
Setelah hampir satu bulan sejak peristiwa pembunuhan itu polisi telah berhasil menemukan siapa pembunuhnya.
Polisi tidak bekerja sendiri, mereka dibantu oleh orang-orang dari tim keamanan seorang Bos besar dari sebuah perusahaan raksasa di Negeri ini. Mereka adalah orang-orang terlatih untuk urusan inteligensi dan keamanan. untuk masuk menjadi bagian dari tim keamanan dari Bos pemilik perusahaan raksasa, yang anak perusahaanya telah menggurita di mana-mana, tentu harus melalui seleksi dan pendidikan militer security yang tidak ringan.
Mereka telah beberapa kali berhasil membantu polisi membongkar kejahatan dari gerombolan mafia pembobol Bank dalam waktu kurang dari dua bulan.
Kasus pembunuhan ini, termasuk kasus ringan bagi mereka, karena pelakunya bukanlah jaringan sindikat yang sangat cerdik dan licin, pelaku dari pembunuhan ini adalah seseorang yang punya masalah personal dengan atasanya.
kenapa sampai hampir satu bulan kasus ini terjadi, polisi dan tim keamanan dari perusahaan ini baru bisa menemukan pelaku nya, itu semua karena intel dari kepolisian masih banyak menangani kasus yang lain. Banyak DPO yg harus di cari.
Di sebuah gedung tinggi menjulang yang bertuliskan " LAMBANG BAKTI PERSADA GROUP" Mobil yang dikendarai ketiga pria itu berhenti, dan masuk ke Baseman untuk parkir di tempar parkir VVIP.
Pria yang duduk di jok belakang segera turun dan berjalan ke arah pintu lif yang ada di lobi lantai dasar dan segera masuk setelah pintu lif terbuka, tujuannya adalah ruangan direktur yang berada di lantai 4.
Pintu lif terbuka dan pria itu segera masuk ke pintu yang bertuliskan " RUANG DIREKTUR ANTON MIHARSO"
Tok, tok
"Selamat siang tuan,"
"Masuklah,Rudi..."
pria yang dipanggil tuan itu mempersilahkannya masuk, dengan isyarat matanya dia mempersilahkan pria itu duduk.
Rupanya dia adalah sekretaris dari Bos besar dari perusahaan "LAMBANG BAKTI PERSADA" dan pria yang menunggu di ruang direktur ini adalah BOS tunggal pemilik perusahasn raksasa yang bergerak di bidang jasa marga, kontruksi bangunan dan pertambangan.
Rupanya sekretaris Rudi paham, jika tuannya menyuruhnya duduk itu artinya dia ingin mendengarkan laporan dari hasil kerjanya yang tidak bisa dibilang biasa-biasa saja.
"Saya bisa pastikan Tuan, sebelum tuan berangkat ke Dubai bulan depan, pembunuh itu sudah mendekam dipenjara, besok lusa persidangan akan kembali digelar dengan agenda pembacaan keterangan saksi"
Karena tidak mendengar tanggapan dari Tuannya maka pria itu kembali melanjutkan laporannya.
"Untuk keluarga korban, orang-orang saya sudah saya perintahkan untuk mengawasi dari kejauhan, dan saya juga sudah mengirimkan sejumlah uang ke rekening mereka atas nama kemanusiaan."
"Bagus, sekarang kamu boleh pergi"
Sekertaris itu kemudian melangkah keluar dan menutup pintu.
#######################
Flasback on
POV ANISA
__ADS_1
Setelah mengetahui siapa pembunuh Ayahku, ingatanku kembali pada kejadian beberapa bulan yang lalu.
Pagi itu aku sudah bersiap untuk berangkat ke kampus, ada sesuatu yang harus aku diskusikan dengan dosen pembimbingku, mengenai Skripsi yang sedang aku buat.
Setelah sarapan Ayah memanggilku untuk mengikutinya menuju ruang tamu.
"Nisa, kamu cari data untuk bahan skripsimu di Sekolah lain saja ya, nanti Ayah telpon kepala sekolahnya, untuk merekomendasikan kamu"
Aku bingung dengan permintaan Ayah kali ini, sedangkan aku sudah hampir dua bulan ini, selalu mengunjungi sekolahnya dan beberapa Sekolah yang lain, untuk tujuan Skripsiku, dulu Ayah yang sangat senang ketika aku utarakan niatku.
"Kenapa yah? dulu kata Ayah biar aku sekalian praktek mengajar di sana, menggantikan masuk kelas jika ada guru Matematika yang berhalangan hadir" protesku padanya.
"Nanti saja Ayah jelaskan alasanya, yang penting sekarang kamu jangan dulu pergi ke Sekolah Ayah"
Aku makin bingung dengan sikap Ayahku. tapi ya sudahlah, mungkin Ayah punya alasan kuat untuk itu. lagi pula 3 sekolah yang lainpun cukup untuk menggali data untuk skripsiku.
Ketika kuadukan kepada Ibu mengenai hal ini, beliau bilang.
"Kamu turuti saja perintah Ayahmu, ini semua demi kebaikanmu,"
ketika aku desak terus barulah ibu mau jujur padaku.
"Kata Ayah ada salah seorang guru yang menyukaimu, dan pria itu sudah beristri"
ingatanku tertuju pada salah seorang guru muda yang lumayan tampan menurutku, dan dia ini berusaha mendekatiku, tapi aku tau gelagat Ayah yang tidak menyukainya. Pak Edi namanya
Beberapa kali Pak Edi mengantarkan aku pulang, karena Ayah harus ke UPTD, dan aku yang berangkat bareng Ayah, tidak mungkin ikut Ayah ke UPTD. Akhirnya karena sedikit memaksa akhirnya aku terima tawarannya, dia nampak senang sekali. Kejadian itu terulang lagi ketika Ayah tidak bisa masuk Sekolah karena ada urusan dinas, dan aku ke Sekolah dengan naik ojek, karena motorku di bengkel, kembali pak Edi mendesakku untuk mengantarku pulang dengan alasan beliau mau ke bank yang searah dengan rumahku, karena menurutku tidak akan merepotkannya maka kembali kuterima tawarannya. Aku tidak punya perasaan apa-apa padanya, aku sangat menghormatinya. hanya sebatas teman karena dia seniorku, itu saja tidak lebih.
Aku tidak menyangka disinilah awal petaka itu.
Setelah sidang pertama digelar, ibu baru bercerita semuanya.
Karena Pak Edi ini sudah beristri tentu Ayah melarangku untuk dekat-dekat dengannya. kedekatanku dengan pak Edi yang tidak kusadari ini, ternyata menjadi arang yang kemudian membara, yang menyebabkan asap gosip yang membubung tinggi di seluruh civitas Akademika Sekolah itu. Sebagai kepala Sekolah tentu Ayahku malu dengan kejadian ini, tentu Ayah tidak ingin aku dicap sebagai wanita yang merusak rumah tangga orang. Itulah mengapa kemudian Ayah menyuruhku untuk tidak lagi datang ke Sekolah.
Setelah aku tidak lagi ke sekolah Ayah, aku tidak pernah lagi bertemu dengan pak Edi, karena intensitasku ke luar rumah sudah sangat jarang, waktuku hanya kuhabiskan di Rumah dan di Kampus untuk mengerjakan skripsiku.
"Setelah kamu tidak pernah lagi ke Sekolah Ayah, pak Edi dan Ayahmu sempat baradu mulut, karena Ayahmu tidak mau memberikan No HP mu yang baru kapadanya" lanjut ibu, aku memang baru saja ganti Hp dan nomor waktu itu, karena Handphone ku hilang.
"Ayahmu juga tidak menerima ketika pak Edi memintamu untuk menjadi istrinya, dan dia akan menceraikan istrinya karena istrinya itu tidak bisa memberikannya keturunan"
Deg. " Sudah sejauh itu bu?"
Tanyaku hampir tidak percaya. Ibu mengangguk
__ADS_1
" Sudah beberapa kali pak Edi datang ke mari, waktu kamu pengajian di hari minggu"
"Karena Pak Edi tidak bisa diperingatkan dengan baik-baik, terpaksa Ayahmu agak kasar padanya, Ayahmu bilang kalo kelakuannya ini akan diadukan ke Kepala Dinas" Ibu tampak tercekat ketika mengatakan itu.
Aku semakin gusar mendengarnya.
"ya Allah, kenapa aku tidak tau cerita ini semua, kenapa ibu dan Ayah tidak pernah cerita padaku, kenapa bu ?" tanyaku bertubi-tubi.
"Karena Ayah dan ibu tidak mau mengganggu konsentrasimu menyelesaikan Skripsi"
Aku baru sadar kenapa selama dua bulan terakhir ini Ayah selalu mengantar dan menjemputku sendiri dengan mobil LGX tuanya, Ayah bahkan rela menjempuku dikampus dan mengantarku pulang, kemudian balik lagi ke sekolah atau kemana jika beliau masih ada urusan.
"Oh, Ayah maafkan anakmu"
Air mataku luruh tak terbendung, mengingat betapa besar pengorbanan Ayah untukku, beliau sangat menginginkan aku segera lulus, menyandang gelar Sarjana, untuk kemudian mengabdi menjadi pendidik.
"Guru itu pekerjaan mulia, Nisa.
Selain dapat gaji kamu juga dapat pahala, jika kamu lakukan dengan iklas dan sabar. apalagi kamu seorang perempuan yang akan jadi pendidik untuk anak-anakmu kelak, jika kamu tidak bisa menjadi guru di Sekolah, maka kamu tetap akan bisa menjadi guru untuk anak-anakmu" begitu kata Ayah selalu disela-sela obrolan kami.
"Oh Ayah aku rindu nasehatmu"
Semakin deras air mataku tumpah, bahkan kini Ayah tidak akan pernah menyaksikan kelulusanku, Ayah tidak sempat lagi menyaksikan aku menikah dan punya anak, seperti keinginannya.
"Nanti kalo kuliahmu sudah selesai, jika jodohmu sudah datang, Ayah mau kamu segera menikah, seorang wanita jika sudah cukup umurnya harus segera dinikahkan, untuk menghindari fitnah dan banyak mudhorot lainnya"
"Semoga Ayah masih bisa menyaksikan kamu dan adik-adikmu menikah dan punya anak" kata Ayah sambil membelai kepalaku
"Semoga anak-anak Ayah mendapat jodoh yang sholeh dan sholehah" kata Ayah sambil matanya menerawang jauh.
Aku berlari ke kamar meninggalkan ibuku sendiri di ruang tengah, aku ingin menumpahkan kesedihanku sendiri di sini, sambil kupandangi foto Ayahku yang ada di meja belajarku. foto kami sekeluarga waktu berlibur ke Rumah nenek di Palembang, tiga tahun yang lalu.
Dari hasil penyelidikan polisi, Ayahku meninggal karena racun yang dimasukkan ke dalam kopi .
########################
Siang itu, setelah bel istirahat kedua berbunyi Ayah pergi ke ruang guru untuk sekedar ngobrol ringan dengan rekan guru. Ayah memang punya kebiasaan seperti itu. sebagai Atasan Ayah tidak membuat kebiasaan bahwa Atasan harus di datangi di ruangannya. tapi atasan juga harus mau mau mendatangi bawahan diruangannya.
Waktu Ayah dan semua guru berkumpul di ruang guru hanya pak Edi yang tidak tampak di disitu, mungkin ke Toilet atau ke Lab. ternyata dari hasil penyelidikan polisi Pak Edi masuk ke ruangan Ayah dan menaburkan racun ke kopi Ayah, yang baru saja dibikin oleh office boy Sekolah yaitu pak Rahmat, tanpa sepengetahuan pak Rahmat tentunya.
Rencana ini sudah pak Edi rencanakan sejak dari Rumah, tetapi niatnya tidak sampai untuk membunuh, hanya sekedar membuat Ayah menjadi lumpuh karena obat, tapi Allah berkehendak lain karena pak Edi gugup jadi kebanyakan ketika menuang racun itu yang menyebabkan pembuluh darah Ayah pecah, sehingga Ayah tidak tertolong, begitu pengakuan pak Edi di kantor polisi.
Sekarang aku dan keluargaku hanya bisa pasrah atas takdir Allah atas keluargaku. semoga Allah mengampuni dosa-dosa Ayahku, dan memberikan ketabahan untuk kami sekeluarga. terutama ibu yang tampak sangat terpukul.
__ADS_1
Semoga Pak Edi segera menyadari kesalahanya, bertaubat dan mau meminta maaf kepada kami. Ayah selalu mengajarkan untuk tidak pernah menyimpan dendam kepada siapapun.