
Anak perempuan dengan kepang dua itu menuruni anak tangga rumahnya dengan terburu-buru, tidak perduli berapa anak tangga yang dia loncati.
Beberapa detik yang lalu, sang mama meneriaki dirinya karena terlalu lambat bersiap-siap.
Jelisha Aura Airelya, Jeli sapaannya, umurnya baru saja genap 7 tahun sejak dua hari yang lalu. Iya, gadis itu baru saja berulang tahun.
"Mamaaaaaaa...."
Jeli memanggil mamanya, hingga wanita dengan tubuh semapai datang menghampiri Jeli yang sedang melempar tatapan sayunya karena lelah.
"Kok belum siap sih, Jel??" Mama memperhatikan anak perempuannya yang belum berganti pakaian. Sekian detik kemudian, wanita itu kembali dengan handphonenya yang menurutnya lebih menarik dibanding anaknya.
"Jeli gak mau lagi ikut akting mama!" Tolak Jeli, tidak suka. Sirat nadanya begitu menyebalkan, dipaksa ini itu oleh ibunya.
Mama mengalihkan benda pipih tersebut dengan sebal, ini bukanlah rengekan pertama dari anak perempuannya. Mama menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Mama bilang apa? Ini untuk masa depan kamu!" Ucap mama. "Sana berganti pakaian! Mama tunggu lima menit dari sekarang, Jeli!" Tukas mama.
Jeli melipat bibir bawahnya, "Mama, please. Jeli istirahat bentar aja gak bisa, masa mam?" Tanya Jeli, dengan tatapan melasnya.
Mama menggerakan jari telunjukknya ke kanan dan kekiri, "No, no, no anak manis," Jeda mama. "Ayo, ganti baju kamu sekarang. Keburu kamu gadapat casting." Lanjut mama.
__ADS_1
Terpaksa, Jeli kembali kekamarnya melewati anak tangga yang sangat menyusahkannya, anak tangga itu sangat susah Jeli samakan dengan kakinya yang masih pendek dan mungil.
"Jeli enggak suka akting!" Jeli menundukkan wajahnya, "Jeli enggak suka dikenal orang banyak."
"Mama gak mau mengerti Jeli!"
"Jeli kangen papa, Jeli masih butuh papa."
"Andai saja, ada papa. Jeli gak akan dipaksa seperti ini sama mama. Mama pasti akan nurut sama papa!"
Jeli mengusap pipinya yang basah akibat air matanya yang menetes.
Entertaiment studio
Jeli begitu larut bermain dengan jari-jarinya sembari menghapalkan perkalian yang menjadi pekerjaan rumah, yang baru saja diberi oleh gurunya.
"Tiga kali empat sama dengan dua belas."
"Tiga kali lima sama dengan lima belas."
Mama mendesis, "Jeli! bisa diam gak sih nak? kamu harusnya latihan akting, bukannya malah belajar!"
__ADS_1
Jeli kembali melipat bibir bawahnya, namun Jeli hanya mengangguk dan memilih untuk diam.
Hingga lima menit berselang, produser film terbaru Jeli datang dengan senyum dan tatapan harapan yang sangat berbinar.
"Saya senang, jika Ibu menerima kerja sama film saya dengan anak ibu, Jeli." Lelaki dengan perut besar itu tersenyum senang. "Saya bisa pastikan. Jeli akan lebih terkenal setelah membintangi film saya."
Jeli berontak!
"Mama! Jeli enggak mau mama. Jeli enggak suka akting mamaaa..." Rengek Jeli.
Mama mencoba untuk menenangkan Jeli yang kala itu benar-benar berontak.
Jeli tak pernah menyukai dunia akting, Jeli juga tidak ingin dikenal banyak orang.
"Jeli tau? Kalau papa gak pernah bisa bahagiain mama." Mama berbisik telak di telinga kanan anaknya. "Izinin mama, jadiin Jeli sumber bahagia mama."
Jeli mengatupkan bibirnya seketika, jika ini yang bisa membuat ibunya bahagia. Dengan senang hati, Jeli akan melalukan itu.
"Jeli sayang mama."
Hari ini adalah hari dimana gadis kecil itu sangat siap menghadapi apapun keadaan yang terjadi di masa depan. Jeli juga siap menanggung apapun beban yang menghapiri bahunya.
__ADS_1
Dan itu hanya untuk mama.
Ibu yang telah mengandungnya dan melahirkan dirinya ke dunia.