Ketika hati tak lagi sehati

Ketika hati tak lagi sehati
Episode 3


__ADS_3

Kenapa dahi kamu sella, siapa yang memukul kamu sampai biru itu, kamu itu jadi anak papa jangan lemah, lawan kalau ada orang yang mengganggu. Sella hanya tertunduk diam, papa tidak mau anak Papa jadi orang lemah, siapa yang mukul kamu di sekolah, anak jendral sekalipun papa tidak takut.

__ADS_1


walaupun kamu perempuan kamu harus berani. Mata Sella berkaca-kaca tidak bisa mengucapkan sepatah katapun karena ketakutan, aku hanya diam. Sella adalah anak sulungku yang duduk di kelas 3 SD, sebuah sekolah swasta ternama di kota kami, yang mayoritas muridnya kalangan menengah ke atas, awalnya suamiku tidak setuju anakku sekolah disitu, banyak alasan ini dan itu, tapi kujawab kalau sekolah itu 1 yayasan dengan tempat aku bekerja, selain itu gedung sekolah letaknya bersebelahan, jadi jika pagi bisa pergi sama-sama, kalau siang dia bisa pulang sama-sama seperti anak-anak temanku yang lain.

__ADS_1


Sella terdiam dan menangis terisak-isak sambil berkata bahwa kepala dia bukan dipukul siapa-siapa, tetapi terkena botol minuman kawan dia sekelas waktu naik tangga ke kelas, ruang kelas dia memang di lantai 2, mungkin pas naik tangga terburu-buru di belakang kawannya sehingga terkena botol minum, tetapi suamiku tidak perduli dengan penjelasan Sella, dia tetap marah, sambil berkata makanya kalau jalan lihat-lihat, pelan-pelan tidak usah lari, matanya jelalatan kemana-mana. Aku hanya diam. Kalau aku bela anakku nanti tambah panjang ceritanya dan ujung-ujungnya terjadi pertengkaran, setelah suamiku pergi keluar kudekati Sella, sambil kupegang tangannya kuhibur agar tidak meresa sedih, sudahlah nak, tidak usah menangis, sini mama kasih obat kepalanya, lain kali kakak kalau jalan ke kelas jangan terlalu dekat sama kawan, biar kepalanya ga kena botol lagi ya, sudah ini kakak istirahat tidur siang dulu, nanti sore mandi terus belajar, dia hanya mengangguk sambil pergi ke kamar. Tak terasa air mataku menetes, suamiku kadang keterlaluan kalau marah dengan anaknya, emosinya tidak terkontrol, anak sekecil itu dibentak-bentak, sangat menganggu emosional dia, sampai ada suatu waktu ibuku lagi berkunjung ke rumahku menginap, waktu itu Sella ada ambil uang kawannya katanya 10 ribu di sekolah, kata dia uangnya kawannya jatuh dia ambil tapi tidak dikembalikan, suamiku sangat marah, habis dibentak-bentaknya Sella kata ibuku, waktu itu aku lagi di luar kota sedang ada pelatihan seminggu di sebuah rumah sakit di Jakarta. Dari segi mendidik anak kami tidak sepaham, dia cenderung kasar dan tidak segan memukul, aku sedih bahkan ikut menangis kalau sampai anakku dipukul, jangankan dipukul dibentak dengan suara yang keras juga aku sangat tidak setuju. Orang tuaku sampai aku dewasa tidak pernah membentakku apalagi sampai memukul, kalau marah mereka mencubit pahaku sampai biru, itupun kalau aku sudah kelewat nakal waktu masih kecil. Sedangkan ayahku orang yang sangat bijaksana, jika melakukan kesalahan aku dipanggil, tidak hanya aku, kakak-kakakku dan adekku juga demikian, dinasehati, sambil diceritakan sebab akibat dari perbuatan salah kami. Oleh sebab itu dengan ayahku aku sangat menghormati dan sangat segan, sampai sekarangpun jika ada suatu masalah ayahku selalu begitu cara mendidik kami. Pernah suatu kali aku mengingatkan suamiku cara mendidik anak tidak perlu kekerasan, tetapi dia tidak menerima pendapatku, menurutnya cara dia itu yang benar, bahkan dia membandingkan dengan cara orang tuanya dulu mendidik dia, kalau ada kesalahan ikat pinggang melayang ke badan, hal itu kujawab bahwa tidak semestinya begitu, dari awal pilih sekolah Sella dia sudah tidak setuju, padahal uang masuk 5 jutaan termasuk baju seragam dan uang pembangunan dia tidak tahu menahu.

__ADS_1


Tetapi dalam perjalannya tak seindah yang dibayangkan, kadang-kadang aku ada jadwal operasi jam 7 yang mengharuskan aku berangkat jam 6 pagi dari rumah, kalau tidak pasti macet dan akan terlambat, Sella terkena imbasnya dia harus datang lebih pagi dari biasanya karena pergi denganku, sebaliknya terkadang aku pulang terlambat jika terkena jadwal on call dan banyak operasi, Sella harus menunggu lama, sedangkan dia pulang sekolah jam 13, kadang harus menunggu sampai jam 16, disitu suamiku semakin kesal dengan aku, dibilang tidak tau perasaan anak, pernah suatu kali kutitip dengan tukang ojek yang biasa mangkal depan Rumah sakit, bapak itu sudah tau rumahku, dan sudah kenal juga, tiap hari dia mangkal disitu jadi sudah paham, suamiku tambah marah. Dia di sela waktu luangnya bisa jemput anak tapi sering tidak bisa, kadang dengan alasan lagi jauh di tempat konsumen, kadang jemput tapi dengan muka masam dan ngomel-ngomel tidak jelas, ujungnya anakku yang jadi korban kemarahannya. Di rumahku ada satu lagi anakku baru umur 2 tahun, ada pengasuh di rumah, anakku yang kecil ini mandiri, sudah berapakali ganti pengasuh karena berbagai alasan, ada yang baru 2 hari tidak betah, ada yang sudah agak lama disuruh pulang orang tuanya, ada yang disuruh pulang suaminya dan lain sebagainya. Sebagaian besar mereka dicariin ibuku, dan orang yang tentu saja sudah kenal, pengasuh inilah yang membantu kegiatan rumah mulai dari nyuci sampai bersih-bersih selain tugas utama mengasuh anakku. Kadang-kadang aku berfikir urusan rumah tanggaku semua orang tuaku membantu, mulai dari rumah sampai pengasuh, sedangkan dari sebelah mertuaku tidak tau menahu, yang mereka tau kami hidup berkecukupan, sudah punya rumah, sudah punya kendaraan, tidak ada masalah apa-apa dalam rumah tangga. Sebaliknya keluargaku mereka yang memberi modal, mereka yang membantu untuk kami memiliki tempat tinggal, mereka yang membantu pemenuhan kebutuhan rumah tangga, bahkan kadang kamibtidak meminta.Terutama ibuku beliau adalah orang yang sangat perhatian dengan anak dan cucunya, setiap kali telpon pasti bertanya ini dan itu memastikan kami baik-baik saja, mereka sudah tau keadaan rumah tangga kami, makanya mereka kuatir, ibuku yang mempunyai perasaan paling sensitif kalau ada apa-apa seolah-olah ada firasat. Dan itu sudah terjadi berulang kali.

__ADS_1


__ADS_2