Kasat Mata

Kasat Mata
parkiran kampus


__ADS_3

Siang harinya, Riana baru saja menyelesaikan bidang studi terakhir di kampus, gadis itu barusaja datang ke parkiran, dirinya hendak memakai helm, namun terhenti disaat matanya menangkap sosok nenek-nenek kemarin yang dilihatnya. Riana memberanikan diri dan berjalan kearah nenek-nenek tua yang berdiri di pojok parkiran.


"Assalamualaikum." Riana memberi salam pada nenek-nenek itu, nenek-nenek berwajah pucat pasif itu tersenyum.


"nenek kenapa kok ada disini, apa nenek mau minta bantuan sesuatu sama Riana?" tanya Riana pada nenek itu, Nenek itu mengangguk tanpa berucap apapun, Riana kembali membuka pertanyaan


"nenek mau Riana bantu apa? kalau Riana bisa bantu Riana akan berusaha untuk membantu nenek." ujar tulus Riana.


"ndok bantu nenek pulang, nenek kangen sama cucu nenek, dia sendirian dirumah, dia gak tahu kalau nenek udah gak ada, jadi bantu nenek ndok" suara nenek-nenek itu membuat telinga Riana berdenyut keras, namun dengan sekuat tenaga Riana menahan rasa sakit itu, lalu mengangguk sambil tersenyum.


"nenek tinggal dimana?" tanya riana


"Jalan Seroja nomor 34." Riana mengangguk lalu berjalan menuju motornya, gadis itu memakai helm nya lalu melihat kearah pojok, tak ada lagi sosok nenek-nenek tadi, Riana melajukan motornya menuju alamat rumah yang telah diberitahu sang nenek-nenek tadi.


Motor matic Riana berhenti di depan sebuah rumah minimalis dengan desain sederhana. Riana turun dari atas jok motor nya, tak lupa juga dia melepaskan helm hitam yang dipakainya. Riana melangkahkan kakinya masuk keatas teras rumah itu, diketuknya pintu rumah itu.


"Assalamualaikum, permisi, ada orang dirumah?" Riana terus mengetuk pintu sembari memberi salam. cukup lama Riana mengetuk pintu, tak ada yang keluar hingga akhirnya gadis itu pasrah dan ingin pergi dari sana.


ceklek~


pintu itu terbuka dan menampakkan dua manusia, satu wanita berusia 30 tahun keatas dengan seorang anak kecil berusia 10 tahun disebelahnya.


"permisi, apa ini rumah Nenek Deli?" tanya sopan Riana. wanita itu mengangguk lalu berujar.


"iya bener mbak, ehm mbak ini siapa yah? kok tahu kalau rumah ini rumahnya Nek Deli?" ucap sang ibu-ibu itu.


"ehm itu mbak, apa anda cucu nya nenek Deli?" tanya Riana sopan.


"ah saya bukan cucu nek Deli, saya tetangganya nek Deli." ujar ibu-ibu tersebut, Riana mengangguk faham lalu berujar.

__ADS_1


"kalau boleh tahu dimana cucu nya nenek Deli? saya mau berbicara serius dengan nya." ujar Riana. ibu itu mengangguk lalu berujar.


"mari masuk, cucu nenek Deli ada didalam kamar." ibu dan Riana masuk ke dalam rumah itu. keduanya berjalan menuju sebuah kamar.


Langkah kedua berhenti di depan ranjang besi, diatas ranjang itu terdapat seorang pria muda yang sedang terbaring lemah dengan peralatan medis disekitar nya. Riana menutup mulutnya kaget. ibu-ibu yang tadi hanya menatap lesuh.


"begitu keadaan Dimas cucu nenek Deli." ujar ibu itu sedih. Riana hanya mampu mengangguk.


"kasihan dia, sekarang dia hanya sendirian, nenek yang sangat menyayangi nya juga telah pergi jauh, sejauh-jauhnya." batin Riana sedih.


"kalau boleh tahu, Dimas ini udah berapa lama yah Bu sakitnya?" tanya Riana sangat hati-hati.


"nak Dimas ini sudah sakit-sakitan sejak dua tahun terakhir, dan sejak itu nenek Deli lah yang merawatnya, dan orang tuanya juga sudah tiada saat dia kecil." ujar ibu itu, Riana hanya meng 'oh' sambil mengangguk.


"Bu, saya bilang sama ibu aja yah, mungkin hal ini kurang baik untuk didengar Dimas." ucap Riana, ibu itu mengangguk, lalu keduanya keluar dari kamar itu, menuju ruang tamu.


Riana dan ibu itu duduk di kursi di ruang tamu, Riana mengambilnya nafasnya lalu berujar


"maksud kamu apa nak?" tanya ibu itu tak percaya.


" Nek Deli sudah meninggal dua Minggu lalu, dan jenazah nya susah disemayamkan di TPU pondok aren." ujar Riana, ibu itu menggeleng-geleng tak percaya, dan sedetik kemudian buliran bening keluar dari matanya.


"kalau benar nek Deli udah gak ada, kamu anterin ibu ke makamnya." ucap ibu itu, Riana mengangguk setujuh.


"besok siang saya akan mengantar ibu ke makam nenek Deni." ibu itu mengangguk.


Malam harinya di kediaman Riana, gadis itu sedang sibuk makan mie instan yang dibuatnya tadi.


"Hm kasian banget yah cucu nya nenek Deli, udah sakit-sakitan, yatim piatu, sekarang malah ditinggali neneknya." seru Riana, mata gadis itu sibuk melihat televisi dan tangganya sibuk menyendok mie yang ada didalam mangkuk.

__ADS_1


Drittttttttttt~


Ponselnya Riana berdering menandakan ada panggilan masuk, langsung diambil mengambil ponselnya, Riana mengeser tombol hijau. panggilan telah tersambung.


"Halo, ini siapa yah?" ucap Riana.


hening, tak ada Jawaban dari sebelah, Riana mengerutkan keningnya heran, lalu kembali mengucapkan kata 'Halo'.


"ck gak ada kerjaan bener dah nih orang." kesal Riana, pasalnya orang yang menelfon nya tak kunjung mengatakan apapun.


"kalau gak penting saya matiin, ganggu orang aja ck." Riana ingin mematikan telfonnya hingga akhirnya orang diseberang telfon mengangkat suara.


"YAAAMPUN RIANA SAYANG, GUE KANGEN BANGET SAMA LU." telinga Riana hampir pecah saat teriakan melengking itu keluar dari ponsel.


"Anjir, telinga gue tuli." kesal Riana. orang diseberang telfon hanya menyengir menyadari kebodohannya tadi.


"ini siapa sih, gaje banget?!" tanya Riana dengan nada kesal.


"astaga, masa lu gak kenal suara gue lagi, mentang-mentang gue gak pernah hubungi Lo, Lo malah lupa sama suara sohib Lo yang cantik cetar membahana ini." ujar si penelpon Riana dengan nada di sedih-sedih kan. Riana terdiam sesat, kepalanya sedang Loading .


mata Riana membulat sempurna dan akhirnya kata-kata lengend nya keluar.


"INI LO FEB, BENERAN LO, KUTU KUPRET KESAYANGAN SI ANDRE." teriak Riana tak percaya.


"Riana ngapain Lo teriak-teriak si Asu, budek ini telinga gue." protes si penelpon yang diyakini Riana adalah sohib kesayangan nya, siapa lagi kalau bukan Febby.


keduanya sibuk berbicang-bincang hingga tengah malam, Riana meluapkan semua kekesalan pada sang sohib yang pergi tanpa pamit dulu padanya, kesal? jelas Riana sangat kesal, siapa sih yang gak kesal, kalau sohib nya pergi keluar negeri tanpa pamit, dan lagi tak ada kabar sama sekali, da. sekarang secara tiba-tiba si Febby menelfon nya.


senang, sedih, kesal, semuanya campur aduk.

__ADS_1


like komen vote favorit


__ADS_2