
Siang ini aku baru saja sampai rumah, cuaca lagi panas, musim kemarau debu dimana-mana, ditambah lagi dijalan menuju rumahku banyak aspal yang rusak tidak diperbaiki, hal ini memperburuk kondisi udara karena jika lewat banyak sekali debu yang beterbangan. Baru saja masuk rumah suamiku langsung berbicara, mobil itu kayaknya mau kutukar, angsurannya berat 3 jutaan, kondisi keuangan lagi tidak stabil kata dia, aku mau cari mobil yang angsurannya di bawah 3 jutaan, terserahlah jawabku, aku tidak terlalu perduli, sejak dilarang tidak boleh menggunakan kendaraan lagi, ambil citycar yang dpnya 10 jutaan angsuran di bawah 3 jutaan, ujarnya lagi, aku diam saja tidak menjawab apa kemauannya. Selang beberapa hari dia bawa brosur mobil ke rumah, pilihlah mau warna apa yang bagus, dengan asal-asalan kujawab warna merah itu aja kataku, tidak menunggu berapa lama menjelang sore ada sales mobil yang datang ke rumah kali ini persyaratan diminta, dia minta aku untuk memainkan slip gaji biar di acc pengajuan kreditnya, dengan berat hati ku iyakan saja permintaan sales itu, padahal sebenarnya aku malas mengurus itu ke bagian HRD karena bakalan ribet, esok harinya kembali sales itu menelpon untuk memastikan dan kujawab kalau pihak HRD tidak mau mengubahnya, akhirnya pengajuan kredit itu tidak di acc dari dealer mobil itu. Tidak sampai disitu suamiku masih mencoba cara lain, kali ini ada kawannya yang menawarkan mobil second tapi kondisi baru, baru 4 bulan kredit berjalan, tanpa berfikir panjang mobil itu diambil oleh suamiku, sampai disini timbul masalah baru ternyata mobil itu pemiliknya tidak jelas alamatnya, setelah di cek ke alamat STNK dikatakan orang yang bersangkutan tidak tinggal lagi di rumah itu sudah lama, dan rumah itu dalam keadaan kosong, sedangkan tetangganya tidak tau keberadaan pemilik mobil tersebut dimana. Dalam keadaan seperti itu kembali suamiku mengatakan kalau mau over kredit lagi ke orang lain, saat itu adekku yang ditawari mobil tersebut, dengan dalih ada hutang 3 juta dengan adekku dan hutang yang lain, aku tidak tau pasti dengan siapa saja dia berhutang, yang pasti hasil penjualan mobil pertama sebesar 95 juta, hanya sisa 10 juta, itu untuk pelunasan sisa kredit mobil pertama dan bayar hutang, dan kali ini juga diover kredit mobil ini untuk bayar hutang juga, semakin tidak jelas semakin kesini, bisnis yang dia bilang juga tidak kelihatan barangnya, aku tidak tahu, sudah aku sebutkan sebelumnya bahwa, anak sekolah, angsuran mobil, angsuran rumah, itu semua aku yang bayar, dia pengeluarannya untuk bayar tagihan listrik 500 ribu tiap bulan, kebutuhan sehari-hari seringkali aku juga yang belanja, karena aku yang masak jadi barang yang dibeli duit dari kantongku. Kalau ditanya berapa gajiku, gajiku sebenarnya UMR dengan ditambah tunjangan-tunjangan, tetapi dari gaji itu sisanya aku hanya terima 500 ribu, karena dipotong uang angsuran hutang di koperasi yang aku ambil sebesar 25 juta itu untuk modal usaha suamiku jual beli motor second, sisa 500 ribu itu untuk bayar angsuran rumah, karena angsurannya 475 ribu flat, rumah kami sudah hampir 10 tahun. Darimana aku bayar yang lain, itulah uang lembur dari aku ikut operasi, bayar angsuran mobil, bayar spp dan les anak, belanja kebutuhan sehari-hari. Itulah mengapa aku mati-matian selalu ikut operasi di luar jam kerja, karena aku menyadari kebutuhan hidup kami banyak dan semua harus tercukupi, tapi sebaliknya suamiku selalu marah komentar tidak jelas dengan pekerjaanku. Kalau dibandingkan dari gaji pemasukan dari lembur ini jauh lebih banyak, semakin kita sering ikut operasi semakin besar insentif yang diperoleh. Ada seorang teman yang mengatakan sebenarnya suamiku merasa bahwa pendapatan dia lebih kecil sehingga menimbulkan kecemburuan sosial, hal ini mengakibatkan dia kehilangan kontrol sosial memperlakukan aku semena-mena dan tidak memikirkan bahwa itu menimbulkan trauma kepercayaan dan kehilangan rasa untuk menghormati. Memang benar apa yang dikatakan kawanku ini, bukannya semakin takut aku diperlakukan tidak baik tetapi dalam diam aku semakin melawan setiap kata dan tindakannya, tak pernah terpikirkan untuk menuruti perkataannya, karena menurut aku semua profokasi untuk berhenti dari pekerjaanku dan menjadi ibu rumah tangga yang hanya diam di rumah. Nah sekarang aku bekerja dan menghasilkan uang saja tiap hari dicacimaki, dibilang ibu tidak tau diri, dibilang binatang, apalagi kalau aku tidak bekerja dan hanya di rumah, dipandang bagaimana lagi aku, mungkin tidak dipandang lagi dan habis diinjak-injak, ya Allah sedemikian Tuhan menguji sabarku. Bukan tanpa air mata, bangun dengan mata bengkak atau mandi sambil menangis menjadi makananku setiap hari, perempuan mana yang kuat diperlakukan seperti itu, banyak orang yang bertanya diet apa bisa badan kurus, perasaan dulu gemuk, menutupi kekecewaan kujawab diet ocd seperti yang diajarkan salah satu presenter terkenal di Indonesia, padahal sebenarnya aku jarang makan karena tidak ada selera makan. Tetapi sesuatu yang disembunyikan lama kelamaan ketahuan juga, hal itu mereka tau karena dilihat pergi malam atau pulang malam aku tidak dijemput, sampai satpam yang jaga di depan semua tau kelakuan suamiku, maklum namanya juga gosip, tembok juga bisa bicara😂. Tidak sampai disitu, pernah suatu kali aku ada operasi malam pulang jam 2 pagi, pintu tidak dibuka, terpaksa aku memanjat pintu sebelah garasi, untung pintu sebelah garasi itu pakai kunci cara lama yaitu memakai kayu yang dipalang, jadi dari atas aku bisa membukanya, tapi cuma bisa sampai disitu karena pintu kamar dikunci, jadi terpaksa aku tidur di sofa, itu terjadi berapa kali. Dulu waktu masih ada yang mengasuh anakku di rumah, dia yang selalu bukain pintu, walaupun aku tidur di sofa atau tidur di kamar belakang karena pintu kamar terkunci.Pernah juga ada operasi jam 9 malam aku tidak diperbolehkan pergi, kalau pergi disuruh bawa anakku yang masih berumur 2 tahun, tanpa berfikir panjang kubawa anakku itu, sesampai di rumah sakit ada pemilik rumah sakit dan menanyakan kenapa malam-malam anak dibawa dengan menagis kujawab kami habis bertengkar gara-gara tidak boleh berangkat ikut operasi, kalau mau pergi disuruh bawa anak, akhirnya sibungsu diajaknya, untung dia mau karena sudah kenal, tetapi peristiwa itu cepat sampai ke telinga kakakku yang berada di kota lain, disebabkan pemilik rumah sakit itu adalah kawan kakakku, dia langsung menelponnya dan anakku juga berbicara dengannya apa yang aku alami malam itu. Sesudah selesai operasi sekitar jam 23 aku ke rumah pemilik rumah sakit yang letaknya di sebelah kanan bangunan, kulihat anakku masih bermain dengannya, beliau bertanya, pulang mau diantar satpam atau tidak, kujawab tidak usah, terus dia bilang nanti kalau tidak dibukakan pintu bagaimana? Kujawab aku akan kembali lagi tidur di rumah sakit, atau cek in di hotel untuk istirahat....bagaimana cerita selanjutnya next episode ikuti terus yaaa