
Keesokan harinya, Tasya kembali datang ke tempat makan di dekat masjid, hanya saja kali ini ia datang tidak terlalu subuh, pukul 7 pagi. "Bu, mau pesen gudeg satu sama teh anget manis satu ya," ucap Tasya sambil duduk dan mengeluarkan ponselnya.
Tak berapa lama Ibu penjual pun mengantarkan pesanan Tasya dengan senyuman ramah. "Ini ya Mbak makanan sama minumannya," jawab Ibu tersebut dan kembali mengerjakan pesanan beberapa orang yang tengah mengantri.
Senyum Tasya sedikit mengembang saat mencium aroma masakan yang begitu menggoda perutnya, ia mengambil sendok dan saat Tasya akan menyuapkan makanannya sebuah suara berhasil menghentikan aksi Tasya, suara yang sepertinya pernah Tasya dengar dan membuat pandangannya melirik sedikit kearah sumber suara.
__ADS_1
"Assalamualaikum Bu, saya pesen yang seperti biasa ya," ucapnya dengan ramah, senyuman yang membingkai indah pada wajah tampan itu mungkin membuat semua orang langsung merasa sejuk. Dia adalah seorang laki-laki yang dikenal rendah hati, baik, ustadz muda, tampan, mapan dan tentunya berasal dari keluarga terhormat yang kental dalam agama. Dia adalah Azam, seorang laki-laki yang tak pernah lelah mengisi ceramah pagi dan disinilah tempat makan kesukaannya.
"Waalaikumsalam, eh ustadz Azam, boleh, silahkan duduk dulu," sahut sang penjual dengan sangat ramah.
Laki-laki bernama Azam pun mengangguk dengan pelan. "Baik Bu, terima kasih ya," ucapnya dengan lembut.
__ADS_1
Sedangkan Tasya, dalam pikirannya dia sudah mulai ingat akan laki-laki bernama Azam tadi, dia adalah orang yang kemarin subuh Tasya dengar kata-katanya, kata-kata yang membuat Tasya langsung berpikir jauh akan agama dan kehidupannya. Tasya berharap ada seseorang yang baik hati dan tulus mau melepaskan Tasya dari kehidupan yang gelap ini, memberikan Tasya ketenangan dan mendapatkan cahaya baru untuk Tasya tetap semangat dalam menjalani hidup, ia sudah muak dengan tarian dan tatapan mata pria di dalam club, tangan-tangan nakal yang selalu saja ada yang berani menyentuhnya tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu. "Aduh, kenapa ngehayal yang nggak mungkin sih!" desis Tasya sambil memukul kepalanya pelan, ia melihat jam di ponselnya dan kembali melanjutkan sarapannya. "Mending aku buru-buru makan, Mami bisa marah kalo keluar rumah lama-lama," gumam Tasya pelan.
Tanpa disadari Tasya, Azam yang duduk dibelakang Tasya pun memperhatikan gerak-gerik Tasya yang tampak berbincang sendiri dan entah mengapa senyuman Azam mengembang karena melihat hal itu. "Permisi Ustadz, ini Gudeg Ayamnya." Suara itu membuat fokus Azam teralihkan, ia mulai makan dengan tenang dan saat beberapa suapan masuk Azam melihat perempuan di depannya berdiri hendak membayar.
Kening Azam sedikit berkerut samar saat melihat perempuan itu tampak kebingungan, dia terlihat beberapa kali mengobrak-abrik tas kecilnya. "Nggak ada EDC atau scan ya Bu? Atau transfer bisa?"
__ADS_1
Seketika Azam berdiri dari duduknya, ia berjalan mendekati perempuan itu dan tersenyum pada Ibu penjual. "Biar saya yang bayar Bu, nanti gabung ke Bill ya," ucap Azam.