Ketika Orang Mati Hidup Kembali

Ketika Orang Mati Hidup Kembali
Karma Wanita Jahat


__ADS_3

Ertu berjalan keluar dari kamar Serli Zhao. Keempat orang anggota keluarga Jiao itu hening sesaat. Sampai akhirnya Xinping berucap.


“Tapi ini agak aneh, kenapa hanya kalian saja yang melihat dan diganggu? Kenapa aku dan ayah tidak?” tanyanya.


“A-aku gak tahu, aku juga gak mau tahu!” Sahut Xinhua menutup kedua telinganya.


Selir Jin terdiam berfikir sedangkan selir Zhao membalas. “Apapun alasanya, aku ingin anak itu pergi darisini.”


Malam semakin larut, Selir Jin dan Xinhua sudah lama meninggalkan kamar selir Zhao. Malam itu Xinping memutuskan untuk tidur di kamar ibunya. Sesuai dengan perintah ayahnya untuk tidak meninggalkan siapapun diantara mereka sendirian.


Malam itu selir Zhao telah tertidur di tempat tidurnya sedangkan Xinping duduk di kursi malas sambil memainkan pisau. Ia lalu mengambil gelas air berisi jus persik di atas meja dan meminumnya sampai habis.


“Uhgh, aku jadi gak bisa tidur gini sih” gerutunya dengan suara kecil. Ia menatap ke arah ibunya yang tertidur tanpa selimut. ‘Ibu sangat tidak percaya terhadap hantu dan sejenisnya, tapi sekarang aku melihatnya begitu ketakutan oleh mereka bilang hantu Xinxi.’ Gumamnya dalam hati.


Xinping lalu berdiri dan memutuskan untuk keluar dari kamar ibunya sebentar. Tapi ia tidak pergi jauh, hanya duduk di depan pintu sambil menatap langit yang mendung.


Tidak lama kemudian ekor matanya menangkap pergerakan mencurigkan di ujung lapangan latihan. Ia pun menatap ke arah tersebut dan melihat ada seorang prajurit yang berdiri membelakangi nya di balik semak – semak samping pohon.


‘Prajurit? Sedang ada malam – malam di halaman kamar ibu?’ gerutunya dalam hati.


Merasa curiga, Xinping berdiri dan mendekat. Ia ingin menegur prajurit itu yang ia sangka mungkin adalah suruhan dari Xinxi untuk menakut – nakuti ibunya. Ketika ia dekat dengan prajurit yang kurus itu, ia menegur.


“Heh prajurit, apa yang kau lakukan di lapangan latihan?” tegur Xinping.


Prajurit itu tidak menjawab apapun dan masih membelakangi Xinping. Kesal, Xinping langsung menarik pundaknya dan memarahinya. “HEH, aku bertanya padamu!”


Tapi ketika kepala prajurit itu mendonggak, tampak jelas ada bekas gorokan besar di lehernya yang hampir putus. Xinping yang melihatnya membelalak kaget dan langsung mendorongnya.


“HWAA!!!” Teriaknya.


Prajurit yang kepalanya hampir putus itu terjatuh. Kepalanya mengarah ke Xinping sambil membuka mulutnya berusaha mengatakan sesuatu.


“Agg … ghh … gaa…” Gumam prajurit itu.


Xinping mundur kebelakang dengan cepat, tapi ia di cegat oleh banyak sekali manusia berwujud seram.


“AMPUNI … AMPUNI…” kata mereka.


“Hantu!!” Teriak Xinping.


Ia berlari melewati para hantu yang seolah bangkit dari tanah kubur. Dengan cepat ia kembali ke kamar ibunya dan menutup pintu kamarnya rapat – rapat. Suara bantingan pintu langsung mengejutkan Selir Zhao yang tertidur.


“Xinping?” panggil Selir Zhao.


Xinping bergegas memeluk ibunya ketakutan. “Hantu bu, ada hantu di lapangan latihan!” katanya.


Selir Zhao membelalak kaget. “Mereka? me-mereka? k-kau juga melihatnya?” tanyanya.


Xinping mengangguk ketakutan “bu, me-mereka memakai pakaian prajurit, tahanan, pakaian mewah, dan pelayan. Apa jangan – jangan mereka … mereka adalah terkadwa yang ibu bunuh dan kakek bunuh?” tanyanya.


Selir Zhao tertegun. Matanya melirik kiri dan kanan penuh perasaan takut tapi juga yakin. “Mereka … kalau memang begitu mereka beneran hantu?!” ujarnya.


Tepat ketika selir Zhao berkata demikian, pintu kamarnya di gedor – gedor. BRUK! BRUK! BRUK! Xinping dan ibunya terkesiap kaget. Tapi kemudian suara gedoran pintu kembali terdengar dan mulai tidak beraturan.


BRUK! BRUK! BRUK! BRUK! BRUK!


“Mereka berusaha masuk bu!!” teriak Xinping.


Selir Zhao berdiri dan mengambil tombak dari rak senjata. Ia lalu menjadikanya sebagai penahan pintu. “Ambil yang lainya!” ujar selir Zhao.

__ADS_1


Xinping mengambil tombak dan pedang lain dan memberikanya ke ibunya. Benda – bedna itu dijadikan penahan pintu tambahan agar lebih kuat. Dari luar terdengarlah suara.


“AMPUNI … AMPUNI…” kata mereka


Selir Zhao menutup keua telinganya penuh ketakutan. ‘Itu beneran mereka, mereka yang ku bunuh. T-tapi mereka kan memang berdosa! Mereka bersalah! Mereka korupsi, mereka gagal menjalankan tugas, mereka berkhianat!’


“AKU GAK SALAH APAPUN! KALIANLAH YANG SALAH!! PERGI KALIAN!” Teriak selir Zhao.


Tapi suara gedoran pintu malah semakin kuat setelah ia berkata demikian. Itu membuat selir Zhao dan Xinping semakin takut. “Ibu, kita harus apa sekarang??” tanya Xinping ketakutan.


Selir Zhao terus menutup kedua telinganya dan berjongkok. “Aku gak salah apapun! aku gak salah apapun!” gumamnya.


Xinping menggoyangkan pundak selir Zhao. “Bu!” panggilnya.


BRUK! BRUK! BRUK!


“Selir Zhao!” panggil seseorang dari luar.


BRUK! BRUK! BRUK!


“Selir Zhao!” Panggil orang yang ada di luar lagi.


Xinping adalah yang pertama kali mendengarnya. “Su-suara orang?” katanya.


Selir Zhao masih berjongkok sambil menutup kedua telinganya. “Tipuan! Itu pasti tipuan! Jangan buka pintunya!” kata selir Zhao.


“T-tapi itu suara orang bu.” Sahut Xinping.


“Sudahku bilang jangan di bukakan!” Kata selir Zhao.


Xinping tidak mau mendengarkan perkataan ibunya, ia menyingkrikan tombak yang menghalangi pintu dan membukanya. Tapi benar tebakan Xinping, yang diluar sudah bukan hantu lagi tapi 3 orang prajurit yang bertugas ronda malam di dalam kediaman Jiao.


Selir Zhao terpaku di tempat setelah ia tahu bahwa itu adalah prajurit. Badan-nya penuh dengan keringat dingin dan matanya penuh oleh air mata.


“T-tadi ada prajurit di lapangan latihan, dia… dia berniat melakukan sesuatu.” Kata Xinping.


3 Orang prajurit itu merasa bingung “kami akan memeriksanya. Tapi anda baik – baik saja kan tuan muda?” jawabnya.


Xinping mengangguk pelan. Ketiga prajurit itu lalu menghormat “kalau begitu kami akan pergi memeriksanya dan lalu melanjutkan tugas.” Katanya.


Xinping mengangguk pelan lagi dan ketiga prajurit itu berjalan pergi. Ia terus memandang mereka dari jauh untuk memastikan apakah mereka benar – benar akan memeriksa lapangan atau tidak. Setelah ia melihat ketiga prajurit itu memeriksa lapangan, Xinping pun menutup pintu.


“Bu, kau baik – baik saja kan—“ tanyanya sambil membalikkan badan.


Ia terpaku di tempat ketika melihat ibunya sudah mati tertusuk 5 buah tombak. Didekatnya ada sosok wanita mengerikan yang akhir – akhir ini meneror keluarga Jiao.


“IBU?!” panggil Xinping.


Wanita mengerikan itu mengangkat tombak di tanganya sambil senyum. “AMPUNI?”


Xinping yang ketakutan langsung mendobrak pintu. Tapi pintu kamar ibunya seolah di kunci dari luar. “AAAA!!! TOLONG!!! TOLONG!!!” teriak Xinping.


Ia berusaha mendobrak pintu itu sekuat tenaganya sampai tembok bergetar. Akibatnya lampu lilin yang ada di dekat lemari pun terjatuh dan membakar karpet yang ada di lantai. Xinping masih belum sadar akan hal itu dan ia terus berusaha mendobrak pintu.


“BUKA!!! TOLONG AKU!” teriaknya lebih kencang.


Di dobrakan terakhir, akhirnya pintu tersebut terbuka. Xinping jatuh terjongkal ke tanah, tapi ia langsung bangkit dan berlari sambil berteriak.


“PRAJURIT!!! SIAPAPUN!! TOLONGG!!! ADA HANTU!!! IBUKU TERBUNUH!!!!” Teriaknya.

__ADS_1


Namun api dari lilin yang jatuh sangat cepat menjalar ke seluruh ruangan. Hingga api menjalar ke sebuah lemari kayu tempat dimana selir Zhao menyembunyikan bubuk mesiu.


DHUAAR!!!


Kamar selir Zhao meledak, Xinping yang masih ada di dekatnya terpental hingga menabrak pohon dan tidak sadarkan diri. Baru ketika ledakan itu terjadi para prajurit sampai dan berteriak.


“Ada api!!!” teriak para prajurit “Beri kabar kepada tuan perdana menteri!!”


Malam berganti pagi, dan kertas - kertas uang orang mati di terbarkan lebih banyak dari hari kemarin. Peti mati yang ada di dalam ruang utama juga telah bertambah menjadi satu lagi, tapi peti mati kedua ini terpaksa di tutup lebih awal.


Biksu penggiring doa memimpin upacara doa dengan hikmat. Selir Jin tidak ikut hadir di dalamnya karena ia jatuh sakit, begitupula dengan Xinping yang harus di rawat akibat luka bakar dan luka benturan di kepalanya. Sehingga yang hadir dalam upacara doa hanya Ertu, Xinhua, dan Xinxi.


Diluar kediaman Jiao datanglah Liyan untuk membawa surat pernyataan resmi dari kaisar. Ia juga membawa beberapa prajurit bersamanya. Di sepanjang jalan, ia bisa mendengar suara orang – orang yang bergosip.


“Sungguh malang nasib keluarga Jiao. Baru saja kemarin malam mereka kehilanan anggota keluarga mereka dan sekarang mereka kehilangan anggota keluarga lainya lagi.” Kata seorang wanita.


“Aku yakin ini pasti ada hubunganya dengan pekerjaan selir Zhao dan ayahnya. Mereka adalah penguji senjata tajam dan menggunakan manusia hidup sebagai objek tes ketajaman senjatanya.” Balas temanya.


“Bagaimana bisa tuan perdana menteri menikahi wanita yang pada masa mudanya bekerja sebagai pembunuh/  Sekalipun targetnya adalah tahanan pendosa, tetap saja itukan karma.”


Liyan tidak mempedulikan omongan tersebut. Karena pastinya ada satu hal yang ia pedulikan.


“Sudah dengar? Semalam kamar selir Zhao meledak!” ujar salah satu pelayat pria. “Lalu setelah di cek, ternyata ada bubuk mesiu di dalam kamar selir Zhao!”


“Bubuk mesiu?! Itu kan bubuk terlarang, bahkan kaisar saja menarik peredaran bubuk peledak itu karena takut di curi oleh para pemberontak.” Jawab temanya. “Bagaimana bisa Selir Zhao mendapatkan bubuk mesiu tersebut?”


“Aku juga tidak tahu, tapi pastinya Jiao Ertu akan menerima masalah besar dari Kaisar.” Balas temanya.


Sampai di depan kediaman Jiao, Liyan turun dari kudanya dan segera masuk ke ruang utama. Satu – satunya orang yang langsung ia temui adalah Jiao Ertu sang kepala keluarga yang sedang berduka.


Tapi tampaknya penemuan tadi subuh sangat membuat kaisar dan Liyan marah besar. Jiao Ertu yang melihat Liyan datang dengan kemarahan, langsung bersujud di bawah kaki Liyan.


“Hamba memohon ampun yang mulia.” Ujar Ertu. “Hamba masih menunggu orang yang hamba perintahkan untuk menyelidiki kasus tersebut.”


Liyan menghela nafas sabar “Tidak perlu repot – repot. Dari sini prajurit dari jenderal pertahanan istana yang akan mengambil alih. Aku berharap ini tidak sesuai dengan dugaan ayahku tentangmu dan selirmu.” Katanya.


Xinxi diam dengan wajah sedih sedangkan Xinhua ketakutan bersama 2 pelayanya.


Liyan pun memberikan gulungan perintah itu kepada Ertu dan kembali menghela nafas berat. “Itu saja yang ingin ku sampaikan pada anda.” Katanya. Ia lalu memandang Xinxi dan memberinya kode untuk keluar dari ruang utama.


Xinxi paham permintaan dari Liyan dan berjalan keluar diam – diam. Di samping ruang utama mereka bertemu dan Liyan tanpa pikir panjang langsung bertanya kepadanya.


“Xinxi, apa kau juga terlibat?” Katanya.


Xinxi membalas “apapun tuduhanmu aku tidak ingin membela diriku karena aku sudah terlalu lelah. Kau bisa mempercayaiku atau tidak, itu terserah padamu.”


Liyan lansung menatap Xinxi dan diam selama beberapa saat. “Aku turut berduka atas apa yang terjadi.” Katanya. “Aku pamit.” Ia pun berjalan pergi dan meninggalkan Xinxi yang diam.


“…”


Malam menjelang, anggota keluar Jiao yang tersisa berkumpul di kamar Selir Jin. Selir Jin tidak bisa berhenti menangis karena ketakutan. Xinping diam membatu dengan kepala yang di perban dan ada sedikit luka bakar di lehernya. Xinhua malam itu tidak datang karena pingsan dan Ertu diam di tempatnya dengan perasaan kacau.


Tidak lama kemudian, pelayan rumah kediaman Jiao mengetuk pintu kamar. “Tuan, ini hamba.” Katanya.


“Masuklah.” Jawab Ertu.


Pelayan pria itu masuk sambil membawa surat. Ia lalu memberikanya ke Ertu dan langsung ia baca.


“Aku telah menerima pesanmu dan aku akan membantumu. Karena kondisinya adalah dia mengikuti kalian, maka bawalah dia ke kuilku dan kita akan melakukan upacara pemusnahan roh jahat. Bagaimanapun dia sebagai roh telah membunuh seseorang yang masih hidup dan sebagai hukumanya rohnya harus di musnahkan.”

__ADS_1


Ertu menyuruh sang pelayan pria untuk pergi, dan setelah ia pergi Ertu berucap. “Bertahanlah selama 3 hari lagi, kita akan pergi ke kuil Utara untuk melakukan upacara pemusnahan roh jahat.” Katanya.


__ADS_2