
Rumah duka Almarhum Bapak Haikal ibrahim masih ramai oleh sanak saudara yang dekat maupun yang jauh. Keluarga besar yang datang dari kampung halaman Bapak Haikal, yaitu dari Palembang dan keluarga dari Ibu Ratih yang datang dari Semarang, masih tampak meramaikan Rumah duka, sehingga keluarga Almarhum tidak merasa kesepian sejak kepergian Almarhum.
Jam menunjukkan pukul 21.30 malam, Acara tahlilan yang digelar malam ini baru saja selesai, di luar masih tampak saudara-saudara dan para tetangga yang sedang duduk-duduk sambil mengobrol.
Nisa putri sulung Almarhum lebih memilih mengaji di Kamar sambil menemani sang ibu yang masih sangat berduka.
Bu Ratih memperhatikan Nisa yang sedang mengaji sambil duduk bersandar di atas dipan. Matanya tampak menerawang, dan sebentar mengerjab untuk menahan lajunya air yg hendak tumpah.
Duduk di sampingnya putri bungsunya yang bernama Hanni, sambil tanganya tak berhenti mengusap-usap pundak ibunya.
"Terimakasih bang, kau sudah mendidik dan menyayangi Nisa selama ini, aku berjanji akan mendidik dan menjaga anak-anak kita"
Bu Ratih berkata dalam hati, tanpa bisa dibendung air matanya terus tumpah membasahi ujung jilbabnya. Betapa dia teringat akan semua kenangan bersama suaminya itu, teringat akan masa-masa sulit yang harus dilewati diawal-awal pernikahan. Membesarkan tiga orang anak yang masih kecil-kecil. Hidup merantau jauh dari orang tua dari kedua belah pihak. Aah kenangan itu, air mata Bu Ratih mengalir makin deras.
Melihat Ibunya kembali menangis Nisa langsung menyudahi mengajinya dan mendekati ibunya.
Nisa naik ke atas ranjang untuk kemudian memeluk ibunya.
"Buuu, sudahlah jangan menangis terus, kasihan Ayah, nanti ibu sakit, kalau ibu sakit
Ayah pasti sedih di sana"
__ADS_1
Kata Nisa sambil memeluk ibunya.
"Ayahmu orang baik Nisa, kenapa secepat ini pergi? Siapa yang tega membunuh ayahmu, apa salahnya huu hu hu"
Mau tidak mau Nisa ikut larut kembali dalam kesedihan bersama ibunya, air mata yang dia tahan supaya tidak keluar akhirnya tumpah juga, adiknya Hani yang sedari tadi duduk sambil memeluk ibunya tidak mampu mengucapkan kata-kata hanya bisa menangis melihat Ibu dan kakaknya menangis.
Akhirnya mereka bertiga menangis sambil berpelukan, menumpahkan kesedihan yang tak sanggub mereka bendung.
"Ibu bukanya tidak ihklas Ayah kalian meninggal, bukan ibu hendak melawan takdir, tapi cara Ayahmu menjemput kematian yang membuat ibu sangat sedih, mengapa Ayah harus meninggal dengan cara seperti itu, kita bahkan tidak sempat mendengar pesan terakhirnya" Bu Ratih makin tergugu.
"Semua sudah diatur oleh Allah bu, apapun yang terjadi pada setiap hamba, tak lepas dari SkenarioNYA" Nisa masih berusaha menenangkan hati sang Ibu, orang yang merasa paling terpukul atas kematian Bapak Haikal Ibrahim.
#Flashback on
Kata Ayah Nisa sambil mengelus kepala Nisa dengan lembut.
"Horeee, asyiiiik martabak telor, beneran ya yah !" kata Nisa kecil sambil berjingkrak-jingkrak karena dijanjikan Makanan kesukaanya oleh Ayah yang sangat menyayanginya.
Ayahnya hanya mengangguk sambil tersenyum.
Sebagai seorang guru honorer yang memiliki 2 orang anak, dengan gaji yang belum seberapa, kehidupan ekonomi keluarga Kecil Haikal bisa dibilang pas-pasan. Tinggal di perumahan guru yang kecil, yang disediakan oleh pemerintah DKI yang lokasinya tidak seberapa jauh dari Sekolah tempatnya mengajar. Hal ini tentu sangat membantu meringankan pengeluaran setiap bulannya, tidak perlu bayar sewa Rumah, dan biaya transport, karena cukup ditempuh dengan jalan kaki. jika tiba hari gajian Ayahnya tidak pernah lupa membelikan makanan kesukaan Nisa yaitu Martabak telor, yang mangkal setiap sore di depan Sekolah tempat Pak Haikal mengajar.
__ADS_1
Martabak telor adalah makanan yang hanya bisa dinikmati sebulan sekali setiap habis gajian. Berbeda dengan sekarang, mau makan setiap saat pun insyaAllah bisa terbeli, Karena Ayahnya bukan guru Honorer lagi tetapi sudah menjadi Kepala sekolah dengan golongan dan gaji yang lumayan tinggi. Mengingat itu semua Nisa sangat sedih teringat almarhum ayahnya yang sangat menyayanginya.
Waktu itu Ibunya yang berijazah "Perawat/Nurse" belum bisa bekerja karena masih mengurus dua balita yang masih kecil-kecil.
----------@@@@@----------@@@@@----------
"Mengapa tidak di outopsi saja jenazah Bapak Nak Hasan?, supaya cepat terungkap masalah ini."
"Tidak pak RT, Ibu saya tidak mengijinkan, kasihan jenazah Bapak kalau harus di lukai lagi, kalau memang Allah membukakan jalan, dengan bukti-bukti yang sudah ada ini, insyaAllah polisi akan segera mampu mengungkapnya"
"Kita serahkan saja semuanya sama Allah pak" Kata Hasan dengan bijak.
"Baiklah Nak Hasan, semoga kasus ini cepat terbongkar."
"Aamiin, terimakasih pak Rt"
"Pak Haikal telah berhasil mendidik anak-anak nya menjadi anak-anak yg sholeh dan sholehah" Begitu kata Pak Rt dalam hati.
Begitulah suasana duka yang masih menyelimuti keluarga itu.
Mengapa Bapak Haikal ibrahim sampai meninggal mendadak di Ruangan Kepala Sekolah? Siapa pembunuhnya dan apa motif pembunuhan itu?
__ADS_1
Nantikan kelanjutannya ya!!