
Guru paling imut di SMA Subarashii (Yui-sensei) memberi tugas kelompok kepada anak-anak paling imut di SMA Subarashii (Kelas 1-F). Setiap kelompok terdiri dari 5 orang dengan anggota yang dipilih secara acak.
Di minggu yang cerah ini, ada seekor burung pipit ajaib yang masih hidup setelah kesetrum listrik yang sedang konslet. Tapi, itu tidak penting.
Pagi ini Roman, Hoshi, Ota dan Emili sedang berdiri di depan istana kerajaan yang sangat besar, atau lebih tepatnya rumah sekaligus tempat kediaman Sera.
"Astaga... besar sekali rumahnya Sera, seperti kerajaan." Hoshi takjub.
"Pasti banyak bahan masakan di rumah ini." Mulut Ota sudah berliur.
Roman juga terlihat takjub, sedangkan Emili bersikap biasa saja karena sudah pernah menginap di istana ini.
Di saat anak-anak sedang takjub melihat besarnya rumah Sera, pintu gerbang di depan mereka tiba-tiba terbuka.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya!"
Segerombalan lelaki berjas hitam, berkacamata hitam, bersepatu hitam, dan berambut kuning menyambut kedatangan mereka secara serempak.
Di hadapan mereka, ada juga Sera yang sudah menyambut dengan senyuman yang manis.
"Teman-teman, ayo masuk!"
Mereka berlima pun segera masuk ke dalam pekarangan rumah Sera.
"Maaf ya teman-teman, rumahku kekecilan," kata Sera.
"Kecil ndasmu!" pikir anak-anak.
"Sera-ojou, selamat pagi!"
"Sera-ojou, selamat pagi!"
"Sera-ojou, selamat pagi!"
Para pegawai di sini menyapa Sera satu persatu-satu. Ada yang sedang menyiram tanaman, ada yang membersihkan kaca, ada juga yang sedang menanam tanaman kaca.
"Sera, rumahmu besar sekali, ya..." kata Hoshi sambil melihat-lihat keadaan sekitar.
"Ya, begitulah, tapi aku gak peduli. Yang penting aku bisa baca buku."
"Dasar kutu kupret," pikir anak-anak.
Akhirnya, mereka berlima sampai di ruang belajar.
Ruangan ini sangat luas, semua kursi dan meja tertata dengan sangat rapi. Di sebelah kanan ruangan terdapat rak yang terisi penuh oleh buku-buku ilmu pengetahuan, mulai dari buku TK sampai buku Universitas. Di sebelah kanan, terhampar kaca dengan pemandangan taman bunga yang memanjakan mata. Ditambah lagi, ada AC super mahal yang udaranya sangat menyejukkan badan. Belajar di ruangan ini, sudah pasti akan ngantuk.
Anak-anak tidak duduk di kursi, mereka duduk di tempat belajar yang lesehan.
"Sera, ayo kita istirahat," ucap Ota .
"Belajar juga belum!" protes Sera.
"Tapi, aku sudah lelah berjalan dari rumah ke sini. Dan sekarang aku kehausan."
__ADS_1
"Ah, benar juga. Aku gak nyadar, aku jarang dapat tamu sih," pikir Sera.
"Oh, oke deh. Kalau gitu, aku bawakan kalian minuman, ya. Kalian mau minum apa?"
"Masa cuma minum doang? Makanannya mana?" tambah Hoshi.
"Nih anak ngeselin banget. Tapi, aku harus sabar, di sini ada Roman," Sera menahan kesal.
"Baik, aku juga akan memasak sesuatu. Ada lagi?" tanya Sera.
"Boleh aku yang memasak? Aku lumayan jago, lho." Emili mengangkat tangannya.
"Ya, boleh. Ada lagi?"
Semua anak terdiam.
"A-anu, Roman, apa kau mau minta sesuatu?" Sera bertanya.
"Ah, tidak perlu. Tinggal di rumahmu saja sudah bikin betah," kata Roman, tersenyum.
Sera sempat salah tingkah, namun masih bisa mengendalikan diri. "O-ok deh. Ayo Emili, kita memasak."
Sera dan Emili pun meninggalkan mereka bertiga di ruangan belajar.
Karena bosan menunggu, akhirnya mereka bertiga keluar ruangan dan bermain di taman bunga milik keluarga Sera.
Hoshi dan Ota tampak keasikan, mereka berlari-larian di taman bunga seperti sepasang kekasih yang sebentar lagi akan menikah. Mereka juga tidak lupa mengambil foto untuk diposting di media sosial.
Saat sedang duduk, bibi perawat tanaman menghampiri Roman dan duduk di sebelahnya.
"Eh, bibi, selamat pagi," sapa Roman.
Bibi itu tersenyum. "Aku senang kalian datang kemari. Nona Sera jarang kedatangan tamu."
"Oh, begitu, ya?"
"Iya. Bibi sempat khawatir nona Sera gak punya teman, soalnya kerjanya nona Sera cuma baca buku saja seharian." Wajah si Bibi tampak khawatir.
"Berarti, sering ada orang asing yang datang ke sini ya, Bi?"
"Iya. Mereka selalu memberi nona Sera barang yang aneh-aneh. Ada yang ngasih celana dalam, ada yang ngasih fossil dinosaurus, ada juga orang aneh yang ngasih batu nisan. Bibi geleng-geleng kepala."
"Ahahaha, Sera pasti kerepotan membuangnya," kata Roman.
"Tidak, kok. Nona Sera tidak pernah membuang barang-barang pemberian dari mereka. Nona Sera selalu menyimpannya dengan senang hati, termasuk upil dalam botol yang sudah dikumpulkan selama satu minggu."
"Ah, begitu, ya."
Mereka berdua terlarut dalam obrolan santai yang cukup panjang. Roman memang pandai bersosialisasi, dia sangat mudah akrab dengan orang lain. Makanya, setiap tahun dia selalu terpilih jadi ketua kelas.
"Nona Sera pernah cerita loh ke bibi. Katanya, dia menyukai seorang lelaki yang mengikuti ekskul bola voli."
"Waah, saya baru tahu. Siapa orang itu, Bi?" tanya Roman.
__ADS_1
"Bibi lupa. Kalau tidak salah, nama depannya R. Bibi lupa nama lengkapnya."
"Aah, pasti Ryuzaki. Dia memang idola para perempuan, Bi," kata Roman.
Setelah itu, Sera dan Emili datang menghampiri mereka bertiga.
"Anak-anak, makanan siap!"
Mereka bertiga segera masuk ke dalam ruangan mengikuti Sera dan Emili.
"Waah, ini kan daging sapi stroganov. Siapa yang memasaknya?" tanya Ota
Dengan bangga, Emili menunjuk dirinya sendiri.
Mereka berempat pun langsung menyantap makanan mereka masing-masing, kecuali Roman.
"Roman, kenapa gak dimakan?" tanya Emili.
"Aku sedikit alergi sama daging sapi. Aku tidak bisa memakannya," balas Roman.
"Waah, orang yang sangat malang," pikir semua anak.
(Karena punya Roman gak dimakan, terpaksa author yang harus menghabiskannya)
"Anu, Sera. Apa kau punya gunting kuku?" tanya Roman.
"Ya, aku punya."
Sera segera mengambil gunting kuku, dan menyerahkannya kepada Roman.
"Ini gunting kukunya."
"Makasih." Roman mengambilnya.
Sera pun melanjutkan makannya.
"Sera, gunting kuku ini, kan..."
Raut wajah Sera berubah merah.
"Sudah agak rusak. Kenapa kau masih memakainya?"
"Ti-tidak apa-apa. A-aku menghargai orang yang memberiku gunting kuku itu. Aku harus menjaganya baik-baik," kata Sera.
"Ohh. Siapa yang memberimu gunting kuku ini? Pasti orang aneh, ya?" tanya Roman.
"Eeh, dia sudah lupa? Padahal dia sendiri yang memberiku gunting kuku itu," pikir Sera.
"Y-ya. Orang yang sangat aneh," balas Sera.
Siang itu, setelah mereka selesai makan, mereka berlima merasa ngantuk karena kekenyangan makan daging stroganov. Mereka tidak lanjut kerja kelompok, mereka malah ketiduran di tempat masing-masing.
Oksigen di dalam ruangan itu kemudian menghilang.
__ADS_1