
satu Minggu sudah sosok io hadir menemani hari-hari Nana dan sahabat-sahabatnya, walaupun beberapa kali dia rewel dan meminta hal yang tidak dimengerti oleh Yuri ataupun Nana, tapi Nana dengan cermat bisa membuat io lupa dengan keinginannya.
"mommy noona io lapal" suara khas cadel io membuat gadis-gadis disekitar tersenyum gemas
"eoh, wait a minute baby boy" teriak Nana dari dapur rumah Yuri, ya selama seminggu ini mereka bertiga selalu pulang pergi ke rumah Yuri, terlebih Nana yang sangat dekat dengan io.
terkadang io merengek meminta agar dia bisa bermain di taman seperti anak-anak dalam acara tv yang ia tonton, namun demi keselamatannya Yuri maupun Nana pasti akan menolak secara halus, mengingat saat awal bertemu io seperti ketakutan dan sedikit trauma.
aroma wangi menguar saat bubur dan juga beberapa makanan khas Indonesia tersaji di meja, bahkan Junho yang tengah sibuk dengan puzzle nya pun mendekat.
ya, tidak sekali dua kali Nana memasak dan rasanya tidak perlu diragukan lagi, entah ramuan apa yang dia tambahkan, namun makanannya pasti selalu menggugah selera. tak berbeda dengan io yang mulai menjadi pecandu bubur buatan Nana.
"mommy noona, io lapal lapal ayo mam" tubuh gempal io berjingkrak pada kursi khusus balita milik Junho dulu.
"diamlah gendut kau sangat berisik!" ucapan pedas terlontar dari mulut kecil Junho
"noooo! io tidak dendut tapi cehat ya kan mommy?" sanggah io meminta pembelaan kepada Nana
sedangkan Nana hanya tersenyum dan mengecup pipi kedua bocah yang bisa dibilang sebagai duplikat Tom and Jerry itu bergantian.
bukan hal baru jika Junho dan io adu mulut, bahkan dulu Junho dengan santainya merebut mainan yang tengah di pegang io, kesannya seperti cemburu mungkin?
intinya semenjak io masuk kerumahnya Junho menjadi anak yang galak, ya mungkin dia takut jika mama nya akan direbut oleh si gempal io itu.
__ADS_1
"sudahlah anak-anak, sekarang kalian harus makan dan diam hargai makanan yang tengah kita nikmati ini" Ara menyajikan dua mangkuk bubur dihadapan keduanya.
"Noona, aku mau nasi! aku sudah besar kan harus makan nasi dan sayur bukan bubur seperti si gendut" ucap Junho dengan nada menyindir dan sedikit melirik io yang cuek bebek di sampingnya.
sedangkan di tempat lain, seorang pemuda tengah menahan amarah saat mendapat informasi dari bawahannya bahwa putra semata wayangnya telah menghilang lebih dari satu Minggu dan orang-orang dirumahnya hanya diam tanpa memberinya kabar.
"Yunjae atur kepulanganku secepatnya, aku mau sebelum malam aku telah tiba" titah Daewon pada tangan kanannya
ya sudah hampir satu bulan Daewon meninggalkan Seoul dan menetap di Busan, selain untuk mengurus bisnisnya dia juga mendapat perintah dari rumah sakit bahwa di Busan tengah kekurangan tenaga medis.
dan sekarang dia tengah menyesal, kenapa dia tidak mengikut sertakan Jinwoon bersamanya, jika tau bocah itu akan menghilang.
"mianhae" lirihnya
"tuan, pesawat sudah siap" Yunjae membungkuk hormat menginformasikan kesiapan kepulangan sang tuan.
dengan tergesa, Daewon segera menuju bandara, walaupun memang Seoul-Busan bisa menggunakan mobil tapi Daewon tak ingin mengulur waktu lebih lama untuk segara mencari keberadaan anaknya di pusat kota.
tiga puluh menit berlalu Daewon telah sampai di mansion utama keluarga, saat hendak masuk sayup dia mendengar suara familiar yang tengah tertawa puas dengan lantangnya.
"hahaha, dan jika anak sial itu tidak ada maka bayiku ini bisa menjadi pewaris grup Na seutuhnya"
Daewon mengepalkan tangannya, bisa-bisanya dia mempercayakan putranya pada serigala berbulu domba seperti itu, dan lagi dia tengah mengandung? bahkan menyentuh ujung kuku wanita itu saja Daewon tidak pernah, dia ingin menjadi penerus grup Na? Daewon tersenyum miring dan segera pergi dari kediamannya.
__ADS_1
"Jae, kita ke hotel sekarang, dan jangan biarkan Seungha tau kalau aku telah kembali" titahnya pada Yunjae.
walaupun ingin tahu, Yunjae lebih memilih diam dan menuruti perintah atasannya tersebut. dalam benaknya dia bertanya-tanya, sebenarnya apa yang dilakukan nona Seungha sampai tuannya sangat marah kini.
saat di perjalanan menuju hotel, netra Daewon tak sengaja menangkap sosok kecil yang sangat mirip dengan putranya di sebuah minimarket, sontak ia menginterupsi untuk berhenti dan segera turun dari mobil untuk memastikan penglihatannya barusan dan lagi-lagi Yunjae hanya bisa menurut apa yang dikata tuannya.
"ikut aku turun dan periksa seluruh bagian minimarket ini!" ucapnya seraya berjalan memasuki minimarket diikuti Yunjae di belakangnya.
netranya terus menyisir setiap sudut minimarket itu, berharap penglihatannya tadi tidak salah, namun sudah lebih dari 15 menit berlalu Daewon tak juga menemukan Jinwoon.
saat hendak berjalan ke kasir, Indra pendengarannya tak sengaja menangkap suara cekikikan yang berasal dari kamar mandi, segera ia berlari dan memeriksa disana.
braaakkk
pintu kamar mandi didobrak paksa oleh Yunjae, menyebabkan seorang gadis berjengkit dan mundur secara refleks.
"Jinwoon" tukasnya seraya merebut tubuh mungil Jinwoon dari gendongan gadis dihadapannya yang masih terlihat syok.
"yaaaak lepaskan anak itu yaaaak" marah gadis itu saat mendapati bocah yang ia ajak telah berpindah tangan, namun tak diindahkan oleh Daewon.
"yaaak ahjussi lepaskan putra temanku" teriaknya lagi, dan kali ini berhasil menghentikan langkah pria aneh tersebut.
"io jangan takut, Noona Ara akan melindungi io dari orang aneh seperti mereka berdua ini" ucapnya seraya berusaha merebut io dari gendongan pria aneh yang ia sebutkan, namun tertahan karena pria itu juga tidak mau melepas gendongannya.
__ADS_1
"stooopp...."