KEPAK MERPATI MUNGIL

KEPAK MERPATI MUNGIL
Berduka


__ADS_3

Pagi ini mega masih bergelayut manja diatas sana, seakan enggan beranjak dari hamparan langit. langit yang seharusnya indah, cerah biru syahdu tapi tidak untuk pagi ini, mendung hitam nan tebal baris berarak berjalan gontai tak tentu arah, matahari yang seharusnya sudah tinggi, pagi ini tak jua kunjung menampakkan diri.


Suasana di pagi ini sungguh tak secerah biasanya, seakan turut berduka atas meninggalnya Ayah dari seorang gadis yang bernama Anisa Azzahra.


Di sebuah kompleks perumahan yang sederhana, tampak kesibukan orang berlalu lalang untuk mengurus prosesi pengurusan jenazah dari seorang yang disegani dan dituakan di kompleks itu. Almarhum adalah sosok yang di kenal masyarakat sebagai orang yang baik, ramah, sabar dan dermawan.


Figurnya sebagai seorang pendidik, sangatlah tampak dalam perilakunya sehari-hari yang terkesan menjadi panutan bagi masyarakat di lingkungannya. Bapak Haikal ibrahim ayah Anisa bertindak sebagai Imam sholat lima waktu di masjid yang ada di komplek perumahan itu. Tidak heran jika kepergiannya menimbulkan rasa kehilangan yang mendalam bagi warga sekitarnya.


Sejak semalam tampak ramai sekali di Rumah duka, sejak jenazah dibawa pulang dari Rumah sakit, pelayat dari berbagai kalangan, profesi dan tempat terus berdatangan untuk turut membantu atau sekedar bersimpati pada keluarga Almarhum.


Seorang wanita paruh baya istri dari Almarhum Bapak Haikal ibrahim. tampak terduduk lunglai di depan jenazah suaminya, sesekali wanita yang masih terlihat cantik itu menyeka air matanya. Kedua anak perempuanya yang terlihat tabah duduk di kanan kirinya, yang tampak sedang menenangkan sang Ibu. sementara anak lelakinya sedang berbicara dengan para petugas pengurus jenazah.


"Bagaimana Nak?, apa jenazah Bapak bisa langsung dimakamkan kalau penggalian sudah sekesai, atau ada yang ditunggu barangkali ?" Tanya seorang Bapak kepada anak laki-laki Almarhum.


"Tidak pak, tidak ada yang ditunggu, keluarga Ayah yang dari palembang baru akan terbang dari sana jam 2 siang nanti, terlalu lama kalau harus menunggu, mereka juga sudah mengizinkan agar Almarhum Ayah secepatnya dimakamkan."


"Baiklah kalau begitu, setelah semuanya selesai, kita langsung bawa jenazah Pak Haikal ke Masjid untuk disholatkan ya nak?"


Kata Bapak itu sambil mengusap-usap punggung anak lelaki Almarhum.


Sementara tampak Ibu-ibu tetangga dan teman-teman sejawat Ibu Ratih ibunya Anisa sedang berusaha menghibur Ibu Ratih.


Dari sudut taman di deretan kursi plastik yang paling belakang yang sudah disiapkan untuk para pelayat, tampak sepasang mata berkaca mata hitam yang sedang duduk diam mengawasi kesibukan dan kesedihan orang-orang di Rumah itu.


Matanya tak lepas dari memandangi Bu Ratih dan Anisa.


"Kasian dia" gumamnya dalam hati.


Tiba-tiba laki-laki berkaca mata hitam itu dikagetkan oleh kedatangan seseorang yang menyapanya penuh hormat.

__ADS_1


"Maaf tuan, apa kita masih harus tetap di sini sampai pemakaman selesai?" Tanya pria yang baru datang itu dengan takjim.


"Iya" jawab pria yang dipanggil Tuan itu dengan singkat.


"Tapi Tuan, Anda ada agenda penting hari ini, apa harus kita cancel lagi?"


Laki-laki berkaca mata hitam itu tampak ragu, sebelum akhirnya ia berdiri.


"Baiklah kita pergi dari sini, suruh orangmu untuk mengurus semuanya, jangan sampai menimbulkan kecurigaan" Katanya sambil berjalan keluar dari halaman.


"Baik Tuan"


Sebelum benar-benar pergi pria paruh baya yang berkaca mata hitam itu kembali menoleh ke dalam Rumah yang terlihat dari luar ditengah-tengah ruangan, Jenazah bersama istri dan kedua anak perempuannya.


Pria itu tampak menghentikan langkahnya, yang diikuti di belakangnya oleh pria yang memanggilnya "Tuan".


Sejurus kemudian Ia berjalan mendekati anak lelaki Almarhum, sambil menepuk-nepuk punggungnya Pria berkaca mata hitam itu berkata.


Anak Itu tampak terkejut dengan kedatangan pria asing yang tak dikenalnya.


"Eeh, I iya Pak, maaf Anda siapa ya, saya belum pernah melihat Anda sebelumnya?"


"Saya teman Ayahmu, baiklah saya pergi dulu, tolong jaga ibumu dan Saudara-saudaramu ya" Setelah berkata demikian pria itu langsung pergi di ikuti asistennya.


"Siapa dia Nak? Sepertinya Bapak itu orang penting atau pejabat gitu?"


Tanya seorang Bapak yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka.


"Saya juga tidak tau pak, mungkin atasan Ayah di instansinya, saya belum pernah bertemu sebelumnya."

__ADS_1


"Iya mungkin Nak, Almarhum kan orang baik jadi tidak heran jika kawan dekatnya itu dari berbagai kalangan"


Anak laki-laki itu Hanya mengangguk mengiyakan.


"Ayo segera kita bawa jenazah Ayahmu ke Masjid untuk disholatkan, sepertinya semuanya sudah siap" Ajaknya lagi


"Baik pak"


 


\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-@@@@@\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-


 


Iring-iringan jenazah yang berangkat ke pemakaman tampak sangat ramai.


Tetangga komplek, saudara dekat saudara jauh, rekan-rekan sesama guru dari berbagai Sekolah, kepala Sekolah serta rakan-rekan satu instansi, anak-anak murid Almarhum yang sangat banyak memenuhi halaman Rumah Almarhum hingga ke jalan-jalan. Juga teman-teman dari Istri Almarhum yaitu Ibu Ratih, teman-teman satu profesi yaitu sesama perawat, juga ada beberapa Bidan dan Dokter serta petinggi-petinggi Rumah sakit di mana bu Ratih sudah mengabdikan dirinya selama puluhan tahun. Hal itu tentu saja menjadikan bu Ratih sebagai seorang perawat senior yang tentu sangat dikenal baik di instansinya. Terlebih orangnya yang ramah dan santun.


Belum lagi para pelayat dari teman anak-anak Almarhum, semua itu menjadikan suasana pemakaman yang sangat ramai, tak ubahnya seperti pemakaman seorang pejabat tinggi.


Ketika Jenazah hendak di masukkan ke liang lahat, Bu Ratih pingsan.


Telah pergi seorang teman hidup, selama lebih dari 20 tahun bersama mengarungi samudra rumah tangga, membesarkan anak bersama-sama. bersama dalam segala suasana dan keadaan. Haikal ibrahim adalah seorang suami yang baik, ayah yang bertanggung jawab bagi ketiga anaknya.


Kini tak ada lagi sosok Ayah yang penyabar namun tegas di Keluarga itu. Rasa kehilangan yang sangat mendalam tampak sekali dari raut wajah Bu Ratih dan anak-anaknya, walaupun mereka berusaha tabah, namun kesedihan tak bisa ditutupi dari raut wajah mereka.


"Sudahlah bu, kita iklaskan kepergian Ayah, umur Ayah memang sudah Allah tetapkan sampai di dini." Nisa anak tertua Almarhum tampak sedang menghibur ibunya yang baru siuman.


"Ayo bu kita pulang"

__ADS_1


Dengan langkah gontai mereka berjalan meninnggalkan pemakaman yang sudah mulai sepi.


Mendung yang sejak pagi tadi bergelayut di langit tak jua kunjung pergi, masih saja menampakkan wujudnya yang kegelapan, membuat suasana pemakaman semakin syahdu dan pilu, seolah mendungpun turut berduka atas kepergian seorang hamba yang baik dan taat beribadah. Alam seolah turut berbela sungkawa atas kepergian Almarhum Bapak Haikal ibrahim.


__ADS_2