
Seungha tampak kesal saat keluar dari kamar tempat Nana berada. dan hal itu tak luput dari netra Daewon yang kini tengah bersembunyi dibalik dinding, sebenarnya lelaki itu tau penyebab kekesalan tunangannya, namun dia tahan gejolak amarah dalam dirinya agar dapat memberi pelajaran pada Seungha sampai ke akar-akarnya.
saat sosok Seungha telah menjauh, segera Daewon masuk kedalam kamar Nana dengan terburu-buru.
braaakkk
pintu kamar itu tertutup secara kasar, mengakibatkan Nana yang tengah terdiam sedikit tersentak.
"astaghfirullah hal adzim,, yaaak kau gila ya?" Nana menatap tajam sosok Daewon yang kini sudah berdiri di samping ranjangnya.
"dari mana kau tau dia hamil?" tanya Daewon
"siapapun itu juga tau dia tengah hamil, mungkin usianya sudah 3 atau 4 bulan, bahkan mungkin air asi nya sudah keluar, karena di negaraku tinggal hal seperti itu sudah biasa" kilah Nana dengan mantap. dia tidak mungkin mengatakan pada Daewon tentang masa lalunya.
"kuharap kau segara menikahinya, kasian anaknya yang tidak tau apa-apa" lanjutnya, dia tidak mau kejadian yang menimpanya dulu juga menimpa perempuan lain
"aegi itu bukan anakku, bahkan aku tidak pernah menyentuh Seungha" tukas Daewon
Nana sedikit terkejut, namun dia juga dapat memahami, ini Korea dan ya hal semacam itu bukanlah sesuatu yang tabu seperti di negara asalnya.
hening sejenak menemani mereka, tak ada yang membuka percakapan itu. sampai dering suara ponsel Nana memecahkan lamunan mereka masing-masing.
'halo mah'
'..........'
'nggak bisa, aku juga sibuk ngurus ini itu disini'
'.........'
__ADS_1
'nggak, aku nggak mau, nggak usah ngirimin orang dan ***** bengek kesini buat aku, aku udah gede, aku bisa urus diri aku sendiri'
'............'
'stop sama semua ini mah! beri aku pilihan juga, nggak semua yang aku lakuin itu salah, jangan gara-gara yang dulu terus mamah bisa ngekang aku gini mah!'
telepon dimatikan sepihak oleh Nana, dengan nafas memburu dia masih menatap layar ponsel yang kini hanya menampilkan warna hitam tersebut. dia mengelus wajahnya kasar, harus bagaimana lagi dia meyakinkan mamanya bahwa dia tidak akan seperti dulu. ponselnya kembali berdering
'udah aku bil-
'cantik stop marah-marah sama mamah ya kkk'
tubuh Nana kembali menegang, juga ponsel yang luruh dari genggamannya. Daewon yang melihat itupun mulai menyadari sinyal bahaya dari tubuh Nana, segera dia memeluk tubuh gadis itu sambil terus mengalirkan kata-kata penenang agar Nana lebih rilex.
"na, Nana tenang ya saya disini" bisiknya pelan seraya mengelus punggung gadis itu.
daewon merasa dadanya basah, juga cengkraman pada bahunya yang kian menguat saat Nana melontarkan kalimat seolah mengusir seseorang.
walaupun Daewon tidak begitu paham bahasa yang dilontarkan namun sedikit banyak dia bisa menangkap apa yang dikatakannya.
dengan pelan Daewon meraih ponsel Nana dan melihat log panggilan yang baru saja diterima, ada 2 nomor dengan id mom❤️ juga satu yang tidak disimpan. dan Daewon yakin bahwa itu adalah nomor milik 'dia' yang Yuri ceritakan. sebenarnya Daewon sudah tau semua hal tentang Nana dari Yuri kemarin saat dirinya mendapat telepon mendadak dan pesan alamat tujuan yang membawanya sampai di kamar asrama milik Nana, namun rasanya belum tepat dirinya menanyai langsung pada Nana melihat Nana benar-benar membentengi diri dari lelaki yang mencoba mendekat.
deru nafas teratur mulai Daewon rasakan pada dadanya, juga air mata yang mulai mengering pada kemeja yang ia kenakan, dengan pelan pria itu membaringkan Nana yang kini tengah terlelap dengan damai, walaupun sesekali dia dapat melihat kerutan dahi pada wajah ayu sang mommy putranya.
tak ingin mengambil resiko lebih parah, dia segera mengambil ponsel Nana dan membawanya pergi, dia sangat penasaran dengan sosok yang kini tengah membayangi Nana tersebut.
saat menuruni tangga dapat dilihat Seungha yang tengah bersedekap dada dengan pipi menggembung yang dianggap memuakkan baginya.
saat mendapati presensinya tengah berjalan tergesa, wanita itu malah justru menghadangnya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"minggir! aku ada urusan" daewon masih mencoba bersabar.
bukannya mundur, Seungha malah semakin gencar menghalangi Daewon yang akan keluar demi gadis yang kini berada di kamar tamu itu.
"andwae" ucapnya
"temani aku belanja, jangan hanya kau urus pasien gilamu itu" lanjutnya.
mendengar Nana disebut gila, Daewon naik pitam. dia segera menggeser tubuh Seungha dengan sedikit kasar dan menjatuhkannya di sofa. entahlah dia hanya tak terima pasiennya disebut gila.
"ingat Seungha, dia tidak gila! bedakan mana gila dan sakit!" tegasnya.
mendengar pembelaan dari Daewon Seungha hanya berdecih kesal. "iya sakit, sakit jiwa kan? apa bedanya dengan gila hah?" jawabnya lantang.
Daewon mengepalkan tangannya, jika Seungha menghina pasiennya bukankah berarti wanita dihadapannya kini juga tengah menghina profesinya?
ah jika terus berdebat dengan rubah ini tidak akan ada habisnya. segara saja Daewon pergi, meninggalkan Seungha yang masih terus mengoceh tentang Nana yang kini berada di rumahnya.
"daddy mau temana?"
suara sang putra menyapanya saat dia baru saja keluar dari pintu utama rumahnya. ditatapnya bocah gempal yang kini sudah bisa bermain-main dengan lincah. daewon berjongkok, menyamakan tingginya keduanya dengan senyum simpul di wajahnya.
"membeli obat untuk mommy mu son" bohongnya, karena dijelaskan pun percuma mengingat usia Jinwoon yang masih sangat kecil.
"ikut?" tanya Jinwoon antusias
"no son, kau dirumah menjaga mommy okay? kalau ada apa-apa segara telfon Daddy atau paman Jae"
seketika senyum di pipi chubby itu luntur, tapi tak urung dia juga tersenyum karna mendapat tugas menjaga mommy nya.
__ADS_1
"oke boss" bocah itu menjawab sembari memberi hormat dan berlalu pergi, meninggalkan Daewon yang hanya tersenyum.
"lihat ji, putra kita sudah mulai dewasa" batinnya bergumam