Kelas Aneh!

Kelas Aneh!
Ch. 46 - Kesulitan Bernapas Part 2


__ADS_3

(POV Ota)


Setelah bis sampai, kami menaruh barang bawaan ke dalam penginapan. Kamar laki-laki lebih besar daripada perempuan, soalnya jumlah muridnya lebih banyak. Hoshi dan Shuu lari-larian di kamar, seperti anak TK yang sedang berada di taman hiburan. Erza tidak hentinya berkata 'Waah' setiap kali melihat sesuatu yang baru. Oh iya, Lemon tidak masuk ke kamar ini, Lemon tinggal di kamar perempuan. Lemon bilang dia takut kepada kami.


(Huh, mencari kesempatan dalam kesempitan)


"Baiklah teman-teman, kita istirahat selama 30 menit, setelah itu kita akan menyiapkan makan malam." Lev memberi instruksi.


Dalam perjalanan kali ini, Lev bertugas menjadi ketua perjalanan, soalnya dia asli orang Kyoto, dia akan menjadi Guide Kelas 1-F dalam acara kali ini.


"Ota, ayo kita berkeliling. Aku ingin lihat-lihat penginapan ini." Erza mengajakku.


"Ayo."


Aku dan Erza berkeliling penginapan ini, murid yang lain masih kelelahan karena baru sampai dari perjalanan. Penginapan ini lumayan besar, banyak turis lokal maupun asing yang menginap di tempat ini. Penginapan ini bergaya jadul, tinggal di tempat ini serasa kembali ke masa lalu.


Saat berjalan bersamaku, Erza melihat sesuatu.


"Waah..." Erza terpukau


"Za, gak usah lebay, itu cuma semut."


"Tapi, ini semut Jepang."


"Apa bedanya sama semut Indonesia?" tanyaku.


"Semut Indonesia gak ada di Jepang. Semut Jepang gak ada di Indonesia."


Aku terdiam, bingung.


(Iyain aja deh)


"Waah..." Erza terpukau lagi.


"Za, itu cuma batu."


"Ini bukan batu biasa, Ini batu Jepang!"


"Apa bedanya sama batu Indonesia?" tanyaku.


"Batu Indonesia gak ada di Jepang. Batu Jepang—"


"Iya, iya, aku ngerti," kataku, memotong perkataan Erza.


Erza hanya tersenyum.


*Jam 16:30


Tak terasa 15 menit telah berlalu, aku dan Erza segera pergi ke halaman belakang untuk menyiapkan makan malam. Meski kami tinggal di penginapan, kami harus tetap menyiapkan makan malam sendiri. Kata Jui-sensei, supaya makanannya terasa lebih nikmat.


"Ota, kau bagian memasak. Erza, kau bantu aku mengumpulkan kayu bakar," kata Lev, setelah kami tiba di halaman.


"Siap kapten!" kataku dan Erza.


Regu memasak dibagi ke dalam beberapa grup, yaitu bagian memasak, bagian memotong sayuran, bagian menyiapkan peralatan, dan bagian menyalakan perapian.


Bagian yang memasak cuma ada aku dan Sera, soalnya cuma kami berdua yang terbiasa memasak. Namun, Akemi dan Shino ikut membantu kami, mereka berdua ingin mulai belajar memasak.


"Ota-senpai, ajari aku memasak, ya!" pinta Akemi.


"Aku juga, Ota-senpai!" kata Shino


"Ya, serahkan saja padaku!" balasku.


(Baiklah, Shokugeki no Ota dimulai!)

__ADS_1


Menu makan malam ini adalah Nasi Kare. Selain karena murah, menu masakan ini sangat mudah untuk dibuat. Tapi, tetap saja, kalau masaknya asal-asalan rasa makanannya tidak akan terasa lezat. Apalagi kalau kamu memasukan telur kecoa ke dalam hidangannya.


Hoshi, Hashimoto dan Hide menatapku dengan tatapan tajam. Mereka merasa iri karena aku dikelilingi para gadis. Tatapan mereka seolah ingin menguburku hidup-hidup.


Hahaha, hari ini aku menang banyak.


Dua jam berlalu, masakan telah selesai dihidangkan. Aku dan Sera sengaja membuat masakan lebih banyak dari seharusnya. Rencananya, nasi kare ini akan kami bagikan kepada Pak Sopir dan para pegawai di penginapan ini.


Kami duduk lesehan di lantai memakai karpet yang disediakan penginapan, beberapa murid duduk di batang pohon yang berada di pinggir-pinggir halaman. Mulut para murid sudah berliur karena tidak sabar ingin segera makan nasi kare yang aku buat.


"Selamat malam semuanya, selamat datang di kota Kyoto. Kota ini adalah tempat kelahiranku, aku sangat—"


"Lev, gak usah berpidato. Kita sudah lapar!" Hoshi memotong pidato Lev.


"Baiklah, aku sangat senang karena kalian ada di sini. Meski ibuku orang Russia, aku—"


"LEV!!!!!" Semua anak berteriak.


"Baiklah, selamat makan. Itadakimasu!"


Akhirnya, anak-anak mulai menyantap nasi kare yang telah aku buat. Mereka terlihat begitu menikmatinya. Ternyata benar kata Jui-sensei, makanan akan terasa lebih nikmat jika dibuat dan dimakan secara bersama-sama.


Sera memandangku. "Masakannya Lezat. Good job!" puji Sera, dengan gaya oke.


"Ya, makasih atas kerja kerasmu!" Aku membalas pujian Sera.


***


Malam sebelum tidur, anak-anak sudah tidak sabar ingin masuk ke pemandian air panas. Di penginapan ini, ada 3 jenis pemandian. Pemandian laki-laki, pemandian perempuan, dan pemandian campuran (Laki-laki dan perempuan disatukan). Kami, para murid laki-laki sudah berdiskusi, kami semua ingin masuk ke pemandian campuran.


Tapi, ada satu murid yang tidak setuju.


"Astaga, dasar murid-murid mesum. Aku tidak menyetujuinya!" Lev menolak rencana kami yang ingin masuk ke pemandian campuran.


"Tapi, di sana ada tante-tante bahenol, loh. Dia pemain sinetron 'Cinta di Stasiun Tokyo'," kata Shuu.


Jui-sensei sedang tidak ada, dia sedang pergi keluar bersama Pak Sopir. Kami, para murid lelaki mengendap-ngendap agar tidak ketahuan para murid perempuan.


Saat jantung kami sudah berdegup kencang, penjaga pemandian menghadang kami semua. Penjaga itu berkata. "Anak-anak di bawah 18 tahun tidak boleh masuk!"


"Umur saya 19, Pak!" kata Hoshi, kepalanya kemudian bersinar.


"Haha, aku tidak bisa dibohongi. Ayo cepat, kalian masuk ke pemandian laki-laki saja!" Pak Penjaga mengusir kami.


Kami semua pulang dengan tertunduk lesu. Kesempatan kami untuk melihat tante bahenol telah sirna.


Di perjalanan, kami melihat Lemon sedang galau sendirian.


"Oi, mbak Lemon, kau kenapa?" Lev bertanya.


"Aku tidak bisa masuk pemandian air panas," jawab Lemon, dengan suara perempuannya.


"Kenapa?"


"Para murid perempuan melarangku ikut bersama mereka. Tapi, aku juga tidak mau masuk ke pemandian laki-laki. Haah, padahal aku sangat ingin mandi." Lemon mendengus.


"Kamu masuk pemandian campuran saja, di sana tidak ada orang yang kita kenal," saran Shuu.


"Oh iya, aku tidak kepikiran. Baiklah, sampai jumpa semuanya!" Lemon berlari kegirangan, kami semua berusaha menahan tawa.


***


Hari sudah semakin malam, anak-anak sudah kelelahan, mereka sudah mengantuk, mata mereka tinggal 10 watt. Aku yang sadar diri, segera berdiri dan pergi meninggalkan ruangan.


"Ota, mau ke mana?" tanya Lev

__ADS_1


"Aku mau ke kamar mandi sebentar," jawabku.


"Oh, oke."


Tentu saja, aku berbohong.


Setelah mendengar jawaban dari Lev, aku membuka pintu dan segera pergi meninggalkan ruangan.


Mungkin terdengar sedikit jahat, tapi Jui-sensei sepertinya melupakan kekuatan anehku. Dia tidak menyiapkan ruangan khusus untuk aku tidur. Kalian tahu sendiri, aku tidak mungkin tidur satu ruangan dengan anak-anak yang lain. Kekuatan anehku akan merepotkan semua orang. Mereka tidak akan bisa tidur kalau aku tidur di tempat mereka.


Tanpa sadar, aku kembali ke halaman belakang dan duduk di sana sambil memandang indahnya bulan di kota Kyoto. Angin berhembus tidak begitu kencang. Di tempat ini tidak begitu dingin, apalagi aku menyalakan perapian di depanku.


Mungkin aku akan tidur di sini.


Meski harus tidur di luar, aku tidak keberatan. Hari ini aku sudah bersenang-senang. Aku duduk satu kursi dengan Akemi, dikelilingi para gadis saat memasak, dan membuat anak-anak bahagia dengan masakan buatanku. Aku tidak menyesal ikut ke sini. Aku merasa sangat bersyukur.


"Oi, kau lagi ngapain?"


Seseorang tiba-tiba duduk di sebelahku, dia adalah Hoshi.


"Hoshi, kau tidak tidur?" tanyaku.


"Tidak, aku takut mengom—. Ehm... Aku tidak butuh tidur. Tidur hanya untuk orang-orang lemah," jawabnya.


"Oh, begitu."


Aku dan Hoshi kemudian mengobrol di sini.


"Ota!!! Hoshi!!!" Terdengar suara teriakan.


Tak lama, beberapa anak lelaki datang mendekati kami.


"Ota, Hoshi, apa yang kalian lakukan? Katanya cuma mau ke toilet?" tanya Lev.


Aku dan Hoshi terdiam, tidak menjawab pertanyaan dari Lev.


"Oh iya, ini kunci kamarmu Ota. Kami sudah memesan kamar yang khusus buatmu seorang." Lev menyerahkan sebuah kunci.


Mataku langsung berkaca-kaca. "Benarkah? Apa kalian serius memesankan sebuah kamar di penginapan yang mahal seperti ini?"


"Tanya saja Hide, dia yang memesan kamarnya." Lev melirik ke arah Hide.


"Y-ya. Kamarnya mungkin sederhana dan cukup berantakan, tapi menurutku kamar itu sangat pas buatmu. Biaya kamarnya murah, kau tidak perlu mengganti uangnya," kata Hide, merasa tidak enak.


"Makasih teman-teman. Kupikir kalian melupakanku." Sungguh, aku merasa terharu.


"Gak mungkin lah, kita kan friend. Tapi maaf, kamarnya benar-benar sederhana," Erza menggandeng pundakku.


"Tidak apa-apa, yang penting aku dapat kamar. Makasih semuanya, aku sudah sangat mengantuk!"


Aku langsung berlari ke ruanganku. Nomor kamarnya 666, sungguh nomor yang aneh.


Setelah menemukan kamarnya, aku segera membuka pintunya dengan kunci bernomor 666 tersebut.


*Ceklek! (Suara pintu dibuka)


Saat pintu terbuka, ada seekor hewan yang terbang melewati sisi kepalaku. Hewan itu terbang dengan kencang dan menabrak tembok.


(Kecoa?)


Kemudian aku masuk dan menyalakan lampu kamar.


*tak!


Saat lampu menyala, aku melihat pemandangan yang sangat menakjubkan. Ratusan kecoa sedang merayap di dinding tembok, ada yang berjalan di lantai dan ada juga yang beterbangan. Tubuhku merinding. Ini bukan kamar, ini neraka!

__ADS_1


Dengan cepat aku menutup pintu, kemudian berlari ke kamar laki-laki. Shuu yang sedang tidur aku gotong keluar. Aku mengunci kamar dan tidur di sini sendirian. Aku tidak peduli dengan murid yang lain. Bodo amat.


__ADS_2