
"Jeli, jam 1 siang nanti, mama akan antar surat dispensasi buat sekolah." Mama menghampiri Jeli sembari menatap anak gadisnya dari atas hingga bawah.
Jeli mengerutkan alisnya. "Ngapain lagi sih ma?" Tanya Jeli, bingung diselingi nada kesalnya.
Mama mengutak-atik handphonenya, kemudian memampangkan benda pipih itu dihadapan Jeli.
"Kamu lupa?" Tanya mama dengan kedua alis yang saling bertaut. "Jam 3 sore nanti, kamu harus prepare gala premier film baru kamu sayang..." Lanjut mama.
Jeli menghembuskan napasnya kemudian mengangguk. Jeli, gadis yang biasanya penuh dengan polesan make up kini tampil dengan natural. Hanya dengan bedak tipis dan juga liptint orange yang menghiasi bibir tipisnya.
"Jeli mau pergi sekolah." ucap Jeli pelan kemudian meninggalkan sang mama.
****
Tercatat, dalam sebulan ini, 2 minggu sudah Jeli absen dari sekolah. Jeli sebenarnya, tidak suka jika seluruh kariernya mengganggu kegiatan pembelajarannya.
"Ehh, kakak artis akhirnya masuk sekolah." Ujar Aletha, sembari menyikut Jeli yang baru saja duduk di bangkunya.
"Mana titipan Abel, Jel?" Tanya Abel dengan binaran matanya.
Jeli dan Aletha memutar bola matanya, malas.
"Mana mau Dhafian sama lo, Bel." Tari yang tiba-tiba nimbrung menatap Abel dengan jenaka. "Tipe cewek Dhafian itu sekelas sama Jeli. Cantik, mulus, bening, goals, dan yang paling penting." Tari menatap Abel dengan dalam.
"Gak suka molor dikelas." Lanjut Tari.
Jeli dan Aletha tertawa dengan spontan, ditambah lagi wajah lugu Abel yang sangat menggemaskan.
Abel mengerutkan alisnya, "Emang gue gak cantik?" Tanya Abel, sarkas.
Tari menggeleng polos, hingga membuat Abel berdecak.
"Biar aja, enggak cantik. Yang penting laku!" Abel menatap Tari dengan tajam.
Lagi, Jeli dan Aletha tertawa dibuat tingkah kedua temannya.
"By the way, gue mau kasih saran deh buat film baru lo." Aletha menatap serius Jeli dari atas hingga bawah.
Jeli mengangkat alisnya sebelah, "Apa?" Tanya Jeli pelan.
"Chaemistry lo sama Dhafian kurang dapat di gue, itusih yang gue lihat dari thriller nya," Aletha menggembungkan kedua pipinya. "Padahal ini bukan yang pertama kalinya lo debut bareng Dhafian."
Abel dan Tari menyetujui pernyataan Aletha. Jeli menghembuskan napasnya, komentar ini bukanlah pertama yang Jeli dengar, semua kolom komentar di instagram Jeli penuh dengan tudingan, yang mengatakan Jeli dan Dhafian sudah tidak cocok lagi. Padahal, sebelumnya Jeli dan Dhafian adalah pasangan yang sangat didambahkan para penggemar.
"Lo ngecewain fans lo, bisa-bisa Jel." Abel mengerucutkan bibirnya.
Jeli mengakuinya, dia memang sedang di fase bosan dengan kehidupannya yang selalu saja tampil dengan topeng-topeng baru.
Jeli tersenyum paksa, "Lo tahu sendiri kan? Gue sama ceweknya Dhafian itu satu project , ya spontan aja. Gue jadi canggung sama Tamara dan Dhafian." Jeli menjeda kalimatnya, "Dan lebih gak masuk akalnya lagi, Tamara dan Dhafian pamer banget kemesraan di sosmed, padahal project gue sama Dhafian itu pasangan." lanjut Jeli.
Abel, Tari dan Aletha menganggukan kepalanya paham.
"Iyasih, Dhafian juga gak profesional." Cetus Tari.
"Harusnya dia bisa nahan juga ya."
"Nah itu."
Jeli tersenyum sumbang, "Dah ah, gak usah gibah!" Jeli menegur teman-temannya. "Gue mau ke perpus dulu, mau cari pak Anto."
"Ngapain?"
"Mau ulangan deluan, jam 1 gue dispen."
Ketiga temannya mengangguk secara spontan, memaklumi profesi Jeli saat ini, ada sedikit rasa iba yang merasuki relung hati ketiga teman Jeli.
__ADS_1
****
Jeli sibuk berkutat dengan kertas selembar yang berada dihadapannya, puluhan angka sudah Jeli pecahkan, bahkan sepertinya, sebentar lagi otaknya akan meledak.
"Waktumu tinggal 25 menit lagi Jeli." ucap pak Anto sembari memperhatikan anak muridnya, takut jika melakukan kecurangan.
Jeli menganggukan kepalanya pelan.
Pak Anto meraih handphonenya yang tiba-tiba berdering, tatapan bingung, bapak itu lontarkan kepada Jeli.
"Kennan!!!"
Jeli sontak saja ikut menoleh kearah pak Anto, diputarnya kepalanya kebelakang, dan tidak menemukan siapa-siapa.
Pak Anto mengayunkan tangan kanannya kearahnya, dengan terburu-buru, pak Anto berdiri dari duduknya.
Tak lama kemudian, lelaki dengan tubuh tegap yang menjulang tinggi menghampiri Pak Anto.
Jeli kembali fokus kearah kertas ulangannya, dia tidak bisa main-main, ini menyangkut nilai rapornya.
"Saya mau ke ruang kepala sekolah, tolong kamu awasi dia, dia sedang ulangan harian duluan dengan saya," Pak Anto menatap lelaki itu dengan serius, "Waktunya tinggal 21 menit lagi."
Lelaki itu mengangguk pasrah kemudian duduk tepat di hadapan Jeli, tempat duduk Pak Anto tadi.
"Jeli," Panggil Pak Anto, sehingga Jeli menoleh dengan senyuman sendunya, "Kennan akan mengawasi kamu, kerjakan dengan baik ya, Bapak tinggal dulu."
Tak lama kemudian, Pak Anto meninggalkan Jeli dengan lelaki bernama Kennan itu.
Jeli mengalihkan tatapannya kearah Kennan, Jeli terpaku dengan bola mata lelaki itu, hitam legam, tajam, dan menusuk.
Kenapa Jeli suka melihat mata itu??
"Ekhem."
Lelaki itu berdeham, membuat Jeli tersadar dan menunjukkan cengiran di bibirnya.
Lelaki itu menaikan kedua alisnya kearah Jeli, yang barusan menyebut namanya.
"Nama lo Kennan?" Tanya Jeli, sejujurnya Jeli memang tidak tahu siapa lelaki dihadapannya ini.
Kennan mengangguk. "Dan lo Jeli, artis yang sekarang digandrungi remaja, bahkan adek kandung gue sendiri." Ucap Kennan.
Jeli membulatkan matanya, ternyata lelaki tampan ini mengetahui namanya. Sedikit ada rasa bahagia di hati Jeli.
"Iya gue Jeli." Jeli memerkan deretan giginya yang putih, "Adek lo?" tanya Jeli penasaran.
"Kenapa gak sekalian lo nya juga naksir gue." batin Jeli dengan kekehan kecilnya.
"Iya." Jawab Kennan, "Kerjain dulu ulangan lo, masih banyak waktu kok untuk ngobrol bareng."
"Omo! Omo! Omo! Berarti dia masih pengen ngobrol bareng gue??"
Jeli mengangguk patuh, yang tadi Jeli sedang susah memikirkan jawaban, entah mengapa sekarang terasa lancar dan mudah.
Mohon maaf? Ini efek dari apa ya? Ada sihir apa ya? Kok tiba-tiba lancar??
****
Jam berdentang kearah Satu siang, sudah dari lima menit lalu, Jeli menunggu mamanya di depan pagar yang tak kunjung datang seperti yang dikatakan mamanya tadi pagi, sebelum berangkat sekolah.
Kak Dhafian's called you
Handphone gadis itu berdering, memampangkan nama lawan pemain filmnya, dia Dahfian.
Jeli mengangkat telpon dari lelaki itu, dan Jeli yakin, sebenarnya lelaki itu menelfon hanya untuk mengingatkan bahwa dirinya harus segera prepare dan siap hadir 15 menit sebelum acara itu dimulai.
__ADS_1
"Kak Dhafian, Jeli dari tadi tunggu mama belum datang-datang untuk antar surat dispensasi sekolah Jeli kak, Jadi Jeli belum bisa berangkat ke sana."
Jeli lebih dulu nyerocos sebelum Dhafian mengomeli dirinya. Terdengar, dari sebrang, Dhafian terkekeh kecil.
"Justru gue mau kasih tau,"
Jeli mengerutkan alisnya bingung, yang sebenarnya tidak akan dilihat oleh Dhafian.
"Barusan bokap lo reschedule jadwal lo, katanya lo gak bisa keluar karna harus nyelesaikan ulangan hari ini."
"Jadi, gala premier diundur jam 7 malam."
"Siap-siap ya cantik, jam 5 gue jemput dirumah."
Tut...
Otak Jeli terus berputar memikirkan kalimat Dhafian barusan, "bokap lo reschedule jadwal lo."
Jeli meneguk salivanya, sekarang dia paham, dan bisa mengerti apa yang dikatakan Dhafian.
Bokap lo,
Iya Jel, bokap lo.
Kedua kaki Jeli lemas ditempat, siapa yang mengaku jadi papanya? Siapa??
*****
Jeli masuk kedalam rumah dengan tergesah-gesah, ingin sekali dirinya cepat menghampiri mamanya, banyak sekali pertanyaan yang ingin dilontarkan kepada Mamanya.
"Mama!"
Mama tersentak kaget, tidak ada salam, tidak ada tanda-tanda kepulangan anaknya, tiba-tiba sudah berada di hadapannya.
"Apasih Jel?" Tanya mama, sebal.
Jeli menatap mama dengan mata yang berkaca-kaca. "Papa masih hidup kan ma???" Tanya Jeli, tiba-tiba. "Apasih yang mama sembunyiin dari Jeli? Jeli sudah besar kok ma. Jeli pasti ngerti!"
Mama terdiam.
"Papa masih hidup kan maaaa??" Tanya Jeli lagi, kini air matanya telah tumpah.
"Katakan ma, jawab! Papa ada didekat kita kan??? Dia ngawasin kita terus kan??"
Mama menggeleng mencoba cuek, "Siapa yang bilang? Kenapa kamu tiba-tiba tanya papa kamu sih??" Tanya balik mama.
"Jeli tanya mama, apa benar papa masih hidup??" Tanya Jeli, serius.
Mama menggeleng tegas. "Papa kamu sudah gak ada! Papa kamu sudah mati Jeli!" Jawab mama kesal. "Lagian kenapa sih tiba-tiba tanya papa?"
"Jadi siapa yang reschedule jadwal Jeli?? Siapa?" Tanya Jeli, dingin.
"Kenapa kak Dhafian bilang, papa reschedule jadwal Jeli? Berarti papa masih hidup kan maa??
Mama membulatkan matanya kaget dengan penuturan Jeli, yang bahkan dirinya sendiri pun tidak tahu.
"Itu gak ada, Jeli."
Mama mendekat kemudian mendekap tubuh anaknya yang sudah hampir sama tingginya, mama menggelengkan kepalanya, "jangan mudah percaya, Sayang. Papa sudah ninggalin mama sama Jeli, papa sudah mati."
Jeli terdiam, jadi hari ini siapa yang harus Jeli percaya? Mamanya atau Dhafian?
*****
__ADS_1
Welcome di kehidupan jeli dan kennan.
I hope u enjoy gais☺