
(POV Yuka)
Sudah satu semester aku mengikat hubungan dengan Gen; Orang paling aneh sejagat raya; Orang paling labil sealam semesta; Orang paling nomor satu di hatiku. Iya, aku adalah pacarnya orang aneh, pacarnya Yukimura Gen.
Kalian masih ingat, 'kan? Kejadian saat aku ditolak oleh Gen di kelasnya?
Saat itu, aku nangis karena kecewa pada Gen. Huh... aku ini emang cewek yang cengeng. Padahal aku cuma ditolak, padahal cowok masih banyak, padahal dunia tidak kiamat. Tapi, percayalah itu tidak ada hubungannya sama sekali. Rasa kecewa dan sakit hati tidak bisa diukur memakai logika, senang dan sedih adalah urusan hati nurani.
Ah, sudah, sudah, lupakan saja. Lagipula, sekarang aku sudah jadian sama Gen. Hehehe.
Oh iya, perkenalkan namaku Yuka, aku dari Kelas 1-C. Mungkin kalian tidak ingat, namaku pernah disebut loh di chapter-chapter sebelumnya. Tapi, ya sudahlah itu gak penting. Yang penting kalian sudah tahu namaku dan sedikit asal-usulku.
Jadian sama Gen itu seperti semboyan permen Nona-Nona 'manis, asem, asin, rame rasanya'. Ya, memang seperti itu. Setiap hari aku mendapatkan perlakuan berbeda dari Gen. Di hari senin Gen sangat baik padaku, besoknya aku langsung dimarahin, besoknya lagi dibikin tertawa, besoknya lagi dicuekin, besoknya lagi dan besoknya lagi perlakuan Gen juga berbeda padaku.
Sikap Gen padaku sudah di jadwal. Aku sudah sangat hafal dan handal dalam menghadapi sifat Gen yang berubah-ubah. Jujur saja, hal ini sangat merepotkan. Terlebih, aku ini bukan tipe cewek yang sabaran. Kalau cintaku tidak sebesar ini, aku pasti sudah putus dengan Gen sejak lama.
Oke. Akan aku ceritakan kisahku dengan Gen di setiap hari yang berbeda.
(Hari Senin – Gen Si Ramah)
Hari ini, aku gak sempat bikin bekal makanan. Tadi pagi, aku terburu-buru berangkat karena telat bangun. Huh... resiko telat bangun ya gitu, terpaksa deh aku harus makan di kantin. Saat hendak memesan makanan, aku tersadar akan sesuatu. Dengan cepat aku mengecek isi dompetku; dan ternyata memang benar; dompetku kosong melongpong; tidak ada uang satu sen pun.
Aku tertunduk lesu. Aku balik lagi dari kantin dengan perasaan sedih. Aku tidak bisa mentoleransi cacing di dalam perutku. Mereka sudah berpaduan suara dari tadi pagi. Huh... perutku keroncongan. Aku benar-benar lapar. Rasanya aku ingin cepat pulang dan makan nasi satu magic jar.
Tiba-tiba saja, ada seseorang yang menepuk pundakku.
*Puk.
Aku menoleh.
"Yuka, ini makan siang buatmu." Gen menyerahkan kotak makanan berwarna biru.
"Buatku?"
Gen mengangguk. "Iya, aku sendiri yang masaknya, loh."
"E-eh!!!" Wajahku kemerahan. "Kamu kok tau aku belum makan?"
Gen tersenyum. "Tau lah, aku kan pacarmu."
Aku tersenyum malu-malu. "Makasih," ucapku, kemudian menerima kotak bento itu dengan perasaan bahagia.
"Aku pergi dulu, ya. Nanti ketahuan orang lain. Daah." Gen berlari sambil melambaikan tangan padaku.
Duh. Beruntungnya aku, punya pacar seperti Gen. Seharusnya kan cewek yang buatin bekal buat pacarnya. Ini malah cowoknya yang ngasih. Di saat yang tepat pula. Aku sangat senang dan berdebar-debar hari ini.
Setahuku, Gen itu tidak pandai memasak. Aku penasaran, bagaimana rasa makanan buatannya.
(Hari Selasa – Gen Si Pembenc)i
Saat hari Senin, pesan online dari Gen cenderung Romantis. Kalau gak manggil Yuka dia pasti manggil Honey.
Topik pembicaraannya juga menyenangkan. Contohnya seperti ini.
"Halo Honey. Bagaimana harimu?"
"Menyenangkan. Makasih bekal makananmu tadi siang. Telornya keasinan, sosisnya kurang mateng, ada telur kecoa di atas nasinya."
"Oh, gitu. Maaf, lain kali aku buat lebih baik, deh."
"Yeay!!"
Begitulah. Menyenangkan sekali rasanya chatan dengan Gen.
Berbeda dengan hari Selasa.
"Oi BANGSAT! Bagaimana harimu?"
Aku cuma me-read nya saja.
"Bales, BAJINGAN!"
Aku mengambil palu di gudang.
__ADS_1
"Jangan di read doang KAMPRET!!! Aku kangen!!"
Aku mengetok tembok dengan palu sekuat-kuatnya.
*Darrr!!
Aku sangat kesal. Mana ada orang kangen tapi bilang bangsat? Huh... aku paling malas menghadapi sikap Gen di hari selasa. Di chat aja bikin emosi, gimana kalau ketemu?
(Hari Rabu – Gen Si Penghibur)
Di hari rabu, Gen berubah menjadi seorang pelawak professional; kerjaannya ngebanyol terus. Di hari rabu Gen jadi orang yang sangat kocak, koplak, lucu dan gokil.
Aku sering mengintip Gen di kelasnya. Dia sering menggoda teman-temannya supaya tertawa.
"Sera... kok diem aja," Gen mendekati Sera.
Sera sedang bad mood. Dia cemberut terus hari ini.
"Sera... kamu panuan, ya?"
Aku yang melihat langsung tertawa. Sera juga senyum-senyum sendiri, menahan tawanya.
Tiba-tiba Hide mendekat. "Heh, heh! Jangan gangguin Sera. Dia sedang sedih. Tapi, bukan berarti aku peduli, ya," ucap Hide pada Gen.
Gen memandang Hide dengan tatapan curiga. "Hide... jangan-jangan kamu... panuan juga, ya?"
Semua anak tertawa, termasuk Sera yang sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Hide juga senyum-senyum sendiri, berusaha menahan tawanya sekuat mungkin. Hide gak jadi protes, dia balik lagi ke bangkunya.
"Oi Rock, kau—hahahahahahaha." Gen yang sedang ngebanyol tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Hide melancarkan serangan pembalasan. Huh... dasar kelas aneh.
Aku pernah berkencan dengan Gen di hari rabu. Di hari itu, perutku benar-benar kesakitan, aku keseringan tertawa. Aku jadi merasa malu sendirian, dilihatin orang-orang tertawa di jalan. Ah, Gen memang sangat pandai melawak di hari rabu.
(Hari Kamis – Gen Si Pendiam)
Seperti biasa, Gen dikucilkan anak-anak pada hari Kamis. Setiap hari Kamis, pita suara Gen tidak berfungsi. Dia tidak bisa menjerit, kaget, atau tertawa. Suaranya benar-benar hilang. Bahkan kekuatan aneh Hide tidak berfungsi pada Gen saat hari Kamis.
Aku pernah bereksperimen pada Gen. Aku mencubit kulitnya dengan sekuat tenaga, dia tidak kesakitan, wajahnya datar. Aku pernah mengajak Gen nonton film horror di bioskop, reaksinya ya gitu. Saat muncul hantu, semua orang tampak kaget. Tapi, ekspresi Gen biasa aja, masih datar. Hantu di bioskop jadi minder karena gagal bikin Gen ketakutan.
Ah, susah sekali merubah ekspresi Gen. Di hari Kamis, Gen tidak bisa berbicara, dia cuma bisa mengangguk dan geleng-geleng kepala saja. Bahkan pesan online pun isinya cuma titik-titik.
"...."
(Hari Jum'at – Gen Si Kharismatik)
Setiap hari Jumat, Kelas 1-F selalu ramai oleh banyak orang. Cewek-cewek dari berbagai penjuru kelas datang mengerubungi Gen. Entah apa yang mereka lakukan, tapi mereka sangat ingin berdekatan dengan Gen. Bahkan akhir-akhir ini, ada anak SD yang sengaja bolos hanya untuk bertemu dengan Gen.
Tahu sendirilah. Di hari Jumat, Gen menjadi sosok yang sangat sempurna dan kharismatik. Orang-orang yang berada di sekitarnya, jadi terlihat biasa-biasa.
Aku sebagai pacar rahasianya, hanya bisa pasrah melihat dia dikelilingi gadis-gadis lain. Ya, aku dan Gen memang merahasiakan hubungan ini. Alasannya, karena Gen sangat populer di sekolah. Kalau cewek-cewek itu pada tahu aku pacarnya Gen, aku mungkin akan dikubur hidup-hidup.
"Yuka tidak cemburu?" tanya Maggiana yang mengetahui hubunganku dengan Gen.
"Tidak," jawabku.
"Tidak salah, ya?"
"Hehehe."
Maggiana tersenyum saja melihatku.
Siangnya, aku menonton Gen bermain basket. Tribun penonton penuh sesak oleh cewek-cewek penggemar Gen; mereka semua memasang banner, dan menggemakan nama Gen.
Hari ini, Gen memang edan. Maksudku, edan dalam artian baik. Kemampuannya bermain basket sangat luar biasa. Pergerakannya cepat dan tidak bisa ditebak. Lawan-lawan kepayahan menghadapi Gen yang membawa bola sendirian. Sepertinya, Gen sedang memasuki ZONE.
Ya, Gen memang mengikuti ekskul basket. Kemampuan asli Gen juga cukup bagus, dia termasuk pemain inti. Tapi, tidak se-edan sekarang.
Sorenya, Gen mengirim personal chat. Dia ingin bertemu denganku. Tentu saja, di tempat rahasia.
Saat bertemu, aku bertatapan dengan Gen. Wajahku langsung blushing. Aura Gen sangat berbeda dari biasanya, seperti bukan Gen yang aku kenal. Ingin sekali aku memeluknya.
"Ada apa?" ucapku, pura-pura marah.
"Ayo kita makan di restoran favoritmu. Aku yang bayarin." Gen menarik tanganku.
__ADS_1
Aku kira dia akan minta maaf dan ngegombal seperti hari-hari Jumat sebelumnya. Ternyata malah ngajak makan.
Setelah kami mendapat tempat duduk, Gen mempersilahkan aku memilih makanan.
"Kamu pesan saja sesukamu. Pesan apapun, berapapun, terserah, aku yang bayarin," ucap Gen.
"Eh... kalau aku makannya kebanyakan, nanti aku jadi gendut loh."
"Gapapa. Meskipun gendut, aku bakal tetap menyukaimu, kok. Yang penting kamu bahagia."
Aku diam saja, senyum-senyum malu.
"Makanku juga banyak, loh. Kalau aku jadi gendut, kamu juga harus tetap menyukaiku, ya" ucap Gen.
"Iya. Pasti!" ucapku
(Hari Sabtu – Gen si Penolong)
Siang ini, aku pergi ke taman bareng Gen. Sebenarnya, aku agak khawatir. Gen di hari Sabtu lumayan merepotkan. Aku harap Gen bisa menahan diri dan tidak berbuat yang aneh-aneh.
Aku dan Gen duduk di taman. Kami berdua makan es krim.
"Hari ini panas banget, ya..." ucap Gen.
"Iya..." kataku, masih menjilat es krim.
Setelah es krim kami habis, Gen kehilangan kendali.
"Yuka. Apa ada yang bisa aku bantu?"
(Haduh... kekuatan anehnya aktif lagi)
"Gak ada," kataku.
Dia memegang tanganku, menatapku dengan wajah penuh harapan, kemudian berkata. "Pliss. Kamu harus minta sesuatu padaku. Aku akan membantumu!"
Aku akhirnya mengalah. "Baiklah. Pijitin aku dong."
Gen tersenyum gembira. "Siap!!"
Kemudian Gen memijat pundakku dengan semangat. Ah... nikmatnya, pegal-pegalku jadi hilang.
Setelah selesai memijatku, Gen mendatangi orang-orang yang ada di taman. Gen menawarkan jasa bantuan apapun. Mereka awalnya kaget, karena ada orang tiba-tiba menawarkan bantuan. Namun, pada akhirnya mereka senang, karena Gen berhasil membantu mereka dengan baik.
(Astaga... pacarku sangat berhati mulia)
(Hari Minggu – Gen yang sebenarnya)
Pagi ini, aku terperanjak kaget. Saat turun dari kamarku, ternyata Gen sedang sarapan dengan Ayah dan Ibu.
"Selamat pagi, Yuka," sapa Gen dengan wajah tanpa dosa.
"Selamat Pagi." Aku menguap karena masih ngantuk.
Gen sarapan dan berbincang-bincang dengan kedua orang tuaku. Mereka seperti orang tua dan anak saja. Mereka sangat akrab.
Setelah aku cuci muka dan merapikan penampilan, aku bergabung dengan mereka.
"Gen. Memangnya hari ini kita ada janjian, ya?" tanyaku.
Gen meminum susu dari gelas, kemudian bicara. "Tidak. Hari ini aku mau jalan ke Kebun Apel sama Ayah. Aku tidak ada urusan denganmu."
"Ayah? Maksudmu ayahku?" tanyaku.
"Iya. Calon ayahku juga." Gen mengangkat alis ke arah Ayahku.
Ibu dan Ayahku tertawa saja mendengar celotehan Gen.
"Kamu gak usah ikut, ya. Kamu kan gak suka kotor-kotoran," ucap Ibuku.
Aku langsung protes. "Gak mau. Pokoknya, aku harus ikut!"
Akhirnya, di minggu pagi yang cerah ini, kami berempat pergi jauh ke kebun apel milik Ayahku. Kami akan memetik apel yang siap dipanen.
__ADS_1
Ah, rasanya aku menyukai Gen di semua hari.
Kecuali hari Selasa.