
Setelah kejadian itu Fadli semakin gencar mendekati Jasmine. Mau seberapa sering ia di kerjai atau di tolak mentah mentah oleh Jasmine, namun ia tetap bersikap lembut.
Hari ini pun sama malah lebih nyebelin, dia duduk di sebelah Jasmine setelah dengan lantangnya mengusir temanya sebelahnya.
"Mau apa lagi sih" tanya Jasmine yang sudah pusing dengan kelakuan yang pantang menyerah.
"Aku tau kamu masih benci sama aku karena sikap aku dulu ke kamu gimana" ucapnya dengan menatap lurus kedepan.
"Sudah tahu kenapa...." ucapannya terpotong oleh fadli yang sekarang menghadap ke arahnya.
"Karena aku nyesel dulu pernah bully kamu dan sekarang aku beneran sayang sama kamu" ucap Fadli menyakinkan.
'Sayang karena cantik benci karena jelek gitu maksudnya..?' ucap Jasmine dalam hati ketika ia mendengar pengakuan dari playboy di hadapannya.
Tidak ada jawaban apapun yang terlontar dari mulutnya. Ia melengos pergi tanpa peduli teriakan dari orang yang memanggilnya untuk duduk kembali.
Jasmin duduk di bangku kosong dekat jendela dan untunglah sebelum Fadli menyusulnya guru sudah datang memulai pelajaran.
.
.
.
.
.
.
Pulang sekolah
Dion melihat Jasmine sedang berdiri di pinggir jalan bersama kedua temanya yang bagaikan angka 10 itu dan berinisiatif mengajaknya pulang bareng.
"Jasmine pulang bareng yu.. " Ajak Dion dengan motor ninja yang ia kenakan.
"Gak makasih, udah ada yang jemput kok" ucapnya sambil sibuk mengotak ngatik ponsel di tangannya.
Lalu tak lama setelah itu sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka. Sang pemilik mobil itupun keluar ternyata dia adalah Rey, dia adalah teman seangkatan dengan mereka namun gayanya yang membedakan seperti bukan seorang anak sekolahan.
"Aku pulang duluan yah.. Dahh" ucap Jasmine sambil melambaikan tangan tanda perpisahan dan segera masuk kedalam mobil yang telah dibukakan pintunya oleh Rey.
__ADS_1
Kedua temannya itu pun balik melambaikan tangan mereka berbeda dengan Dion yang terlihat masam saat melihat ada yang menjemput Jasmine.
Jiwa Syarla yang tertular kejailan dari Jasmine pun keluar. Dengan PD nya ia menyanyikan lagu yang sedang Dion rasakan saat ini dengan suara pas pasan nya.
Jika menyakiti aku..
Bisa membuatmu bahagia..
Maka lakukanlah itu
Tanpamu ku yakin bisa
Ikhlas ku mencintaimu
TIDAK Ikhlas ku hilanganmu
Semoga kau kembali kepadaku
Karena.... ~
Sebelum melanjutkan nyanyian yang tidak jelas pengaransemenanya itu Putri segera menyela sahabatnya itu agar tidak mempermalukan dirinya sendiri.
Syarla tertawa saat melihat wajah cool Dion yang kalem kini berubah jadi merah.
"Diem lo bakpau" ucap Dion sambil memakai helm dengan kasar dan langsung meninggalkan mereka.
.
.
.
.
Sementara itu di sebuah tempat makan yang cukup ramai karena hari sudah mulai sore, Rey mengajak Jasmine makan bersamanya sebelum mengantarkannya pulang.
Setelah duduk di tempat dekat kaca yang mengarah ke ramainya jalanan mereka pun memanggil pelayanan dan memesan makanan. Setelah pelayan yang mencatat pesanannya pergi, Rey mulai membuka percakapannya.
"Jasmine kamu punya pacar gak..? " tanya Rey ragu ragu dengan menatap Jasmine yang tampak sedang sibuk berkomunikasi bersama temanya dengan ponsel yang di pegangnya di sebuah aplikasi.
"Enggak" ucapnya tanpa mengalihkan pandanganya.
__ADS_1
"Mau jadi pacar aku gak..? Aku janji bakal bahagiain kamu" ucap Rey dengan meraih sebelah tangan Jasmine dan itu berhasil mengalihkan pandanganya kepada orang di hadapanya.
"Gak mau" ucap Jasmine enteng sambil menarik kembali tangannya.
"Kenapa..? Emang ak.. " ucapan yang ia prediksi akan panjang lebar segera memotongnya dengan pernyataan yang tegas.
"Gak kenapa napa, gak mau aja.." ucapnya dengan tersenyum manis.
"Terus kamu kenapa mau aja di ajak sama aku..? Kan kamu udah tau kalau aku suka sama kamu seenggaknya tolak apa gimana kek biar gak kaya di kasih harapan kaya gini" tanya Rey panjang lebar pada Jasmine.
"Kan kamu yang ngajak makan terus ngomongnya mau traktir aku kan, rezeki gak boleh di tolak dosa" ucap Jasmine sambil mengambil piring yang berisi pesanannya di tangan pelayan yang mengantarkan pesanannya yang telah jadi itu. Tanpa basa basi lagi ia menyuapkan makanan itu ke mulutnya untuk mengisi perutnya yang kini sudah demo minta jatah.
"Dasar cewek murahan lo" satu kalimat yang membuat Jasmine berhenti makan dan langsung mengelap mulutnya sambil menatap tajam orang yang berkata seperti itu.
"Wanita murahan itu gak ada harganya, kalau gue wanita murahan mungkin sekarang lo dan temen temen lo itu gak bakal jadiin gue taruhan. Bener gak..? " ucap Jasmine sambil meletakkan tisu yang ia pakai tadi di sebelah piring makanannya.
Mendengar itu Rey tak percaya, dari mana Jasmine tau kalau dia jadi bahan taruhan ia dan teman temannya. Rey seakan jadi kelu untuk berbicara karena rencananya telah terbongkar sebelum mulai.
Jasmine yang tidak peduli pada reaksi lelaki tersebut langsung berdiri dan siap untuk pergi, namun baru ia membalikan badanya ia teringat sesuatu dan menoleh lagi pada Rey yang masih tengah menatap tak percaya ke arah Jasmine.
"Oh iya hampir aja lupa, Kalau lo berani macem macem lagi sama gue siap siap aja lo tunggu hadiahnya. Bukti lo taruhan ada sama gue jadi jangan macem macem ya tampan" ancam Jasmine dengan senyum licik yang melekat di bibirnya yang indah.
Setelah itu dia segera meninggalkan tempat itu dengan cepat dan pulang ke rumahnya dengan mengendarai taksi yang ia cegat tadi di depan resto.
'Semua sama aja, cuma fisik yang mereka lihat' gerutunya dalam hati sambil memerhatikan jalanan kota yang mulai padat saat menjelang malam.
Jasmine sudah tau kalau dia beberapa hari lalu di jadikan taruhan oleh teman teman Rey, ia tadi hanya mau memperingati Rey untuk berhenti melakukannya namun itu terlambat.
Ia tadi sibuk mengotak ngatik ponselnya karena sedang memeriksa bukti yang di kirim dari orang suruhannya yang berada di kelas Rey.
Meskipun ia baru mengenal Rey karena ia murid baru di sekolahnya yang cukup populer. Jasmine mengira mungkin Rey berbeda dari yang lain, ia mengira kebaikannya itu tulus tapi ternyata ia salah besar setelah mendengar ada berita tidak sedap menyangkut dirinya. Apalagi setelah Rey mengatainya cewe murahan itu sungguh menyakiti hatinya.
Hujan turun membasahi kota yang terasa udaranya panas dan membuat kesejukan pada orang orang.
Setelah sampai di depan rumah Jasmine segera membayar taksi tersebut, ia langsung keluar dan segera masuk kedalam rumah yang terlihat sudah ada dua mobil kakaknya yang sudah terparkir di garasi rumah.
---------------------------------
Terimakasih sudah mau mampir buat baca novel author.
Happy reading guys. (*'▽'*)♪
__ADS_1