
Pagi ini seperti biasa aku bangun lebih awal, dikarenakan ada jadwal operasi jam 7 pagi, setengah jam sebelum operasi dimulai harus sudah stanby di tempat, aku sudah siap jam 6 pagi tiba-tiba suamiku bangun dan bertanya, kamu mau kemana?? Mau kerja, ada operasi jam 7, keterlaluan kamu hampir tiap hari seperti ini, datang cepat pulang terlambat, gaji tidak seberapa jadi babu orang. Aku terdiam mendengar ucapannya, dia lanjut berbicara lagi, kamu tidak usah bawa motor ataupun mobil, kamu tidak punya hak atas semua itu, itu punyaku katanya, aku tidak menyahut sepatah katapun, kuambil tas dan jaket lalu berangkat. Jarak dari perumahan yang kami tempati dengan jalan besar sekitar 300 meter, aku harus berjalan kaki keluar lorong untuk menjumpai angkot jurusan terminal yang dekat dengan tempat kerjaku, kumantapkan langkahku sambil kupercepat, aku tidak mau ambil pusing dengan harta yang diklaim punya dia, nasib baik begitu sampai depan lorong ada angkot yang melintas dan berhenti menghampiriku, jika naik angkot memakan waktu sekitar 30 menit perjalanan. Begitu sampai di terminal aku segera turun dan berjalan kaki sekitar 500 meter menuju tempat bekerja, melelelahkan memang, tapi aku harus kuat demi hidup, aku bukan orang yang cengeng, aku harus bisa, sambil melangkah kutahan airmataku yang hampir menetes mengingat perkataan suamiku di rumah tadi. Ini kali pertama perkataan tidak memperbolehkan aku memakai kendaraan, dan aku tidak mau ambil pusing dengan kata-katanya, sepertinya hati ini sudah mulai kebal dan tidak ada rasa karena setiap hari disakiti, baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan.
__ADS_1
Sampai di tempat bekerja kawan seruangan memanggilku, dek susah sekarang menghubungi kamu kalau sudah dirumah, ada aja alasannya untuk menghindar dari panggilan operasi kata dia, aku tersenyum sambil berkata, kalau saja mbak tau gimana posisi aku sekarang, bahkan pagi inipun aku tidak diperbolehkan memakai kendaraan, dia terkejut mendengar perkataanku, maksudnya gimana dek?? Aku mau pergi tidak boleh bawa motor maupun mobil, kata dia itu punya dia dan aku tidak punya hak atas semua itu. Ya Allah dek, laki- laki apaan seperti itu, istri cari nafkah membantu perekonomian keluarga dizolimi, trus mau diapain mobil sama motor di rumah, mau dikeloni apa?? Aku menyahut, dak tau mbak, aku dak mau pusing lagi sekarang, hidup sesuai alur, kalau waktunya bekerja kerja, waktunya di rumah di rumah, dia mau marah, mau ngoceh mau melarang ini dan itu sebatas aku bisa kujalani, tapi sabar seseorang ada batasnya, dan aku hanya manusia, kalau tidak kuat lagi apapun kehendakku akan kulakukan, terserah orang mau menilai apa, yang menjalani aku dan mereka tidak tau bagaimana rasanya menjadi aku. Silahkan mengatakan apa saja aku tidak perduli lagi, jiwa dan ragaku mulai lelah. Mbak ita lawan bicaraku ternganga mendengar kata-kataku, mungkin dia tidak menyangka aku yang dianggap pendiam dan berbicara seperlunya mampu berbicara panjang dan begitu nekatnya. Akhirnya sampai kami di ruangan dan segera mempersiapkan persiapan operasi pagi ini.
__ADS_1
Di awal pernah kuceritakan aku berkenalan dengan seseorang di dunia maya, dia seorang laki-laki yang baik, meskipun aku belum tau banyak latar belakang sebenarnya tapi aku percaya dia orang baik. Disini awal semuanya dimulai, awalnya kami cerita biasa tentang kegiatan sehari-hari lama-lama kami akrab seperti sudah kenal lama, aku mulai curhat tentang suamiku dan tingkahnya, tentang keluargaku dan tentang pekerjaanku yang menyita waktuku. Dia mendengarkan dan selalu memberi nasihat yang baik, dia mengingatkanku selalu untuk ingat anakku yang memerlukan perhatianku. Lama-lama suamiku mulai curiga, dia memeriksa hpku dan mengatakan laki-laki itu tidak baik, tidak layak berteman dengan dia, sampai pada akhirnya aku tidak diperbolehkan memakai hp, hpku dibanting di lantai sampai hancur berkeping-keping tidak bisa digunakan lagi. Aku ini suamimu, kalau ada sesuatu ngomongnya dengan aku bukan dengan laki-laki lain, kamu keterlaluan dan tidak punya otak, memangnya ada yang mau dengan kamu, laki-laki mana yang mau dengan kamu, bawa sini biar aku yang menikahkan kalau memang kalian mau bersama, tidak ada yang mau sama kamu, katanya lagi. Tidak kujawab sepatah katapun omongan dia, langsung kutinggal masuk kamar dan tidur. Hari-hari berikutnya jika ada telpon masuk harus melalui hp dia, disini suasana tambah sulit, tiap ada panggilan operasi suka-suka dia menjawab, kalau dia lagi baik disampaikan pesan si penelpon, kalau lagi tidak baik tidak disampaikan, dia sendiri yang membuat keputusan aku bisa ikut operasi di luar jam kerja apa tidak. Parahnya lagi tiap jadwal on call malam hp dia dimatikan, biar tidak mengganggu, hal ini tentu saja tambah memperburuk reputasiku di tempat kerja, bagaimana tidak, di zaman modern seperti ini aku seorang wanita pekerja tidak memegang hp, semua dia mengontrol, seperti anak SD yang hpnya disita guru, ya Allah sampai begitu perlakuannya. Bukan aku namanya kalau tidak banyak akal aku membeli hp baru yang tanpa dia tau, hp itu aku simpan di dalam loker tempat kami memyimpan barang-barang pribadi tempat aku bekerja. Nomor-nomor yang aku simpan adalah nomor-nomor penting yaitu orang tuaku dan kakak-kakakku, ini kupersiapkan jika sewaktu-waktu ada apa-apa aku bisa menghubungi mereka. Aku bukan orang bodoh yang bisa diinjak-injak dan aku punya harga diri. Dari perkataan dia sendiri aku mau membuktikan bahwa ada laki-laki yang lebih baik dari dia yang mau denganku dan memperlakukan aku secara manusiawi, biar dia sadar bahwa mulutmu adalah harimaumu, aku pantang ditantang untuk berbuat jahat. Semua orang pada dasarnya baik, dan ingin diperlakukan baik, dan semua orang bisa berbuat apa saja karena keadaan yang memaksa, demikian aku, semua berawal dari kata-katanya menantang aku membuktikan kalau ada orang yang mau denganku, tapi aku juga bukan orang bodoh yang membawa laki-laki itu ke depan dia, namanya cari mati, bagaimanapun dia memang masih sah sebagai suamiku, dan disini juga kusadari aku salah menjalin hubungan dengan laki-laki lain, tapi pemikiranku telah bulat, dia semena-mena memperlakukanku, bahkan menantang aku untuk menunjukkan laki-laki yang mau menikah denganku, hati siapa yang tidak panas dengan ucapan itu seolah-olah aku ini perempuan tidak laku, hanya dia yang mau denganku, hello...ucapan adalah doa dan semakin kesini bukan semakin jauh, hubunganku dengan laki-laki yang kukenal di dunia maya semakin dekat, kami sudah beberapa kali bertemu, karena banyak saudara dia yang tinggal satu kota denganku. Bahkan dengan keluarganyapun aku sudah bertemu, terutama dengan ibunya sudah berapa kali bertemu dan sambutan mereka sangat baik, berbanding terbalik dengan keluarga suamiku yang baik di depanku tapi menjelek-jelekkan di belakang.Dari sini aku memperoleh kenyamanan, bukan kebetulan kami dipertemukan, mungkin ini jawaban malaikat atas ucapan suamiku.
__ADS_1