Kelas Aneh!

Kelas Aneh!
Ch. 49 - Hujan Besar


__ADS_3

(POV Ota)


Hujan di luar benar-benar deras saat aku mengambil beberapa buah kentang di toko swalayan bernama Raspberry Market. Selain kentang, aku juga memasukan bahan masakan lain seperti minyak zaitun, cabe bubuk, dan saus tartar ke dalam kantong keranjang yang sedang aku tenteng.


Setelah daftar belanjaanku tercoret semua, aku mendatangi kasir untuk segera membayar.


Suara hujan semakin mengeras setelah aku membuka pintu keluar toko ini. Hembusan angin dan cipratan air bersatu padu menciptakan suasana basah sekaligus berisik. Kamu tahulah bagaimana kondisinya.


Saat berbelok ke kiri, aku melihat seorang murid perempuan bergetar kedinginan di depan toko swalayan ini. Dia masih memakai seragam, memeluk tasnya sendiri sembari menghindari cipratan air.


Gadis yang sedang kesusahan ini bernama Lullin.


"Lullin, sedang apa di sini?" tanyaku, memandang gadis berambut pendek dengan dua jepit rambut berwarna hitam.


"E-eh, Ota-kun?! A-aku, sedang berteduh." Lullin memeluk tasnya semakin erat.


"Ya sudah, aku pulang duluan, ya."


Setelah mengatakan itu, aku membuka payung dan siap menerjang hujan sendirian.


Namun, belum sampai satu langkah, suara kembali terdengar dari mulut Lullin.


"Ota-kun!!!"


Aku menoleh. Wajah gadis itu sudah sangat memerah. "Apa?"


"Ti-tidak bukan apa-apa."


"Ya sudah, aku pulang duluan, ya."


"Ota-kun!!!"


"Apa?"


"Ti-tidak bukan apa-apa."


"Ya sudah, aku pulang duluan, ya."


"Ota-kun!!!"


"Apa?"


"Ti-tidak bukan apa-apa."


"Ya sudah, aku pulang duluan, ya."


Tidak, hape kalian tidak error. Kalian memang sedang membaca tulisan yang sama berulang-ulang. Kami berdua melakukan percakapan yang sama sebanyak sepuluh kali.


Ah, jangan-jangan, dia sedang memberi kode. Dia pasti ingin berteduh di rumahku. Ya ampun, aku ini benar-benar tidak peka.


"Ota-kun!!!"


"Apa?"


"Ti-tidak bukan apa-apa."


Aku menatap matanya. "Mau berteduh di rumahku?" tawarku.


"M-mau."


Lullin kemudian mendekat dan berdiri di sebelahku.


"Payungnya gak cukup besar. Tolong, lebih mendekat lagi," kataku.


Lullin menurut. Dia mendekat lagi hingga bahu kami saling bertubrukan.


(Ya ampun, kenapa wajahnya memerah begitu? Apa dia sudah demam duluan?)


Setelah memastikan tubuh kita tertutupi oleh payung, aku dan Lullin langsung berjalan untuk menerjang hujan yang super deras ini.


Hangatnya tubuh Lullin membuat hawa dingin air hujan sedikit tertutupi. Rambut pendeknya mengenai leherku karena tertiup angin. Rasanya bikin gatal.


Di perjalanan, kami bertemu Kensel dan Maggiana yang juga sedang berbagi payung.


Kami berhenti sejenak untuk bertegur sapa.


"I-ini tidak seperti yang kalian pikirkan!" Kensel berujar dengan panik.

__ADS_1


"I-iya, i-ini juga tidak seperti yang ka-kalian pikirkan!" Lullin juga panik sambil bergantian memandang mereka berdua.


Lullin dan Kensel kemudian tertawa dengan aneh.


Maggiana geleng-geleng kepala sambil menutupi wajahnya.


Sedangkan aku mulai paham. Ternyata, Roberto berpacaran dengan Maggiana.


Tak lama setelah bertemu dengan Roberto dan Maggiana, kami berdua bertemu lagi dengan teman sekelas yang juga berbagi payung. Mereka berdua adalah Roman dan Lev.


Sebelum aku menyapa, Roman sudah berkata duluan.


"I-ini tidak seperti yang kalian pikirkan!" ujar Roman, panik.


***


Aku dan Lullin sudah sampai di rumah.


Aku memberinya handuk hangat karena tubuhnya sedikit kebasahan meskipun kami berbagi payung.


Lullin duduk di sofa sementara aku bergegas membuat teh panas di dapur.


"Ini tehnya, silakan dinikmati."


Aku menaruh dua cangkir teh panas di atas meja, kemudian duduk di sebelahnya.


.


.


.


Hening.


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua.


Hanya ada suara hujan yang deras diiringi kerasnya suara petir yang silih berganti menggema di angkasa raya.


Yang kami berdua lakukan hanya menyeruput teh, kemudian menaruhnya kembali. Tidak ada aktivitas yang lainnya.


Lullin yang pendiam dan aku yang jarang ngobrol sama cewek, benar-benar perpaduan yang teramat buruk.


"Mau nonton TV?" tawarku.


"Boleh."


Aku mengambil remot.


Namun, saat menekan tombol merah, lampu tiba-tiba padam.


*tengg (suara lampu padam)


Aku menaruh remotnya lagi.


"Tunggu sebentar ya, aku mau ambil lilin."


"Ok."


Meski tidak kelihatan, aku yakin Lullin mengatakannya sambil mengangguk.


Aku mengambil satu buah lilin dan korek api di laci yang berada di sebelah sofa. Kemudian, aku menyalakannya.


Ruangan ini benar-benar gelap. Hanya ada aku, Lullin, lilin, dan suara hujan di luar yang bergemuruh semakin keras.


"Benar-benar hangat, ya," kataku.


"I-iya, berada di dekat lilin memang membuat tubuh jadi hangat."


"Bukan. Maksudku, berada di dekatmu."


"E-eh!!!" Suhu tubuh Lullin mendadak meningkat.


Setelah itu, ruangan kembali hening.


Tidak ada sesuatu yang bisa kami lakukan. Tidak ada topik yang bisa kami obrolkan. Tidak ada cemilan untuk kami makan. Tidak ada cebelas cebelum cepuluh.


.

__ADS_1


.


.


'DUAARR!!!'


"AAAAAAA!"


Halilintar yang teramat keras dan suara teriakan seorang gadis, memecah keheningan di ruangan ini.


"Hahaha, ternyata kamu takut halilintar, ya?" ejekku.


"Ti-tidak. Aku tidak takut kok." Lullin membela diri.


"Terus kenapa kamu berteriak?"


"Eh? Aku nggak berteriak, kok."


"Lah, terus kalo bukan kamu, siapa? Tadi kan yang teriak seorang cewek," tanyaku


"Bukannya ibumu, ya? Atau kakak perempuanmu yang berisik?" Lullin balik bertanya.


"Bukan. Mereka lagi gak ada di rumah."


"Lah, terus kalau bukan mereka siapa lagi?"


"Aku gak tau."


Seketika suasana tambah hening. Lullin semakin mendekatkan tubuhnya padaku, setengah memeluk.


Ruangan yang hanya diterangi lilin ini terasa semakin mencekam.


*cess


Lilin tiba-tiba mati.


"AAAAAAA!"


Terdengar teriakan seorang gadis lagi.


"Lullin, jangan berteriak!"


"Bukan aku!"


Kali ini Lullin benar-benar memelukku. Memelukku dengan erat. Tubuh Lullin gemetaran. Dia sangat ketakutan.


Bukannya mereda, keadaan malah semakin parah.


Lampu ruangan ini tiba-tiba berkedip-kedip. Mati-nyala-mati-nyala-mati-nyala. Seperti lampu ruangan mayat yang sudah agak rusak.


Anehnya, aku masih bisa merasa tenang. Sedangkan Lullin memejamkan mata sambil terus memelukku.


Saat lampu berkedip-kedip, aku tak sengaja melihat seorang gadis berambut panjang berdiri di depan TV. Namun, gadis itu hilang lagi.


"Astaga, ada sadako!" Aku teriak.


"AAAAAAA!"


Kali ini, benar-benar Lullin yang berteriak. Bukan gadis lain ataupun Sadako.


Setelah teriakan Lullin yang cempreng itu, lampu mati lagi. Selamanya.


"Sa-sadako nya udah pergi?"


"Tenang. Aku cuma bercanda kok. Gak ada Sadako di sini," kataku, menenangkan Lullin.


Aku terpaksa berbohong, kalau tidak, Lullin akan memelukku semakin erat.


Waktu berlalu terus-menerus dengan hujan yang masih belum reda juga. Lampu masih mati. Aku tidak menyalakan lilin karena Lullin tidak mau melepaskanku.


Satu jam setelah kemunculan Sadako, hujan mulai reda, dan lampu telah menyala. Lullin sudah terlelap dalam pelukanku.


Aku tercengang saat melihat seorang gadis berdiri di dekat televisi dengan wajah terkantuk-kantuk.


Ternyata, itu gadis yang tadi. Itu bukan Sadako. Itu cuma gadis biasa yang berambut panjang seperti Sadako.


"E-Emili. Sedang apa kau di sini?" tanyaku.

__ADS_1


"Sudah, jangan hiraukan aku. Lanjutkan saja peluk-pelukannya. Ahahaha," jawab Emili.


__ADS_2