Kennan & Jeli

Kennan & Jeli
6. Hang Out


__ADS_3

"Coba jelasin ke mama sekarang, siapa laki-laki ini?" Tanya mama dengan nada dinginnya.


  Jeli menekuk wajahnya, apakah mamanya juga akan membatasi pergaulan dirinya dengan teman-teman?


  "Itu Kennnan, teman Jeli." Sahut Jeli. Mama mengerlingkan matanya, mengintrogasi Jeli.


  "Teman?" Tanya mama.


  Jeli mengangguk.


  "Ngapain Jeli bohong?" Tanya Jeli kepada memanya.


  Mama menggidikan bahunya, "Ya bagus lah, kan kamu tahu sendiri. Mama enggak akan biarin kamu pacaran sama orang dari kalangan biasa." Jawab mama dengan santai.


  "Sekalian untuk klarivikasi soal pertemanan kalian, hubungan kamu sama si Kennan-- Kennan itu tersiar banyak banget di media." Ketus Mama. "Lagian kamu itu, udah tau artis! Bukannya jaga image, kok malah naik motor lewat jalan raya, enggak pake helm sama masker lagi!" lanjut mama.


  Jeli memutar bola matanya malas. "Yeeee, lagian itu asik! Mama aja yang enggak mau ngerasain!"


  "Dahlah, jiwa rebahan Jeli menggelora."


  Jeli meninggalkan mamanya dengan kesal, dia menaiki anak tangga dengan tas yang sengaja diseretnya di jalan. Mama menggelengkan kepalanya.


  "Mas, aku berhak menang atas hidup ini."


Wanita dengan baju biru itu tersenyum sinis sembari melirik sinis kearah figura disamping pintu kamarnya.


*****


Jeli menggulirkan tubuhnya kekanan san kekiri, menunggu seseorang mengirimkan pesan untuk dirinya.


  Namun nyatanya, hingga sekarang tidak ada pesan yang masuk, padahal orang yang Jeli tunggu terlihat online sejak 20 menit yang lalu.


  "Sibuk kali ya?"


  Sudut bibir Jeli terlengkung kebawah, benar-benar tidak enak menunggu.


  "Tapi--- tapii--- tapiii--"


  Jeli kembali melengkungkan bibirnya, dan ini semakin kebawah.


  "Tinggal ngetik doang, jel gue dah nyampe masa lupa? Padahal ngetiknya gak makan waktu sampai 10 menit koookk!"


  Jeli mengacak-acak rambutnya dengan gemas, tidak bisa! Tidak bisa! Dia bisa stress menunggu Kennan seperti ini.


  Kedua jempol tangan Jeli terlihat menari diatas benda pipih tersebut, namun beberapa detik kemudian Jeli kembali menghapus pesan tersebut.


  "Masa gue tanya sudah nyampe?"


  Jeli menggelengkan kepalanya.


"Enggak, enggak! Enggak boleh kaya begini!"


  Jeli mematikan ponselnya kemudian dilemparnya dengan kesal ke sisi kanannya. Dengan sabar dan senyum terpaksa dia menunggu Kennan menghubungi dirinya.


Ting!


  Jeli membulatkan matanya, dengan cepat gadis itu membuka lockscreen ponselnya.


  Namun yang dia temukan adalah pesan Aletha dari group kecilnya bersama sahabatnya.


Aletha Anindhiya


•P


•P


•P


•ehhh sorry ya gue gak bisa ikut nongki entar malam


•gue mau nemenin nyokap gue.


Abelia Zevania


•ga6


•apaan ni

__ADS_1


•wacana doang!


•😡😡😡😡😡


Jelisha Aura A


Iya gapapa•


Yang bisa aja•


Jgn wacana dong•


Bel, tari? Bisa kan lo?•


Retania Tarita


•gue bisa bisa ajasi


•selagi gratis


•😂😂😂


Abelia Zevania


•iya dah


•gw ngikut


Aletha Anindhiya


•sorryyy yaaa😢


•benrr" nii


•nyokap gue dadakan


Jelisha Aura A


Iya gapapa tha•


Its ok wakakak•


gayaan lu lurr lurr•


Aletha Anindhiya


•anjiirr laaahh


•oke geys


•have fun ya kalen😉😅


Abelia Zevania


•dah lu sono"


Retania Tarita


•tempet biasa kan ya ?


Jelisha Aura A


Hooh•


Retania Tarita


•okelah shayy


Abelia Zevania


•BOSANN ANJJJ


•tp gpplah


•yg pntg gratis


Read.

__ADS_1


Jeli menggelengkan kepalanya geli, memang ajaib otak teman-temannya.


****


Jeli duduk disalah satu kursi kosong di pojok kiri cafe tempat biasa dirinya dengan ketiga sahabatnya untuk sekedar nongkrong atau mengerjakan tugas.


Kebiasaan, kedua temannya pasti akan datang terlambat, Jeli sudah membiasakan hidup tepat waktu dari kecil, dan itu semua didikan mamanya.


Jeli tampak santai menggunakan kaos berwarna putih ditemani celana panjang berwarna hitam. Gadis itu menutup identitasnya dengan topi koboy dikepalanya.


Gadis itu masih menunggu Kennan mengirim pesan kepadanya. Padahal, jam sudah berdentang ke angka 7 malam. Namun, Kennan tidak ada info sama sekali.


"Jeeeelll!"


Abel berlari kecil menghampiri Jeli yang disusul oleh tari. Seperti kedua gadis itu datang bersama-sama, maklum satu komplek perumahan.


"Sudah lama ya kak?" Tanya Abel, dengan tatapan jenakanya.


Jeli mencibir.


"Sudah mesan?" Tanya Tari.


Jeli mengangguk. "Kaya biasa kan kalian?" Tanya Jeli memastikan pesanan yang dia pesan tadi.


Abel dan Tari sama-sama mengangguk. Abel duduk disamping Jeli, sedangkan Tari duduk dihadapan Jeli.


"Tumben banget ya, Aletha mau diajak sama nyokapnya?" Tanya Tari, kedua tangan gadis itu sibuk mencari handphone nya didalam tas.


Abel mengangguk. "Yah, harusnya kita senang sih. Akhirnya, Aletha mau nerima nyokapnya lagi."


"Iya, lagian kan kita berempat masih bisa kapan-kapan buat ngumpul." Imbuh Jeli.


"Tapi, setahu gue ya? Aletha tuh ngomong sama gue tadii, di toilet. Nyokapnya ngamuk lagi, karena Aletha gak mau makan sarapan yang dibuat nyokapnya." Tari menatap Jeli dan Abel bergantian. "Dan tadi dia bilang di group kalau dia mau nemenin nyokapnya." lanjut gadis berkacamata itu.


Abel terdiam.


"Posthink aja, mungkin baikan. Cuaca Aletha kan suka berubah-ubah. Walaupun tuh anak sabar tingkat dewa, cuman moodyan. " Jeli mencoba meluruskan jalan pikiran teman-temannya.


"Iyasih."


"Oh iya, by the way Jel." Abel menepuk bahu Jeli. "Lo ada urusan apasih sama si ketos tadi?" Tanya Abel, penasaran.


Jeli mengulum senyumnya. "Enggak, ada misi aja. Gak maksud apa-apa kok." Jawab Jeli, tenang.


Tari memicingkan matanya, "Ya enggak sih, masalahnya lo tadi datang tiba-tiba kan buat kita kaget!" Ucap Tari.


Jeli tertawa.


"Jadi tuh, dia mintol sama gue untuk datang ke birthday party adeknya besok lusa, karena kebetulan adeknya ngefans berat sama gue." Ucap Jeli, dengan nada songongnya.


Abel memutar bola matanya, "Iya--- iya! Mentang-mentang artis!" Ketus Abel.


Jeli terkekeh.


"Terus, teruuss?"


"Ya gitu dah, gue iyain. Terus gue minta tolong juga sama dia bantu gue ngerjain tugasnya pak Anto." Jeli menghembuskan napasnya, "lo tahu sendiri kan? Dia anak emasnya pak Anto. Ya gue manfaatin laaaahh!"


Abel dan Tari cengengesan ditempat. "Ada baiknya juga sih. Yaudahlah, kalem aja!"


Seorang waiter pun datang menghampiri ketiganya dan memberikan pesanan mereka. Jeli dan kedua temannya pun makan tanpa banyak bicara lagi.


Jeli kembali teringat dengan kondisi keluarga sahabatnya, Aletha. Gadis itu begitu keras kepala jika menyangkut tentang ibunya.


Jika berbicara tentang orang tua, spontan saja Aletha menjadi manusia paling sensitive didunia. Dari kecil, Aletha telah terbiasa hidup tanpa kasih sayang seorang ayah dan ibu.


Sekitar, 1 tahun lalu Ibunya kembali dengan sikap yang sangat otoriter kepada Aletha, seperti apapun yang Aletha lakukan salah, dan apapun keinginan mamanya tidak bisa dibantah.


Jeli ijin kepada kedua sahabatnya untuk pergi ke toilet. Saat melewati pintu keluar, tak sengaja mata Jeli menangkap sosok tubuh tinggi, seperti Kennan. Dan nampaknya lelaki itu sedang bersama seorang perempuan.


"Sorry ya Jel, malam ini nemenin adek gue prepare untuk partynya."


Jeli tersenyum kecil, tidak mungkin tubuh Ica setinggi itu, dan ukurannya seperti anak SMA seperti Jeli.


Jeli menggidakan bahunya, berusaha untuk mengalihkan pikiran negative nya.


5 menit berselang, Jeli keluar dari toilet dan kini matanya beradu dengan sosok gadis yang membuat Jeli kaget.

__ADS_1


Jeli mengangkat sudut bibirnya untuk tersenyum.


"Ketemu!"


__ADS_2