
Rinai hujan yang terus turun dan tak jarang pula hujan deras disertai angin kencang di bulan desember ini, selalu menyisakan kabut yang pekat, Suhu udara yang sangat dingin sepanjang bulan ini membuat suasana ibu kota sedikit lengang di waktu malam. Tak banyak warga yang berlalu lalang seperti biasanya di jalan-jalan. Hawa dingin yang menusuk tulang membuat mereka lebih memilih tinggal di Rumah bersama keluarga, berbaring diatas kasur-sasur yang empuk, berselimutkan Bedcover yang tebal, sambil menonton acara kesukaan atau sambil mengurai butiran-butiran tasbih, bermunajat memuji asma Allah yang Maha segalanya.
Di sebuah rumah sederhana yang asri, kesedihan masih tampak diwajah-wajah para penghuninya. Satu minggu sudah sejak kepergian Ayah mereka, Polisi belum juga berhasil menguak siapa pelaku dibalik pembunuhan itu, serta apa motifnya. Sehingga sampai menghilangkan nyawa seorang Kepala Sekolah yang berjiwa mulia dan berhati bersih itu.
Bapak Haikal ibrahim. M.pd. adalah seorang Kepala Sekolah di sebuah SMA Negeri yang ada di Jakarta. Beliau adalah seorang pendidik sejati, penyabar dan penyayang kepada seluruh murid-muridnya, mengayomi kepada seluruh civitas akademika di Sekolahnya. Selalu rendah hati dan tidak suka memerintah.
Tak Heran jika Beliau disegani oleh rekan-rekan sesama Kepala Sekolah, bahkan pegawai-pegawai di Dinas Pendidikan pun menaruh hormat padanya.
Beliau dicintai oleh seluruh rekan guru dan murid-muridnya.
Itulah sebabnya, kematiannya yang tak wajar banyak menimbulkan pertanyaan di hati banyak orang. Sepertinya hampir mustahil beliau punya musuh.
Malam ini, pikiran istri dan anak-anak beliau dipenuhi tanda tanya yang tak mampu mereka jawab.
Masih terngiang pertanyaan polisi penyidik siang tadi yang meminta keterangan dari pihak keluarga dan juga keterangan dari pihak Sekolah.
"Coba Ibu ingat-ingat sebelum kematian Bapak, adakah Bapak menerima tamu, atau menerima telpon barangkali?"
"Seingat saya tidak ada pak, Bapak berangkat sekolah dan pulang seperti biasa, tidak ada beliau menerima tamu di Rumah" jawab bu Ratih sambil matanya menerawang, berusaha mengingat sesuatu.
"kalau anak-anak bagaimana? apa ada yang melihat Bapak menerima tamu atau menerima telpon dengan seseorang sebelum kematiannya?"
polisi itu masih berusaha mengorek keterangan dari keluarga Almarhum, sebelum nanti juga akan mengorek keterangan dari pihak Sekolah sebagai saksi, karena Almarhum Bapak Haikal ibrahim ditemukan meninggal di Ruangannya, di Sekolah.
Anisa, Hasan dan Hani hanya menggeleng.
"Apa tidak ada sikap Bapak yang aneh, yang tidak seperti biasanya begitu?" Tanya polisi lagi.
Mereka semua terdiam berusaha mengingat-ingat.
"Cumaaa, waktu itu Ayah...." kalimat Anisa menggantung.
""Cuma apa?" Sontak Mereka semua mengajukan pertanyaan yang sama.
"Cuma apa Nisa?, Ayo diingat-ingat !" kejar Ibu.
"Akhir-akhir ini Ayah sering melarang Nisa, untuk pergi ke Sekolah, dan beberapa hari sebelum meninggal ayah bilang..."
"Nisa, sebaiknya kamu pergi ke Sekolah lain saja ya Nak, untuk mencari bahan Skripsi kamu, tidak harus di sini kan?"
"Nisa sempet heran mengapa Ayah melarang Nisa mencari bahan skripsi di Sekolahnya, padahal sebelumnya Beliau tidak ada Masalah."
Anisa azzahra adalah Mahasiswi semester akhir FKIP jurusan MATEMATIKA, sedang mencari bahan untuk menyusun skripsinya.
Ada beberapa Sekolah yang dia datangi guna mencari data sebagai bahan Skripsinya, termasuk Sekolah di mana Ayahnya mengajar.
"Aku ingat sekarang, sekitar seminggu yang lalu, ketika guru Matematika berhalangan hadir, aku berinisiatif untuk menggantikan masuk kelas 11, Ayah kelihatan gelisah dan tidak suka" Nisa memberikan keterangan dengan menggebu-gebu. Mungkin ini bisa dijadikan clue, begitu fikirnya.
Polisi tampak merekam dan mencatat semua keterangan dari Nisa.
__ADS_1
"Baiklah, untuk pemeriksaan hari ini cukup di sini, sewaktu-waktu jika kami panggil untuk memberikan keterangan selanjutnya, kami mohon kesediaan dan kerjasamanya dari pihak keluarga"
Pemeriksaan siang tadi dari pihak Kepolisian cukup mrmbuat hati dan pikiran mereka menjadi semakin kalut dan tidak tenang.
Beribu pertanyaan hinggab di kepala.
"Mengapa Ayah melarangku ke Sekolah?, mengapa Ayah tidak suka aku masuk kelas yang kosong?, bukanya sebentar lagi aku pun akan menjadi seorang guru, hitung-hitung latihan kan?"
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu hinggab di kepala Nisa, dan tak mampu ia ketahui jawabannya.
----------@@@@@----------@@@@@----------
Sementara itu di sebuah Rumah megah bergaya Victoria, seorang laki-laki paruh baya yang masih terlihat gagah dan ganteng, sedang duduk di ruang kerjanya yang luas dan mewah, kursi dan meja kerja yang mewah dan bergaya klasik tampak serasi dengan properti lain yang juga bergaya klasik. Sebuah kolaburasi yang sangat pas antara kemewahan dan cita rasa seni yang tinggi.
Berdiri di hadapan pria itu dua orang lelaki yg mengenakan Jas berwarna hitam dengan kancing terbuka.
"Pastikan, semuanya aman, tidak hanya dia tapi juga seluruh anggota keluarganya, termasuk Ibu dan adik-adiknya."
Suara baritonnya menggema di ruangan yang kedap suara itu.
"Baik tuan, saya sudah perintahkan orang-orang saya untuk mengawasi mereka 24 jam" jawab pria yang berbadan tegab dan atletis.
"Bagus, kalian boleh pergi sekarang!"
Kedua laki-laki berjas hitam itu segera berbalik untuk meninggalkan Ruangan majikanya itu.
Lama pria itu memandangi foto yang ada didalam figura itu.
"Mungkinkah?" Gumamnya perlahan sambil mengusap kasar wajahnya yang sedikit berjambang. tatapan matanya tampak menerawang.
"Maafkan aku, tidak bisa memperjuangkan cinta kita, dan trimakasih sudah mengurus dan mendidik anak kita dengan baik" lagi-lagi pria itu bergumam sendiri.
Setelah puas memandangi foto dalam figura itu, pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan itu kembali menyimpannya dalam laci nakas. Kemudian ia berjalan keluar dari ruang kerjanya.
Beberapa orang pelayan rumahnya yang tengah mengerjakan tugasnya masing-masing tampak menunduk hormat padanya.
Tampak pelayan wanita yang sudah agak tua menghampirinya.
"Maaf Den, apakah Aden ingin makan siang sekarang?" tanya pelayan itu.
"Tidak, saya sedang tidak ingin makan mbok"
"Tapi Den, dari pagi tadi Aden belum makan, tadi ndoro putri telpon, menanyakan kabar tuan, katanya telpon ke HP Aden tidak diangkat"
"Iya mbok" Jawabnya singkat, sambil berlalu dari hadapan si Mbok pelayan.
"Puluhan tahun aku mengenalnya, pasti sesuatu sedang terjadi" simbok bergumam sendiri.
Wanita tua yang dipanggil si mbok ini, adalah pembantu yang sudah puluhan tahun bekerja padanya, sejak pria itu masih remaja hingga sekarang, sampai umurnya tidak muda lagi.
__ADS_1
Baginya dia bukan hanya sekedar pelayan, tapi lebih dari itu. Si mbok inilah yang selalu ada untuknya disaat-saat ia butuh kasih sayang seorang Ibu sebagai tempat meluapkan keluh kesahnya. Si mbok yg setia mendengarkan curhatanya, menasehatinya, memberinya semangat bahkan mendoakanya seperti anaknya sendiri.
Bahkan Ibu kandungnya sendiri tak pernah ada waktu untuknya.
Semua pelayan di Rumah ini tinggal di sini. dan jika mendapat giliran jatah libur saja baru mereka pulang ke Rumah. Termasuk juga si Mbok. Hari ini adalah hari dimana giliran libur bagi si Mmbok, dan waktunya untuk pulang ke Rumah yang tidak begitu jauh dari Rumah Majikannya.
Tapi demi melihat gelagat majikannya yang kurang baik, dia mengurungkan niatnya.
" Ada apa dengannya,?sepertinya dia sedang ada masalah." si Embok masih terus memikirkan majikannya.
Pria yang dipanggil "aden" itu hanya menyecap kopi yang sudah disediakan kemudian membawanya kembali ke Ruang kerjanya.
Tampak sekali kegelisahan di raut wajahnya yang tidak bisa disembunyikan.
Jika seperti itu sudah bisa dipastikan bahwa sesuatu yang serius sedang terjadi, pada pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan itu.
Pria itu kembali masuk ke ruang kerjanya dan mengambil handphone. sejurus kemudian
"Halo, Assalamualaikum, Gimna kabarnya, Bu?"
Tampak ia berbicara dengan penuh hormat dengan seseorang di ujung telepon.
"Alhamdulillah, ibu sehat Anton, kamu kenapa dari kemarin tidak bisa di hubungi,? Sesibuk apa sih kamu, sampai mengangkat telpon ibuk pun tak sempet?"
"Iya, buk maaf, lagi banyak pekerjaan. Ibu kapan ke Jakarta?"
"Sebaiknya cepet selesaikan pekerjaanmu yang banyak itu Anton, nanti kalo ibu datang, ibu nggak mau lagi dengar alasan kamu banyak pekerjaan, sehingga gak sempet ngobrol sama ibu, ada hal penting yang akan ibu sampaikan sama kamu"
"Njeh bu.."
"Ya sudah, assalamualaikum"
"Waalaikum sallam"
Setelah menyudahi obrolan di telpon tampak pria itu menghela nafas dalam-dalam, seolah ingin mnumpahkan segala beban.
#######################
"Ruang Direktur ANTON MIHARSO" Tulisan huruf Kapital yang terbuat dari perak nan tebal itu tampak elegan tergantung pada daun pintu bagian luar di sebuah ruangan di dalam sebuah gedung perkantoran. pagi ini tampak sekali kesibukan di dalam kantor tersebut. kulu kilir karyawan dan kesibukan pegawai kantor menggambarkan bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan yang sedang pesat beroperasi.
Di dalam ruangan Direktur yang tertulis nama "ANTON MIHARSO" pada daun pintunya, tampak sang Direktur tengah duduk di kursi kebesaranya dan sedang menerima laporan dari bawahanya.
"Saya bisa pastikan dia pembunuhnya, Tuan, orang-orang saya telah membantu polisi melakukan investigasi dan inilah hasilnya"
kata seorang pria sambil menyerahkan sebuah Map berwarna merah sambil membungkukkan badannya dengan takjim.
sang direktur tampak memeriksa isi map, sambil keningnya berkerut, dia mengamati foto seorang pria yang ada di dalam map itu yang lengkap beserta identitasnya.
"Segera amankan dia, saya tidak mau anak saya menjadi sasaran berikutnya, segera kerahkan orang-orangmu untuk membereskan" katanya datar namun penuh penekanan.
__ADS_1