
Dari sudut ruangan terlihat Charlotte yang tampak sedikit gelisah. Dia terus berjalan dari kiri ke kanan dan sebaliknya dengan terus berulang. Lili yang melihat nonanya gelisah merasa ada sesuatu yang kurang baik telah terjadi.
“Nona hal apa yang telah terjadi sampai anda terlihat begitu gelisah?” Tanya Lili.
“Bagaimana aku tidak gelisah Lili, sekarang semua orang tau bahwa aku adalah anak dari seorang duke Phillip.” Jawab Charlotte yang sekarang telah duduk di sofanya.
“Bukankah itu bagus? Jadi semua orang tidak bisa memandang nona dengan rendah lagi, apalagi lady Melinda yang saya lihat dia selalu mencoba merendahkan nona.” Ucap Lili dengan sedikit emosi.
“Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian Lili. Hanya mendengar nama ayahku saja sudah menyita perhatian orang banyak apalagi sekarang dengan mengetahui bahwa aku adalah putrinya yang bahkan sudah sedari kecil dekat dengan keluarga kerajaan.” Jelas Charlotte.
“Tapi, bukankah nona sudah lama sekali tidak bertemu keluarga kerajaan. Saya rasa anggota kerajaan tidak akan tahu bahwa nona adalah nona Charlotte yang dulu suka bersama mereka.”
“Itulah yang aku harapkan, tapi ternyata terjadi sebaliknya.”
Charlotte mengingat kembali kejadian sekitar beberapa jam lalu yang terjadi di ruang makan ketika pangeran Wilix dengan lantangnya bertanya menegenai ayahnya didepan semua orang.
“Bagaimana keadaan beliau? Apakah beliau baik-baik saja, Charlotte?” tanya pangeran Wilix dengan langsung menatap ke arah Charlotte berada.
Mendengar hal tersebut, tentu membuat Charlotte terkejut. Dia hanya mampu berdiam dengan menatap pangeran Wilix. Bukan hanya Charlotte, semua orang yang berada diruangan tersebut terkejut bahkan putri Emira pun tak percaya atas apa yang diucapkan salah satu kakaknya.
“Charlotte? Maksud kakak anaknya paman Phillip?” Tanya putri Emira kepada pangeran Wilix.
“Iya, memangnya kamu tidak tahu bahwa Charlotte ikut acara ini?” Tanya pangeran Wilix
“Aku sunnguh tidak mengetahuinya, dimana dia sekarang?” Sembari melihat ke berbagai arah untuk mencari keberadaan Charlotte.
__ADS_1
“Dia berada diujung meja makan ini persis satu baris denganmu.” Jawab pangeran Wilix.
Dengan sopan, Charlotte berdiri memperlihatkan dirinya kepada tiga bersaudara tersebut. Melihat Charlotte, putri Emira begitu merasa bahagia dengan cepat dia menghampiri Charlotte lalu menggenggam tangannya sembari berkata.
“Ya ampun Charlotte, benarkah ini dirimu? Aku sudah lama tidak melihatmu, maafkan aku karena tidak mengenalimu.” Ucap putri Emira.
“Oh tidak, tuan putri tidak perlu meminta maaf kepadaku. Seharusnya aku yang lebih dulu menyapa tuan putri.” Jawab Charlotte dengan sedikit canggung.
Tidak lama kemudian, pangeran William menghampiri mereka berdua.
“Oooh jadi ini Charlotte kecil kita yang selalu mengikuti kakak tertua kemana saja dia pergi?” Ucap pangeran William.
“Ah iya, kalau saja kakak tertua tahu bahwa ada Charlotte, aku rasa dia pun akan senang untuk bertemu denganmu.” Jawab putri Emira.
Charlotte, putri Emira, dan pangeran William kembali melanjutkan sesi makan malamnya. Setelah makan malam, Charlotte di undang oleh pangeran William keruangan santai pribadinya bersama dengan putri Emira dan pangeran Willix. Tentu melihat hal tersebut rasa cemburu di hati Melinda semakin besar. Dia merasa kalah dari Charlotte yang ternyata sudah lama mengenal keluarga kerajaan. Dia mengira, dia akan mampu mempermalukan Charlotte tapi ternyata sebaliknya.
Di ruangan yang didominasi dengan warna merah tua berpadu dengan coklat, mereka berempat berkumpul ditemani dengan secangkir teh yang sudah tersedia diatas meja. Charlotte terlihat sedikit canggung dengan suasana yang sedang terjadi diantara mereka. Pangeran William bertanya kepada Charlotte mengenai dirinya yang ikut serta dalam acara Lady Crown.
“Jadi, Charlotte kecil kita sudah dewasa bahkan akan mengikuti Lady Crown.” Sembari meletakkan cangkir teh yang telah diminumnya ke atas meja.
“Aku tidak mengira kalau kamu mengikuti acara ini Charlotte.” Ucap putri Emira.
“Saya juga tidak mengira akan mengikuti acara ini tapi jika ayah sudah mengambil keputusan, apa yang bisa saya perbuat.” Jawab Charlotte.
“Aku yakin apa yang diputuskan paman untukmu sudah menjadi keputusan yang terbaik.” Sahut pangeran William.
__ADS_1
“Semoga saja.” Ucap Charlotte sembari menyesap tehnya.
Sinar bulan yang menyelusup masuk kedalam ruangan, menemani mereka berempat berbincang mengenai masa lalu ketika mereka masih anak-anak. Tidak terasa waktu terus berjalan dan malam semakin larut. Perbincangan berakhir ketika asisten pribadi putri Emira menginterupsi mereka. Putri Emira dan Cahrlotte berjalan bersama disebuah lorong menuju ruangannya masing-masing. Di tengah perjalanan putri Emira bertanya kepada Charlotte.
“Charlotte, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?”
“Tentu saja putri, dengan senang hati saya akan mencoba menjawab sesuai kapasitas diri saya.” Jawab Charlotte.
“Apa tujuan dan alasanmu mengikuti acara ini? Apa seperti lady yang lain, ingin menduduki posisi ratu?”
“Jika saya boleh berterus terang, saya tidak memiliki alasan khusus untuk ikut acara ini. Saya hanya mengikuti permintaan ayah, tidak lebih dari itu.”
“Jadi, kamu tidak memiliki ambisi itu?” Tanya putri Emira dengan penuh keseriusan.
“Apakah ratu harus selalu bersanding dengan raja? Tidak bisakah kita menjadi ratu untuk diri kita sendiri?”
Mendengar apa yang diucapkan Charlotte membuat putri Emira sedikit terkejut. Tak lama asisten putri Emira yaitu Tristan memotong pembicaraan mereka dan mengusulkan putri untuk segera beristirahat.
“Sudah waktunya tuan putri untuk beristirahat.” Ucap Tristan.
“Baiklah, Tristan. Charlotte aku senang bisa bertemu denganmu, lain kali kita berbincang kembali.” Ucap putri Emira.
“Tentu saja tuan putri. Dengan senang hati saya akan menemani anda.” Jawab Charlotte dengan sedikit merengkuhkan badannya sebagai tanda penghormatan.
Setelah putri Emira pergi, Charlotte dan Lili berjalan menuju ruangan mereka. Dengan wajah yang terlihat letih dan langkah pelan Charlotte menyusuri lorong dengan pasti. Tapi tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan.
__ADS_1