
Hamparan salju disepanjang jalan menyelimuti pepohonan dan sekelilingnya bagaikan sebuah gundukan kapas putih. Meskipun matahari mendampingi dengan setia tetapi tidak sedikitpun terasa hangat dari sinarnya. Hawa dingin yang masih mampu ditolerir oleh tubuh menemani perjalanan rombongan lady Ark dari kota Dali menuju kerajaan Moesen.
Sudah lebih dari lima jam lalu rombongan lady Ark meninggalkan kota Dali. Sebentar lagi mereka akan tiba di kota Nix. Di kota Nix mereka hanya akan beristirahat sebentar, karena tempat peristirahatan mereka adalah kota Nepon. Tidak beberapa lama, rombongan lady Ark tiba di mansion untuk sekedar mengistirahatkan otot-otot tubuh yang mulai terasa letih akibat perjalanan yang cukup panjang.
Putri Emira memberikan pesan bahwa semua lady bebas melakukan hal yang diinginkan dengan syarat satu jam kemudian sudah harus berkumpul kembali di mansion untuk melakukan perjalan berikutnya. Mendengar hal tersebut membuat beberapa lady ingin berjalan-jalan melihat kota Nix.
"Aku dengar pasar kota Nix terkenal dengan kerajinannya, bagaimana kalau kita pergi kesana?" Usul salah satu lady Ark.
Mendengar usulan tersebut para lady meminta izin kepada tuan putri untuk pergi ke pasar kota Nix. Karena jarak mansion dan pasar tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu lima menit akhirnya tuan putri pun memberikan izin kepada mereka. Hampir setengah dari lady Ark pergi ke pasar Nix, sebagian lady memilih untuk berdiam diri di mansion termasuk putri Emira. Lili pelayan pribadi Charlotte mengusulkan untuk pergi ke pasar Nix. Dia tidak pernah keluar kota lebih jauh dari kota Dali.
"Nona apa kita pergi juga melihat pasar Nix? Aku yakin banyak barang-barang bagus dijual disana." Ucap Lili dengan mata penuh harap.
Melihat antusias dari Lili, Charlotte memutuskan untuk pergi ke pasar Nix meskipun awalnya dia enggan untuk pergi karena cuaca yang cukup dingin. Ketika tiba di pasar, Lili begitu bersemangat melihat-lihat barang yang dijajakan pengrajin kota Nix. Dinginnya cuaca tidak menggentarkan dirinya untuk beralih dari satu lapak ke lapak yang lain. Melihat hal itu membuat Charlotte tersenyum senang karena belum pernah dia melihat Lili seantusias ini.
Charlotte mendekati salah satu lapak kerajinan yang menarik perhatiannya. Dia bertanya kepada penjualnya mengenai kerajinan yang baru pertama kali dia lihat.
"Kerajinan apa yang anda jual ini?"
"Oh ini hiasan rambut dari batu giok dan kayu yang diukir. Pengrajinnya berasal dari salah satu negeri barat tempat tinggal orang-orang Barian. Jika nona mau membelinya saya akan berikan diskon untuk nona, barang ini hanya satu-satunya tidak ada penjual lain yang menjual ini nona." Jawab penjual menjelaskan.
"Berapa harga dari hiasan rambut ini?" Tanya Charlotte.
__ADS_1
"Dua keping emas saja nona."
"Dua keping emas? Apa tidak terlalu mahal hanya untuk hiasan rambut?".
Ketika Charlotte sedang tawar menawar mengenai hiasan rambut yang dia inginkan, sesosok laki-laki dengan kulit kecoklatan menghampirinya lalu berkata.
"Anda jangan menipu seorang gadis tuan, harga yang cocok untuk hiasan rambut ini sekitar 1 keping emas dan 5 tembaga."
"Mana mungkin, ini hiasan langka dari orang Barian di barat." Jawab penjual dengan sedikit kesal.
"Iya aku tau ini dari Barian tapi mereka saja menjual kepadamu mungkin hanya sekitar 1 keping emas saja dan ini kualitas yang tidak cukup bagus masih ada kualitas yang lebih baik dari ini. Sudah nona anda tidak perlu membeli hiasan ini, saya tau pengrajinnya anda tinggal pesan saja kepada pengrajinnya langsung." Jelas laki-laki tersebut.
"Eh tunggu-tunggu, baiklah aku jual dengan harga 1 keping emas dan 10 tembaga." Ucap si penjual.
Dengan terpaksa si penjual menyetujui penawaran yang dibuat oleh laki-laki tersebut. Charlotte hanya diam melihat interaksi antara keduanya. Setelah mencapai keputusan penawaran, akhirnya Charlotte membeli hiasan rambut tersebut dengan harga 1 keping emas dan 7 tembaga. Charlotte mengucapkan terima kasih kepada laki-laki yang telah menolongnya menawar harga hiasannya.
"Terima kasih sudah membantuku menawar hiasan ini." Ucap Charlotte.
"Sama-sama, lainkali kalau membeli sesuatu nona harus bersama orang yang pandai melakukan penawaran jika tidak ingin dirampok oleh penjual." Jawab laki-laki pemilik rambut hijau gelap tersebut.
"Baiklah aku terima saranmu. Oh iya aku Charlotte, siapa namamu?" Tanya Charlotte.
__ADS_1
"Aku.. Oh maaf aku harus pergi sekarang." Tanpa menyelesaikan kalimatnya, laki-laki tersebut pergi begitu saja dengan terburu-buru.
Tidak lama kemudian Lili pun datang dengan berbagai kantung belanjaan ditangannya.
"Ada apa nona? Apa nona melihat sesuatu?" Tanya Lili.
"Itu tadi.. ah sudahlah bukan apa-apa. Kau sudah berbelanjanya? Aku rasa kita harus pulang sekarang agar tidak tertinggal yang lain." Jawab Charlotte dengan senyuman.
"Iya nona sudah, mari kita pulang."
Charlotte dan Lili pergi meninggalkan pasar untuk kembali ke mansion. Di perjalanan Charlotte terus saja memandangi hiasan rambut yang baru saja dia beli. Dia masih mengingat laki-laki yang membantunya menawar perhiasannya tadi.
"Siapa namanya? Kenapa dia teeburu-buru seolah-olah sedang menghindari sesuatu." Ucap batin Charlotte.
Melihat nonanya melamun sembari memegang benda yang dia tidak tahu darimana asalnya, Lili pun bertanya kepada Charlotte.
"Ada apa nona, kenapa nona melamun? Dan benda apa ini?" Tunjuk Lili ke benda yang di genggam oleh Charlotte.
"Oh ini, ini hiasan rambut. Bagus bukan? Aku menyukainya lalu aku membelinya." Jawab Charlotte dengan senyum di wajahnya.
"Hah hiasan rambut? Benda panjang dengan batu giok diujungnya dan tanpa penjepit? Bagaimana memakainya?". Tanya Lili sembari mencari penjepit di hiasan tersebut.
__ADS_1
"Aku pun tidak tau bagaimana memakainya. Tapi benda ini cukup unik bukan? Oh iya apa saja yang telah kamu beli?" Tanya Charlotte.
Selama perjalanan menuju mansion Lili dan Charlotte terus berbincang mengenai apa saja yang Lili beli dari pasar.