
"stooopp...." teriakan nyaring berhasil mengalihkan keduanya, bahkan beberapa pengunjung mini market pun ikut menoleh ke sumber suara.
"Daddy, io tidak mau pulang! io akan disini bersama mommy noona. Daddy pulang saja mengurus ahjumma galak dan pekerjaan Daddy itu" tolak io sembari beranjak turun dari gendongan Daewon dan menghampiri Ara.
sedangkan Ara yang melihatnya tersenyum puas dan menjulurkan lidahnya pada Daewon tanda mengejek "wleeee" seraya berjalan keluar area minimarket dengan io dalam gendongannya.
Daewon yang melihat itu mulai tersulut emosi, bagaimana bisa orang asing menggantikan posisinya dihari sang buah hati dengan begitu cepat? bahkan hanya dalam hitungan hari.
tak tinggal diam, Daewon segera menyusul keluar Ara dan io sebelum mereka jauh, dengan jarak aman, dia mengikuti dua orang yang entah akan kemana.
langkah kakinya terhenti kala melihat dari kejauhan keduanya tampak memasuki sebuah rumah yang familiar dipandangnya.
'bukankah itu rumah Yuri?' batinnya mulai menerka
dengan langkah kaki mantap, Daewon menghampiri rumah tersebut dan mengetuknya.
beberapa saat menunggu tampak seorang gadis dengan pakaian yang menurutnya tertutup namun tetap terlihat cantik dari balik pintu.
"eum, maaf cari siapa ya?" tanya wanita itu sopan
Daewon gelagapan, "y-yuri" jawabnya pelan.
perempuan itu hanya mengangguk dan berlalu, dengan tetap menundukan pandangan menghindari kontak mata dengan Daewon.
"ommona, Daewon shi? jinjja?" Yuri terlihat heboh saat mengetahui bahwa yang menyambangi rumahnya adalah teman sefakultasnya dimasa kuliah dulu, Jung Daewon
"dimana putraku?" tanya Daewon to the point
__ADS_1
"ha?" Yuri blank, dia sama sekali tidak paham arah pembicaraan yang Daewon maksud.
"putraku Han Yuri, dimana putraku tadi aku melihat dia masuk rumah ini" tandas Daewon lagi
karena mendengar keributan dari luar, Nana menggendong tubuh io yang tertidur untuk memperingatkan Yuri agar tenang, ditambah akan susah membujuk io yang menangis karena terbangun tiba-tiba.
"eonni, tolong tenang io baru saja tidur" ucap Nana tanpa melihat lawan bicaranya.
"Jinwoon!" teriakan seorang pria berhasil menyentak atensinya, juga tarikan tiba-tiba pada tubuh mungil dalam gendongannya.
sontak io menangis histeris dengan tubuh yang terombang-ambing saat kesadarannya ditarik paksa.
"mommy noona!! hiks" tangisan yang begitu nyaring menyita perhatian, bahkan ada beberapa tetangga Yuri yang keluar sekedar melihat tontonan gratis tersebut.
Nana memejamkan mata, mencoba meredakan emosi yang kiian memuncak saat putranya di ambil alih paksa.
dengan pelan ia menghampiri Daewon yang tengah berusaha menenangkan putranya, namun sepertinya nihil karena io malah semakin terisak.
bisik-bisik tetangga yang beranggapan bahwa mereka tengah bertengkar mulai terdengar, ada pula yang sebagian menasihati jangan bertengkar dirumah orang, apalagi di depan anak kecil. namun hal itu tak diindahkan oleh orang yang berada di dalam rumah tersebut.
"io sayang, pulang dengan Daddy ya. besuk main lagi dengan Junho Hyung, mommy juga yang lainnya, memangnya io tidak rindu Daddy eum?" Nana mencoba memberi pengertian pada io, walaupun sedikit berat, namun disini juga bukan tempat io seharusnya berada.
"noooo mommy noo Daddy sibuk kerja, io ditinggal sama ahjumma galak dirumah, nanti io dipukul lagi mommy noo" io terus saja berontak.
"Daewon, turunkan dia, kau itu dokter apa? kenapa bodoh sekali putramu traumapun kau tak tau" Yuri angkat bicara
"Jinwoon, maafkan Daddy sayang, maaf" Daewon mengusap pipi putranya yang berair itu.
__ADS_1
dia sedikit terkejut saat mengetahui bahwa putranya sendiri memiliki trauma sedangkan dirinya baru tahu, sakit rasanya mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih memahami putranya dibandingkan dia yang adalah ayah kandungnya.
"yaaak paboyaa! apa kau sangat tergila-gila pada wanitamu itu sampai mengabaikan putramu sendiri huh?" Yuri memukul kepala Daewon dengan sedikit kasar, sedangkan Daewon hanya meringis
"mommy noona hiks" panggil io lirih
bocah itu menarik kemeja Nana secara tiba-tiba, sedangkan Nana yang tidak siapun terjerambah kedepan dan menimpa tubuh Daewon sehingga membuat ketiganya terduduk di disofa dengan io ditengah-tengah.
keduanya saling diam, dengan Nana yang senantiasa menundukkan pandangannya, enggan menatap jelaga milik Daewon. sampai deheman Yuri menyadarkan keduanya.
Nana hendak beranjak bangun dan menjauh dari Daewon, naas sofa yang dia jadikan pegangan justru kembali membuatnya terjatuh dalam pangkuan Daewon.
riuh suara tetangga Yuri menjadi lagu pengiring ketiganya yang terlihat bagaikan keluarga bahagia. Nana menggeleng pelan dan segera bangkit sembari mengambil alih tubuh gempal io yang kini menatap keduanya dengan cekikikan.
"mianhae tuan, dan jika tuan tidak bisa menjaga io. saya tidak keberatan untuk menjaganya disini, mengingat ini juga adalah masa liburan kuliah saya" Nana mencoba membuka pembicaraan dan memecah kecanggungan diantara keduanya.
namun bukan Daewon namanya jika tidak keras kepala, "berapa yang kau inginkan? aku tak suka milikku disentuh orang lain" bukannya menjawab Daewon justru mengajukan penawaran pada Nana.
"astaghfirullah haladzim" Nana melirih, serendah itukah dirinya Dimata Daewon kini?
sedangkan di sebelahnya, Yuri juga Ara nampak cemas setelah melihat penghinaan yang diterima Nana, pasalnya Nana adalah wanita yang sangat anti dengan hal semacam tersebut.
"tuan jika memang kau mau menghargai saya dengan uang, bahkan uang anda tidak akan pernah cukup untuk membelinya, pikir dengan otak jenius anda itu jika memang saya menginginkan uang anda kenapa saya tidak menelepon ataupun mengirim pesan tebusan sejak awal saya melihat io? jangan kira saya orang rendahan yang bisa anda hina semena-mena! permisi" Nana naik pitam segera ia beranjak meninggalkan Daewon yang masih mematung juga io yang kembali menangis.
sepeninggal Nana dari ruang tamu itu, Ara angkat bicara "silahkan keluar tuan, rumah ini tidak menerima tamu semena-mena seperti anda" usir Ara sebelum menyusul Nana.
"kau dengar sendiri, bawa anakmu dan jangan pernah kembali ke rumahku tuan Daewon yang terhormat, aku tidak habis fikir denganmu Dae tapi mau bagaimana lagi? Nana tidak akan mau memaafknmu mungkin" Yuri menghela nafas dan ikut beranjak, ia ingin mengusir Daewon. tapi io masih saja terus menangis jadi dia hanya meninggalkan mereka di ruang tamunya dengan Yunjae yang setia berdiri di dekat tuannya.
__ADS_1