Ketika hati tak lagi sehati

Ketika hati tak lagi sehati
Episode 4


__ADS_3

Rumahmu itu ada yang tidak beres, sebelum di bangun ada ditanam sesuatu di ruang tamu sama depan rumah, selain itu pohon nangka di depan rumah tetanggamu itu ada penunggunya, makluk astral sejenis kuntilanak, dia tidak mengganggu tapi dia diam disitu, aku termangu mendengar ucapan Astuti.


Astuti adalah kakak angkatku, dia seorang jawa Lampung, yang menurut klaim dia sendiri bisa melihat sesuatu yang astral, bahkan kata dia bisa melihat segala guna-guna yang dikirim orang, aku orangnya tidak begitu percaya dengan hal-hal mistis seperti itu, dan tidak terlalu kufikirkan, karena aku sering keluar malam, bahkan pulang hampir subuh jika padat jadwal operasi, kalau mengingat perkataan dia pasti tidak berani keluar rumah.

__ADS_1


Rumahku berada sejauh 7 km dari tempat aku bekerja, kami mengambil perumahan seperti dari cerita awal disponsori keluargaku. Rumah ini tipe 36 tapi sudah dikembangkan denga luas bangunan 200 meter persegi. Sebenarnya tidak jauh dari kota tapi menurut wilayah sudah masuk kabupaten bukan provinsi lagi. Rumah ini terdiri dari ruang tamu dan 3 kamar tidur, dapur, serta 2 kamar mandi, sementara sebelah kanan untuk garasi, habis tidak ada sisa tanah.


Seorang yang mengatakan paranormal juga melihat bahwa ruang tamu rumah kami ada cahaya merah terang penyebab rumah ini nas, ini karena di tanam oleh suamiku yang kata dia untuk menolak balak. Di disitu ditanam benda-benda yang kudapat dari dukun pintar asal Banten, kata suamiku waktu itu, untuk apa kataku karena aku kurang percaya dengan hal-hal seperti itu, biar jauh dari guna-guna dan niat jahat orang kata dia, aku hanya diam dak percaya ucapannya. Menurut pemikiranku hal-hal mistis itu ada, tapi kalau perlindungan Allah SWT lah yang menguasai langit dan bumi serta segala isinya, jadi untuk apa minta bantuan sama hal-hal bodoh seperti itu, katanya sarjana lulus tapi pemikiran masih primitif. Kamu tau tidak, percaya Tuhan itu nomor 1, tapi menggunakan hal-hal seperti itu cuma sebagai perantara, menghindari hal-hal buruk, bukan aku tidak percaya kuasa Tuhan, cuma kita perlu menggunakan itu, kata suamiku. Kita ini hidup di lingkungan banyak orang yang kita tidak tau maunya dia apa, baik apa jahat kita tidak tau, rambut sama hitam tapi hati kita tidak tau. Dia masih marah karena aku tidak setuju ada barang-barang yang mistis di rumah kami. Kamu tau tidak aku ini orang bisnis kalau tidak memakai hal-hal seperti itu tidak akan berhasil, kamu jangan ngomong aja, tapi tidak tau maksudnya untuk apa.

__ADS_1


Aku hanya diam, percuma melawan omongannya tidak akan diterima dan ujungnya ribut.


Pagi ini sesudah sarapan kami berempat duduk di ruang tamu, Bapak membuka pembicaraan, nak kamu ceritakan apa yang terjadi, aku sudah tau tapi aku pengen tau langsung dari kamu sendiri kata Bapak. Aku mulai bercerita tentang kehidupan kami sekarang, tentang perubahan drastis suamiku yang cenderung kasar dan suka memaki-maki tanpa rasa bersalah. Tentang posisiku di tempat kerja, tentabg penilaian teman-temanku di tempat kerja, terbawa emosi aku menangis, si bungsu yang saat itu bersamaku juga menangis.

__ADS_1


Bapak berkata jika suamimu tidak lagi mau sejalan denganmu kembalikan ke kami sebagai orang tua secara baik-baik, karena dulu dia memintamu dengan cara baik-baik, tampaknya bukan tambah bagus semakin lama semakin tidak jelas dan penuh kekerasan secara verbal setelah aku pelajari selama ini. Kemarin aku juga sudah ngomong sama suamimu waktu kamu kerja, pertama aku suruh dia cerita apa masalahnya sehingga ribut terus, aduan dari kakak dan orang di tempat kamu bekerja aku sudah dengar semuanya kata Bapak, tapi sepertinya watak keras suamimu memang tidak bisa diajak kerjasama, dan tidak mau merubah pendirian, intinya dia berbicara, kamu bekerja harus sesuai keinginan dia, aku sudah paham situasinya, sepertinya ada yang tidak beres dalam diri dia, entah pengaruh apa.


Kamu sabar dulu, kami tetap bantu dengan doa, semua orang berumahtangga pasti ada masalah dan pasti ada jalan keluar, entah itu memperbaiki hubungan atau mengakhiri hubungan, itu semua tidak bisa dipungkiri, kalau situasi tidak memungkinkan lagi,salah satu jalan harus ditempuh, aku terdiam mendengarkan nasihat Bapak, orang yang sangat aku hormati dan aku segani. Bapak orang yang sangat bijaksana walaupun pendidikan hanya sebatas SMP tapi pengetahuan luar biasa hebat, itu dikarenakan bapakku orang yang rajin baca berita, nonton tv dan merupakan orang yang di tuakan di desa kami. Hal itulah setiap ada masalah banyak orang ke rumah kami untuk meminta nasihatnya, dulu semasa masih muda beliau sering bepergian keluar kota sampai keluar provinsi untuk pelatihan dan seminar baik dari desa maupun dari tempat ibadah. Itulah pengetahuan bapak banyak dan banyak relasi dimana-mana. Bahkan di desaku terkenal keluargaku adalah orang yang berpendidikan, karena orang tuaku mendidik anak-anaknya setelah lepas dari sekolah tingkat pertama harus merantau keluar daerah. Dari anak yang pertama sampai si bungsu semua diperlakukan sama, selepas sekolah menengah pertama merantau, termasuk aku, walaupun aku anak perempuan satu-satunya aku juga merantau jauh ke luar provinsi waktu menempuh pendidikan sekolah menengah atas, bahkan pulang setahun hanya 2x. Pertama kali merantau aku menangis hampir sebulan jika teringat orang tuaku di rumah, pagi-pagi bangun tidur air mata menetes sambil merapikan tempat tidur. Waktu itu aku tinggal di sebuah asrama putri di sebuah kota yang jaraknya 24 jam perjalanan darat dari desaku, awal-awal terasa berat karena itulah untuk pertama kalinya aku merantau jauh dari kedua orang tuaku, tapi setelah sekian purnama akhirnya aku betah juga, walaupun tidak bisa diingkari kadang-kadang perasaan rindu ingin pulang teringat orang tua dan saudara-saudaraku. Selepas sekolah menengah atas aku test di sebuah perguruan tinggi swasta di kota yang jaraknya lebih dekat dibanding waktu aku sekolah menengah atas. Disinilah awal pertemuanku dengan suamiku, awalnya dikenalkan sama kakak tingkatku yang masih ada hubungan dengan keluargaku, dia adalah adik dari ibu suamiku, kami manggilnya tante, setelah sekian lama kenal akhirnya kami sering jalan dan berkomitmen untuk bersama, waktu itu aku masih tingkat 2 kuliah, sampai aku lulus dan setahun kerja kami baru menikah, kurang lebih 5 tahun dari kenal sampai menikah, tetapi dulu sifatnya tidak seperti itu, dulu sangat baik dan tidak banyak bicara, entah setelah 9 tahun pernikahan sifatnya berubah drastis, banyak menimbulkan kontroversi dan tingkahnya semakin aneh.

__ADS_1


__ADS_2