Kasat Mata

Kasat Mata
cerpen


__ADS_3

mengabut... cerpen


seorang gadis kecil sedang bermain di sebuah taman bersama kakak laki-lakinya, gadis kecil itu bernama heejin dan nama sang kakak adalah hyunjin, mereka sedang asyik bermain dengan mainannya.


"heejin pulang yok,udah senja nih,nanti mama marah Lo",ucap hyunjin sambil membereskan mainnya.


"sebentar lagi aja kah",ucap sang adik heejin,


terlihat bahwa heejin sedang asyik bermain dengan mobil mobilan nya.


"ayok cepat heejin,nanti mamah marah",ucap hyunjin sambil menarik tangan heejin.


"ah baiklah",ucap sang adik pasrah.


mereka berdua pun pulang ke rumah,ditengah perjalanan.langit sudah berumah warna menjadi


orange,


"cepatlah heejin",ucap hyunjin, seperti dia takut,


"Iyah kak ini juga udah cepat kok",ucap sang adik heejin.


senja sudah berlalu,dan sekarang langit sudah menjadi hitam, mereka menelusuri jalan yang sepi,dan disisi jalan sebelah kanan adalah hutan,dan suasana saat itu juga sedikit berkabut dan juga suara burung hantu yang menghiasi malam, menambah kesan menakutkan.


"kak itu rumah apa yah",ucap heejin,heejin dan hyunjin berhenti disebuah rumah yang sangat besar,tapi keadaan rumah itu tidak terusurus,banyak tumbuhan liar yang tumbuh atap rumah tersebut,dan juga lumut yang menghiasi dinding rumah tersebut.


"gak tau heejin,keknya rumah itu gak ada penghuninya deh",ucap hyunjin sambil melihat kiri kanan.


"heejin sebaiknya kita pulang aja yok,kakak takut nih,mana disini sepi banget lagi",ucap hyunjin,bulu kuduk hyunjin seketika berdiri.


"kita masuk kedalam rumah itu aja yok kak", ucap heejin tanpa takut sedikitpun.


"pulang aja yok",ucap hyunjin sambil menarik tangan heejin untuk pulang.


"aish kakak nih,masuk bentar aja yok kak , please",ucap heejin memohon.


"gak ngak, pulang ayok",ucap hyunjin menyeret heejin untuk pulang.


dan akhirnya heejin pun pasrah, mereka berdua pun akhirnya sampai dirumah,dan terlihat mamah mereka yang sedang menunggu diluar.


"kalian dari mana aja sih,kok jam segini baru pulang",tanya mama yang kelihatan sangat panik.


"kalian main dimana sih", lanjut mama.


"kami main ditaman desa sebelah mah", ucap heejin jujur.


"kan mamah Udah pernah bilang sama kalian,kalau main jangan sampai lupa waktu,dan juga jangan jauh-jauh",ucap mamah."ayok masuk"lanjut mamah.


mereka pun masuk kedalam rumah.


hyunjin dan heejin pun makan terlebih dahulu,dan setelah makan mereka pun mandi.


dan setelah beberapa menit kemudian mereka berdua kembali keruang tamu dan duduk disofa.


"mah,heejin boleh nanya sesuai gak",ucap heejin.


"mau tanya apa emang",ucap mamah.


"rumah yang besar itu rumah siapa sih,dan kok gak ada penghuninya sih mah,kan kasian rumah Segede itu dikosongin",tanya heejin Kepada mama.


"rumah yang mana sih yang heejin maksud",tanya mamah.


"rumah besar yang didesa sebelah itu loh mah",kali ini hyunjin yang menjawab.


mamah pun terdiam sesaat,wajah mama terlihat takut dan cemas.


"kalian ingin jangan pernah masuk ke rumah itu oke",ucap mama.


"emangnya Kenapa mah",tanya heejin dan di angukin oleh hyunjin.


"rumah itu milik seorang wanita yang namanya kalau gak salah Lala,dia membangun rumah itu sekitar 10 tahun yang lalu",mamah pun bercerita soal rumah itu dan terlihat hyunjin dan heejin Sangat fokus mendengarkan nya.


jadi....10 tahun yang lalu ada seorang wanita yang membangun rumah itu, setelah rumah itu diselesai di bangun,Lala pun langsung pindah ke rumah barunya itu.


dan malam ini adalah malam pertama Lala.tinggal dirumahnya itu.


Lala sedang memasak didapurnya,dan tiba-tiba suara bel rumahnya berbunyi, dengan segera pun Lala pergi untuk melihat siapa yang bertamu malam-malam begini.


"ini buat nona",ucap seorang nenek yang membawa sebuah kota makanan,dan Lala pun menerimanya dengan senang hati dan mengaja nenek itu untuk masuk tapi nenek itu tidak mau,dan setelah itu nenek itu pun pergi begitu saja,dan Lala masuk kembali.


"wah enak banget keknya"ucap Lala sambil membuka kota makanan tersebut dan Lala pun pergi untuk mengambil piring,sendok dan juga air.beberapa menit kemudian Lala pun kembali dengan piring ,sendok da juga air ditanyakan.lala pun menuangkan makanan itu kedalam piring yang dibawanya dan memakannya,dan saat Lala sedang menikmati makanannya, tiba-tiba makan itu berubah menjadi belatung dan juga lintah,dengan segera Lala memuntahkannya,dan tiba-tiba ada sosok yang muncul dari belakang dan mencekik leher Lala, hingga tubuh Lala terangkat,dan sosok itu mengorek wajah Lala dengan kuku panjangnya,hingga wajah Lala berdarah,dan sosok tersebut memasukkan tangannya kedalam mulutnya Lala,hingga mulut Lala mengeluarkan darah,bukan hanya itu saja, makhluk itu mengambil pisau dan memotong satu persatu jari tangan Lala,dan makhluk itu menyayat tubuh Lala, makhluk itu seperti seperti melukis ditubuh Lala,dan hingga akhirnya Lala pun meninggal,dan makhluk itu mengambil alih tubuh Lala,hingga sampai saat ini arwah nya Lala ngentayangan.


"jadi kalian berdua jangan pernah masuk kerumah itu yah, kalian mengerti,rumah itu selalu mencari tumbal,terutama anak-anak seusianya kalian",ucap ibu memperingati heejin dan hyunjin.


"ih ngeri banget,hyunjin gak mau lagi lewat sana", ucap hyunjin merinding.


"heejin juga janji gak akan pernah kesana lagi",ucap heejin.


dan sampai saat itu heejin yang hyunjin tidak pernah lewat didepan itu, bahkan mereka tidak pernah pergi ketaman itu lagi,mereka takut jika arwah itu akan melakukan hal yang sama kepada mereka seperti Lala,.


cerpen lainnya


Malam itu aku dan kawanku ingin pergi ke dapur belakang untuk menyetrika baju-baju kami, bertepatan pada malam Senin pukul 23.00.


"lisapakain lu banyak gak yang harus disetrika",tanya Tania kepadaku.


"gak banyak kok Tan,cuma baju seragam sekolah,baju lai gak udah disetrika",ucap ku sambil terus berjalan menuju dapur.


sesampainya didapur,kami langsung menyiapkan tempat untuk menyetrika pakaian kami, setelah selesai menyiapkan tempat untuk menyetrika.kami pun mulai menyetrika baju-baju kami.


"Tan malam ini kek nya sepi banget yah, biasanya kan jam segini para santriwati pada jajan atau nyetrika,kan",ucapku sambil menyetrika seragam sekolah ku.


"Iyah Lisa,sepi.....kek ada yang aneh gitu",ucap Tania mengiyakan apa yang ku katakan.


tiba-tiba angin berhembus kencang menambah kan kesan mencegah kan,bulu kudukku tiba-tiba berdiri,jantungku berdebar kencang,entah kenapa rasa takutku tiba-tiba muncul, biasanya aku tidak terlalu takut dengan suasana seperti ini,tetapi kali ini berbeda seperti ada yang aneh.aku juga tidak ingin membicarakan hal tersebut,jika aku bilang kepada Tania,maka dia akan lari meninggalkan ku sendirian,aku pun memilih untuk diam.dan sampai akhirnya kami selesai menyetrika baju.


pukul menunjukkan pukul 01.00


suasana pesantren khusus santriwati sudah sepi,dan yang berada diluar cuma aku dan Tania saja sepertinya.


"Tan ayok cepat kembali ke bilek(kamar)",ucapku sambil membawa baju yang sudah kusetrika tadi.


"iyah-iyah",ucap tania.lalu kami pun pergi dengan terburu-buru ke dalam bilek(kamar). sesampainya dikamar.aku langsung memasukkan pakaiku kedalam lemari ku begitu juga dengan Tania setelah itu aku pun duduk diatas ranjangku.


"Tan gue tidur dulu yah",ucapku lalu masuk kedalam selimut ku.


Didalam satu bilek(kamar) Cuma ditempati oleh 4 santriwati,aku,Tania, Caca dan Risa,kami dibilang sama-sama penakut.


pukul 02.00


aku sedang tertidur pulas sampai seseorang membangunkan ku


"Lis temenin gue yok ke kamar mandi,gue kebelet pipis nih",ucap Risa sambil menggoyangkan tubuh ku.


"ahh ria,gue ngantuk banget,bangunin si Caca aja suruh dia tenun kamu",ucapku yang masih setengah sadar.


"aish Lis,gue udah coba ngebangunin mereka bertiga tapi gak ada yang bangun,lu kan tau mereka bertiga itu kebo, susah banget dibangunin",ucap Risa


"ayok lah Lis,gue udah gak tahan nih", lanjut Risa yang sudah kebelet gak ketulungan, terpaksa deh aku yang harus menemanin dia saat itu, jujur sih aku sangat malas.


didepan toilet.


Risa langsung masuk kedalam toilet,dan tinggallah aku seorang diri berjaga diluar pintu toilet.


"Jan lama-lama ris gue takut nih",ucap ku sambil melirik kanan dan kiri,gimana gak takut, keadaan bilek(kamar) sangat sepi,bahkan santriwati kamar yang lain tidak terlihat satu pun, Sangat aneh itu yang terpikir dalam kepalaku saat itu.


tiba-tiba terdengar suara yang sangat mengerikan,suaranya seperti ada seseorang yang lagi terseret,aku sangat ketakutan saat itu.


"Risa cepat gue takut nih",ucap ku sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi/toilet


"bentar", sahut Risa dari dalam kamar mandi/toilet.


tiba-tiba terdengar lagi suara benturan keras dan membuat ku semakin ketakutan.


"Ris cepetan",ucapku yang sudah ketakutan setengah mati,tubuhku bergetar hebat dan hampir tidak bisa berdiri.


"iya-iya,gue udah selesai kok",ucap Risa yang sudah sambil membuka pintu kamar mandi.


"R-ris apa itu di bebelakang lu", ucapku ketakutan sambil menunjuk ke arah Risa.


"apa sih lu,jangan nakut-nakutin Napa",ucap Risa yang mulai ketakutan.


"di belakang lu ada orang Ris",ucapku sambil menarik tangan Risa.

__ADS_1


Dengan cepat kami berlari meninggalkan kamar mandi tersebut, sesampainya di kamar kami,kami berdua langsung masuk kedalam selimut.


cerpen lainnya


Awal mula permainan takdir akan dimulai. Pagi hari dikediaman mewah milik keluarga Antariksa. Pria itu sedang berdiri di balkon kamarnya, menghirup udara malam di ibu kota malam itu. Untuk yang sekian kalinya laki-laki menghembuskan nafasnya kasar.


"Andai Lo masih disini Klara! Gue kangen, kangen banget sama senyum Lo, sama candaan Lo, sama semua tingkah konyol Lo."


"Gue kangen sama Lo." Lirik laki-laki itu di penghujung ucapnya.


Klara adalah tunangan Antariksa yang sudah tiada, gadis itu meningal akibat kanker jantung yang ia idab beberapa bulan terakhir.


Setelah kepergian Klara, Antariksa tidak pernah mendekati gadis manapun, ia takut jika ia akan jatuh cinta lagi, ia takut akan rasa kehilangan untuk kesekian kalinya, ia sangat takut akan hal itu.


"Hufttt." Antariksa menghembuskan nafasnya lalu mengusap wajah tampan kasar.


Angin malam itu sangat kencang, suara gemuruh juga mulai terdengar jelas dipendengaran Antariksa, dan dengan inisiatif nya Antariksa berjalan masuk kedalam kamarnya lalu menutup pintu balkon kamar nya.


Laki-laki itu merebahkan tubuhnya diatas kasur black size miliknya, Antariksa menutup wajahnya mengunakan lengan kekar nya.


Ting~


Ponsel milik Antariksa berdering menandakan ada notif, dan dengan segara Antariksa mengambil ponselnya dan mengecek siapa yang mengirim pesan untuknya malam-malam begini. Ia membuka aplikasi berwarna hijau dengan lambang telefon didepannya atau disebut WhatsApp


...*Dimas bego*...


|P


| Woi


|Dibaca doang, balas goblok


^^^Apaan?|^^^


|Besok ikut gak kumpul nya?


^^^Hm|^^^


|Hm?! Hm apaan? Jadi ikut kagak?


^^^Ikut|^^^


|Nah gitu dong, di jawab, bukan hm HM mulu, males gue denger nya.


^^^Lo baca goblok!!!|^^^


^^^Bukan denger|^^^


|Sama aja.


^^^Read|^^^


Antariksa meletakkan ponselnya di atas meja disebelah ranjangnya. Laki-laki itu kembali memejamkan matanya, merasakan ketenangan malam dikamar nya.


Baru saja ia akan tertidur, tiba-tiba ada yang mengedor-ngedor pintu kamarnya, dan dengan terpaksa laki-laki itu kembali membuka matanya.


Tokkk~


Tokkk~


Tokkkk~


"Ck siapa sih nge-gangu orang tidur aja." Antariksa berdecak kesal karena suara ketukan pintu itu terus keras, dan mau tidak mau ia pun pergi untuk membuka nya.


Ceklek


Pintu kamar sudah terbuka lebar, dan terpampang lah seorang gadis kecil yang membawa bantal dipeluknya.


"Bintang!!!" Seru Antariksa saat melihat gadis kecil yang baru saja ia sebutkan namanya Bintang putri langit .


Antariksa berjongkok didepan gadis itu, mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan sang gadis.


"Kamu ngapain hm? Belum tidur." Tanya Antariksa sambil mengelus sayang kepada gadis kecil bernama Bintang itu. Dan gadis yang ditanya pun hanya menggeleng memberi jawaban pada Antariksa. Laki-laki itu mengembuskan napas panjang lalu menatap bola mata bulat milik Bintang.


"Kenapa gak tidur? Ini udah malam loh!"-Antariksa.


"Mau tidur sama Abang." Jawab Bintang dengan raut wajah polosnya itu. Laki-laki didepannya hanya tersenyum mendengar jawaban sang adik. Yah Bintang adalah adik semata wayang nya Antariksa.


"Mau tidur sama Abang yah?! Ayok kalau gitu!" Antariksa mengedong sang adik lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya.


Setelah itu Antariksa pun ikut naik keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya.


"Tidur cantik." Ucap lembut Antariksa saat ia melihat bintang masih membuka matanya.


Gadis itu melihat kearah sang Abang lalu tersenyum, ia memeluk tubuh besar milik sang Abang lalu tertidur.


Seperti yang dibilang Antariksa tadi malam, hari ini ia akan berkumpul bersama sahabat-sahabat nya.


Sekarang laki-laki itu sedang mengepang rambut Bintang.


"Udah selesai!!!" Seru Antariksa sambil melihat kepangan hasil karyanya.


"Makasih Abang." Ucap gadis bernama bintang sambil menyuguhi senyum manisnya. Antariksa dapat melihat senyum manis sang adik dari pantulan cermin meja rias.


"Udah ayok berangkat." Ajak Antariksa lalu mengandeng tangan sang adik.


Mereka berjalan meninggalkan kediaman mewahnya.


"Kita naik motor ?" Tanya Bintang saat melihat motor besar sang Abang yang sudah terparkir didepan rumah.


"Iya, gak apa-apa kan.?" Tanya Antariksa balik.


Gadis itu hanya mengangguk menjawabnya.


Antariksa membantu Bintang untuk naik ke jok motor besarnya itu, didepan tepat nya, setelah itu laki-laki juga ikut naik keatas jok motor nya, tentunya ia memakai helm.


"Kita berangkat." Ucap bintang penuh semangat ketika motor milik Antariksa melaju membelah jalanan ibu kota.


Diperjalanan Bintang  hanya bersenandung gembira, Antariksa tidak dapat mendengarkannya karena ia memakai helm dan juga suara kendaraan lainnya yang membuat ia mendadak tuli^^


Motor besar milik Antariksa berhenti di sebuah Caffe. Ia memarkirkan motornya ditempat parkir Caffe.


Antariksa dan Bintang pun masuk kedalam caffe itu.


"Kak Dimas." Sapa Bintang saat melihat Dimas disalah satu meja.


"Aaaa Bintang."  Dimas langsung memeluk Bintang dan membawanya duduk dipangkuan nya.


Antariksa duduk disalah satu kursi.


"Lama bener lu rik." Ucap salah satu dari empat laki-laki yang bersama Dimas, namanya Aslan.


"Sorry Lan, tadi gue urusin Bintang dulu."-Antariksa.


"Hmm."-Aslan.


"Ouh ya rik!!" Panggil Bima yang merupakan salah-satu teman dari Antariksa.


"Apa Bim?" Tanya Antariksa.


"Lo mau nyari kerja?" Tanya Bima dan dianggukin oleh Antariksa.


"Lah perusahaan bokap Lo bangkrut?" Kini giliran Riki yang bertanya.


"Gak." Jawab Antariksa singkat padat plus jelas.


"Lah terus? Lo ngapain kerja kalau perusahaan Lo aja lagi ngangur." Aslan ikut-ikutan kepo.


"Gue gak tertarik di bidang kantor-kantoran."-Antariksa.


"Lah Lo Rik, udah ada jalan yang gampang malah nyari jalan yang susah, gak habis pikir gue Ama Lo Rik." Bima mengelengkan kepalanya, ia bingung dengan jalan pikir Antarik yang cukup membagokkan menurutnya.


"Gue kagak mau bertergantugan sama bokap gue." Ucap Antarik.


"Kan dia juga sekarang udah punya keluarga baru, dan sekarang gue juga punya tanggung jawab untuk jaga Bintang, gue gak mau adek gue kekurangan kebutuhan." Lanjut Antarik, ah sebenernya tanpa ia bekerja pun adiknya juga tidak akan mati kelaparan atau sebagainya karena ayahnya masih mentransfer uang untuk mereka sebulan sekali, dan uang yang dikirim pun bukan main-main, ayah Antarik akan mengirim 50 juta setiap bulannya. Yah walaupun Ayah Antarik sudah memiliki keluarga baru, tapi dia masih bertanggung jawab akan kebutuhan anak-anaknya.


"Halah Lo Rik." Kesal Bima.


"Woi jangan pada nge-bacod, pesenin makanan and minuman gih, gue sama princess laper nih." Keempat pria yang sedang tapi sibuk ngerumpi sekarang mereka mengalihkan perhatian kepada seseorang laki-laki sedang memangku Bintang, yah siapa lagi kalau bukan Dimas.


"Cepan, malah ngelihat gue, gue tau kok gue ganteng." Ucap Dimas kepedean.


"Cik, buluk gitu dibilang ganteng." Ketus Riki.

__ADS_1


"Anek anjir gue dengernya, mana si Dimas ngomong nya pede banget lagi hahaha." Ucapan Riki dilanjutkan oleh Aslan dan mendapatkan gelak tawa dari ketiga temannya.


Mereka sudah selesai makan dan minum, tapi mereka berenam masih duduk anteng di cafe itu. Disana terlihat hening, tidak ada yang berbicara termaksud Bintang, gadis kecil itu sudah tertidur pulas diatas pangkuan Dimas.


"Ekhmm." Deheman Aslan berhasil memecahkan keheningan diantara mereka berlima.


"Eh!!!" Seru Antariksa lalu bangkit dari duduknya, keempat temannya melihat heran kearahnya sambil mengerutkan keningnya.


"Kenapa Lo?" Tanya Bima.


"Gue pulang dulu yah." Pamit Antariksa sambil mengambil alih Bintang yang tertidur dipangkuan Dimas.


"Lo yakin mau pulang? Dan dengan Bintang yang ketiduran gitu?" Tanya Aslan dan mendapatkan anggukan kepala dari sang empunya.


"Pakek apaan Lo kesini?"-Riki.


"Motor?" Lanjut Riki dan dianggukin oleh Antarik.


"Lo bawa motor nya jangan ngebut-ngebut, awas aja kalau sampai princess gue Kenapa." Ancam Dimas.


"Yakali gue mau nyelakai adek gue sendiri." Ketus Antariksa.


"Gilak Lo." Lanjut Antariksa sedikit gak nyatai.


"Ck, gak usah ngegas kali." Semprot Dimas.


"Lo nya sih!!" Kesal Antariksa. Laki-laki itu sudah mengendong Bintang dan sudah siap untuk pulang.


"Yaudah gue balik dulu." Pamit Antariksa sambil beranjak meninggalkan meja tersebut.


"Hati-hati."-Riki, Bima, Dimas.


Antariksa sudah menghilang dari pandangan keempat sahabatnya itu.


"Woi Lo pada tau gak!!!" -Bima.


"Gak." Jawab Aslan.


" Yak kan belom gue kasih tau." Kesal Bima.


"Makanya cepat kasih tau." Ketus Aslan.


"Jangan terlalu bertele-tele." Riki ikut-ikutan nyemprot Bima.


"Iya tuh, suka banget bertele-tele." Dimas juga ikut-ikutan memojokkan Bima.


"Cih kok gue malah di pojokin gue sih." Bima ngegas.


"Makanya cepat, gue mau pulang neh." Aslan udah bangkit dari duduknya dan siap-siap untuk pulang namun ditahan oleh ucapan yang dikatakan Bima.


"Kemaren gue ngelihat cewe yang mau bunuh diri di jembatan." Ucap Bima menceritakan apa yang dia lihat kemarin.


"Lah trus apa hubungannya sama kita tuh cewe mau bunuh diri." Tanya Riki sewot.


"Cih Lo tau gak siapa tuh cewek?" Tanya Bima pada ketiga laki-laki yang  duduk bersamanya.


"Kagak! Lo gak kasih tau, kan Lo gak ngasih tau." Jawab polos Dimas.


"KANAYA COKK, KANAYA, LO INGAT KAGAK?" Teriak Bima dan membuat ketika laki-laki yang tengah duduk itu terpental kaget.


"ANJING LO, GAK BISA YAK NGOMONG GAK USAH TERIAK-TERIAK." Kesal Dimas yang ikutan teriak namun dia gak sadar.


Plakkk


Satu pukulan berhasil mengenai bahu lebar Dimas dan membuat laki-laki yang dipukul itu meringis, yah pasalnya bahunya terasa perih panas disaat yang bersamaan.


"ANJIR LO RIK, SAKIT BANGSATD." Teriak Dimas saat dipukul Riki.


"gak usah teriak-teriak bisa?" Tanya Aslan yang sudah sangat kesal Hingga ke ubun-ubun, gimana gak kesel kalau sekarang menjadi pusat perhatian para pengunjung caffe lainnya.


"Lanjut, Lo bilang Kanaya tadi, Kanaya mana?" Tanya Riki.


Sementara Dimas masih meringis sambil mengelus bahunya yang masih terasa panas.


"Kanaya putri Fernando, Queen School dulu." Bima lanjut cerita dan dengan ekspresi wajah yang dibuatnya.


"Kanaya gadis paling cantik dulu tapi Pendiam itu?" Tanya Riki dan dianggukin oleh Bima.


"Gue ngeliat dia kasian banget, yah pasalnya rambutnya itu rambutnya itu kayak di gunting asal-asalan gitu, trus wajahnya memar-memar gitu, kek habis dipukul gitu."-Bima.


"Kdrt?" Tanya Dimas.


"KDRT KALIK." Teriak ketiga sahabatnya yang usah kesal sama Dimas, sedangkan Dimas yang diteriakin malah nyengir.


[Untung ganteng, tapi begok]


Setelah menyelesaikan ceritanya mereka berempat memutuskan untuk pulang, pasalnya udah hampir malem


Sementara dikediaman mewah milik Antariksa, laki-laki itu nampak sedang menyiapkan makan malam untuk sang kesayangannya 'Bintang' tentunya.


"Wihhh enak nih kayaknya." Ucap bintang disaat melihat hasil masakan sang Abang . Laki-laki itu hanya tersenyum hangat kearah Bintang.


"Dimakan, jangan diliatin aja." Tegur Antariksa saat melihat bintang yang tak kunjung memakan makanan.


"Kak!" Lirih Bintang.


"Iya?"-Antariksa.


"Jadi kangen Mama, mama apa kabar yah sekarang, pasti mama udah bahagia yah kan di surga, Bintang harap mama bahagia disana." Kata-kata itulah berhasil lolos dari mulut kecil Bintang, sedangkan Antariksa hanya membeku mendengarkan penuturan sang adik semata wayang nya itu.


Antariksa mengembangkan senyum manis di wajah tampan nya itu.


"Cepat makan, nanti keburu dingin makanan nya." Suruh Antariksa dan mendapatkan anggukan kepala dari Bintang.


Setelah makan malam selesai, kedua kakak beradik itu sedang berada di ruang tamu sekarang.


ANTARIKSA nampak sedang sibuk bergulat dengan laptopnya, sedangkan Bintang sibuk dengan TV dan juga cemilan ditangannya.


"Abang besok kuliah?" Tanya Bintang berhasil mengalihkan pandangannya Antariksa.


Laki-laki itu tersenyum lalu mengangguk.


"Gak apa-apa kan kalau besok Abang tinggal?" Antariksa sedikit tidak tega jika harus meninggalkan  Bintang sendiri dirumah, dan lagi ia khawatir jika harus meninggalkan bocah 4 tahun itu dirumah sendirian.


"Hm ikut Abang aja besok ke kampus mau gak?" Lanjut Antariksa.


"Gak ah, mending Bintang dirumah dari pada ikutan kekampus sama Abang, dan lagi bintang gak suka sama kakak badut itu." Tutur bintang.


Antariksa mengerutkan keningnya, ia tidak tahu KAKAK BADUT yang dimaksud adiknya itu.


"Kakak badut?" Tanya Antariksa pada sang adik.


"Iya kakak badut itu loh, yang pakek bedak 2cm, dan yang pakek  lipstik tebal itu loh, dan kakak itu pakek baju yang kurang bahan itu."


"Elsy?"


Bintang mengangkat bahunya, pasalnya dia tidak tahu nama cewek yang ia maksud, ia cuma mengenal wajahnya saja, untuk namanya Bintang sih gak peduli, tok gak guna juga buat dia.


Antariksa nampak sedang berpikir keras, apa yang harus ia lakukan, ia khawatir jika ia meninggal Bintang sendirian besok, jika dia menitipkan bintang pada orang lain, maka siapa orang itu? Pasalnya Antariksa tidak mempunyai saudara disana, sama sekali tidak mempunyai saudara, keluarga Mama nya semuanya di Bandung dan keluarga papanya berada di Surabaya, dan sekarang mereka tidak di Jakarta. Ah ini pening.


ANTARIKSA nampak mengurut pelipisnya serayan berpikir keras.


Sedangkan bintang yang merasakannya hanya bisa merasa bersalah karena sering kali membuat sang kakak laki-lakinya repot dengan kehadiran dirinya.


"Bang bintang bisa tinggal sendirian dirumah kok, Abang kekampus aja beso-" ucapan bintang terpotong disaat ANTARIKSA tersenyum senang, seperti laki-laki itu mempunyai ide.


"Abang tau sekarang?!" Bintang nampak mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti yang dibilang orang abangnya itu.


"Abang tau apa?" Tanya polos bintang pada sang kakak laki-lakinya.


"Kamu besok ditemenin sama kak Ray yah." Ucap Antariksa dan kembali membuat sang adik menaikan sebelah alisnya bingung, siapa kak Ray yang dimaksud kakaknya itu.


"Kak Ray? Siapa tuh?" Tanya Bintang.


"Kak Rayana." Ucap ANTARIKSA dan dibalas anggukan kepala dari Bintang.


"Bilang dong ka Yana, kan bintang gak bingung." Bintang memutar bola matanya.


"Kan sama juga, Ray, rayana."


"Bedah lah kak."


"Beda apanya?"

__ADS_1


"Ray itu kan sama laki-laki, kalau Yana kan perempuan." Kesal sang gadis kecil itu karena sendarin tadi sang kakak tak ingin mengalah darinya.


__ADS_2