Ketika hati tak lagi sehati

Ketika hati tak lagi sehati
Episode 8


__ADS_3

Pengasuh anakku mau berenti, alasan dia karena suaminya sakit dan menyuruh dia berhenti bekerja. Mbak, besok aku pulang kata bibi itu, suamiku sakit susah berjalan, kata dokter asam urat, jadi aku disuruh pulang, karena tidak ada yang mengurusnya dirumah, ya udahlah bik ga apa-apa nanti aku bisa titip adek tempat kawanku kataku.

__ADS_1


Bibi itu ikut aku sudah hampir 3 bulan, dia sangat membantu pekerjaan rumahtanggaku, selain menemani adek, yaitu anakku yang berumur 3 tahun dia juga membantu mencuci baju dan memasak, sepertinya dia betah, cuma mungkin karena suaminya sakit, mau tidak mau aku mengizinkannya untuk pulang. Bibik itu tetangga kami yang tinggalnya dekat dengan rumah ibuku, ibuku yang mencarinya untukku, setiap yang mengasuh anakku berhenti pasti ibuku yang ikut direpotkan, karena jika jadwalku padat atau kadang-kadang aku keluar kota ibuku yang membantuku, ibu tau betul keadaanku, bagaimana repotnya mengurus 2 anak disamping bekerja.

__ADS_1


Bagaimanapun semua harus dijalani, begitu kerasnya hidup. Sebagian orang menganggap kalau hidupku sangat enak, rumah sudah ada, kendaraan ada, penghasilan banyak, mau apa saja tinggal beli. Mereka tidak tau kehidupan sebenarnya, betapa kami ini dikejar-kejar waktu, konflik dalam keluarga, dan rasa bersalah kehilangan waktu dengan anak-anak ditambah lagi waktu istirahat yang sangat kurang. Mereka hanya menilai setiap awal bulan terima amplop tebal, tanpa tau dibalik itu banyak drama yang berlangsung.Akhirnya adek kutitipkan dengan kakak angkatku, setiap pulang kerja aku harus menjemput dia ke rumah kakakku baru pulang ke rumah, tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama, karena situasi yang dari awal sudah kuprediksi tidak efektif dari segi waktu, ini menambah kemelut dalam rumah tangga, jika pulang kerja aku harus tepat waktu karena gantian menjaga si kecil, tapi karena jam kerjaku yang tidak tentu mengakibatkan pertengkaran demi pertengkaran, awalnya biasa aja, kadang sikecil ikut suamiku dibawa kemana dia pergi, sebenarnya tidak begitu masalah, karena anakku sudah mandiri, dia gampang akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru dikenalnya, kemana-mana juga bawa mobil, jadi kalau dia capek dan ngantuk istirahat di mobil itulah, lagian dia bukan anak yang rewel, dia mudah bergaul dan menyesuaikan diri dengan siapa saja, baik dengan anak sebayanya maupun dengan orang tua. Tapi dasar suamiku, mungkin dia mau bebas dan tidak terikat bawa-bawa anak kemana-mana, disini aku jadi salah lagi, jika di luar jam kerja ada lembur aku tidak boleh ikut. Dia sendiri yang menghandel pekerjaanku, aku tambah tertekan, disalah satu sisi aku harus bersedia kapanpun dipanggil untuk pekerjaan sesuai jadwal, semakin kesini semakin aku dipojokkan, di rumah dengan suamiku, di tempat kerja dengan kawan-kawan dan atasan. Sebagian kawan-kawanku sering menyinggung-nyinggung dengan sengaja, bahkan sampai dokter disitu tanpa basi-basi mengatakanku dipingit kalau sudah di luar rs. Semua bukan kehendakku segala persoalan ini semakin hari menambah stres fikiranku, badanku tambah kurus karena kehilangan nafsu makan dan banyak fikiran, jadwal tidurpun terganggu tidak tenang sedikitpun. Di situasi ini aku bingung mau berbicara dengan siapa, mau bicara dengan keluarga aku tidak mau merepotkan mereka, mau bicara dengan kawan malu, mereka semua sudah tau keadaan ini, di salah satu sisi aku lumayan terampil dalam pekerjaan, banyak dokter-dokter yang percaya aku sebagai asistennya, bahkan suatu hari salah satu kepala ruangan dari suatu bagian mengatakan kalau sebenarnya aku dijadikan kandidat untuk maju sebagai kepala ruangan berikutnya setelah kepala ruangan yang menjabat sekarang pensiun, tapi lagi-lagi dia menegaskan, kalau keadaannya seperti ini pasti menjadi halangan, karena sebagai seorang kepala ruangan harus loyal dengan waktu bekerja, loyal pada perusahaan. Itulah kendalanya sekarang ini, mendengar hal itu membuat aku makin terpuruk dan merasa sangat sedih. Ya Allah kalau memang kehendakMu yang akan terjadi tidak ada mustahil terjadi, semoga semua yang akan terjadi adalah jalan yang tlarangerbaik yang harus kuterima doaku pada Tuhan, karena terus terang kepalaku sudah pusing dan kalau memikirkan ini rasanya mau pecah, badan panas dingin dan jantung dagdigdug.Di saat seperti ini suamiku kembali berulah, dia mengatakan mobil harus dijual, hutang banyak, jual beli sepi keuntungan tidak ada, aku terkejut dengan ucapannya. Selama ini aku tidak begitu memperhatikan bisnis dia, berapa modal dan berapa keuntungan karena diapun tidak terlalu terbuka soal itu, yang kedua dia membicarakan akan memperbaiki hubungan dengan tanteku yang uangnya sempat dipakai untuk investasi perumahan, dalam hal ini mau dikembalikan 10 juta dan menjelaskan semuanya, aku tidak bisa melarang atau mengiyakan, kalaupun aku larang pasti tetap saja dia melakukan dan aku kena ceramah panjang, kalau aku iyakan berarti satu persatu harta kami hilang. Flashback ke belakang, dulu sehabis menikah aku diberi ibuku sebuah gelang dan nenekengatakku memberiku sebuah cincin, waktu itu dengan alasan untuk modal semua dijual, bahkan kalung dari hasil gajiku bekerja sebelum menikah juga dijual, pernah suatu waktu aku minta, dengan alasan sebagai seorang istri pengen juga memakai perhiasan seperti orang lain, tetapi apa jawaban yang kudapat, kubelikan kamu gelang, cincin,kalung tapi usaha dak bisa jalan lagi katanya, kamu mau, aku hanya diam, padahal waktu itu dia hanya bilang itu dipinjam sementara, nanti beli lagi, setelah balik modal, tapi kenyataan yang kudapat zonk alias tidak ada. Satu lagi yang membuat keluargaku sakit, sebelum aku menikah aku mengambil motor secara kredit, dengan uang muka dari gajiku awal-awal bekerja, waktu itu kakakku mengatakan bayarnya 50% kami dan 50% dia, kami setuju, tetapi itu tidak berlangsung lama, dia hanya bayar beberapa kali dan sisanya kakakku yang membayarnya, parahnya lagi motor itu dijualnya dengan alasan ganti model baru, dan kakakku tidak dapat bagjan sesikitpun, sebenarnya malu sebagai adek, tapi kakakku memaklumi, apalagi waktu itu ekonomi orang tuaku cukup lumayan jadi tidak terlalu jadi masalah.

__ADS_1


__ADS_2