
Memiliki sifat tsundere (malu-malu kucing) seperti Hide terkadang sangat merepotkan. Bukan hanya merepotkan bagi orangnya, tapi bagi orang disekitarnya juga.
Seumur hidup, Hide tidak pernah meminjam barang apapun pada temannya karena dia merasa malu sekaligus gengsi. Hide selalu mandiri, tidak pernah minta tolong, dan selalu melakukan segala hal dengan lancar.
Namun, hari ini dia sedang sial. Tepat lima menit sebelum ujian Bahasa Inggris dimulai, tinta pulpen Hide sudah habis. Padahal, dia bawa sepuluh pulpen, tapi semuanya habis. Mau beli di koperasi gak bakal keburu. Terpaksa deh, Hide harus pinjam sama temennya.
"Anu." Hide berdiri di depan bangku Ota.
"Yap?" Ota yang sedang main handphone, menengadah.
"Apa kau punya dua pulpen?
"Ya, aku punya. Mau pinjam?"
"Ti-tidak, aku tidak butuh pulpenmu. A-aku datang ke sini untuk membantumu," ujar Hide dengan gugupnya.
"Membantuku?"
"Ya! Kamu kan punya dua pulpen, daripada pulpen yang satunya dibiarin, mending aku aja yang pake. Kalau pulpennya dibiarin terus, nanti tintanya cepat mengering, nanti pulpennya gak bisa dipake lagi, loh," jelas Hide.
Ota mengernyitkan dahi.
"Jadi, intinya kamu ingin pinjam pulpenku, 'kan?" tanya Ota sekali lagi.
"Nggak! J-jangan salah paham! Aku tidak butu pulpenmu! Aku cuma ingin membantumu saja!"
Ota mendengus.
"Ya sudah deh, bantu aku ya, teman baikku," ucap Ota, "Nih. Pulpennya."
"B-baiklah, kalau kau memaksa. Aku akan membantumu." Hide tersenyum malu, lalu mengambil pulpennya.
Dia kemudian pergi ke bangkunya.
Satu menit kemudian Hide balik lagi.
"Aku gak pinjem loh, ya. Aku cuma membantumu!" ujar Hide
"Iya, iya."
Setelah mendengar jawaban malas dari Ota, Hide langsung pergi ke bangkunya.
Lalu balik lagi.
"Pulpennya habis kampret!" umpat Hide sambil menggebrak meja.
"Oh, gitu ya sor—hahahahaha."
Hide menggerutu, lalu melempar pulpen itu ke kepala Ota. Ota merasa kesakitan, tapi dia cuma bisa tertawa.
Hoshi yang melihat pemandangan ini, segera memanfaatkan keadaan.
__ADS_1
"Oi, Hide sahabatku. Kemari!" panggil Hoshi.
Hide pun mendekatinya.
"Apa?"
"Aku butuh bantuanmu. Aku punya dua pulpen, yang satunya gak dipake. Kamu mau gak, pake pulpenku?" tawar Hoshi.
Mendadak, ekspresi Hide kembali malu-malu.
"B-baiklah, mau bagaimana lagi. Sesama teman memang harus saling membantu. Nanti kamu traktir aku, ya," ucap Hide.
Hoshi mengeluarkan pulpen dari dalam tasnya, tapi belum diberikan pada Hide.
"Tapi, ada syaratnya."
Hide merengut. "Apa syaratnya?"
"Bantu aku ujian Bahasa Jepang, ya!"
"Oi, daki beruang! Hari ini ujian Bahasa Inggris!" ketus Hide.
"Eh??? Semalem gua malah belajar Bahasa Arab," ucap Hoshi dengan entengnya.
Hide menepuk jidat.
Di belakang Hoshi, Shuu ikut nimbrung. "Santai aja bro. Semalem gua juga salah belajar."
"Cara menanam Jagung di ladang Pak Eko," jawab Shuu.
Hide menepuk jidat lagi.
"Ya ampun! Kalian berdua benar-benar suram. Yasudah, kalian tenang saja. Nanti aku kasih contekan, deh." Hide berujar dengan tampang khawatir, sementara Hoshi dan Hide terlihat santai-santai saja, seperti tidak memiliki beban hidup.
"Yeeeay." Hoshi dan Shuu berteriak kegirangan.
Tak lama kemudian, guru pun masuk, dan ujian akan segera dimulai.
Guru itu berdiri di depan, kemudian berbicara. "Baiklah anak-anak, hari ini kita akan belajar Cara menanam Jagung di ladang Pak Eko."
"Eehhh????"
Semua anak tercengang, Hide yang paling parah.
"Maaf, Bapak cuma bercanda. Maksudnya, hari ini kita ujian Bahasa Arab."
"Eehhh???"
Semua anak tercengang lagi, mulut Hide sudah berbusa saking kagetnya.
"Maaf, bapak bercanda lagi. Maksudnya, hari ini kita akan ujian Bahasa Tubuh."
__ADS_1
"Eehhh???"
Semua anak tercengang lagi, Hide sudah kolaps.
"Hahaha, sudah bercandanya. Mari kita mulai ujian Bahasa Hewan."
***
Sepulang sekolah, Hoshi dan Shuu berniat memberi Hide sebuah kue karena dia telah membantu mereka berdua saat ujian Bahasa Inggris tadi. Hoshi dan Shuu membeli kue itu saat jam istirahat.
"Hide, ini hadiah dari kami. Terimalah." Hoshi dan Shuu menyerahkan kue itu.
Tertulis 'A Man Day Brownies' di atas kotak kue brownies itu.
Namun, Hide tampak tidak senang, dia malah mengacuhkannya.
"Maaf, kue brownies adalah makanan yang paling aku benci. Aku tidak mau memakannya," ujar Hide, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Shuu dan Hoshi mendengus kecewa.
"Yasudah, kita kasih ke Pak Eko aja deh," ujar Shuu.
"Masoook Pak Ekooo," lanjut Hoshi.
Kalian jangan heran kalau anak-anak Kelas 1-F tiba-tiba kenal sama Pak Eko. Di Kelas 1-F ada orang tidak bertanggung jawab yang setiap hari selalu menyebarkan virus-virus Indonesia. Jangan tanya orangnya siapa.
Saat malam hari, Shuu pergi lagi ke toko A Man Day Brownies. Hamster peliharaannya tiba-tiba ngidam brownies. Sebagai pemilik yang baik, Shuu selalu menuruti apa saja kemauan hewan kesayangannya.
Saat masuk toko itu, Shuu terkejut.
Dia melihat Hide sedang memborong kue brownies di toko ini.
Wajah Hide mendadak pucat ketika dia bertemu pandang dengan Shuu.
Sedangkan Shuu hanya tersenyum jahat dan siap mempermalukannya.
"Katanya gak suka brownies..." ejek Shuu.
Hide gugup. "A-aku emang gak suka brownies. I-ini bukan untukku. Ini untuk hamsterku!"
"Lah, bukannya hamstermu kemarin mati?"
"Dia hidup lagi."
Shuu tercengang. "Astaga, kau ini sangat pandai mengarang cerita, ya. Ayolah, akui saja. Kau itu pecandu brownies, 'kan?"
"Enggak! Aku gak suka brownies! Brownies ini untuk ibu, tetangga, dan juga orang lewat. Pokoknya, bukan aku yang makan! Sumpah! Aku gak bohong! Tolong percayalah!" Hide sudah berkeringat basah.
Shuu tertawa terpingkal-pingkal, dia tidak bisa menahannya.
(Hahaha, dasar TSUNHIDERE!)
__ADS_1