
Jeli mendengus pasrah, pak Anto kembali membiarkannya untuk tidak mengikuti kegiatan belajar-mengajar dikelas. Padahal, menurut Jeli, ini adalah kesempatan yang dia tunggu. Sudah banyak kali, dirinya meninggalkan materi pak Anto.
Jeli duduk disalah satu bangku perpustakan yang berada di pojok kanan. Tempat yang aman, jauh dari pengawasan guru.
Jeli menyapu pandangannya kearah rak-rak buku sekitarnya, kedua bola matanya merajalela mencari tempat buku matematika yang harus dia kerjakan.
Jeli menyipitkan matanya, saat dari jauh dia melihat buku berwarna merah tua, 'MATEMATIKA' tertera besar di buku paket tersebut.
Jeli beranjak dari duduknya kemudian dengan gerakan cepat, gadis itu mengambil buku paket tersebut, Jeli harus menyelesaikan tugasnya. Supaya, dirinya dapat mengikuti materi pak Anto.
Kaki Jeli terhenti, diangkatnya tangan kanan untuk meraih buku tersebut, namun usahanya gagal. Buku itu terlampau tinggi darinya. Walaupun, Jeli memiliki tinggi tubuh yang ideal, tapi tetap saja ini terlalu tinggi!
Apa mungkin memang disengaja?
Serangkai harapan untuk meraih buku tersebut sama dengan harapan para murid yang ingin pandai matematika? Tidak akan tercapai.
Kedua kaki Jeli spontan menjinjit, kedua tangannya kini ikut sibuk, mencoba untuk meraih buku merah sialan itu.
"Tinggi banget elah," Ringis Jeli, kesal.
Kini usaha Jeli berubah menjadi sebuah lompatan kecil, berharap dia akan mendapatkan buku matematika itu.
Saat jari telunjuk Jeli akan menyentuh buku tersebut, ekor mata Jeli tak sengaja melirik ada sebuah tangan besar yang menggapai buku tersebut dengan santainya.
Jeli menurunkan kedua tangannya, kedua telapak kakinya pun kembali berpijak pada lantai.
Jeli menengok kearah kanannya, mata Jeli membulat mendapatkan lelaki dengan seragam terbuka, yang memampangkan kaos hitam dibalik seragam lusuh tersebut.
Lelaki itu menyodorkan buku matematika yang diharpkan Jeli kepada dirinya.
Jeli tersenyuk kikuk." Thankyou. Tapi gak pa-pa kok tadi, gue bisa usaha." Ucap Jeli tak enak hati.
Lelaki itu menyatukan alisnya. "Yaudah sini, gue kembaliin." Lelaki itu mengadahkan tangannya meminta kembali buku yang sudah pindah tangan kepada Jeli. "Biar lo ada usaha." lanjut lelaki itu.
Jeli memutar bola matanya malas. "Gue memang pengen usaha, tapi kalau lo udah ngambilin? Ngapain lagi lo kembalin?" Tanya Jeli, sinis.
Lelaki itu tertawa, tangannya terulur dihadapan Jeli. "Raykel Avando, panggil aja Raykel. Kelas 12 IPS 3, kalau lo mau tau." Ucap lelaki itu percaya diri.
Jeli memutar bola matanya kembali, lalu gadis itu menepuk bahu Raykel dengan buku yang sudah gadis itu gulung, "Gak penting!"
Jeli meninggalkan Raykel sendiri di lorong rak buku matematika, Raykel nampak biasa saja dengan perlakuan Jeli. "Gak pa-pa, maklum artis. Rada songong memang." Sindir Raykel pelan.
Namun sangat terdengar jelas dikedua telinga Jeli, ingin berbalik rasanya untuk memiting leher lelaki itu. Namun, Jeli harus sadar dia tidak boleh bermain-main. Ia harus bisa mengikuti materi pak Anto.
Jeli kembali duduk dikursinya tadi, dengan perasaan dongkol gadis utu kembali mengerjakan tugas metik minggu lalu. Jika saja, tadi dia tidak ke kantin dan memilih untum menyalin tugas, dirinya tidak akan terdampar di perpustakaan seperti ini.
"Ness. Lain kali, tolong jangan adakan rapat disaat jam pelajaran."
__ADS_1
Jeli menoleh kekiri, didapatnya sekumpulan anak OSIS kelas 12 yang sedang rapat. Kedua sudut bibir gadis itu merekah dengan sempurna.
"Lagian, kita sudah kelas 12. Gak sepatutnya kita ikut andil dalam rapat." Jeli tersenyum manis melihat sisi sang ketos yang sangat dewasa dan tampan. "Masa jabatan saya sebagai ketua OSIs juga sebentar lagi akan turun."
"Secepatnya, carikan saya kandidat calon ketua-wakil OSIS ya, saya harus mengurus proposal dan program kerja OSIS." Titah Kennan.
Jeli menggigit bibirnya dengan cukup kuat, entah kenapa sperti ada cahaya dari wajah lelaki itu. Menyenangkan untuk dipandang.
"Iya Ken, paling lambat gue antar ke lo sepulang sekolah." Ucap Vanessa, sekertaris OSIS.
Jeli mengetahui Vanessa, karena saat masa orientasi siswa dulu, Vanessa bersama dirinya satu kelompok.
"Oke kalau begitu, kalian bisa balik ke kelas." Ucap Kennan, matanya begitu sibuk dengan laptop dihadapannya.
Jeli tersenyum menahan jeritannya. Itu artinya, Kennan akan ditinggal sendirian diperpustakaan, dan Jeli wajib untuk menghampiri Kennan.
Jeli menyimpunkam semua barang-barangnya, dengan terbirit-birit gadis itu menghampiri Kennan, yang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari laptop.
Jeli menaruh buku-bukunya dan duduk dihadapan Kennan, tanpa izin.
"Hai Ken." Sapa Jeli, riang.
Sangat berharap, Kennan akan menyambut Jeli dengan hangat dan akan mengajak Jeli berbincang.
Kennan melirik sekilas kearah Jeli kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya. "Hai Jel," Sapa Kennan balik.
Kennan menganggukan kepalanya tidak keberatan sama sekali.
"Kenapa di perpustakaan?" Tanya Kennan, tiba-tiba.
Jeli kembali merekahkan senyumnya. "Disuruh pak Anto selesaikan tugas, gak boleh ikut materinya." Jawab Jeli, jujur.
Kennan terkekeh. "Emang lo tugas apa yang belum selesai?" Tanya Kennan, kini jemarinya tidak lagi menari diatas laptop, bahkan Kennan menutup benda elektronik tersebut.
"Eh-- kenapa ditutup? Lanjut aja kerjain, gue juga soalnya mau ngerjain tugas kok." Ucap Jeli.
Kennan menggelengkan kepalanya, "Sudah selesai." Jawab Kennan.
Jeli tersenyum malu. "Oh gituuu..."
Kennan menganggukan kepalanya.
"Pak Anto memang kaya gitu, gak suka anak muridnya ikut materi selanjutnya, padahal tugasnya belum selesai." Kennan meraih buku gadis itu dan menatap buku Jeli yang masih putih bersih.
"Dari sebulan lalu lo sah jadi kelas 12, lo sama sekali belum ada ngerjain tugas pak Anto?" Tanya Kennan, kaget.
Jeli menganggukan kepalanya malu, "i--iya, gue belum ada nyatat." jawab Jeli malu.
__ADS_1
Kennan menggelengkan kepalanya. "Lo kan punya ponsel? Mahal lagi kan? Kenapa engga lo manfaatin buat ngerjain tugas?"
Jeli mengerucutkan bibir bawahnya. "Ya gitu deh,"
"Lo sebenarnya pintar, tapi kayaknya diri lo aja yang males." Ucap Kennan.
Jeli menggelengkan kepalanya. "Kalau kaya begitu, lo mau bantu gue?" Tanya Jeli dengan alis yang di naik-turunkan.
Kennan mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, menunggu Jeli melanjutkan kalimatnya.
"Bantu gue selesaikan tugas pak Anto, dan semua guru!"
Kennan bergumam. "Iya apa?"
Jeli bersorak riang, diraihnya handphone miliknya kemudian diserahkan kepada Kennan.
"Minta nomor whatsapp , boleh? Hitung-hitung, pahala ngebantu teman yang susah." Ucap Jeli, percaya diri.
Kennan tersenyum menahan tawa. "Bilang aja lo mau nomer WA gue." Ketus Kennan.
Jeli mencebikan bibirnya. "Ah, enggak itu juga! Kan gue mau nuntasin tugas-tugas gue." Sangkal Jeli.
"Kenapa, enggak ke teman sekelas lo?" Tanya Kennan, bingung.
Jeli gelagapan. "Emm.. Anu, ish! Gue maunya lo, kayanya si lo baik sama gue!" Jawab Jeli.
Kennan tertawa. "Ada timbal baliknya nih." Pinta Kennan.
Dengan cepat Jeli mengangguk. "Iya. Mau apa? Dibayar? Atau, makan malam bareng?" Tanya Jeli, laju.
Kennan menggelengakan kepalanya geli.
"Datang kerumah gue, lusa adek gue ulang tahun, dia berharap banget diucapin sama lo."
"Besok, gue temanin lo nyari kado buat adek gue. Tenang aja, duitnya pake punya gue. Tugas lo cuman ngaku-ngaku aja, kalau lo yang beliin hadiahnya."
Jeli tersenyum kecil, betapa besar rasa sayang lelaki ini kepada adiknya.
"OKE!"
"Kalau gitu, lo ketik nomor WA lo, cepat!"
Kennan mengulum senyumnya, kemudian tangan kanannya meraih benda pipih tersebut dan mengetikan sesuatu disana.
"Thankyou."
*****
__ADS_1