KEPAK MERPATI MUNGIL

KEPAK MERPATI MUNGIL
Sakit hati


__ADS_3

Sidang atas kasus pembunuhan terhadap seorang Kepala Sekolah, hari ini telah memasuki tahap akhir dengan agenda pembacaan putusan hakim.


Berdasarkan bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan akhirnya majelis Hakim menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara, terhadap terdakwah. Hukuman ini lebih ringan dari tuntutan jaksa mengingat tujuan terdakwah sebelumya hanyalah membuat korban menjadi lumpuh. Ternyata motif terdakwah meracuni korban adalah karena perasaan sakit hati.


Guru muda itu sakit hati kepada atasannya karena perasaan cinta terhadap putri korban tidak mendapat restu dari korban.


Cinta memang bisa membuang logika bahkan mematikan rasa, cinta juga mampu merubah tabiat yang baik menjadi bejat begitu juga sebaliknya cinta bisa memberi kekuatan kepada yang lemah untuk tumbuh menjadi pribadi yang gagah.


Akhirnya keluarga Anisa bisa bernafas dengan lega, karena pembunuh ayahnya sudah bisa tertangkap dan bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Selain keluarga Anisa yang lega setelah keputusan hakim dibacakan, ada seseorang yang juga ikut merasa sangat lega dengan keputusan itu.


Seseorang yang selalu mengikuti jalannya persidangan dari awal hingga akhir persidangan, walaupun dia tidak pernah ikut hadir ke persidangan itu. Orang-orangnya yg diperintahkan untuk selalu mengikuti setiap perkembangan sidang, selalu melaporkan untuknya.


Tampak di kursi pesakitan terdakwah terduduk dengan lesu mendengar vonis yang dibacakan Ketua Hakim untuknya. Entah apa yang ada dalam fikirannya.


Sekilas dia menoleh ke arah bangku yang ada dibelakangnya , dimana Anisa beserta ibu dan kedua adiknya duduk.


Sejurus pandangannya beradu dengan pandangan Anisa, gadis itu tampak melengos membuang muka. betapa bencinya Anisa dengan pria kejam itu, yang telah tega membunuh ayahnya. Laki-laki yang sangat dicintainya.


"Sepertinya aku tidak akan bisa memaafkanmu" itu yang ada di benak Anisa.


"Pak izinkan saya untuk meminta maaf kepada keluarga korban "


Kata terdakwah dengan suara yang sangat pelan kepada polisi yang akan membawanya keluar dari ruangan itu.


Polisi itu mengangguk.


Dengan tangan terborgol terdakwah yang bernama Edi itu menghampiri Anisa dan keluarganya.


Begitu pria itu mendekat sontak mereka semua langsung berdiri, Anisa dan keluarganya tampak terkejut, mereka semua tidak menyangka bakal dihampiri oleh orang yang telah membunuh ayahnya.


Dengan tatapan yang sayu dan mulut yang bergetar pria itu berkata


" Ibu, Nisa, maafkan saya, saya tidak bermaksud membunuh Pak Ibrahim, saya betul-betul menyesal, tolong maafkan saya,"


"Saya akan mempertanggung jawabkan perbuatan saya, seberapa lama pun dipenjara akan saya jalani dengan iklas, tapi tolong beri saya maaf "


Sambil berkata matanya tampak berkaca-kaca, tampak sekali penyesalan terlihat dari matanya.


Selama persidangan berlangsung pria itu tidak sedikitpun menunjukkan perlawanan bahkan sangat kooperatif dan terkesan pasrah.


Entah karena betul-betul menyesal atau karena hal lain.


Anisa dan ibunya tidak bisa berkata-kata, perasaan mereka campur aduk tidak karuan, antara sedih dan sakit hati.

__ADS_1


Lagi-lagi tampak dua orang berjas hitam dan berkaca mata hitam yang terus mengawasi jalanya persidangan dari awal hingga selesai hari ini.


Seperti biasa mereka duduk di bangku bagian belakang.


Ketika terdakwah berjalan menghampiri keluarga korban, tampak salah satu dari dua orang itu spontan berdiri dan ikut menghampiri, seolah ingin mendengar apa yang akan dikatakan terdakwah kepada Anisa dan keluarganya.


"Sampai kapan pun kami tidak akan bisa memaafkanmu, ini baru hukuman untukmu di dunia, semoga Allah juga akan membalas perbuatan kejimu ini di akhirat nanti "


Kali ini Hasan, putra korban yang menjawab dengan suara yang tajam sambil mencengkeram kerah kemeja terdakwah, Hasan tidak mampu menyembunyikan emosinya.


Segara polisi menggiring terdakwah keluar dari ruang sidang menuju mobil tahanan yang sudah siap menunggu di halaman kantor pengadilan ini.


Ketika terdakwah melewati pria berjas hitam itu, tampak tatapan tajam pria itu mengarah kepadanya, terdakwah bisa merasakannya walaupun dibalik kaca mata hitamnya.


Tatapan itu, tatapan yang sangat menakutkan. Dia sudah merasakan tatapan itu beberapa minggu yang lalu ketika pria itu bersama beberapa anak buahnya menemuinya ditempat persembunyiannya, berbarengan dengan polisi yang berhasil menggerebeknya


Tak akan dia lupakan ancaman dari pria yang selalu berpakaian hitam-hitam itu, ancaman yang sangat menakutkan.


Ketika itu ditempat persembunyiannya yang berhasil ditemukan oleh polisi dan orang-orang dari pria berjas hitam itu.


"Kamu tahu berhadapan dengan siapa,? mudah bagi ku untuk membunuhmu"


Pria berjas hitam itu memandang tajam sambil menginjak puntung rokok dan meremuknya dengan sekali gesek dengan sepatu pantofel mahalnya.


"Aku tidak membunuhmu, karena kebaikan hati keluarga korban, semoga kebaikan hati dari mereka bisa meringankan hukumanmu"


Jika dilihat dari penampilannya jelas pria berjas hitam itu bukan orang kebanyakan, ada ajudan yang selalu mengikutinya, mobil sport yang selalu dikendarai, aksesoris mahal yang melekat dibadan sudah cukup untuk menggambarkan strata sosialnya bahwa pria yang selalu berpakaian hitam-hitam ini adalah orang dari kelas atas.


Hari ini tatapan itu kembali menerornya, walaupun tanpa kata seperti waktu itu sudah cukup membuat nyalinya ciut.


Sambil menunduk dia terus berjalan melewati pria itu menuju mobil tahanan yang akan membawanya ke penjara.


Di sanalah dia harus tinggal untuk jangka waktu yang tidak sebentar. pagar tinggi beton dan jeruji besi penjara yang akan menghalanginya untuk melihat dunia luar.Tak bisa dibayangkan dia harus tidur dan makan disana selama 15 tahun.


Hanya keajaiban dari Tuhanlah yang bisa meringankan hukumannya, hancur sudah karir dan rumah tangganya bahkan istrinya pun tak sudi lagi menemuinya, mungkin wanita itu akan menggunggat cerai. laki-laki yang dicintainya tega membunuh demi cintanya kepada wanita lain.


Hanya kedua orang tuanya yang masih peduli dengannya hingga saat ini, seberapapun hancur hati orang tua melihat anak yang dibesarkan dengan penuh cinta kasih kini menjadi pembunuh, hati orang tua tetaplah tidak tega melihat penderitaan anaknya.


Ibu dari terdakwah tampak masih duduk sambil menangis melihat anak laki-lakinya digiring polisi dengan kedua tangan terborgol, hatinya hancur sehancur-hancurnya.


Suaminya tampak merangkul dan menenangkannya.


"Sudahlah, bu, ayo kita pulang, besok kita masih bisa menjenguk Edi" bujuk suaminya


Suami istri itu berjalan mendekati Keluarga Anisa.

__ADS_1


Tiba-tiba saja ibu itu menjatuhkan diri dihadapan istri korban yaitu Ibu Ratih sambil memeluk kaki ibu Ratih.


"Ampuni kami bu, Ampuni anak saya, biarlah dia mempertanggung jawabkan perbuatanya di penjara, tapi tolong beri dia maaf agar Allah tidak menghukumnya lagi di akhirat" sambil menangis ibu itu memeluk kaki Ibu ratih seperti anak kecil yang merengek minta mainan kepada ibunya.


Melihat itu bu Ratih tampak bingung begitu juga dengan yang lain. ibu ini tidak bersalah, anaknya lah yang bersalah, tidak seharusnya ibu ini menerima luapan emosi dari keluarga korban.


Bu Ratih tidak tau mesti berbuat apa. Mesti mengangguk memaafkan atau malah mencaci maki ibu ini, karena perbuatan anaknyalah kini suaminya meninggal.


Melihat ibu itu terus memeluk kakinya sambil menangis dan terus meminta maaf, bu ratih justru kembali ikut menangis begitu juga dengan Anisa dan Husna adiknya. Biar bagaimanapun marahnya mereka terhadap pembunuh itu, ibunya tidaklah tau apa-apa.


Bu Ratih yang tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu dari seorang ibu yang anaknya telah membunuh suaminya, hanya diam tak bergeming, hanya air matanya yang semakin deras mengalir.


Melihat drama didepan matanya, dan demi menyelamatkan Bu Ratih yang tampak kebingungan pria berjas hitam itu menghampiri dan berkata.


"Ibu, tolong segera bangun dan semuanya segera pergi dari sini. ruangan ini harus segera di kosongkan"


Demi mendengar kata-kata pria berjas hitam itu, mereka akhirnya sadar bahwa di ruang sidang sudah tidak ada orang lain kecuali mereka. Akhirnya ibu itu bangun dan berjalan ke luar dengan gontai sambil di papah suami dan seorang pria muda mungkin anaknya.


Bu ratih, Anisa dan kedua adiknya tampak terkejut dengan kemunculan tiba-tiba pria berjas hitam itu, karena sejak tadi mereka tidak melihat pria itu.


"Siapa dia,? kenapa pria itu terkesan menyelamatkan ibu dari kebimbanganya tadi?" batin Anisa.


Hasan pun tampak mengerutkan keningnya, mengingat-ingat siapa pria itu, seperti pernah melihat tapi di mana...?


"O iya aku ingat sekarang. pria itu kan yang datang bersama pria yang menyapaku disaat jenazah Ayah baru datang dari Rumah sakit"


Hasan sudah mulai bisa mengingat akan kehadiran pria itu di Rumahnya ketika jenazah Ayahnya belum dikebumikan.


Pria itu dulu datang bersama seorang pria yang juga berpakaian nyaris sama dengan pria itu, cuma bedanya pria ini lebih muda dan pria yang menyapanya dulu itu lebih tua, mungkin seumuran dengan ayahnya.


"Sepertinya pria yang dulu menyapaku itu adalah Bos dari pria ini, karena aku sempat mendengar dia memanggil dengan sebutan 'Tuan' "


Hasan masih tampak termenung mengingat kejadian di Rumahnya sebulan yang lalu.


"Ibu mengenalnya?"


"Tidak.." jawab bu Ratih drngan mimik wajah yang juga keheranan karena beberapa kali Bu Ratih melihat pria ini mengikuti persidangan.


"Siapa dia, Apa dia polisi?"


Akhirnya mereka semua meninggalkan ruang sidang dengan tanda tanya besar di hati atas siapa sebenarnya pria berjas hitam itu?, mengapa pria itu selalu mengikuti persidangan?, sekedar simpatisan?.Tidak mungkin.


Pria itu tentu punya urusan yang jauh lebih penting, dari sekedar mengikuti perkembangan kasus pembunuhan yang terjadi atas diri seseorang yang hanya berasal dari orang bawahan, begitu juga yang membunuh, mereka berasal dari kelas yang sama. Mereka bukan orang penting ataupun pejabat tinggi yang perkembangan kasusnya harus selalu diikuti terlebih oleh orang sepertinya.


Mereka beda kelas, tetapi mengapa pria berjas hitam itu seolah-olah ingin melindungi keluarga korban.

__ADS_1


Sesampainya di Rumah pun pikiran tentang siapa pria berjas hitam itu masih terus berputar-putar di kepala Bu Ratih dan juga anak-anaknya.


"Mungkin teman Ayah" Begitu mereka menyimpulkan.


__ADS_2