KEPAK MERPATI MUNGIL

KEPAK MERPATI MUNGIL
Penyelidikan 2


__ADS_3

Sudah lebih dari satu minggu sejak kematian Ayahnya Anisa, Bapak Haikal ibrahim. Namun polisi belum juga berhasil menemukan siapa dalang dari pembunuhan yang menimpa Bapak Kepala Sekolah yang sangat berkharisma itu.


Kali ini penyelidikan dilakukan Polisi di Sekolah di mana Almarhum Bapak Haikal ibrahim menjabat sebagai Kepala Sekolah.


Siang itu di Ruang Kepala Sekolah telah berkumpul semua pegawai Sekolah yang tengah di interogasi oleh polisi satu persatu.


"Siapa diantara Bapak, Ibu yang terakhir berinteraksi dengan almarhum sebelum almarhum ditemukan tewas?" Tanya salah satu dari polisi penyidik itu.


Mereka para guru dan pegawai Sekolah. tampak saling menatap seolah meminta jawaban dari rekan mereka.


"Kami semua sempat berkumpul dengan beliau di Jam istirahat pak, karena beliau sempat masuk ke ruang guru, disaat kami semua para guru sedang berada di ruang guru,." Salah seorang guru yang kelihatan guru senior memberikan keterangan.


"Beliau masuk ke Ruang guru karena ada sesuatu yang beliau sampaikan terkait dengan rencana study tour Sekolah yang akan diadakan bulan depan. Beliau sempat duduk sebentar untuk sekedar mengobrol dengan kami," Tambahnya lagi diikuti dengan anggukan dari rekan-rekan guru lainnya, menandakan bahwa apa yang disampaikan sang guru senior itu benar adanya.


"Setelah itu, adakah diantara Bapak ibu yang berkomunikasi secara personal dengan Almarhum?"


"Saya pak, setelah selesai jam istirahat kedua, saya berpapasan dengan beliau di depan Ruang Kepala Sekolah, ketika saya akan masuk kelas" begitu keterangan guru yang lain.


Karena yang lain hanya diam, akhirnya polisi menanyai mereka satu persatu secara bergiliran, semuanya tanpa terkecuali.


"Kami menemukan secangkir kopi di meja korban, siapakah yang membuat dan mengantarkan kopi itu?"


Semua mata tertuju kepada seorang laki-laki paruh baya, berumur sekitar 45 tahun, berbadan agak gempal, dan tampak sangat kikuk dan gemeteran mendapatkan pertanyaan yang tidak disangka-sangka olehnya dari polisi.


"Siapa..?"


"Sa, saya Pak, seperti biasa Bapak minta kopi disiang hari, beliau tidak pernah mau minum kopi di pagi hari, katanya sudah minum kopi di Rumah sebelum berangkat ke Sekolah."


"Anda sendiri yang mengantar ke ruangan korban?"


"Iya, pak,"


Pegawai sekolah itu tampak gugub, begitu juga dengan pegawai Sekolah yang lain. Semua wajah-wajah mereka tampak tegang.


Semua guru dan pegawai Sekolah sudah diperiksa satu persatu, tapi tampaknya polisi belum mendapatkan clue.


Pemeriksaan di Sekolah berlangsung cukup lama, mulai pukuk 9 pagi sampai pukul 1 siang.

__ADS_1


Ketika polisi menyudahi pemeriksaan dan pergi meninggalkan Sekolah, mereka semua tampak lega, serasa terbebas dari memikul beban ratusan kilo, walaupun mereka semua tau jika polisi bisa saja sewaktu-waktu datang kembali atau memanggil mereka ke Kantor Polisi untuk pemeriksaan berikutnya.


----------@@@@@--------@@@@@---------


Demikianlah hari berlalu belum juga ditemukan titik terang akan kasus pembunuhan Bapak guru yang bersahaja itu.


#######################


Siang ini Anisa sedang duduk disebuah masjid yang baru saja digunakan untuk acara kajian mingguan bersama ustad kondang negri ini. Gadis ini memang rutin mengikuti kajian yang rutin diadakan setiap hari minggu, yang hadir pada kajian ini memang selalu membludak, dihadiri dari berbagai kalangan, pedagang, pegawai pemerintah, swasta, pelajar, karyawan mahasiswa, ibu rumah tangga, tukang ojek, sopir angkot, tua muda, besar, kecil semua antusias mendengarkan jika ustad kondang ini yang memberikan tausiah ilmu agama. Hal ini memang menandakan bahwa umat memang haus akan makanan rohani. kajian dimulai dari jam 9 pagi dan akan selesai menjelang dzuhur, biasanya akan dilanjutkan dengan sholat dzuhur berjamaah. Di dalam masjid ini tempat pria dan wanita dipisahkan dengan tirai yang tinggi menjuntai ke bawah dan tidak bisa terlihat dari tempat laki-laki, sehingga sangat leluasa bagi para wanita ketika akan membetulkan jilbab, atau sekedar berbaring untuk melepas lelah.


Anisa baru saja selesai melaksanakan sholat Bakdiyatan dzuhur, dan orang-orang sudah satu persatu mulai meninggalkan masjid. Gadis itu tampak khusuk berdo'a memasrahkan segalanya yang terjadi kehadirat Sang Robbul izzati.


"Ya Allah ya Robbi, berikanlah keluarga kami ketabahan dan kekuatan atas cobaan yang Engkau berikan, semua ini adalah skenarioMu ya Allah, iklaskan hati kami untuk menjalaninya. Ampuni dosa-dosa Ayah kami, tempatkan beliau di tempat yang terpuji di sisiMu, Aamiin Allahuma Aamiin....."


Tampak air mata terjatuh di pipinya yang putih bersih, begitu khusuk dia berdo'a hingga tak di sadarinya jika sepasang mata tengah mengawasi sejak tadi.


Mata itu milik seorang Ibu yang tengah duduk tak jauh dari tempat Nisa berdo'a.


"Kenapa anak ini menangis dalam do'anya ?, dia tampak lama dan khusuk sekali berdo'a, seperti sedang mengalami masalah besar." Batin ibu itu


Nisa tersenyum dan mengganggu takjim kepada ibu itu. Karena mendapat respon yang ramah dari gadis yang sedang diperhatikannya, ibu itu kemudian mendekati Nisa.


"Belum mau pulang, Nak?" tanya ibu itu dengan lembut dan sopan.


"Belum, Bu. mungkin sebentar lagi." jawab Nisa sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami ibu itu.


"O, eeh Iya..." ibu itu tampak gugup tiba-tiba tangannya di raih dan di cium dengan hormat oleh gadis yang belum pernah dikenalnya.


"Kenalkan, nama Ibu Yulia, Siapa namamu, Nak?"


"Saya Anisa, bu. Panggil saja Nisa." jawabnya sambil tersrnyum ramah. Mereka berdua memang sudah sering bertemu di Masjid ini setiap hari minggu, saat sama-sama mengikuti kajian, tapi baru kali ini berkesempatan untuk saling menyapa dan berkenalan. Mereka sudah tidak merasa asing lagi satu sama lain walaupun belum saling kenal.


Belum sempat mereka melanjutkan obrolan tiba-tiba bunyi handphone terdengar dari dalam tas ibu Yulia, dengan terburu-buru Bu Yulia mengankat panggilan itu.


"Halo, Assalamualaikum"


"Wa'alaikum sallam bu, maaf bu Dito nggak bisa jemput ibu di tempat pengajian, ada urusan dengan Bos mendadak"

__ADS_1


Sahut suara di seberang sana. seketika raut wajah Bu Yulia tampak kecewa.


"Gimana sih kamu Dito? terus Ibu pulangnya bagaimana. Mobil ibu kan masih di Bengkel, Jam 2 nanti Ibu ada janji dengan orang "


Jawabnya dengan kesal.


"Padahal mau ibu kenalin dengan gadis cantik" imbuhnya dalam hati.


"Ibu naik Grap aja ya ?, biar Dito yang pesanin."


"Sudah nggak usah, nanti ibu cari sendiri aja, kamu hati-hati, cepat pulang, ibu mau ngomong penting sama kamu,"


Nisa hanya mendengarkan obrolan antara ibu yulia dengan seseorang yang kemungkinan adalah anak laki-lakinya.


Setelah Bu Yulia menutup telponnya, Nisa memberanikan diri bertanya.


"Alamat ibu di mana?"


Ibu yulia menyebutkan sebuah Alamat yang ada di kawasan perumahan.


"Kebetulan kita searah bu, kalo ibu tidak keberatan saya bisa antar ibu, tapi cuma naik motor"


Kata Nisa dengan sangat hati-hati takut Ibu ini menolaknya, karena Nisa tau dari penampilannya Ibu Yulia bukanlah orang kebanyakan, pasti ibu ini tidak pernah naik motor. Tapi ternyata respon Bu Yulia diluar dugaan. Dia tampak sangat senang sekali, matanya berbinar-binar.


"Bener nak?, ibu tidak ngrepotin?


"Tidak, bu kebetulan kita searah" jawab Nisa sambil tersenyum.


"Mari bu..!"


Ibu Yulia cuma mengangguk sambil berdiri mengikuti Nisa.


Awalnya mereka berdua tampak canggung, tapi setelah motor matic yang mereka naiki melaju memnyusuri jalanan Jakarta, suasana menjadi biasa.


Nisa canggung karena memboncengkan seorang Ibu-ibu kaya yang baru dikenalnya.Sementara Bu Yulia canggung karena sudah puluhan tahun tidak pernah naik motor. Terakhir naik motor mungkin saat dia masih remaja.


Tapi mereka terlihat sudah sangat akrab, sepanjang perjalanan ibu yulia yang banyak tanya kepada Nisa, tentang sekolah, kluarga, kegiatan dan lain-lain, Nisa menjawab dengan sopan, termasuk kejadian yang sedang menimpa keluarganya saat ini. Entah kenapa Nisa tampak nyaman ngobrol dengan ibu Yulia. Jalanan jakarta yang padat merayap, terutama di akgir pekan seperti ini, belum lagi macet di setiap lampu merah, membuat obrolan mereka semakin inten sebagai pengusir kejenuhan ditengah kemacetan.

__ADS_1


__ADS_2