
Sambil menunggu waktu berjalan, Tiara masuk kedalam box hijau. Menyanyikan beberepa lagu kesukaannya, seorang diri didalam box. Karena Desi sedang sibuk dengan costumer yang hendak bernyanyi di dalam box. Tiara pun tak ingin menganggu Desi dengan pekerjaannya.
Tak lama, seorang lelaki berperawakan tidak terlalu tinggi, kulit tidak terlalu putih ataupun hitam, mata sipit, rambut rapih, berpakaian santai kaos dan celana jeans datang menghampiri box hijau tanpa mengetuk pintu. Lalu dia duduk di sebelah tiara. Mengambil mic dan ikut bernyanyi, ya.. di dalam box itu ada 2 mic yang menggantung di sisi kanan dan kiri.
Daniel. Kami berdendang bersama, lagu yang sedang diputar di layar televisi. Kami bernyanyi dengan lebay dan alay saat ini. Tiara merasa lebih berwarna saat Daniel datang dan bernyanyi bersama, di tengah tengah lagu sempat tertawa dan melanjutkan kembali menyanyikan lagu hingga selesai.
"Ti . . . ikut ga? tar malem. Kita mau dugem loohhh," kata Daniel.
"Engga ah . . . takut . . . ga pernah ke tempat begituan," kata Daniel.
"Makanya lu kudu tau tempat begituan. Biar tau begimana isi nya . . .," rayu Daniel.
"Ogah . . . lagian tar gue bilang apa sama Nenek."
"Gampang, bilang aja tidur di rumah Riya. gapapaa kali," kata Daniel.
"Emm . . . gimana yaaa . . .." Tiara banyak berfikir.
"Ikut ga yah? takut tapi pengen tau juga. Kapan lagi ada kesempatan liat tempat dugem," kata Tiara dalam hati. "Apa gapapa yaaa kalo boong sedikit sama Nenek? ngomong ke mamah langsung aja kali ya . . . pengen tau juga sih."
"Yaudah tar gue ngomong ke nyokap dulu," kata Tiara.
"Yakin lu mau ijin sama nyokap? di bolehin gitu?" kata Daniel tidak yakin.
"Yaa belom di coba . . . hahhaa," kata tiara.
Diambillah hp Tiara dari tas. Mulai tiara mengetik sms ke mamahnya yang berada di kota lain.
Tiara adalah anak rantau dari daerah. Dia memang mencari kuliah yang tidak berasal di kota tempat dia tumbuh. Alasannya karena bosan. Ingin sesuatu yang baru. Jauh dari orangtuanya. Agar bisa sedikit lebih 'bebas'. Tapi orangtua Tiara menyetujui anaknya kuliah diluar kota. Tapi dengan syarat di kota tersebut masih ada sanak saudara. Supaya kedua orangtuanya bisa tetap memantau anak gadisnya. Hampir semua saudara Tiara berada di kota Bandung. Jadi tidak ada pilihan lain selain mencari tempat kuliah di Bandung.
Assalamu'alaikum
Mah, boleh ga Tiara maen ke tempat hiburan malam kota Bandung? pengen tau kehidupan malam di Bandung. perginya sama temen temen, ada Daniel, Desi sama yang lain juga. Beneran deh cuma pengen tau aja . . .
ga ngapapain . . . insya Allah bisa jaga diri mah . . .
gimana? boleh ga?
Daniel melirik Tiara yang sedang mengetik sms. Daniel hanya menepok jidatnya.
"Ni anak jujur amat ama emaknya, calon ga di bolehin ini mah euy," kata Daniel dalam hati.
"Gimana boleh ga?" tanya Daniel.
"Bentar, belom di bales," kata Tiara sambil melihat hpnya sedari tadi.
Yaa begitulah Tiara, banyak hal ketakutan dalam melangkah. Bahkan untuk bermain saja dia ijin ke mamahnya. Karena Tiara tau, kali ini dia akan bermain ke "rumahnya setan". Tiara sebenarnya takut. Makanya meminta ijin ke mamahnya. Mungkin kalau anak seumuran Tiara, dan berniat akan pergi ke tempat dugem akan berbohong dengan seribu alasan kepada orangtuanya. Tiara memang anak yang sedikit berbeda. Sejak ABG, Tiara selalu jujur mengatakan akan pergi kemana kepada orangtuanya. Saat SMP, ketika Tiara dan teman temannya akan mengunjungi bioskop untuk pertama kali. Teman temannya berbohong pada orangtua mereka, tidak mengatakan akan ke bioskop. Beres nonton bioskop, teman temannya merasa tidak tenang. Karena berbohong. Mereka sibuk memikirkan akting apa yang harus mereka lakukan saat sesampainya di rumah. Tiara saat itu tenang saja. Karena dia sudah bilang kepada orangtuanya. Bahkan saat SMA, saat sekolah tidak ada kegiatan belajar. Kami pulang lebih cepat. Kami pun tidak langsung pulang. Anak gadis kalau pulang cepat pasti ketempat tukang bakso. Makan siang disana. Selalu di akhir makan siang kami, teman teman SMA tiara pada kebingungan.
"Aduh bilang apa yaa . . . kalau nyokap tanya . . . udah makan belum?"
"Wah sampe rumah harus makan lagi, padahal udah kenyang banget ini."
Tiara cuma bisa geleng geleng kepalanya melihat kelakuan para sahabat SMA nya. Kebiasaan mereka adalah tidak jujur. Bahkan kepada orang terdekat mereka, orangtua. Terutama Mamah.
Tidak lama, Mamahnya Tiara menelpon. Tiara menyuruh Daniel untuk keluar dari box. Tiara ingin ngobrol berdua dengan Mamahnya.
"Hallo . . . Assalamu'alaikum Mah . . .."
"Wa'alaikumsalam, teh . . . bener mau keluar malem?" tanya Mamah.
"Iyah . . . boleh ga? kalau kata Mamah boleh, Tiara pergi. Kalo engga juga gapapa. Tiara cuma pengen tau aja. Kebetulan di ajak sama temen mah," jelas Tiara.
"Yaudah boleh, tapi harus jaga diri ya," kata mamah.
"Iyah, nanti kalo udah mau berangkat, Tiara kabarin ya Mah," kata Tiara.
"Iyah" kata Mamah.
"Assalamu'alaikum Mah," salam Tiara.
"Wa'alaikimsalam teh," balas Mamah.
Tiara keluar dari box hijau. Lalu costumer berikutnya masuk kedalam box hijau.
"Gimana ti . . . boleh ga?" kata Daniel. Desi masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Boleh donk beb . . .," jawab Tiara.
__ADS_1
Mereka berdua mengacungkan kedua jempot mereka.
Waktu menunjukan jam 9 malam. Waktunya Desi menutup tempat kerjanya. Tiara dan Daniel pun ikut membantu.
"Aduh aku pake baju apa ya . . . aku ga punya baju seksi euy. Adanya baju ini aja," kata Desi seraya membawa tas ranselnya. Ia mengeluarkan sebuah baju yang menurut Tiara cukup seksi. Baju sabrina berlengan panjang. Panjang baju sampai di atas lututnya.
"Euleeuuuhh jadi euy si Desi dugem . . .," kata Daniel.
Kami semua tertawa.
"Iyah donk . . . kita kan udah rencana dari kemaren," kata Desi sambil tertawa centil.
Tiara dan Daniel hanya menggelengkan kepala mereka bersamaan melihat kelakuan Desi yang sangat senang akan pergi ketempat dugem. Sedangkan Tiara, hatinya dagdigdug seerrr . . . beda dengan Desi yang senang.
Kami berdua menunggu Desi ganti baju di dalam box. Selesai ganti baju. Kami menuju lift karyawan. Keluar gedung mall, dua teman kami sudah menunggu. Ifan dan Diki.
"Yuuukkk . . . cuuuzzz," kata Diki.
"Naek apa kesana nya?" tanya Tiara.
"Angkoooooottt," kompak berempat.
Kami memang akan pergi ketempat dugem yang katanya sedikit high. Tapi kami tidak melupakan jadi diri kami, yang lowprofile alias kere alias ga punya duit. hihi
Sesampainya di kawasan tempat dugem. Kami menunggu di luar. Karena tempat dugem belum buka. Desi sibuk dengan riasan makeup. Tiara sibuk dengan hatinya yang dagdigdug ser. Ifan dan Diki sibuk mencari mangsa. By the way, Ifan dan Diki itu 'belok'. Daniel juga. Sejauh mata memandang, ketiga temannya bisa Tiara lihat. Hanya Daniel yang tidak terlihat. Tak lama Daniel datang dengan plastik hitam. Membagikan kami minuman air mineral 600ml.
"Nih . . . minum sampe abis. Sekarang kita jadi onta. Selama didalem kita ga bisa beli minuman. Mahaall cyiinnn . . . karna itu abisin aernya. Simpen di tembolok masing masing. Oke?" kata Daniel.
"Oke.." jawab Desi, Ifan, Diki serempak. Tiara hanya mengangguk angguk saja tanda mengerti.
Mereka menghabiskam air mineral itu sedikit semi sedikit hingga habis.
"Ready guys?" kata Diki.
"Cuuuzzzz . . ., " jawab Ifan.
Kami memasuki sebuah ruangan. Ternyata itu adalah sebuah bar dan ada panggung untuk memainkan musik. Kami menaiki tangga, ada dua penjagaan. Tiara di tuntun daniel. Urutan kami dari yang paling depan, Daniel, Desi, Ifan, Diki, Tiara. Kami masuk dengan gratis karena Daniel memiliki kenalan. Tiara tak mengerti.
Kami harus memperlihatkan KTP. Teman teman Tiara sudah berjalan sekitar 100 meter. Saat KTP Tiara di cek. Umur nya kurang dari 21 tahun. Tiara tidak boleh masuk. Tiara panik. Umurnya masih 18 tahun saat itu. Tiara memanggil teman temannya. Tapi mereka tidak mendengar. Karena suara musik yang sangat bising. Tiara mundur dari antrian. Mau pulang takut. Hari sudah sangat malam. Mendekati tengah malam. Tiara hanya berdiri di belakang. Untung Daniel kembali saat sadar temannya tidak ada. Entah apa yang dikatakan Daniel pada penjaga, hingga Tiara bisa masuk.
Saat masuk\, Tiara seperti anak kampung. Mata melihat kesekeliling tempat. Melihat lampu kerlap kerlip. Pencahayaan yang remang remang. Lalu kami di suguhi minuman warna warni. Seperti botol teh b*tol s*sr*. Tapi warnanya beraneka ragam. Ada ungu\, merah\, dan lain lain.
"Enak tau . . . kayak cocac*l*\," jawab Desi. Tiara mengangguk angguk.
"Nih yang punya kamu, aku yang ungu yah . . . belom pernah nyobain yang ungu. Waktu itu pernah coba yang merah," kata Desi. Kembali Tiara hanya menganggukan kepalanya mengerti.
Tapi pandangannya tetap tertuju pada tempat itu. Dilihatnya ruangan itu. Dari setiap sudut. Atas bawah, melihat orang orang meroko, minum, berdansa. lalu Daniel menghampiri.
"Udah jangan kayak gitu liatnya . . . keliatan banget lu dari kampung . . . hahha," ledek Daniel. "Turun yuk . . . dance, liatnya dari tempat dance aja. Jadi ga keliatan banget lu kl mau liat liat tempat ini."
"Oke . . . akhirnya, gue masuk juga kerumah setan. Ternyata gini dalemnya," kata Tiara serius sambil mengangguk angguk kepala dan melihat kesemua arah.
"Hhahahaha . . . gila lu . . . tempat asik gini dibilang rumah setan," ledek Daniel.
Kami berbicara sambil teriak teriak karena memang bising sekali tempat ini. Lalu\, Tiara meminum minuman yang kata Desi kayak c*c*cola. Habis setengah botol. Lalu mereka kelantai dansa. Tiara tidak bisa dance. Karna malu.
"Bebaaass keun t i . . ., " teriak Ifan. Tiara hanya tersenyum.
Matanya tertuju pada atas ruangan, lampu, dan orang orang didalamnya.
"Ti . . . ada cowo ganteng . . .," teriak Desi.
"Mana?" balas teriakan yang lebih kuat dari Tiara.
"Ituu tuuu . . . liat ga? yang pake baju garis garis," kata Desi.
"Manaa . . .." cari Tiara.
"Ihh itu . . . yang garis garis coklat. Lucu dancenya, kayak yang lagi nonjok nonjok gt . . . hahaha," kata Desi.
"Oh . . . iyah iyah . . .," kata Tiara. Biar cepat. Dia tidak melihat yang Desi maksud.
"Lucu ya ti . . .."
"Iyah Des . . .." nyengir Tiara.
Mereka larut dalam canda tawa.
__ADS_1
***
Di rumah orangtua Tiara.
Mamahnya Tiara tidak memberi tahu Ayah Tiara, bahwa anak gadisnya sedang ingin mengetahui kehidupan malam di kota besar. Mamahnya Tiara hanya bisa berdoa minta pertolongan Tuhan. Agar anaknya diberi keselamatan, dijauhkan dari hal hal yang tidak baik.
***
Saat Tiara, Desi, Daniel, Ifan dan Diki mencari tempat duduk.
"Pliiiss kalian bantuin aku. Aku pengen kenalan sama yang baju coklat garis garis," kata Desi.
Mereka berempat segera melihat, cowok yang dimaksud Desi.
"Oh . . ., " kompak berempat.
"Jangan kita lah . . . yang ada kabur entar," kata Ifan sambil menunjukan jarinya kepada diri sendiri, Diki dan Daniel. Lalu mereka berlima tertawa bersama. Lalu mereka nengok serempak ke arah Tiara. Tiara melotot . . .
"Maksudnya? ih ga mau . . ." kata Tiara.
"Pliiisss ti . . .," pinta Desi.
"Lu aja sendiri . . . kan yang mau kenalan elu . . .," kata Tiara.
"Pliisss atuh . . . tar ongkos taksi gue yang bayar . . . bener deh . . .," kata Desi cengar cengir.
"Tapi gue ga mau sendiri . . . malu . . .," kata Tiara.
Desi menyodorkan Diki.
"Sama Diki . . . cepatan ih . . . aku siap siap dulu," kata Desi. Sambil sedikit mendorong badan Diki dan Tiara, agar cepat mendekar ke arah lelaki berbaju garis garis yang Desi maksud.
Kami berdua mencoba mendekati pria yang dimaksud. Kami berdua pura pura dance dekat lelaki itu. Tiara sedang memutar otaknya. Apa yang harus dilakukan. Tiara menatap Diki, mengaharapkan ide. Tapi Diki hanya menaikan kedua bahunya. Tampak tidak tahu juga.
"Harus ngapain ya . . . aduuhh pacaran aja gue kagak pernah. Apa lagi harus ngajak kenalan cowo? aduuhh . . . si Desi ada ada aja. Tapi lumayan sih ongkos taksinya. Secara udah malem. Apa langsung to the point aja ya,"
pikir Tiara.
"Hai . . .," kata pertama Tiara.
Lelaki itu hanya nengok ke arah Tiara dan pandangannya menuju ke arah depan lagi.
"Buset . . . songongnya . . males beuut . . ."
"Boleh kenalan ga?" tanya Tiara.
"Ya . . . hel . . .." katanya sambil menyodorkan tangan.
"Apa?" kata Tiara.
"Hel . . .," katanya lagi.
"Siapa?" tanya Tiara lagi.
"Hel . . ." katanya lagi.
"Siapa siapa . . ., " tanya Tiara lagi.
"Hel . . .." jawabnya lagi.
"Oh iya ya . . . sorry ga denger. Berisik," jawab Tiara. Si lelaki hanya mengangguk. Canggung lagi, antara keduanya. Karna ternyata Diki sudah kembali ke posisi temen temennya berada. Meninggalkan Tiara dengan lelaki itu.
"Aduh namanya siapa sih . . . ga kedengaran. Kl gue tanya lagi, nama nya . . . keliatan banget yak gue budeg. Hihi . . . biarin deh . . . iyahin aja biar cepet."
"Temen gue ada yang mau kenalan sama lo . . . tuh ada disana . . .." tunjuk Tiara kepada Desi. Lelaki itu ikut menengok. "Boleh, temen gue kenalan?" tanya Tiara.
LKelaki itu hanya mengangguk.
"Oke tunggu ya . . .," pinta Tiara.
Tiara melangkah ke arah Desi dan mengajaknya berkenalan dengan lekaki yang berbaju coklat garis garis itu.
"Yuk des . . .." ajak Tiara.
"Asiikk . . . namanya siapa?" tanya Desi.
"Ga tau . . . tanya weh olangan," kata Tiara.
__ADS_1
Mempertemukan kedua orang itu. Lalu Tiara menjauh dari mereka. Biar mereka yang melanjutkan akhirnya. Tiara berkumpul dengan teman teman 'belok'nya. Menikmati suasana yang sebenarnya tidak 100% Tiara nikmati. Hanya saja Tiara bisa tertawa melihat tingkah laku Ifan dan Diki.
Itulah pertemuan pertama Tiara dan lelaki berbaju coklat . . . tidak ada yang spesial.