
"*Jadi? Bagaimana kelanjutan karier kak Jeli? Apakah akan tetap lanjut di dunia perfilman?"
Gadis dengan dress biru muda itu tersenyum di balik kamera, peluhnya kian menetes, dirinya tidak dapat bergerak karena terkunci awak media.
"Oooh," Jeli kembali tersenyum. "Mungkin saya akan rehat sebentar. Karena kebetulan juga, saya sudah dikelas akhir masa sekolah, saya ingin yang terbaik juga buat pendidikan saya." lanjut Jeli dengan anggunya.
"Jadi, tidak akan satu film lagi dengan Dhafian?"
Jeli menggeleng dengan pelan.
"Kenapa tidak dari dulu untuk ikut program home schooling, kak? Kan lumayan bisa mengatur waktu kakak saat shooting dan juga sekolah."
Jeli terkekeh, "Saya suka bersosialisai. Saya suka jika saya banyak teman, saya juga suka ikut bergabung dan merasakan bagaimana sekolah umum." Jawab Jeli dengan ramahnya.
"Wah hebat, ternyata kak Jeli bisa mementingkan pendidikan."
"Lalu, bagaimana saat mengurus dispensasi? Apakah sekolah selalu memberi toleran kepada kak Jeli?"
"Apa kak Jeli tetap dapat nilai bagus?"
Jeli mengangguk.
"Saya dapat mengejar tugas tepat waktu, saya juga suka meminta tugas duluan, jika ada pekerjaan rumah, biasanya saya bawa ke lokasi shooting untuk saya kerjakan."
"Ya, gak bagus-bagus banget sih kak. Cuman syukurnya, Jeli selalu masuk peringkat 5 besar disekolah." Ucap Jeli dengan nada yang bangga.
Seluruh wartawan mengangguk.
"Lalu? Bagaimana dengan kisah asmara kakak? Apakah pacar kakak salah satu dari sekolah?"
Jeli tertawa. "A-"
Tuk*!
"Tumben, abang nonton kak Jeli."
Gadis berponi depan itu terkekeh kemudian menghampiri abangnya yang sedang duduk di sofa sembari menonton televisi.
Lelaki itu mendesis, karena kedatangan adiknya yang sangat menganggangu. Kalau cuman datang terus duduk aja, tidak papa. Lah ini? Dengan isengnya, dia mematikan televisi dengan wajah tanpa bersalah.
"Lu ngapain sih ganggu gue, bocah!" Ketus Kennan.
Ica tertawa. "Abang naksir ya, sama idola Ica?" Tanya Ica dengan wajah lugunya.
Kennan memutar bola matanya, kenapasih dia punya adik yang super duper ngeselin dan kepo? Kelas masih 4 SD aja kelakuan udah kaya sederajat sama teman-teman ceweknya yang suka banget ngerusuh.
"Kagak!" Ketus Kennan. "Gue tadi ngeliat nih acara, manatau gue masuk TV, kan tadi gue ketemu sama dia." Lanjut Kennan.
Ica memajukan gigi atasnya yang berbentuk kelinci yang artinya sedang mengejek Kennan.
"Bohong banget nih!"
"Abang, suka kan sama kak Jeli? Ahhh mana mau kak Jeli sama abang yang jelek!"
__ADS_1
Kennan meraih leher adiknya kemudian memiting kepala itu dengan sedikit kasar, dia benar-benar emosi dibuat bocah 4 SD ini.
"AHHH ABANG! SAKIT TAUUUKKKK!!!!!!!"
Kennan terkekeh geli kemudian melepas pitingannya.
"Abang, kak Jeli tuh ramah banget ya. Sumpah deeehh, Ica gak nyangka bisa ketemu langsung sama kak Jeli." Ica terkekeh senang.
Kennan tersenyum, dia sedih melihat kondisi adiknya. Ica masih bisa bahagia walaupun terkadang dia merasa kesepian.
Kennan dan Ica, 1 tahun akhir ini mereka hidup berdua saja dirumah yang terlihat sangat mewah dan megah peninggalan almarhum papanya.
Setahun yang lalu, papa Kennan meninggal dunia karena kecelakaan pesawat saat perjalanan menuju London. Lain dengan mamanya, yang meninggal saat melahirkan Ica di dunia.
Ica terkadang merasa kesepian, jika Kennan pergi sekolah dari pagi hingga sore, kemudian lanjut bekerja dari sore hingga malam.
Kennan tidak bisa tergantung dengan semua peninggalan papanya, dia juga harus mempersiapkan segalanya, terlebih untuk masa depan Ica.
Menjadi ketua Osis di SMA cempaka, membuat Kennan merasa sedikit rugi, karena waktunya harus terbagi kembali.
Kennan dan Ica baru saja pulang dari salah satu bioskop terbesar di kota, lebih tepatnya tempat acara gala premier film terbaru Jeli, idola adik kandungnya.
Kennan memutuskan untuk mengambil cuti dari pekerjaannya, kalau tidak, Ica akan nekat datang sendiri ke acara tersebut.
Kennan tidak bisa membayangkan jika terjadi suatu hal kepada Ica.
"Ica besok sekolah, cuci muka, cuci, kaki-tangan, gosok gigi, minum air putih, terus tidur." Titah Kennan.
Ica mendengus sebal, "Gak mau ah abang, belum juga jam sepuluh!" Teriak Ica sebal.
Kennan melempar tatapan tajamnya. "Mesti jam sepuluh tidur?" Tanya Kennan, nadanya sangat tidak bisa dibantah.
"Malam baik Ica!" Teriak Kennan.
BRUKK!!
Kennan terkekeh, karena Ica dengan sengaja membanting pintu dengan sangat kuat. Kennan menggelengkan kepalanya, ia harus kembali mengerjakam tugas yang harus dia kumpul besok.
*****
"JELI YUK MAKAN YUK!" Teriak Abel di daun pintu kelas. Bel istirahat baru saja berbunyi.
Jeli mendongakan kepalanya, jari-jarinya masih sibuk menulis diatas kertas polos, dia sedang sibuk menyalin tugas yang berada di papan tulis.
"Deluan aja." Balas Jeli.
Aletha yang berada di samping Jeli menggelengkan kepalanya, "Entar gue pap kirim ke lo, makan dulu yuk, Jel." Ajak Aletha.
Jeli berhenti sejenak, melirik kearah Aletha. "Gue takutnya gak tekejar dirumah, Tha. Lo tau sendiri kan, nyokap gue gimana?"
Aletha menggangukan kepalanya. "Masih ada istirahat kedua, waktunya juga lebih lama, ada sekitar 30 menit. Cukuplah buat lo nyalin tugas." Aletha kembali membujuk Jeli.
Jeli nampak berfikir, "Yaudah. Yuk!" Jeli berdiri dari duduknya kemudian menyusul Abel dan Tari yang mungkin saja sudah berada di kantin.
Aletha dan Jeli berjalan beriringan menuju kantin, banyak dari murid yang melihat kearah Jeli.
__ADS_1
"Lama-lama gue risih deh sekolah Tha. Diliatin mulu, " Keluh Jeli.
Aletha terkekeh, "ya namanya lu public figure , apa yang lo lakuin bakalan diliatin kali. Diem aja sambil melamun juga diliatin!" Ketus Aletha.
Jeli mencebikan bibirnya.
"WOI! DISINI *****!"
Jeli dan Aletha saling menatap kemudian menghembuskan nafasnya secara bersamaan, Abel begitu bar-bar dan tidak tahu malu.
"Ngapa si lu suka banget teriak-teriak? Urat malu lu putus?" Tanya Tari kesal.
Abel terkekeh geli, "No bar-bar, no life." Abel menaik-turunkan alisnya, menyebalkan.
"Kakak Jeli makan apa kak? Biar asisten pesanin." Abel memberi Jeli selembar menu makanan kepada Jeli.
Jeli memutar bola matanya kesal, "Abel, sekali lagi lo kaya gini, gue musuhin. Sumpah!" Kesal Jeli.
Abel terkekeh. "Iya-iya-iya! Jadi, lo mau makan apa?" Tanya Abel.
"Terserah deh, ngikut aja gue!"
"Traktir gak Jel? Kan lu baru aja merayakan film baru lo."
Abel dan Aletha menyetujui ucapan Tari yang sangat dan wajib di turuti.
"Tanpa merayakan, juga biasanya lo minta traktir gue!" Ketus Jeli, songong.
Tari terkekeh. "Ya, iyasi."
"Iya, iya. Gue traktir." Ucap Jeli.
"Niatnya sih, entar malam mau ngajak makan diluar, mau gue traktir. Tapi lo betiga minta traktir disini, jadi skip ya?" Jeli menahan tawanya.
Seketika raut wajah Aletha, Tari dan juga Abel berubah menjadi murung.
"Gak asik lo Jel, nipunya gini banget."
"Kenapa gak bilang dari tadi siiihhhh?"
"Ngeselin banget sih!"
Jeli tertawa kecil.
"Iya-iya! BURU SANA, GUE LAPER!" Ketus Jeli.
Abel memutar bola matanya, "untung temen si lu. Kalau bukan, dah gue tendang sampe Arab."
"Mualaf dong gue."
"******!"
Jeli tertawa ngakak karena melihat Abel yang kesal pada dirinya. Paling tidak, bebannya sedikit berkurang karena berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.
****
__ADS_1
Neee, part khusus , empat serangkaiii💕💕💕
maaf kalau aku ada typo yaa, soalnya ngetik, up tanpa edit hihiii