
Nana terbangun dalam ruangan bernuansa putih dan bau obat yang menyengat, sudah dipastikan dirinya kini tengah berada di rumah sakit, sendirian, dan kesunyian yang benar-benar ia rasakan entah siapa orang baik yang mau mengantarnya sampai disini sekarang yang pasti dia sekarang harus segera menyusul kedua sahabatnya.
meraih tas dan ponselnya diatas nakas dia mencoba mengabaikan pesan dan rasa takut dalam benaknya tentang keberadaan 'dia' yang masih menjadi bayang-bayang kelamnya.
fokusnya teralihkan saat suara pintu terbuka dan kembali tertutup dengan keras mengagetkannya.dan di sudut ruangan netranya menangkap sosok kecil yang tengah memeluk lutut sambi terisak.
perlahan dia beranjak dari brangkar dan berjalan pelan mendekati anak kecil itu. semakin dekat, semakin terdengar pula Isak memilukan yang keluar dari bibir mungil itu.
"hei sayang kamu kenapa hm?" lontaran pertanyaan itu keluar saat Nana berhasil berjongkok dihadapan bocah lelaki tersebut.
bocah kecil itu nampak terkejut, dan sedikit berjengkit saat menyadari dihadapannya ada seorang dewasa yang begitu dekat.
"j-jangan, jangan pukul io lagi, io gak bakal nakal lagi hiks" bocah bernama io itu semakin meringsek ketakutan dengan kehadiran Nana yang menurutnya tiba-tiba.
sejenak Nana memejamkan matanya, mencoba memahami keadaan bocah dengan iris hazel itu. dia lantas berdiri dan menarik bocah itu dalam dekapannya dengan tangan yang membelai punggung kecil itu.
"ssssttt io jangan nangis ya, noona gak akan pukul io, sekarang io diam dulu ya sayang ssstt biar nanti yang nakal sama io noona yang pukul" untaian kata Nana ucapkan untuk menenangkan tubuh kecil dalam gendongannya itu.
Nana menepuk pelan bokong tubuh gempal yang kini mulai tenang dalam dekapannya. bisikan-bisikan penenang tetap dia lontarkan agar bocah itu merasa aman.
__ADS_1
saat dirasa bocah dalam pelukannya tenang, Nana mulai membaringkan tubuh io ke brangkar pembaringan nya tadi. tak terasa setitik air mata mengalir dari netranya. dia mengelus penuh sayang pipi io. dia terisak dalam diam, memejamkan matanya untuk menahan emosi yang kuat. 'putraku pasti sebesar ini sekarang, seandainya dia hidup' batinnya.
saat suara ketukan pintu terdengar, dia kembali membaringkan tubuhnya di brangkar, mendekap tubuh mungil itu memunggungi pintu berjaga kemungkinan orang-orang yang dimaksud oleh io dalam tangisnya.
"permisi nona, apakah anda melihat seorang anak laki-laki masuk keruangan ini?" interupsi suara berat menyapa pendengarannya.
sedangkan Nana hanya menggeleng lemah sebagai jawaban. setelah itu hanya keheningan yang begitu terasa kembali menyapa.
deruan nafas damai dari io menjadi lagu yang mengalun di pendengar Nana. tangannya mulai terulur mengambil ponsel untuk menghubungi kedua sahabatnya.
Jihan, aku di rumah sakit, tadi ada kecelakaan sedikit but it's fine here, so enjoy your time
setelah mengirimkan pesan pada Jihan Nana segera beranjak untuk kembali ke dorm usai menyelesaikan administrasi di rumah sakit itu, namun tak berselang lama pikirannya kembali tertuju pada io, tidak mungkin juga dia bisa membawanya masuk dorm.
sebersit pemikirannya menuntun dia menuju mini market langganannya di dekat kampus, membawa io pada seorang wanita yang sudah dia anggap sebagai kakaknya. dengan io dalam gendongan bertutup selimut yang ia beli di rumah sakit tadi segara Nana menuju ke minimarket tersebut.
"eonni" teriaknya saat sampai di minimarket yang dia maksud, menengok kesana-kemari mencari sosok ayu yang selalu menjadi tempatnya bercerita.
"wae? ommo nuguya? yaaak kau menculik anak siapa aiisshh" wanita dengan lesung pipi itu nampak terkejut saat mendapati Nana tengah menggendong seorang anak laki-laki dengan sayang.
__ADS_1
beruntung kondisi toko tersebut sedang lengang, dan tidak terlalu banyak pengunjung yang memperhatikannya.
Nana menghela nafas dalam sebelum menjawab rentetan pertanyaan yang dilontarkan Yuri dihadapannya. dengan bersandar pada tiang, Nana mulai bercerita, dari pesan yang mengejutkan sampai io yang menangis dan akhirnya tertidur dalam dekapannya.
Yuri tampak memijit pangkal hidungnya. mengurangi pening yang dirasakannya saat Nana menyebut 'dia' telah menemukan keberadaan Nana, bukan karena apa tapi sebagai dokter yang membantu Nana keluar dari masa kelamny 'dia' akan sangat berpengaruh dalam kondisi mental Nana, mengingat sebelumnya Nana telah mengalami pukulan mental mendalam.
ya, sebenarnya Yuri bukanlah orang biasa, dia adalah psikiater yang tidak sengaja bertemu dengan Nana saat Nana tengah mengalami generalized anxiety disorder ketika awal datang ke Korea, dan hal itu yang sampai sekarang masih mereka berdua simpan rapat-rapat.
"eung,lalu tujuanmu kesini adalah?" tanya Yuri penuh selidik, karna dia yakin jika belum dibuktikan seorang Nana tidak akan mengalami GAD secepat ini.
"hehe, aku ingin menitipkan io bersamamu eonni" ucap Nana tanpa beban
"mwo? kau pikir aku penitipan anak hah? andwaeee! aku menolak!" tegas Yuri dengan nada kesal
"eonni, coba lihatlah bayi ini, kau tega menelantarkan anak selucu ini eoh?" rayuan kembali Nana lontarkan pada Yuri, sembari tangannya yang asik menoel pelan pipi tembam milik io "bukankah Junho juga butuh seorang teman" sambungnya.
"huft, baiklah tapi hanya satu Minggu, ingat SA TU MING GU, setelah itu aku akan mengembalikannya padamu" jawab Yuri pasrah dan dihadiahi kecupan singkat oleh Nana.
"tugasmu hanya belajar dan jangan lupa kau harus pastikan kalau itu benar-benar 'dia' juga kau harus menyiapkan mentalmu Na, aku khawatir kau ak-"
__ADS_1
belum sempat selesai, Nana lebih dulu menjawab dengan santai
"nee, nee, eonni bawel, kalau begitu aku akan pulang ke dorm dulu setelah isya aku akan kesini lagi, tolong jaga putraku oke" Nana menyerahkan io pada Yuri dan melenggang pergi, meninggalkan Yuri yang tersenyum menatap kepergiannya.