
"Na, mikirin apa kamu?" Jihan menepuk pundak sahabatnya saat mendapati fokus Nana tak tertuju padanya. Bukan sekali dua kali seorang Zoya Maulina melamun dan entah apa yang dia lamunkan, karena setiap ditanya oleh Jihan maupun Ara dia pasti akan menjawab dengan senyum simpul seperti saat ini.
"Keluar yuk, aku bosen dikelas terus" Zoya melangkahkan kakinya keluar kelas, menuju taman yang tak jauh dari kelas mereka.
Ya, setelah berhasil menata kembali hidupnya, Zoya memulai kehidupan baru sebagai mahasiswa. Walupun bukan termasuk dalam kampus ternama tapi yang pasti dia tak perlu berjauhan dengan sang mama dan bisa perlahan memperbaiki hubungan dengan keluarganya.
Dan sekarang disinilah dia, berdiri sebagai mahasiswi salah satu universitas di Korea dengan beasiswa yang ia dambakan sejak masa SMA meskipun pernah terkendala saat dia mengenal lelaki itu.
Kadang dia kembali membayangkan kilasan kejadian 6 tahun lalu yang membuat dia hancur lebur dan jatuh dalam jurang yang sangat dalam. Namun otaknya mencoba mengalirkan hal-hal positif dan hatinya yang terlalu pemaaf itu seakan membentengi dirinya agar tak terlalu larut dalam kesedihannya.
Kecewa pasti dia rasakan pada dirinya sendiri, tapi logika dia berkata bahwa dia bukanlah orang baik, dan jika dia mengakhiri hidupnya dengan sia-sia, apakah akan berguna juga?
Wanita itu tersenyum, merasakan damai mendalam saat kehidupannya selama ini tak lagi mengenal kata pacar ataupun kekasih dalam hatinya.
Bukan karena apa dia membatasi diri dari lelaki, namun dia masih takut jika saja akan membuat kecewa orang-orang terdekat yang telah menaruh harapan tinggi pada pundaknya.
Gadis berhijab itu tersenyum saat berhasil mendudukan dirinya disebuah kursi taman diikuti Jihan disampingnya sambil memakan bola coklat digenggamannya sedangkan Nana tampak memejamkan matanya,menghirup udara musim gugur yang tengah terjadi di negara ginseng itu.
"laper ni, cari makan yuk" Ara membuka suara saat berhasil menyusul kedua sahabatnya
__ADS_1
Nana tersenyum, dia menggeleng pelan "duluan aja, aku masih nunggu Magrib nanti Ra, sekalian ajakin Jihan ya, aku mau pulang duluan ke asrama nanti kirim pesan aja kalian dimana aku nyusul hehe"
Jihan menepuk pundak Ara pelan setelah dia berhasil memasukan 2 bola coklat ke mulutnya.
"Yaaaak, kau gila mengajak Nana makan? Hari apa ini Choi Ara? Haisshhh" Jiran mendesah pelan sambil memutar bola matanya malas, dirinya merasa tak enak dengan Nana yang kini tengah menahan makan dari pagi sampai menjelang sore, atau bahasa Nana adalah puasa, kebiasaan yang sudah Sabahatnya itu jalankan mungkin sebelum sampai di negara ini.
Ara meringis tanpa dosa pada kedua sahabatnya, lagi-lagi dia lupa hari dan mengherankannya adalah dia melupakan hari dimana Nana puasa saja selain itu dia selalu ingat.
"Ya santai dong lagian Nana juga gapapa kok ya gak Na hehe" Ara menyengir kuda diakhir kalimatnya. Sedangkan Jihan hanya menghela nafas panjang, lalu berdiri menghadap Nana
"Yaudah kita jalan dulu ya Na jangan lama-lama nyusulnya nanti good bye" Jihan menarik Ara menjauh dari taman, meninggalkan Nana yang bahkan belum menjawab ucapannya.
Lelah, jujur saja jika dia bisa mengeluh dia ingin tapi pada siapa? Sedangkan kini dia tengah berada di negeri orang yang bahkan hanya beberapa gelintir orang yang dikenal.
Tapi mengingat ini adalah bentuk penebusan dan keharusan yang harus dia lakukan demi nama baiknya kembali, Nana hanya bisa berusaha sekuat tenaga. Juga sang mama yang menunggu kepulangannya dengan gelar yang sudah tersemat sebelum dia mendapatkannya.
Langkah gontai itu terhenti saat dia seperti melihat sekelebat bayangan sosok yang di hindari melintas jauh di depannya, dia menggeleng pelan mencoba mengumpulkan kesadarannya. Sekali lagi dia melihat sekeliling, memastikan sosok itu hanya khayalannya.
Sesampainya di dorm dia segera membersihkan tubuhnya, dan bersiap menyusul kedua sahabatnya di Myeongdong.
__ADS_1
"Aiiish bahkan ini belum ashar ya Allah, kayaknya aku nerusin laporan dulu deh" ucapnya seraya membuka laptopnya.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, perasaannya baru saja ia melakukan sholat ashar, namun kini sudah menunjukan pukul 7 malam dan dering telepon yang sudah beberapa kali ia abaikan kembali terdengar, tanpa melihat id sang penelepon dia langsung mengangkatnya.
"Yeoboseyo" Nana mengangkat telepon seraya bersiap menyusul kedua sahabatnya
"Nana palli, bukankah sebentar lagi akan tiba waktumu berbuka puasa? Haishh kemana saja kau?"
"Eoh, nee aku segera datang Ara I'm omw tunggu saja oke bye" setelah memutuskan sambungan telepon dia segera keluar dan menuju ke halte bus terdekat karena jika berjalan kaki pasti dia akan berbuka dijalan
Deringan ponsel kembali terdengar, bukan telepon melainkan sebuah notifikasi pesan masuk namun Nana mengabaikannya karena dia berpikir bahwa itu adalah salah satu temannya yang tidak sabar menunggu kedatangannya.
Namun ternyata bukan hanya sekali dua kali notifikasi itu terdengar, sampai beberapa orang terlihat tidak nyaman karena mendengar, sontak saja ia merogoh ponselnya dan segera membuka pesan-pesan masuk yang ia kira dari sahabatnya itu.
Sedetik kemudian dia terbelalak saat melihat bukan dari temannya melainkan dari nomor tak dikenal yang mengirimkan pesan sama
Aku melihatmu cantik -D
Seketika dadanya bergemuruh, nafasnya tercekat juga dunianya seakan runtuh kembali. Apakah berarti siang tadi dia tidak berhalusinasi? Sosok yang dilihatnya tadi adalah Dia?
__ADS_1
Pandangan wanita itu mulai mengabur, tak kuasa menahan pening yang teramat sangat tubuhnya mulai limbung dan kegelapan mulai menguasai penglihatannya.