
Jeli begitu cantik saat mengenakan mini dress biru muda, dengan lapisan kain tile biru laut, pendeknya hanya sebatas pertengahan paha, namun pas ditubuh gadis itu. Paha, lutut dan betisnya dibiarkan terekspos menampilkan betapa jenjang kakinya.
Dhafian, lelaki yang terpaut 2 tahun lebih tua dibanding dirinya, kini berjalan menghampri Jeli dengan senyum khas yang dapat memabukan pandangan wanita.
"Cantik." Puji Dhafian, lelaki itu menyisir rambutnya dari arah depan ke belakang. Tatapannya begitu dalam.
Jeli tersenyum kikuk. "Makasih, Fajar." Ucap Jeli, yang sengaja menyebut nama tokoh yang diperankan Dhafian di film terbaru mereka.
Dhafian terkekeh.
"Lo cantik sebagai Jeli," Dhafian menjeda kalimatnya sembari melangkahkan kakinya mendekat kearah Jeli, menghapus jarak dirinya dengan Jeli. "Bukan sebagai Senja." lanjut lelaki itu.
Jeli tersenyum kecil, kemudian menjauh dari Dhafian. Jeli takut akan menjadi bahan pergunjingan orang, apalagi dirinya adalah salah satu orang yang sibuk di dunia hiburan.
"Kak Dhafian," Panggil Jeli, spontan Dahfian mengangkat kedua alisnya. "Jeli mau samperin mama dulu, permisi kak." Ucap gadis itu sopan.
Dhafian mengangguk kemudian terkekeh, "Kalau aja, Tamara bukan pacar gue. Gue bakalan nembak lo sekarang." Cicit lelaki itu.
******
Jeli mengedarkan pandangannya keseluruh pengunjung yang berada di lantai dasar salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota.
Jeli menghembuskan nafasnya, begitu melihat banyak sekali tatapan memuja para penggemarnya. Jeli tersenyum minim dibalik tirai hitam yang menyembunyikan dirinya dari orang-orang yang berlalu-lalang.
Hap!
Jeli terlonjak kaget karena tepukan seseorang di bahu kanannya, Jeli menoleh kearah si pelaku dengan tatapan tidak sukanya.
Orang itu terkekeh, "Sorry Jel, ngangetin banget ya?" Tanya orang itu dengan wajah lugunya.
Jeli memutar bola matanya kemudian menggelengkan kepalanya, "Kak Tamara kok belum naik ke panggung?" Tanya Jeli kepada orang yang bernama Tamara itu.
"Nanti." Jeda Tamara, "barengan sama Shera." Lanjut gadis berambut sebahu itu.
Jeli mengangguk. "Kenapa kak Tamara hampirin Jeli tadi?" Tanya Jeli, bingung.
Tamara memukul jidadnya kemudian terkekeh lucu. "Lupaaa kaaaaannnn!!"
"Jadi gini, Jel. Lo sama Dhafian kan tahun depan sudah lepas kontrak tuh." Ucap Tamara dengan semangat.
Jeli mengangguk.
"Maaf nih, sebelumnya kalau gue ngomongnya buat lo tersinggung."
Jeli kembali mengangguk.
"Setelah kontrak lo sama Dhafian habis. Semisal, ada produser yang mau ngontrak lo bedua lagi, gak usah diterima ya Jel, walaupun itu ditawar dengan harga yang menggiurkan." Ucap Tamara dengan wajah memohonnya.
"Lagian, duit lo gak akan habis juga kan? Pasti banyak aktor lain yang pengen debut bareng lo. Ketimbang lagi, lo udah jadi salah satu aktris favorit sepanjang masa."
__ADS_1
Tamara melipat kedua tangannya didepan dada. "Yaahhh karena konfirmasi ini membutuhkan pendapat dari kedua belah pihak." Tamara tersenyum kecil, "Gue mau, lo setuju sama perjanjian ini." Lanjut gadis itu.
Jeli mengangguk. "Mungkin, tanpa lo beri tahu hal kaya gini, gue juga gak akan nerima kontrak lagi kok." Ucap Jeli tanpa basa-basi.
"Kalau gue setuju, sedangkan lain pihak gak setuju. Contohnya kak Dhafian? Gue bisa juga kok untuk tetap nolak. Itu hak gue."
Tamara mengangguk senang, "Untuk pihak Dhafian, gue bisa kok pastiin dia. Kalau dia gak akan nerima kontrak bareng lo lagi." Ucap Tamara, final.
Jeli tersenyum kecil. "Iya kak."
Tamara menjentikan jerinya, " and, once again!" Sorak Tamara kembali.
"Bisa pastiin kan ini terkahir kalinya lo satu film bareng Dhafian?" Tanya Tamara, memastikan.
"Udah gue bilang kan?" Tanya Jeli, sensi. Jeli tidak marah dengan permintaan Tamara, tapi dia sedikit kesal kepada Tamara, yang menyinggung soal karir. Apa Jeli terlalu gila akting? Sehingga dirinya dikatai seperti itu?
"Gue duluan."
Jeli meninggalkan Tamara yang sedang tersenyum senang karena respon Jeli.
******
"Suka banget deh sama kak Jeli, akting kak Jeli tuh hebat banget! Ica senang banget kalau kak Jeli yang muncul di TV, semua sosial media kak Jeli, juga Ica follow loohhh!!!"
Jeli tersenyum lebar saat menemukan gadis berpipi chubby dengan ikat rambut dua di sisi kanan dan kiri.
"Hai, nama kamu Ica ya?" Sapa Jeli dengan sangat ramah.
"Iya kak Jeli, namaku Raisa, panggil aja Ica. Cuman abang aku suka manggil aku cepul."
Jeli terkekeh saat melihat ekspresi akhir kalimat anak itu yang berubah.
"Ahh gakpapa itu, tandanya abang sayang sama kamu." Jeli mencoba menghibur Ica, anak kecil yang baru saja dia jumpai di depan toilet.
"Kak Jeli, Ica senang banget bisa ketemu sama kakak. Enggak tahu loh, kalau ujungnya bisa tatap muka dengan kakak." Ucap Ica.
Jeli terkekeh, "Kak Jeli juga senaaanggg banget bisa ketemu anak manis kaya kamu." Ucap Jeli sembari mengacak-acak poni Ica.
Ica mengulum senyumnya, "Kok kakak bisa di toilet umum sih?" Tanya Ica penasaran.
Jeli tersenyum kaku, "I--- iya-iya. Tadi kakak ngeliat teman kakak di daerah sini, makanya kakak samperin, gak taunya hilang." Jawab Jeli jujur.
"Kamu kelas berapa Ca?" Tanya Jeli.
Ica tersenyum kembali, "Ica kelas 4 SD kak." Jawab Ica.
"Sama siapa datang kesini? Ini rame banget loh, entar kamu kesasar."
Ica terkekeh geli, "Ica bareng abang Ica kak, tadi Ica ke toilet dulu. Jadinya, ninggalin abang." Jawab Ica dengan nada riangnya.
__ADS_1
Jeli membulatkan bibirnya. "Yaudah yuk, kakak antar ke abangnya." Ajak Jeli.
Ica membulatkan matanya kaget, "Serius? Sumpah? Demi? " Tanya Ica dengan kagetnya.
Jeli tertawa.
"Anggap aja, kak Jeli temannya Ica." Ucap Jeli diselingi tawanya.
Ica tersenyum malu. "Habisnya kan, Ica ngefans banget sama kak Jeli, jadinya begini deeeehhh."
Jeli tersenyum kecil, "Yaudah, yuk!"
"Cepul, lo dari mana ajasih? Lo kira nyari badan kerempeng kaya lo gak susah apa ya!"
Jeli dan Ica spontan menoleh kebelakang, karena teriakan seseorang.
"Bang Kennan!"
Jeli membulatkan matanya kaget sangat kaget, ternyata abang dari Ica adalah Kennan. Kennan, iya Kennan, laki-laki yang buat Jeli betah menatap mata legam itu.
"Jeli?"
Jeli tersenyum kecil, ah tidak. Lebih tepatnya, tersenyum malu.
"Hayoloh, abang mau modus kan sama idolanya Jeli," Tuding Ica.
Kennan mengalihkan tatapannya kearah Ica kemudian melemparkan pelototan kesalnya. "Lo bisa diam gak cempreng?" Tanya Kennan, menusuk.
Ica mencebikan bibirnya. "Ini abang Ica, kak Jeli. Yang paling jeleeeeekkkk seduania, yang paling nyebeeeliiinnnn sedunia! Orang yang paling gak bisa dibantah! Namanya, Kennan."
Jeli mengulumkan senyum tipisnya, "Iya Ica. Kak Jeli, sudah kenal kok. Bang Kennan itu teman kakak disekolah." Ucap Jeli, lembut.
Kennan menepuk jidadnya ,"mati gue."
Ica menatap Kennan dengan pelototan tajamnya. "JADI ABANG SELAMA INI PURA-PURA GAK TAU SOAL KAK JELI? ABANG BILANG, ABANG GAK KENAL SAMA BANG JELI, TAUKNYA SATU SEKOLAH! AHHH ABAAANGGG MAHHH! NYEBELIN PAKE BANGEEEET!" Teriak Ica membelah keramaian.
Jeli membulatkan matanya kaget, "Eh, Ica?"
Kennan menggaruk tengkuknya, "i---iya Ca, abang sama Jeli baru kenal tadi siang deh, sumpah!"
Jeli menahan tawanya melihat raut wajah Kennan yang sangat kahwatir.
Kennan menarik tangan Ica, "Jeli, besok kita ngobrol lagi ya, anak macan lagi ngamuk."
Jeli mengangguk kemudian tertawa menatap punggung Kennan yang masih memaksa Ica pergi dari mall.
"Lucuu bangeeett sih, pengen jadiin pacar."
Jeli tersenyum senang.
__ADS_1
******