KEPAK MERPATI MUNGIL

KEPAK MERPATI MUNGIL
Mulai Terkuak


__ADS_3

Tak terasa mereka sudah sampai di rumah Bu Yulia. Mereka berhenti di sebuah Rumah bergaya joglo klasik yang sangat menawan. Rupanya Bu Yulia adalah orang yang bercita rasa seni yang tinggi, Bangunan utama Rumahnya didesain sedemikian rupa bergaya jawa klasik. Rumah bergaya joglo ini didominasi dengan material dari bata merah dan kayu jati pada dinding, tiang dan kusen-kusenya, sementara lantainya dari marmer berwarna merah bata senada dengan warna dinding bata dan warna plitur pada kayu tiang dan kusenya yang diukir sangat indah.


Setelah memasuki gerbang tinggi, mereka akan langsung menuju ke taman depan yang tumbuh berbagai macam tanaman buah dan bunga-bunga mahal, bangunan pertama yang mereka temui adalah pendopo sebelum masuk ke bangunan utama. Nisa menyimpan kekagumannya dalam hati, melihat penampakan luar Rumah Bu Yulia, Di sisi kanan halaman yang dikelilingi pagar tinggi ada bangunan yang berfungsi sebagai garasi, tapi tak tampak ada mobil terparkir di sana,hanya tampak sebuah Motor Ninja kawasaki dan motor matic seperti punya Nisa.


"Mungkin punya putra-putri bu Yulia" pikir Nisa dalam hati.


Sementara di sisi kiri pagar ada berjajar rapi sangkar-sangkar burung yang lumayan banyak. di dekat kolam hias yang bergemericik airnya, indah sekali.


"Mari, Nak masuk dulu, tidak buru-buru kan?" kata bu Yulia dengan ramah.


"Trimakasih, bu, lain kali saja. ibu saya pasti sudah menunggu di Rumah" tolaknya dengan halus, dia merasa tidak enak hati kalo harus singgah dulu, bukannya bu Yulia mau bertemu seseorang jam 2 nanti, sekarang sudah hampir jam 2. Pasti orang seperti bu Yulia ini sibuk sekali.


"Baiklah, tapi lain kali harus mampir ya, Ibu akan merasa senaaang sekali kalo Nisa main ke Rumah ibu, Terimakasih sudah mengantarkan ibu, "


"untung Nak Nisa mau mengantar ibu naik motor, jadi Ibu bisa cepat sampai rumah, kalo naik grap tadi pasti ibu terjebak macet, sekali lagi terimakasih lo Nak Nisa"


"Sama-sama bu"


Nisa tersenyum dan mengangguk ramah.


Sebelum Nisa meninggalkan Rumah bu Yulia, mereka tampak saling bertukar nomer telepon.


"Jangan sungkan untuk menelepon ibu ya, dan tolong ingatkan ibu setiap minggu pagi ya untuk menghadiri pengajian !, soalnya ibu suka lupa!.


"InsyaAllah bu, nanti saya ingatkan ibu"

__ADS_1


Nisa tau bu Yulia hanya basa-basi saja soal mengingatkan jadwal pengajian rutin setiap minggu pagi, wanita kelas atas yang sibuk seperti bu Yulia ini tentu punya jadwal harian yang terprogram rapi.


"Saya permisi bu, Assalamualaikum"


"Waalaikum sallam"


Bu yulia memandangi punggung Nisa sampai keluar dari pintu gerbang pagar rumahnya, seorang satpam kembali menutup gerbang setelah Nisa keluar dari gerbang.


Sambil melangkah masuk rumah Bu yulia menelepon seseorang.


#######################


Pagi ini diruang sidang, telah di gelar sudang perdana atas dugaan pembunuhan terhadap Bapak kepala Sekolah sebuah SMA Negri di Jakarta, Bapak Haikal Ibrahim, M.pd. dengan agenda pembacaan dakwahan oleh Jaksa penuntut umum terhadap tersangka yaitu seorang Guru muda yang sama-sama mengajar di Sekolah yang sama dengan korban. yaitu Saudara Edi saputra, S.pd.


"Berdasarkan bukti-bukti yang ada, yang telah dikumpulkan oleh kepolisian selama beberapa minggu, terdakwah yaitu Saudara Edi saputra, M. Pd secara syah dan meyakinkan terbukti telah melakukan pembunuhan berencana terhadap korban yaitu Saudara Haikal Ibrahim, M. pd."


tampak juga beberapa juru warta meliputnya, tentu untuk tujuan komuditi dagang, tak butuh waktu lama berita ini telah menjadi tranding topic di beberapa media cetak maupun Media online ibu kota.


Dada Anisa sesak menahan kesedihan dan amarah yang membuncah, mendengar bacaan tuduhan dari jaksa penuntut.


Tak disangka ternyata kematian Ayahnya ada hubungannya dengan dirinya. Nisa beserta ibu dan adik-adiknya hadir dalam persidangan itu. mereka duduk di deretan bangku paling depan, tepat dibelakang kursi terdakwah, dimana di situ duduk seorang guru muda, seorang pendidik yang tampan dan terpelajar bisa menjadi pelaku pembunuhan terhadap atasannya sendiri di Sekolah.


Nisa beserta ibu dan kedua adiknya tampak sesekali mengusap air mata yang tak kuasa ditahan.


Nisa meremas tangan ibunya. Ibu dan anak ini tampak saling menguatkan.

__ADS_1


Sementara di deretan bangku paling belakang, tampak tiga orang lelaki mengikuti jalannya persidangan. Mereka bertiga kelihatan berbeda dengan pengunjung yang lain.


Penampilan mereka sungguh berbeda dengan pengunjung sidang yang lain. mereka mengenakan setelan safari hitam dan berkaca mata hitam, seperti mafia pada film-film Hollywood. Mereka tampak diam mengikuti jalannya persidangan, sesekali salah satu dari mereka tampak menelepon seperti memberikan laporan kepada seseorang di ujung sana.


Setelah sidang di skore sampai 2 hari kedepan maka semua pengunjung satu persatu keluar dari ruang persidangan. terdengar kasak-kusuk dari mereka, tentunya membicarakan sang terdakwah. topiknya tentu sama yaitu ketidakyakinan bahwa seorang inteletual muda, seorang pendidik yang prestasinya bagus bisa melakukan pembunuhan.


Tiga orang asing yang tampak beda tadi juga telah beranjak dari duduknya. didepan lobi mereka telah disambut oleh seseorang yang berseragam polisi dan saling berjabat tangan.


" Terimakasih atas kerja samanya tuan-tuan" kata polisi itu.


"Sama-sama, kami berharap pengadilan secepatnya bisa menyelesaikan proses persidangan ini, dan pelaku segera mempertanggung jawabkan kejahatannya. Kami permisi"


Setelah berkata begitu dengan polisi pria berkaca mata hitam itu segera pergi menuju parkiran, diikuti oleh dua orang lain dibelakangnya. Mereka menghampiri sebuah mobil mewah yang kelihatan mencolok diantara mobil-mobil yang lain yang ada di situ.


Salah satu dari kedua orang yang mengikutinya itu segera membukakan pintu bagian belakang, kemudian dia sendiri duduk dibelakang kemudi, rupanya dia bertindak selaku driver dan satu orang temannya lagi duduk disampingnya.


Setelah Mobil melaju membelah jalanan ibu kota, pria yang duduk di belakang itu meraih Handphonenya dan menelepon seseorang.


"Selamat siang tuan, polisi dan orang-orang saya telah berhasil menyeretnya ke persidangan, saya pastikan dalam waktu satu bulan ini, dia akan mendekam di penjara"


"Bagus, kamu segera kembali ke kantor"


"Baik, Tuan."


Anisa sendiri dan keluarganya tidak menyadari akan kehadiran tiga orang misterius ke persidangan kasus Ayahnya.

__ADS_1


Mereka terlalu fokus pada seseorang yang tega membunuh Ayahnya.


"Ya Allah, Ayah telah mengorbankan nyawanya untukku, Terimalah dia di sisiMu ya Allah" tak henti-hentinya Anisa berdo'a untuk Ayahnya yang sangat menyayanginya.


__ADS_2