
Dikamar Raka, dia sedang bingung kenapa Melia punya nomornya
"Yatuhan kok Melia ada nomor gua ya, perasaan gua gak pernah kasih deh" sambil heran sama diri sendiri, kok bisa Melia tau nomornya.
" ah kenapa juga gua pikirin, yang ada bikin gua pusing aja. gua bingung mau bales apa gua bales ya aja deh"
Raka sedikit seneng karena melia ngechat dia, dia tidak habis pikir kenapa ada cewek seperti Melia.
"gua tetap gak boleh berharap lebih sama dia, ya walaupun gua akui gua suka dia, tapi tetap aja gua harus jaga jarak biar gak terulang kejadian seperti dulu lagi" sambil menyimpan ponselnya diatas meja dan tidur.
Flashback Raka
Dulu dimasa Raka masih tinggal di Medan, dan waktu itu dia masih duduk di bangku SMK kelas satu, dia pernah jatuh hati kepada seorang wanita. dia mencoba menarik perhatian wanita tersebut untuk melirik ke arahnya. karena usaha dia yang begitu keras, akhirnya dia berpacaran dengan cewek tersebut yang bernama Winda. Winda adalah gadis yang sangat populer di sekolah tersebut, badannya seperti model dan memiliki wajah yang manis dan cantik. tapi sayang rasa cinta Raka kepadanya tak dianggap oleh Winda, dia seolah-olah mempermainkan Raka yang sangat tulus mencintainya. sampai akhirnya dia tau kalo dia menerima Raka karena taruhan bersama teman-temannya. dia menjadikan Raka sebagai bahan taruhan. sampai suatu hari dia mendengar dan melihat sendiri percakapan Winda dengan teman-temannya di belakang sekolah.
Sindi" win gak nyangka sih gua, lu beneran pacaran sama tu cowok"
Winda" iya kan udah gua bilang, gua pasti menang" sambil senyum meremehkan
__ADS_1
Sinta" iya lu emang hebat Wid" sambil mengacungi jempolnya kepada Winda
Winda" siapa dulu lah kalo buat Winda" sambil tersenyum bangga, seolah-olah dia sedang mendapatkan piala dari hasil taruhannya.
tiba-tiba dari belakang mereka terdengar suara tepuk tangan yang sangat keras.
Raka" ohhh jadi gua bahan taruhan kalian ya, bagus ya" sambil terus menepuk tangannya lebih kenceng lagi.
Winda dan teman-temannya pun berbalik, mereka sungguh kaget dan tidak menyangka bahwa raka akan tau secepat ini akan rencana taruhan mereka.
Raka" gak ada yang perlu dijelasin lagi win, gua udah denger semua yang kalian omongin, gak bener-bener gak nyangka kamu seperti itu"
Winda" tapi Ka bukan gitu, dengerin penjelasan kita dulu, Sinta Sindi jelasin dong, kalo Raka pun taruhan kita" sambil menoleh kepada kedua temannya untuk membantu dia menjelaskan kepada Raka bahwa Raka sedang salah paham kepadanya.
Sinta" eh iya Raka, bener yang dibilangin Winda, iyakan Sindi" sambil natap Sindi dengan tatapan memberi kode.
Sindi yang ditatap demikian, merasa agak gugup karena dia bingun antara mau jujur sama engak kepada Raka.
__ADS_1
Sindi" eh iy yaa iya" sambil menjawab dengan nada terbata-bata.
Raka" gak ada yang perlu dijelasin lagi, kita akhiri aja hubungan ini, hubungan kita berakhir hari ini" sambil berlalu pergi dari hadapan Winda.
Winda mencoba mengejar Raka dan tetap ingin menjelaskan bahwa raka sedang salah paham kepadanya.
Winda" eh kamu mau kemana Raka".
karena saking cepatnya Raka jalan, Winda pun tidak tau Raka pergi kemana. kedua temannya pun menyusul Winda.
Winda" ahh sial, kenapa bisa jadi gini sih"
Sinta" sabar win, kita cari jalan keluarnya bersama" sambil memegang pundak Winda mencoba menenangkan.
semenjak kejadian tersebut Raka pun menjadi orang yang pendiam dan terkenal agak nakal. dia seolah-olah menutup hatinya kepada siapapun, bahkan dia menggap semua wanita itu sama seperti Winda, yang hanya suka mempermainkan perasaan laki-laki saja.
saat kenaikan kelas 12 SMK Raka pun ikut pindah ke Jakarta karena ayahnya dipindah tugaskan ke Jakarta, dia juga harus ikut pindah. di sekolah baru tersebut dia berjumpa dengan Melia, dan bahkan mereka satu kelas. disaat pertama kali dia melihat Melia, disaat itulah cinta pada pandangan pertama. tapi karena terlanjur sakit hati dia menjadi orang yang cuek dan jarang ngomong sama teman-teman satu kelas, bahkan yang dekat dengannya hanya teman-temannya yang nakal juga.
__ADS_1