
Cerita ini berasal dari masa dinasti Tang, China. Dimana pada masa itu, hiduplah seorang wanita bangsawan berusia 17 tahun bernama Jiao Xinxi. Dia merupakan puteri pertama dari perdana menteri Jiao Ertu yang tidaklah cantik dan tidaklah buruk rupa. Namun ia dikenal sebagai puteri yang ramah dan rendah hati tapi bernasib buruk.
Gelapnya malam menyelimuti Ibu Kota Tang malam itu. Peronda malam yang bertugas malam itu tampak sibuk berkeliling sepenjuru kota untuk memastikan keamanan rakyat dari perampok maupun pemberontak. Seluruh rumah telah mematikan lampu mereka kecuali satu ruangan dalam rumah di kediaman Perdana Menteri Jiao.
Di dalam ruangan itu, tampak ada 6 orang anggota keluarga Jiao yang sedang duduk di kursi mewah menghadap tengah ruangan. Di tengah ruangan itulah, Jiao Xinxi berlutut menghadap ayahnya dan neneknya.
Ertu, sang kepala keluarga Jiao menatap puterinya itu dengan ekspresi tenang. Sedangkan di sebelahnya adalah ibunya yang memandang Xinxi dengan jijik. Selir Jin yang menutupi senyum bibirnya dengan kipas, Selir Zhao yang terlihat tidak peduli, serta Xinhua dan Xinping yang menyeringai ke arah Xinxi.
“Pagi ini, Kasim yang di perintahkan oleh kaisar datang ke kediaman kita dan membawakan titah kaisar atas perjodohan puteranya denganmu Xi.” Kata Ertu. “Inilah perintahku, tolak perjodohan itu dan gantikan dirimu dengan adikmu Xinhua.”
Xinxi yang merasa tidak rela membantah. “Aku tidak bisa melakukanya, itu perintah kaisar dan aku adalah anak pertama dalam keluarga ini. Keluarga bisa tertimpa nasib buruk kalau seandainya adik perempuan mendahului kakak perempuanya untuk menikah.”
Nenek Jiao, sebut saja demikian. Ia merasa marah dan membentak Xinxi sambil menunjuk wajahnya. “Diam!” bentak “Kau pikir kau bagian dalam keluarga ini? berani sekali kau menganggap dirimu bagian dalam keluarga Jiao!”
Selir Jin membalas dari balik kipasnya “Ibumu diam – diam berselingkuh dengan seorang pelajar miskin yang tampan dan melahirkanmu. Tuanku merawatmu di rumah ini karena ingin menjaga harga dirinya dan harga diri ibumu.” Katanya. “Gak nyangka kamu bisa se- Tidak tahu malu begitu.”
Ertu diam dengan tangan yang terkepal kuat. Xinxi yang tidak terima dirinya dan ibunya di tuduh demikian langsung membantah.
“Selir Jin, jaga ucapan anda!” bantah Xinxi “Ibuku tidak pernah berselingkuh dengan pelajar itu dan yang anda katakan itu hanyalah rumor!” “Ibuku sangat mencintai ayahku!”
Ertu yang merasa marah karena muak dengan kata cinta, menggebrak meja teh. Xinxi terkesiap kaget mendengarnya.
“Diam! dan turuti perintahku, Tolak perjodohan itu dan gantikan dirimu dengan Xinhua.” Bentak ayahnya.
Xinxi menatap ayahnya dengan tatapan penuh kekecewaan. “Tapi kenapa?” Jawabnya. “Beri aku alasan, kenapa aku haru menolak perjodohan itu?”
Xinhua membalas “untuk apa lagi? Kakak ku yang baik, kamu gak pantas untuk posisi puteri mahkota mengingat latar belakangmu yang gak jelas itu.”
Xinping terkekeh ketika mendengarnya. Sedangkan selir Zhao mendengus ‘Bukan hanya karena latar belakangnya yang tidak jelas, tapi juga agar dia tidak bisa membalas dendam kepada kia semua atas perlakuan tidak adil yang kita lakukan padanya sejak kecil.’ Gumamnya dalam hati.
Xinxi kembali memandang ke arah ayahnya yang memalingkan wajah. “Ayah?” panggil Xinxi. Tapi ayahnya tidak menjawab apapun, bahkan untuk memandangnya saja tidak ia lakukan.
Sadar bahwa ia tidak akan mendapatkan pembelaan apapun, Xinxi tertunduk sedih. Sebisa mungkin ia menahan pahitnya hidup dan berdiri dari posisi berlututnya. Ia lalu memandang ayahnya untuk terakhir kali dan berucap.
“Baiklah, kalau ayah tidak ingin membelaku dan masih termakan oleh omong kosong itu. Aku akan bertindak sesuai dengan apa yang aku mau.” Jawab Xinxi. “Aku tidak akan menolak perjodohan itu dan aku akan menjadi puteri mahkota agar aku bisa bebas dari kalian semua.”
Mendengar hal itu, nenek Jiao pun naik pitam. “Anak pembangkang, beraninya kau!!” Teriaknya.
Xinxi membalikkan badan untuk pergi. “Satu hal lagi, Aku akan merasa bersyukur kalau memang engkau bukan ayahku karena ketika kau mati aku tidak perlu repot – repot membacakan doa untukmu.” Katanya.
Mendengar serapahan dari Xinxi, Ertu langsung diliputi oleh amarah. Ia mengambil cangkir teh di mejanya dan lalu melemparnya sambil berteriak.
“GAK TAHU DIRI!” Teriaknya.
Cangkir itu pecah saat memukul kepala belakang Xinxi dan langsung menumbangkanya di lantai dalam sekejap.
__ADS_1
“Kyaaaa!!!” Pekik Xinhua dan Selir Jin.
Darah Xinxi menggenang diatas lantai dan membasahi rambut panjang dan pakaianya. Ertu membelalak kaget saat sadar apa yang sudah ia lakukan. Ibunya, yaitu nenek Jiao langsung mendorong dan menarik kerah baju Ertu dengan panik.
“Apa yang sudah kau lakukan bodoh?!” Teriaknya.
Ertu menjadi panik “A-aku gak bermaksud ..”
Nenek Jiao menampar puteranya itu. “Habislah kita, habislah kita!” Gerutu Nenek Jiao. Ia lalu memandang Xinping yang kelihatan Shok. “Xinping, kamu pergi panggil tabib, kita tidak boleh membiarkanya mati atau kita semua akan di hukum mati oleh kaisar.” Perintahnya.
Xinping berdiri agak panik “Baik nek!” jawabnya.
Tapi selir Zhao menahan Xinping dengan tangan kiri. “Tidak perlu.” Ujarnya sambil memandang Nenek Jiao “Kau tidak dengar apa katanya barusan? Dia tidak akan menuruti perintah kita lagi. Untuk apa kita membiarkanya tetap hidup kalau kedepanya dia akan merepotkan kita?”
Selir Jin menutupi bibirnya dengan kipas. “A-aku setuju dengan Zhao.” Jawabnya. “Ibu kamu sendiri merasa juga kan, kalau akhir – akhir ini Xinxi menjadi lebih membangkang?” “dia juga sudah mulai berani melawan ucapan kita. Aku lebih setuju kalau kita mengambil kesempatan ini untuk membunuhnya agar dia juga tidak mengatakan kepada kaisar atau pangeran seberapa buruk perlakuan kita terhadapnya dari kecil.”
Ertu tertegun “Kita tidak perlu melakukanya sampai sejauh itu, kita bisa memenjarakanya saja di tempat yang jauh dan membuatnya hilang.” Katanya.
Nenek Jiao memukul kepala Ertu. “Kau gila? bagaimana bisa kau merasa kasihan pada anak yang bahkan bukan anakmu sendiri?” Omelnya.
Selir Zhao berdiri dan memandangi tubuh Xinxi penuh perasaan jijik. “Akhir – akhir ini kota sering terjadi perampokan. Kita bisa membuat Xinxi mengalami perampokan dan pembunuhan di kamarnya. Dengan begitu kita bisa bebas dari kecurigaan.”
Nenek Jiao tersenyum licik. “Ide bagus Zhao, kau menantutku yang paling pintar.” Katanya. “Kalau begitu, Xinping, segera kamu panggil 4 prajurit kita kesini.”
“Baik nek.” Jawab Xinping.
Ia pergi ke luar ruang keluarga dan tepat di depan ia melihat 4 prajurit yang menjaga pintu. “Kalian berempat masuk kedalam.” Perintah Xinping.
Selir Zhao yang tahu kalau 4 prajurit itu merasa takut pun mengancam. “Kalian gak Lihat Apapun.” Katanya
Paham dengan ancaman sang selir keji, keempat prajurit itu menunduk ketakutan. “Baik selir Zhao.” Jawab mereka.
“Kalian, ini perintah kami. Bawa mayat anak ini ke kamarnya dan taruh dia diatas lantai, acak – acak semua barang yang ada di kamarnya seperti habis kerampokan dan ambil semua perhiasan serta barang – barang berharga miliknya.” Kata Nenek Jiao. “Semua itu boleh untuk kalian berempat agar tidak memberitahu siapapun.”
Keempat prajurit itu membungkuk “Baik.” Jawab mereka.
“Tunggu, satu hal lagi, pecahan cangkir tehnya kalian taruh juga di dekat tubuh Xinxi.” Kata Selir Jin.
“Baik.” jawab mereka berempat.
Mereka bertiga lalu mengangkat tubuh Xinxi, sedangkan perajurit yang terakhir mengambil pecahan cangkir diatas lantai. Namun ketika ketiga prajurit itu mengangkat tubuh Xinxi, kepalanya medonggak kebawah dan membuat kelopak matanya terbuka lebar.
Kedua mata Xinxi yang merah melototi Selir Jin dan Xinhua seolah seperti mengutuki mereka. Hal ini sontak membuat ibu dan anak itu merasa ketakutan.
“Ibu! Dia sedang mengutuki kita!” bentak Xinhua.
Selir Jin diam dengan perasaan sangat tidak nyaman dan mengipasi wajahnya sedikit lebih kencang. Selir Zhao yang kesal langsung membentak Xinhua.
__ADS_1
“Diam dasar anak manja! Suara cemprengmu itu bisa membuat kita ketahuan.” Bentaknya.
Xinhua langsung diam dan memegang tangan ibunya penuh ketakutan. 4 prajurit itu lalu membawa tubuh Xinxi keluar dari dalam ruang keluarga.
“Lalu selanjutnya apa?” Tanya nenek Jiao.
Selir Zhao menyilangkan kedua tanganya. “Setiap pagi Xinxi punya kebiasaan membaca buku di halaman kediaman. Kita bisa menjadikanya alasan kenapa kita tiba – tiba datang ke kamarnya dan menemukanya sudah meninggal dalam kamarnya.” Katanya.
“Ide bagus!” Ujar Selir Jin.
“Tapi besok aku tidak bisa ikut kalian karena aku harus bekerja.” Balas selir Zhao.
“Haduh, kau masih saja melakukan pekerjaan itu.” Sahut nenek Jiao.
Di kamar Xinxi, 4 prajurit itu membaringkan tubuh Xinxi di atas lantai kamarnya dan menaruh percahan cangkir di samping tubuhnya. Mereka lalu berpencar untuk membuat kamar Xinxi berantakan seperti habis di rampok. Tidak hanya itu, mereka juga mengambil perhiasan – perhiasan yang Xinxi miliki.
“Aku rasa ini sudah cukup.” Ujar salah satu prajurit yang memiliki tahi lalat di bawah mata kirinya.
“Aku gak percaya ini, nasib puteri Xi. Sungguh tragis.” Sahut prajurit yang alisnya tebal.
“Benar, para selir itu sungguh kejam tapi yang membuatku kaget adalah nenek Jiao dan tuan perdana menteri juga tega melakukan ini padanya.” Tambah prajurit yang rambutnya di kuncir satu.
“Sebaiknya kita berdoa dulu agar tidak di gentayangi oleh puteri Xi. Bagaimanapun kita ini hanya budak dan kalau kita tidak menuruti perintah selir Zhao, kita bisa dijadikan objek tes senjata tajam olehnya.” Kata si prajurit yang kurus.
“Aku setuju, mereka yang terbunuh dengan cara mengenaskan begini, biasanya akan bangkit menjadi hantu pendendam. Sebaiknya kita mohon ampun dulu selagi masih bisa!” Kata si prajurit yang beralis tebal.
Mereka berempat pun berlutut di depan mayat Xi dan berdoa. “Nona Xi, tolong maafkan kami. Kami sungguh terpaksa melakukan ini, kalau kami tidak menurut kami akan dijadikan objek tes ketajaman senjata.” Gumam mereka. “perhiasan yang kami miliki ini tidak akan kami jual, tapi akan kami kuburkan bersamaan dengan pemakaman anda nanti.”
Setelahnya, mereka pun keluar dari kamar Xinxi dan menutup pintunya rapat – rapat. Mereka kembali ke kamar masing – masing dan berusaha sebaik mungkin untuk diam.
Pagi menjelang, sekitar jam 10 pagi. Seperti dalam rencana semalam, Ertu, nenek Jiao, selir Jin, Xinhua, dan Xinping mendatangi kamar Xinxi. Selir Zhao tidak bisa ikut hadir karena memiliki urusan lain. Mereka juga mebawa 2 orang pelayan dan beberapa prajurit penjaga kediaman bersama mereka.
“Kalian pelayan, buka pintu kamar Xinxi.” Perintah selir Jin.
2 pelayan itu membungkuk dan berjalan ke pintu kamar Xinxi. Mereka lalu membuka pintu tersebut lebar – lebar.
Aroma kemenyan yang menenangkan seketika menyebar ke luar dari kamar Xinxi. Kain gorden putih tipis yang menghiasi ambang pintu terbang keluar menampakkan wujud seorang gadis yang mereka kenali dengan jelas.
Hal itu membuat satu keluarga Jiao yang hadir di depan kamar Xinxi terkejut.
“DIA?!” Ujar nenek Jiao.
Xinxi tersenyum lembut di ambang pintu sambil menatap kelima anggota keluarganya itu dengan tenang.
“Selamat Pagi Semuanya.” Sapanya. “Hari yang indah dan menakjubkan, ya kan?”
Note :
__ADS_1
Butuh waktu lama bagiku untuk menyelesaikan karya yang ini. Terkadang aku stuck dengan pengolahan kata. Sejujurnya aku tidak pandai mengolah kata - kata dan aku masih belajar untuk bisa menyempurnakanya.
Terimakasih yang sudah meluangkan waktu untuk membaca karyaku ini, semoga kalian bisa enjoy dengan ceritanya dan dapat menarik pesan yang terkandung dalam cerita ini. Terimakasih :)