Kembalinya Hati Yang Hilang

Kembalinya Hati Yang Hilang
06


__ADS_3

disisi lain, Yuri tengah berusaha menelpon seseorang dengan tidak sabaran. setelah selesai praktek, dia sangat terkejut melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Nana, sedangkan dia sendiri sangat tau betul bagaimana tidak tanduk Nana.


'halo, tolong kau datang ke alamat yang sudah kukirimkan padamu sekarang, dia salah satu pasienku yang sudah sangat kritis'


ucapnya sepihak setelah panggilan tersambung. demi apapun sekarang dia sangat amat khawatir pada Nana tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena pasien yang menunggunya masih begitu banyak.


sore harinya, seorang gadis tampak mengerjap perlahan, menyesuaikan Indra penglihatannya dengan cahaya yang menyeruak melalu celah gorden kamar bernuansa cokelat itu.


"aku dimana?" gadis itu bangun dengan tangan gemetar ketakutan.


saat dirinya ingin beranjak dari ranjang, pintu kamar terbuka pelan, menampilkan sosok mungil yang kemarin tidak dihiraukannya.


"mommy noona Cuda bangung?" tanya bocah 4 tahun itu seraya merangkak menaiki ranjang, dan duduk di pangkuan sang lawan bicara.


"io? dimana kita sekarang?" tanya Nana to the point


"dilumah io dan Daddy, kemalin mommy Noona bobo lama telus Daddy gendong tecini" jelas io dengan logat cadelnya


Nana tercengang, itu berarti dirinya telah pingsan selama 1 hari dan berada di rumah yang ia yakini mewah ini selama itu. pening seketika dirasakan olehnya, memikirkan sosok yang bertingkah layaknya peneror dalam hidupnya.


"kau sudah bangun?" suara bariton berhasil memecah lamunannya.


"ya"


jujur saja Nana belum terbiasa berinteraksi dengan laki-laki lagi terlebih sekarang dia masih berada dalam bayang-bayang kelamnya, juga sosok yang terus menerus menguntit dirinya itu. bukan dia bermaksud tidak sopan pada Daewon, tapi dirinya terlalu takut.

__ADS_1


"makan lah, aku akan keluar, kajja Jinwoon" Daewon beranjak setelah meletakkan nampan berisi bubur juga obat di nakas. saat hendak meraih lengan mungil io, bocah itu malah berjalan mendekat pada Nana yang masih setia dengan kebisuannya.


"mommy mam, mam" io menunjuk mangkuk bubur dan menyentuk bibir Nana bergantian.


"Jinwoon mau tinggal?" tanya Daewon


bocah gembul itu tidak langsung menjawab, dia menatap Nana untuk meminta persetujuan. sedangkan Nana hanya tersenyum seraya mengangguk, lagipula disini dia tidak kenal dengan siapapun kecuali io.


Daewon tersenyum samar, baru kali ini dia melihat putranya dekat dengan wanita selain ahjumma yang membantu merawatnya sedari kecil.


dengan langkah pasti sosok gagah itu melangkah meninggalkan keduanya yang tengah bercanda tanpa memperhatikannya.


"chagiya.."


mendengar suara manja yang sangat dia kenali membuat senyum Daewon pudar, dia sedang malas berdebat dengan Seungha sekarang, tapi dia juga tidak akan bisa menghindari wanita iblis yang kini tengah menatapnya dengan genit itu.


"mwo?" tanyanya santai


"kenapa kamu bawa gadis tidak jelas itu kerumah kita? kenapa harus kau yang memungut dia Dae?" nada bicara Seungha terdengar kesal dengan apa yang dilakukan oleh pria tersebut.


"dia pasienku" jawabnya singkat sambil berjalan menuju ruang kerjanya.


Seungha tampak mendengus kesal dengan jawaban yang Daewon berikan. entahlah semenjak dia pulang dari Busan Beberapa hari lalu sikap lelaki itu berubah drastis nyaris tak memperdulikannya.


ditengah berkecamuknya pikiran dan hati Seungha, dari balik pintu terdengar suara tawa bocah dengan orang dewasa bersahut-sahutan. Seungha tampak penasaran, seperti apa rupa gadis yang dibawa oleh Daewon masuk dalam mansion ini.

__ADS_1


dengan sedikit ragu gadis tersebut membuka tanpa suara pintu kamar tempat Nana tengah bercengkrama dengan io. dapat dilihatnya kedua insan berbeda umur itu tengah bercanda dengan sesekali Nana menggelitik tubuh gempal io.


Seungha memejamkan matanya sejenak, ada kilatan cemburu dalam sorot matanya. kenapa harus memilih wanita baru sedangkan dirinya telah lama berusaha mendekatkan hati io dengan berbagai cara.


pikirannya yang licik mulai menyusun rencana untuk menyingkirkan keduanya, juga agar dia bisa segera tidur dengan Daewon sebelum perutnya bertambah besar.


ceklek


suara pintu terbuka mengalihkan atensi sepasang anak ibu dalam kamar tersebut. Nana dapat menangkap ketakutan dalam sorot mata io yang kini beralih kepangkuannya dengan perlahan.


"jadi ini rupa dari seorang pahlawan yang menyelamatkan Jinwoon? hah kukira lebih cantik dariku" celetuk Seungha meremehkan.


Nana yang tidak mengetahui siapa wanita yang kini duduk di sofa kamar tersebut hanya menghembuskan nafas jengah, baru saja lelaki dengan temperamen aneh itu keluar kini sudah digantikan dengan rubah betina tanpa sopan santun yang mengganggunya.


"io, keluar dulu ya sayang mommy mau bicara dengan imo itu dlu" pinta Nana pada io, karna dia yakin wanita dengan pakaian kurang bahan dihadapannya itu ingin berbicara dengannya, terbukti dengan datangnya dia yang entah dari mana.


io hanya diam menurut apa yang dikata oleh Nana, dia turun dari ranjang dan berjalan dengan kaki mungilnya menuju pintu yang masih setengah terbuka dan menutupnya dengan pelan.


Seungha tersenyum miring, dia sedikit takjub pada insting Nana yang sangat peka.


"langsung saja, kuharap kau menjauh dari keluarga ini" papar nya to the point


Nana dibuat bingung sendiri, jadi wanita dihadapannya ini mengira dia akan merebut Daewon juga io darinya? bukankah seharusnya Nana yang marah karena diculik dengan paksa 2 hari lalu? batinnya tertawa menanggapi ucapan Seungha barusan.


"jadi hanya karena ini anda secara pribadi menemui saya? tapi maaf sebelumnya nona, ekspektasi yang anda bayangkan tak semulus kenyataannya. karena nyatanya saya juga tidak suka berada di rumah ini, mungkin jika hanya dengan io bisa saya pertimbangkan tapi untuk dokter Daewon saya menolak" jelas Nana dengan tegas

__ADS_1


"beraninya kau merendahkan Daewonku, kau pikir trik tarik ulurmu ini akan berhasil? cih kau bahkan tak layak berada disini" ucap Seungha penuh penekanan


__ADS_2