Ketika Orang Mati Hidup Kembali

Ketika Orang Mati Hidup Kembali
Kebenaran


__ADS_3

Di sisi lain, selir Jin berjalan penuh ketakutan di dalam hutan bambu yang penuh oleh kabut. Sesekali ia memanggil puterinya.


“Xinhua? Xinhua kamu dimana?” panggilnya.


Tapi tidak ada jawaban dari Xinhua. Beberapa lama berjalan sendirian, selir Jin akhirnya sampai di pemakaman kuil. Ekspresi wajah selir Jin berubah ketakutan terutama ketika batu nisan yang pertama kali ia lihat bertuliskan Jiao Luluo, nama ibu Xinxi.


Detak jantung selir Jin berpacu sangat cepat ketika ia membaca nama batu nisan tersebut. Ia segera balik badan dan berjalan pergi penuh ketakutan. Tapi anehnya, ia malah kembali ke pemakaman dan berada di depan makam Jiao Luluo.


“Hah?” ujar selir Jin yang panik.


Ia pergi lagi dari wilayah pemakaman, tapi sekali lagi ia kembali ke pemakaman yang sama dan berdiri tepat di depan makam Luluo. Sadar bahwa ia di sesatkan oleh Luluo, selir Jin pun berlutut pasrah di depan makam tersebut dan bersujud sambil menangis.


“IYA! Aku yang melakukanya!” teriaknya sambil menangis “Puas kamu?!”


Kemarahan, ketakutan, dan kendengkian hatinya bercampur menjadi satu.


“Aku yang menyebarkan gosip itu, aku yang pertama kali bilang kalau kamu berselingkuh dengan seorang pelajar dan membuatmu dibenci oleh ibu mertua dan tuanku.” Katanya.


“Kau begitu bersinar dimata semua orang, bahkan di mata tuanku. Dia begitu mencintaimu sampai aku dan Zhao di abaikan bahkan ketika kami mengandung. Dia hanya melihatmu dan aku membencinya!”


“Aku sudah mengakuinya, aku sudah mengakuinya di depanmu. Sekarang berhentilah menggangguku dan biarkan aku pergi darisini!” ketus selir Jin sambil menangis.


Tapi asap hitam keluar dari tanah makam Luluo dan memunculkan sosok wanita berambut sanggul rapih yang kulitnya membusuk penuh belatung.


“MATI!!!” teriak sosok wanita itu dengan garang.


Sosok itu membuat selir Jin kaget dan ketakutan. Itu membuatnya kehilangan kendali atas otot pada tubuhnya dan lalu kejang – kejang. Ia terbaring di atas tanah dengan mata yang terbuka lebar, tapi tidak bisa bergerak dan berkata apa – apa.


Disisi lain, Ertu serta para biksu yang mendengar suara teriakan pergi ke arah hutan bambu. Prajurit istana yang dikirimkan untuk memantau Ertu juga ikut mengikuti mereka. Namun betapa kagetnya mereka ketika melihat Xinping, terbaring kaku dengan 5 anak panah menancap tubuhnya.


Mata Ertu membelalak kaget “XINPING!!” teriaknya.


Ia berlari penuh kepanikan dan mengangkat tubuh puteranya yang sudah menjadi kaku itu. “Xinping! Xinping bangun!” teriaknya.


Tidak lama, Xinxi pun keluar dari dalam kamarnya bersama 2 pelayanya. Ia berlari menghampiri kerumunan biksu dan prajurit yang ada di depan hutan bambu.


“Ayah?” panggil Xinxi ketika dekat.


Ertu dan para biksu menatap ke arah sumber suara. Tapi demi kenyamanan mata Xinxi, 2 prajurit istana berlutut menutupi tubuh Xinping dari pandangan Xinxi.


“KAU?!” Ketus Ertu.


Ertu menatap puteri pertamanya itu dengan penuh kemarahan. Ia berdiri dan langsung berlari ke arah puterinya seperti hendak mencekiknya. “Dasar hantu jahat!!! Pembunuh berdarah dingin!!!” Teriak Ertu.


Para biksu yang melihatnya segera menghadang Ertu.


“Tuan Jiao anda harus tenang!” Kata biksu muda yang menahan Ertu. “Tuan Jiao! Dia ini puterimu bagaiama bisa kau ingin mencekiknya!”


“Lepaskan aku!! Wanita ini bukan puteriku!! Dia adalah hantu jahat yang telah mencelakai ibu, isteri, dan anak – anakku!!!” teriak Ertu “Biksu Mo! Anda sudah melihat kejahatanya!! Lepaskan aku dan musnahkan dia sesuai janjimu!”


Biksu Mo, seorang biksu tua yang berdiri di dekat Ertu hanya bisa menatap Ertu dengan penuh prihatin. Ia menatap ke arah Xinxi yang kelihatan shok, tapi berusaha untuk tetap tenang.


“Tuan Jiao, apa maksudmu berkata begitu? Puterimu ini adalah manusia.” Katanya.


Ertu yang sudah buta oleh kemarahanya menolak perkataan sang biksu. “Tidak! dia itu bukan manusia!! dia itu hantu jahat!!!” Teriaknya “Karena aku yang sudah membunuhnya maka dia bangkit menjadi roh pendendam dan membunuh seluruh anggota keluargaku!”


Pengakuan dari Ertu tersebut mengejutkan semua orang yang ada di sana. Tapi Xinxi kelihatan tenang, begitupula dengan 2 pelayanya.


Ertu yang diliputi oleh kemarahan dan kesedihanya berlutut di tanah. “Aku yang membunuhnya, aku adalah pembunuhnya. Anak hasil perselingkuhan isteriku ini, tidak pantas berada dalam keluarga Jiao apalagi menjadi puteri mahkota. Aku sangat membencinya, wajahnya seperti ibunya, wajah penghianat!!!”


Ertu tiba – tiba kembali menerjang Xinxi. Ia langsung mencekik leher Xinxi dengan kuat. “AKAN KU BUNUH KAU!!” teriaknya.


“Hwa!!! Tuan Jiao berhentilah!!” pekik para biksu muda yang berusaha melerainya.


“Ohok!! Ohok!!” Xinxi tercekik dan 2 pelayanya berusaha melepaskan cekikkan Ertu dengan memukul kepala Ertu.


“Tuan Jiao!!” teriak para biksu.


“Lepaskan nona kami dasar bangsawan jahat!!” teriak salah satu pelayanya.


Hingga kemudian Liyan datang dan memanah betis Ertu dengan busur panah.


“Argh!!” teriak Ertu. Ia melepaskan cengkraman leher Xinxi dan jatuh ke tanah.

__ADS_1


Para prajurit yang Liyan bawa segera menghampiri Ertu dan mengikat kedua tanganya. “Jangan bergerak, berani – beraninya kamu mencelakai calon puteri Mahkota!” ujar pimpinan dari prajurit yang Liyan bawa.


“Yang mulia putera mahkota?” Ujar biksu Mo. Ia menunduk hormat bersama biksu dan 2 prajurit yang masih menutupi tubuh Xinping dari pandangan Xinxi.


Ertu yang medengar bahwa ada putera mahkota di dekatnya langsung membelalak kaget.


“Berdirilah, kali ini aku datang bukan sebagai putera mahkota tapi sebagai penyidik.” Jawab Liyan. Ia menatap Ertu dengan geram “Perdana menteri Jiao, aku sungguh kecewa padamu. Bagaimana bisa kamu berusaha membunuh puterimu sendiri yang merupakan calon puteri mahkota?”


“Tuanku, hamba tidak bermaksud demikian. Hamba diliputi oleh kemarahan dan …” ujar Ertu.


Tapi kemudian Liyan memotong “dan APA?” katanya “masalah mengenai selir Zhao belum selesai, anda juga menambah masalah dengan melanggar peraturan kerajaan yaitu berusaha membunuh puterimu sendiri, tidak hanya itu anda juga berkata seolah ini bukan pertama kalinya bagi anda mencoba untuk melakukan pembunuhan terhadap puterimu sendiri.”


Ertu diam dengan gugup


“Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padamu dan keluargamu, tapi melihat tindakanmu sekarang aku merasa bahwa kamu menyembunyikan sesuatu dari kami.” Kata Liyan. “Bawa mereka semua kembali ke Chang’an kita akan melaporkanya ke kaisar dan menunggu keputusan darinya.”


“Baik yang mulia.” Jawab para prajurit.


Ertu pun diangkat “tunggu yang mulia, tidak ada yang ku sembunyikan dari anda!” katanya.


Disisi lain, para biksu wanita membantu Xinxi berdiri. “Nona Xi, anda baik – baik saja?” tanya salah satu bikhuni.


Xinxi mengangguk pelan dengan senyum kecilnya.


Tidak lama kemudian 2 orang prajurit menghampiri Liyan dan berbisik. “Tuanku, kami menemukan Selir Jin dan Puteri Xinhua di tempat yang beberda dalam keadaan yang tidak baik. Hamba khawatir kalau mereka membutuhkan pertolongan tabib.”


Liyan menghela nafas sabar “atur mereka untuk diobati oleh tabib di kuil ini, yang penting sekarang adalah perdana menteri Jiao dan Xinxi yang harus kembali untuk menjalani persidangan pada 2 kasus berbeda di istana.” Jawabnya.


“Baik yang mulia.” Jawab 2 prajurit itu.


Mereka lalu pergi sedangkan prajurit lainya menutupi tubuh Xinping dengan kain putih.


2 Hari berlalu dengan lambat. Pada kasus pertama yang Ertu jalani, ia dinyatakan tidak bersalah dan tidak memiliki sangkut pautnya terhadap bubuk mesiu yang selir Zhao simpan di kamarnya. Sehingga ia dibebaskan dari tuduhan tersebut.


Namun pada kasus kedua yaitu percobaan pembunuhan terhadap puterinya, ia di nyatakan bersalah. Terutama ketika Xinxi akhirnya mau mengemukakakn perlakuan keluarganya terhadap dirinya sejak kecil.


Kaisar tua yang marah, langsung menggebrak pegangan kursi rajanya dengan kuat. Sorot matanya begitu tajam penuh kemarahan.


“KURANG AJAR!!” ketusnya.


“Tega sekali! kamu langsung percaya pada rumor itu tanpa mencari tahu asal muasalnya?! Bahkan kau sudah 2 kali melakukan pencobaan pembunuhan terhadap puterimu.” teriak kaisar. “Luluo adalah sepupu jauh dari ibuku dan dia sudah seperti adik perempuanku! Aku membiarkanya menikah denganmu karena aku melihat ketulusanya padamu dan aku juga percaya kamu bisa menjaganya dengan baik!”


“Tapi ini balasanmu padaku dan Luluo?! Kau membuat 5 tahun kehidupanya di rumahmu seperti neraka, bahkan kepada puterinya sendiri hanya karena rumor yang berkata dia berselingkuh dengan seorang pelajar?!”


Seorang tabib menghormat di sisi kiri kaisar dan berbisik “ampun yang mulia, mohon anda menjaga emosi agar tekanan darah dan detak jantung anda stabil.” Bisiknya.


Kaisar mencoba untuk menenangkan diri sambil memalingkan wajah. Ia lalu menggosok keningnya penuh kekecewaan yang mendalam.


“Bodohnya aku yang tidak pernah memahami kode yang berusaha Luluo dan Xinxi berikan padaku. Aku sungguh percaya pada ucapanmu bahwa mereka bahagia di kediaman Jiao, tapi nyatanya tidak.” katanya “Bagiku, keluargamu pantas mendapatkan hukuman seperti ini!”


Ertu hanya bisa diam karena ia tidak bisa membela dirinya lagi.


“Atas perbuatanmu ini, aku akan menjatuhimu hukuman mati secara tertutup!” Ujar kaisar “Ini ku lakukan untuk menjaga nama baik puterimu sendiri, bukan untukmu camkan itu!”


Xinxi membelalak kaget dan ia langsung berlutut di hadapan kaisar. “Yang mulia mohon di ringankan!” katanya.


Kaisar hampir ingin membentak Xinxi karena ia tidak mau meringankan hukuman Ertu, apalagi setelah ia dengar cerita aslinya seperti apa.


“Ayahku mungkin salah karena mempercayai rumor tersebut, tapi bagaimanapun ia adalah perdana menteri dari negeri Tang. Ia telah banyak berjasa atas negeri ini dan telah mempersatukan perdagangan dengan negeri seberang.” Katanya. “Mohon yang mulia, tolong ringankan hukuman ayahku.”


“Maaf menyela yang mulia. Perbuatan perdana menteri sebetulnya tidaklah pantas menerima keringanan hukuman. Ia telah menyiksa puteri Luluo secara mental dengan cacian serta pengabaian, ia telah mempercayai rumor tanpa mencari tahu kebenaranya, ia telah mengabaikan puterinya, dan ia telah melakukan percobaan pembunuhan terhadap puterinya sendiri.” kata penasihat hukum kaisar.


“Maaf menyela yang mulia, hamba sependapat dengan penasihat Lu. Perbuatan perdana menteri telah mencoreng nama baik para bangsawan dan pejabat istana. Jika yang mulia meringankan huuman perdana menteri, rakyat akan berfikir bahwa ini tidak adil untuk puteri Xi yang sejak kecil telah menerima perlakuan tidak baik dari keluarganya sendiri.” Balas penasihat lain


“Yang mulia, hamba merasa bahwa perbuatan perdana menteri sesungguhnya tidak bisa diampuni. Tapi keringanan hukuman mengingat atas jasanya terhadap negara patut di perhitungkan. Hamba menyarankan beliau menerima hukuman penjara seumur hidup, atau sekiranya yang mulia merasa hukuman tersebut masih tidak pantas atas perbuatanya. Hamba menyarankan paling tidak hukuman mati dapat ditunda hingga satu tahun kedepan agar ia dapat bercermin.” Ujar penasihat lainnya.


Ucapan sang penasihat yang terakhir membuat Xinxi terpikir oleh sebuah ide. “Yang mulia, maaf menyela lagi. Tolong ringankan hukuman ayahku, jadikan saja ini sebagai hadiah pernikahanku. Hamba tidak punya permintaan lain.”  Katanya.


Liyan yang juga hadir menatap Xinxi penuh perasaan heran. ‘Kenapa malah dia bela lagi?’


“Xi, aku menghukumnya untukmu. Kenapa malah kamu bela dia?” jawab kaisar.


Xinxi diam sejenak dan ia ingat pengabaian yang ayahnya lakukan padanya. Ketika Xinxi berebut mainan dengan Xinhua, ketika selir Jin ingin memukulnya, dan ketika nenek Jiao memotong uang bulananya. Ertu selalu berkata kepada mereka ‘Biarkan saja dia, tidak perlu menganggunya lagi.’

__ADS_1


Hingga di malam tersebut, ketika nenek Jiao menghina ibunya dan Xinxi berusaha membela ibunya. Ertu tidak berkata apa – apa, terlihat dari wajahnya kalau ia merasa marah dan kecewa tapi Xinxi juga bisa merasakan timbul keraguan dalam dirinya.


“Ayah telah mengabaikanku, menghancurkan hatiku, dan menindasku. Tapi aku sadar bahwa perlakuanya lebih baik dibanding perlakuan anggota keluarga Jiao yang lain.” Kata Xinxi “Aku lebih merasa bahwa sebenarnya ayah ragu untuk mempercayai rumor tersebut atau tidak.”


Ertu memandang Xinxi dengan perasaan kaget.


“Satu sisi ia percaya tapi di sisi lain, ia menolaknya. Timbul pergolakan dalam hatinya, sehingga ia lebih sering mengabaikanku dan melerai jika memang sudah keterlaluan.” Lanjut Xinxi “Jika tidak, mungkin setelah aku lahir pasti ia sudah membunuhku. Untuk itu yang mulia, mohon ringankan hukuman ayahku.”


Mendengar jawaban Xinxi, kaisar merasa terharu. Ia akhirnya menghela nafas dan melambaikan tangan. “Baiklah, akan ku ringankan hukumanya.” Katanya “Jiao Ertu akan mendapat hukuman penjara seumur hidup. Ia dapat keluar dari penjara ketika pernikahan Xinxi dan puteraku Liyan berlangsung.” Jawabnya.


5 Bulan berlalu dengan cepat.


Kota Chang’an masih tampak ramai padahal hari sudah mulai gelap. Di sebuah restoran VIP mewah, tabib istana yang melayani kaisar tampak begitu menikmati secangkir tehnya.


Tidak lama kemudian para pelayan masuk ke ruang VIP tersebut dan membawakan makanan. Lalu kemudian di susul oleh 2 figur yang sangat familiar bagi sang tabib.


“Terkena masalah di jalan?” tanya sang tabib dengan senyum.


Xinxi tersenyum lebut “Liyan tidak sengaja menginjak kotoran kucing diluar kediaman, dia harus kembali ke rumah dulu untuk mengganti sepatu.” Jawabnya.


Liyan yang merasa malu langsung menggerutu. “Tidak perlu kau ceritakan Xi.” Katanya.


Tabib itu tertawa dan mempersilahkan mereka berdua untuk duduk. “5 Bulan sudah berlalu ya? Aku gak nyangka rencana ini berhasil dan tidak ada orang lain yang tahu daripada kita.” Ujar sang tabib. “Keberhasilan rencana kita seolah juga ikut di bantu oleh ibumu.”


Xinxi tersenyum kecil tapi pilu.


“aku membalaskan dendamku pada mereka, tapi tidak ada kelegaan dalam hatiku.” Kata Xinxi “inikah yang anda maksud paman Tian?”


Sang tabib menaruh cangkir tehnya di atas meja.


“aku sudah memperingatimu nak, tapi kamu gak mau dengar. Setidaknya kebenaran akan dirimu telah tersampaikan dan membuat ayahmu malu karena pernah mempercayai rumor itu.” Jawabnya.


Liyan menghela nafas “sudahlah Xi, yang berlalu biarlah berlalu. Guru benar, setidaknya semua orang sekarang tahu kalau rumor tentang perselingkuhan ibumu dengan paman Tian hanyalah karangan dari selir Jin yang cemburu.” Katanya.


“Terimakasih Liyan, paman.” Jawab Xinxi.


Liyan mengangguk dan lalu paman Tian memberikan Xinxi sebuah kotak perhiasan. Xinxi bingung dan menerimanya.


“Sehari sebelum ibumu meninggal, ia meminta pelayan setianya mengirimku uang dan perhiasan. Ia tahu aku masih kesulitan membeli buku pengobatan untuk ujianku waktu itu. Tapi yang ia berikan terlalu banyak sehingga sisanya ku simpan agar bisa ku kembalikan kepadanya.” Katanya “karena dia sudah tiada sekarang, aku ingin mengembalikan ini untukmu.”


“Paman, aku kenal ibuku, kalau dia memberi sesuatu kepada orang lain dia tidak mau menerima kembalianya.” Jawab Xinxi. “Justru aku merasa berhutang karena paman mau mengobati lukaku malam itu. Paman juga memberikanku obat halusinasi itu sehingga anggota keluarga lain berfikir kalau aku benar – benar sudah mati dan menjadi hantu.”


Xinxi lalu memukul pundak Liyan. “Tidak hanya itu, paman juga berhasil membujuk Liyan untuk tutup mulut setelah dia tahu aku menyuruh para pelayan dan prajurit di rumah untuk menaruh obat ini pada makanan dan minuman keluargaku.”


Liyan membalas dengan cepat “Guru hanya menjelaskan padaku kronologinya, sisanya memang inisiatifku untuk membantumu. Aku sangat tidak menyangka kalau selama ini kamu diperlakukan seperti itu oleh perdana menteri Jiao.” Katanya “bahkan demi membuat mereka percaya kamu hidup kembali menjadi hantu, kamu rela menahan sakit kepala karena kehilangan banyak darah.”


“Tapi yang membuatku lebih kaget adalah karena pelayan dan prajuritmu ternyata menaruh dendam kepada tuan mereka sendiri, sampai mereka rela mempertaruhkan nyawa untuk membuat mereka gila oleh Hantu.”


Paman Tian mendengus “rata – rata kebencian mereka berasal dari selir Zhao. Pekerjaan ayahnya dan dia sungguh mengerikan dan membuat anggota keluarga yang menjadi korban selir Zhao merasa dendam.” Katanya “tapi memang kebetulan sekali kita mengungkapkan penyeludupan bubuk mesiu yang ada di kamar selir Zhao.”


“Nyatanya penyeludupan bubuk itu tidak bisa di lanjutkan karena kurang bukti, sampai akhirnya ayah memutuskan untuk menutup kasus tersebut.”


“Ya … mungkin kalau Xinping tidak sengaja menginjak perangkap buatanmu di hutan bambu, kamu bisa menemukan bukti lain penyeludupan bubuk mesiu.” Kata paman Tian dengan nada jahil.


“Ugh .. tolong jangan ingatkan soal itu guru, aku berniat mengincar selir Jin awalnya tapi malah dia yang kena.” sahut Liyan “niat ingin melindungi Xinxi, aku malah membuat kasus penting di tutup.”


Xinxi terkekeh mendengar gerutuan Liyan.


“Tapi soal Selir Jin …” tanya paman Tian.


“Aku menyuruuh para pelayan untuk merawatnya dan Xinhua di kediamanku.” Jawabnya “aku tidak punya energi untuk melakukan sesuatu pada mereka sehingga aku hanya membiarkan mereka disana dan menyuruh pelayan untuk merawat mereka.”


“Itu lebih baik, bagaimanapun selir Jin sedang menampung karmanya. Lumpuh seumur hidup.”


Pesan Moral dari cerita :


1.      Jangan mudah mempercayai Gosip, karena terkadang ada orang yang sengaja menyebarkan gosip demi menyebarkan kebencian mereka ke orang lain


2.      Kesalah pahaman dapat mencelakai dirimu sendiri dan bahkan orang lain yang tidak terlibat


3.      Berlakulah baik kepada semua orang, tidak peduli otoritasmu lebih tinggi dari mereka atau tidak tetaplah berlaku baik


4.      Terkadang kebaikan kita tidak dianggap oleh orang lain, jadi ketika menolong seikhlasnya saja dan jangan berharap akan di balas

__ADS_1


5.      Punya isteri 1 saja, gak usah banyak – banyak. Sekali berantem satu keluarga hancur


__ADS_2