
Selesai acara aku mengajak ibu dan bapak untuk makan siang di kantin kampus, tanpa sengaja bertemu dengan dimas dan juga keluarga nya, kebetulan hari ini dimas juga menyelesaikan jenjang S2 nya, aku hanya menatap nya berharap dia datang kepadaku terlebih dahulu.
langkah kaki dimas menuju kearah kami.
"Assalamualaikum riani" sapa dimas dengan senyum sambil menganggukkan kepala ke arah bapak dan ibu.
"Walaikum salam dim, selamat yaa akhirnya kamu bisa selesai S2 hebat kamu dim" timpal ku dengan ramah.
"Riani juga hebat, selamat sudah wisuda ya semoga ilmu kita bermanfaat, oh iya pak buk kenalin saya dimas teman riani" sambil menggapai tangan bapak untuk salim.
"Iya nak dimas" jawab bapak dengan menepuk punggung sebelah kanan dimas.
dimas hanya datang untuk menyapa selang 5 menit setelah ngobrol basa basi dengan bapak, dimas pamit karena sudah ditunggu oleh keluarga nya.
Saat itu aku berharap dimas mengajak ku untuk berkenalan dengan keluarga nya akan tetapi dimas langsung jalan arah ke keluarga nya tanpa sepatah katapun terhadap ku, bahkan kami tidak memiliki foto wisuda bareng, padahal aku sudah merencanakan untuk foto bersama dimas dan orang tua ku, buat kenang-kenangan andaikan kami berjodoh (harapku).
__ADS_1
Dari kejauhan aku melihat dimas sedang bercengkrama bersama keluarga nya, tapi perhatianku terfokus ke salah satu wanita bercadar disamping ibu dimas, disana ada tiga gadis, seingat ku dimas hanya memiliki dua adik perempuan, terlihat dua gadis yang nempel ke dimas kemungkinan besar adalah adik-adiknya, tetapi siapa wanita satu lagi, sepertinya wanita itu sepantaran denganku.
Ditengah lamunanku tiba-tiba ada seseorang yang memeluk ku dari belakang sontak membuatku terkejut, ternyata dia adalah sahabatku santi.
Santi datang dengan teh fika, kami melanjutkan euforia wisuda ini, aku seketika melupakan dimas dan lanjut makan dan foto-foto bersama keluarga dan sahabat-sahabat ku.
Keesokan hari setelah acara wisuda aku mengajak ibu dan bapak untuk berkreasi ke gunung pancar, kebetulan aku diberikan izin cuti tiga hari, setibanya di gunung pancar kami berpiknik tentu saja ibu sibuk memasak dari jam 4 pagi, ibu sengaja membuat nasi kuning untuk dibagikan ke bu irma dan juga teman-teman kos ku lainya dan tentu tidak lupa dikirimkan ke rumah santi dan teh fika.
Aku menikmati setiap momen bersama orang tuaku, terlihat mereka nyaman berada dibawah pohon pinus yang rindang.
"Pak, bu" ucapku memulai pembicaraan.
"Sekarang aku sudah selesai kuliah, kerjaan juga alhamdulilah jika jadi insya allah bulan depan aku di promosikan untuk di pindahkan ke bagian kantor bu, ada atasan ku yang merekomendasikan aku untuk naik jabatan kebetulan ada salah satu posisi yang kosong karena karyawan sebelum nya mengundurkan diri setelah menikah" jelas ku.
"Alhamdulilah" ucap ibu dan bapak bersamaan.
__ADS_1
"Itu atasan mu perempuan atau laki-laki nak?"
"Kalau laki-laki kenapa bu?"
"Mungkin bisa jadi calon mantu ibu hahaha" goda ibu
"Ibu ini ngawur aja" timpal ku dengan pura-pura cemberut.
"ya, mungkin sudah waktunya kamu juga perlu memikirkan nak untuk berumah tangga" sahut bapak.
"Walah gimana ini aku bahas kerjaan tapi di respon nya soal jodoh, aku ya siap aja pak tapi mau gimana jodoh nya belum keliatan hilal nya hahaha" sontak membuat ibu dan bapak tertawa lepas.
"Pokoknya ibu dan bapak tenang saja, kalau sudah ketemu yang buat riani nyaman, sebelum riani mengambil keputusan. pasti riani akan bawa ke hadapan ibu dan bapak dulu" jelas ku sambil tersenyum ke ibu dan bapak.
"Ibu dan bapak percaya dengan pilihan riani, bapak titip pesan carilah laki-laki yang membuat riani merasa nyaman dan aman"
__ADS_1
"Insya allah pak"
Setelah itu kami menikmati piknik kami, tidak lupa juga mengajak ibu dan bapak berendam ke pemandian air hangat yang ada di wisata gunung pancar.