Kasat Mata

Kasat Mata
kuliah


__ADS_3

Pagi ini Riana ada jadwal kampus pagi, jadi dengan segera dia bersiap-siap, memakai pakaiannya dan tak lupa memoles sedikit wajahnya dengan bedak, setelah itu Riana segera menyambar tasnya lalu melangkah keluar dari kosan nya, mengeluarkan motor matic nya lalu naik keatas jok motor, tak lupa dia memakai helm hitam


milik, Riana langsung tancap gas menuju universitas tempat nya menuntut ilmu selamat dua tahun terakhir ini.


Riana barusaja memasuki parkiran  kampus , segera dilepas dilepas nya helm lalu meletakkannya diatas jok motor bagian belakang. Baru saja Riana ingin melangkah pergi, tiba-tiba muncul sosok nenek-nenek di pojok parkiran


"Astagfirullah alazim." Kaget Riana sambil mengelus dadanya.


"Nek jangan ngangu Riana dulu yah, Riana udah telat nih, hari ini jam pelajaran pertama di ajarin sama dosen killer, kalau telat Riana bakalan di hukum." Ujar Riana pada hantu nenek-nenek yang masih setia ditempatnya tadi.


"Sampai jumpa(moga gak ketemu lagi) nek, assalamualaikum Riana pergi dulu." Ucap Riana meninggalkan area parkir kampus.


Riana menghentikan langkahnya di depan kelasnya, dia langsung melangkah masuk kedalam kelas, untung saja gurunya belum tiba. Riana mendudukkan tubuhnya ditempat duduknya, disebelahnya terlihat Andre—teman satu sekolahnya dulu.


"Woi Dre bangun woi." Riana menepuk bahu Andre, Andre terlihat tak menggubris dia seperti bergadang seperti biasanya.

__ADS_1


"Dre hari ini pak Budi dosen killer loh yang ngajar, kalau dia lihat kamu tidur gini pasti disuruh keliling lapangan plus disuruh bersihin toilet bawah tangga darurat, emang kamu mau bersihin toilet angker itu Dre?" Riana berbisik pada Andre yang masih setia berada di alam mimpinya itu.


Mendengarkan nama pak Budi disebut-sebut, Andre langsung membuka matanya lebar, lalu memperbaiki posisinya.


"Beneran pak Budi yang ngajar?" Tanya Andre sambil mengusap wajahnya yang terlihat dilanda kantuk berat.


Riana menganguk lalu berujar


"Iyah Loh, emang gak liat grup semalam?" Tanya Riana sambil mengeluarkan buku-buku tebal nya dari dalam tas.


"Dre...Dre...aku tahu kamu bandel tapi untuk sekarang jangan lagi, kamu itu udah besar Dre, umurmu udah 20 tahun loh bukan remaja SMA lagi, jadi aku mohon jangan bertiga seperti ABG lah." Ujar Riana pada sahabat satu SMP-SMA itu. Andre hanya mengaruk kepalanya yang tak gatal itu sambil menyengir. Pengen sekali Riana tonjok tuh anak satu, kalau di nasehatin bukan nya di dengarin tapi malah cengengesan gak jelas.


"Aku nya sih pengen berubah tapi yah gak semuda membalikkan telapak tangan Riana." Ujar Andre


"Iya-iya gak semudah membalikkan telapak tangan, bilang aja

__ADS_1


kamu nya yang tak mau berubah." Sindir Riana..


Beberapa saat kemudian, pak budi—dosen killer muncul di balik pintu. Pak Budi langsung membuka bukunya dan langsung membahas pelajar yang dipegangnya, yah begitulah guru killer satu itu, tak ada basa-basi dan langsung ke intinya.


Siang harinya, kelas sudah berakhir, Alisia dan Andre sedang makan siang di salah satu cafetaria yang ada di kampus. keduanya sedang fokus dengan makanan masing-masing, keheningan itu berakhir saat suara lirih Riana terdengar.


"Dre, kangen yah sama Febby."


"udah lama gak ketemu, kira-kira gimana keadaan dia di Kanada." lanjut Riana dengan nada sedihnya, Andre hanya sanggup mengangguk, dan sebenarnya dia juga merindukan sahabat terbar-bar nya itu, yah walaupun Andre dan Febby kalau dipertemukan selalu bertengkar.


"iya Na, kangen juga sama tuh anak, udah empat tahun loh kita gak ketemu sama dia, betah banget ngampus disana." lanjut Andre. Riana mengangguk.


Febby pergi ke Kanada setelah satu minggu lulus di SMA, dia dan keluarganya langsung pergi hari itu juga, dan mereka tak pernah lagi bertukar kabar sejak saat itu, mungkin Febby sibuk dengan urusan kuliah nya disana, begitu juga dengan Andre dan Riana ke-tiga sama-sama sibuk menyusun masa depan.


like komen

__ADS_1


__ADS_2