon Chaow untuk membayarnya.


"Halo, kamu sedang apa, kamu sedang sibuk bekerja atau santai?" tanya Nadine pelan.


"Kenapa, kamu merindukan aku?" jawab Chaow menggodanya.


"Aku sedang serius, aku sudah berada di ruang pendaftaran dan harus membayar registrasi awal, aku kiirm tagihannya ya" ucap Nadine.


"Iya kirim saja, setelah selesai kamu tunggu disana saja ya, aku jemput kamu pulang" ujar Chaow lalu mematikan panggilan telepon.


Nadine tidak memperdulikannya, ia dengan cepat memotret tagihan tersebut dan mengirimnya ke Chaow, dalam waktu sekejap Chaow sudah membayarnya ke rekening yang tertera di hasil tangkapan layar yang ia kirim.


"Semua sudah selesai ya bu Nadine, selamat bergabung di kampus ini" ucap bagian keuangan yang sudah menerima pembayaran.


"Iya terimakasih" jawab Nadine lalu keluar dari ruangan tersebut.


Saat ia keluar dari area kampus, ia sangat terkejut melihat Chaow yang sudah menunggunya di parkiran, Chaow berdiri teppat di depan mobilnya, banyak mahasiswi yang meliriknya seperti menaksir Chaow yang memang memiliki ketampanan yang bisa memikat semua wanita yang melihatnya.


"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Nadine bingung.


"Sepertinya aku akan setiap hari mengantar dan menjemputmu kesini, selain memudahkan kamu ke kampus, juga memudahkan aku bertemu wanita lainnya" timpal Chaow melemparkan senyum nakal kepada Nadine.


"Idih dasar, sudah ayo pulang" jawab Nadine.


"Kamu cantik juga kalau dandan seperti itu" .

__ADS_1


__ADS_2