
“Selama itu?! Kita disini satu per satu di bunuh tuanku!” Ujar selir Jin.
Ertu menyalak “lantas kau pikir aku tidak khawatir? aku juga mempertimbangkan masalah demi masalah yang datang!”
Xinping membalas “tadi prajurit istana datang ke kamarku untuk melakukan penggeledahan.”
“Itu juga salah satu yang kupikirkan. Bisa – bisanya ibumu mencuri bubuk mesiu dari istana.” Kata Ertu.
Xinping menatap ayahnya “ibuku tidak mungkin melakukan itu!” katanya.
“Apapun yang kau katakan, nyatanya bubuk mesiu itu ada di dalam kamar ibumu.” Balas Ertu.
Xinping langsung diam karena dia tidak bisa menyangkal hal itu. Tapi tetap saja ia yakin dengan sangat bahwa ibunya tidak mungkin berani mencuri bubuk mesiu dari istana.
“Kita sendiri tahu seperti apa sifat Zhao. Dia pemberani dan juga sangat nekat, jadi ada kemungkinan besar memang Zhao yang melakukanya tanpa sepengetahuan kita semua.” Lanjut Ertu.
“Kita harus apa sekarang? seolah kita di serang dari dua sisi sekarang.” tanya selir Jin sambil menangis.
“Jangan membuat masalah kepada Xinxi dan pastikan kalian tidak tidur sendiri di kamar sampai di hari dimana kita akan ke kuil utara.” Jawab Ertu penuh keyakinan.
4 hari berlalu dengan lambat. Anggota keluarga yang tersisa yaitu Ertu, selir Jin, Xinhua, dan Xinping entah bagaimana mampu bertahan hidup hingga di hari dimana mereka akan berangkat ke Kuil Utara.
Pada pagi hari yang cerah itu, mereka semua telah berangkat ke Kuil menggunakan kereta kuda. Xinxi berada dalam kereta kuda bersama 2 pelayanya, selir Jin dan Xinhua satu kereta kuda dengan Xinping. Sedangkan Ertu satu kereta kuda dengan dua orang prajurit istana.
“Tidak disangka, kaisar menaruh kecurigaan kepada kita sampai – sampai kita yang ingin ke kuil saja harus di kawal oleh prajurit istana.” Kata Xinhua.
“Itu lebih baik, aku merasa sedikit aman dengan keberadaan mereka.” Sahut Xinping.
“Tapi tetap saja, walaupun kita tidak tahu soal bubuk mesiu itu kita masih punya masalah besar yaitu Hantunya Xinxi.” Balas selir Jin. “Dia tidak mati terbakar di upacara doa saat pemakaman, jika dia juga tidak terbakar saat masuk dalam tempat suci maka …”
Xinhua ketakutan “kita semua akan mati dibunuh olehnya.” Tambahnya.
Xinping mencondongkan kepalanya kedepan dan berbisik. “Kita tidak akan mati. Sebelum ibu meninggal dia menyuruhku untuk meminjam pisau pembunuh roh jahat dari pendeta Tao.” Katanya.
Mata Selir Jin membelalak “Benarkah? Apa kau bawa pisau itu bersamamu?” tanyanya antusias.
Xinping mengeluarkan sebuah pisau yang terbuat dari kayu mahogany merah. Di gagangnya terdapat ukiran lambang Yin dan Yang. “Aku khawatir kalau rencana ayah tidak akan berhasil makanya aku pikir ini adalah waktu yang tepat untuk menggunakanya.”
Xinhua meragu “tapi bagaimana kalau ini juga tidak berhasil?” tanyanya.
“Ini pasti berhasil, asalkan kita memiliki momentu yang tepat untuk membunuhnya diam – diam. kita pasti bisa menyingkirkan kutukan kematianya.”
Selir Jin mengangguk dengan yakin “Ping aku percaya padamu, aku akan membantumu sebisaku. Kita harus mengakhiri ini segera.”
Langit telah gelap ketika mereka sampai di sebuah kuil besar yang di huni oleh ratusan biksu berbagai usia. Karena sudah keburu gelap, anggota keluarga Jiao di tuntun oleh para biksu penyambut tamu untuk ke tempat mereka akan istirahat.
“Kuil ini adalah kuil yang indah.” Kata Xinxi.
Ia tersenyum menatap pagoda tertinggi dari kuil itu. Ia bisa merasakan angin semilir lembut menerpa rambutnya seolah sedang menyambutnya datang.
“Ibuku di makamkan di taman makam ini sebagai bentuk penghormatan karena ia dan kakekku membiayai pembangunan kuil ini.” Lanjut Xinxi. “Rasanya seperti ibu hidup tenang disini dan sekarang sedang menyambutku kembali.”
Kedua pelayanya tersenyum lembut menatap Xinxi “kami akan terus melayani anda nona, sampai matipun akan tetap melayani anda.” Kata mereka.
Xinxi tersenyum ke arah mereka “terimakasih.” Jawabnya.
Selir Jin dan Xinhua yang mendengarnya langsung merasa merinding. Mereka pun kabur untuk mengikuti Ertu yang di kawal oleh 2 prajurit istana.
“Tuanku.” Panggil selir Jin.
Ertu menatap mereka berdua yaitu selir Jin dan Xinhua. “Aku akan berbicara dengan biksu kepala sendiri, kalian bisa langsung istirahat di kamar kalian.” Katanya.
Ertu pun berjalan pergi ke ruang menyambut tamu di kuil. Tentu saja ia tetap di kawal oleh dua prajurit istana.
Di sisi lain, Xinping memberi kode kepada ibu dan anak itu untuk ikut denganya ke arah hutan. Mereka pun mengikuti Xinping ke arah hutan untuk membicarakan soal rencana mereka.
__ADS_1
Malam semakin larut, lebih tepatnya tengah malam. Sepenjuru kuil dan rumah – rumah yang dijadikan sebagai kamar tamu telah menjadi sunyi dan gelap. Hanya terdengar suara hewan dan serangga malam di alam liar.
Pada saat itulah Xinping mengendap – endap di samping pagar kamar milik Xinxi yang letaknya dekat dengan jalan menuju hutan bambu. Dibelakangnya ada selir Jin dan Xinhua yang mengikuti dengan perasaan takut.
“Kita sampai.” kata Xinping.
Xinhua dan selir Jin berhenti lalu menatap jendela kamar Xinxi yang sepertinya tidak terkunci dengan benar.
“Aku akan masuk sekarang, kalian berdua harus perhatikan sekitar. Kalau ada orang bersuaralah seperti kucing, kalau ada hantu bersuaralah seperti anjing.” Katanya.
Mereka berdua mengangguk dan lalu bersembunyi di balik semak – semak agak jauh dari kamar Xinxi. Xinping lalu mengendap – endap ke arah jendela kamar Xinxi yang tidak terkunci dengan benar. Dengan pelan ia membuka jendela tersebut dan mengitip ke dalam.
Ruangan tampak gelap dan sunyi sehingga Xinping masuk pelan – pelan agar tidak bersuara. Ia lalu mengendap - endap ke tempat tidur Xinxi.
‘Ini waktunya.’ Pikir Xinping. ‘aku gak peduli lagi dengan ucapan ayah yang terkesan lambat itu, hantu jahat ini membunuh ibuku dan aku akan membalasnya!’
Xinping lalu mengeluarkan pisau mahogany miliknya dan lalu menarik lepas selimut yang menutupi Xinxi. Tapi betapa kagetnya dia karena yang tidur di atas kasur bukanlah Xinxi, tapi sosok mayat membusuk yang tubuhnya biru dan bengkak.
“Hwaaa!!” teriak Xinping.
Serangga yang menggerogoti mayat itu tiba – tiba menjalar keluar dan mengerumuni Xinping.
“AAA!!! Pergi! Pergi!” teriak Xinping.
Ia berusaha menyingkirkan serangga – serangga tersebut yang memanjati badanya. “Gaah!! Tolong aku!!” teriaknya sambil berguling – guling di atas lantai.
Ia kemudian bangkit berdiri dan berlari mencari air untuk menyiram dirinya sendiri. Tapi kemudian ia mendengar suara kucing yang mengeong.
“Meoww …”
Xinping sadar bahwa itu adalah kode rahasia kalau ada orang yang datang ke arah kamar Xinxi. Karena panik, Xinping membuka jendela yang ada di depanya dan keluar dari sana.
Tapi tidak lama kemudian, seekor kucing hitam keluar dari bawah sela tempat tidur. Ia menatap ke arah jendela dan lalu melompat ke atas tempat tidur. Disana bayangan sosok wanita bangkit dari tempat tidur dan lalu duduk sambil mengelus kucing hitam itu.
Di sisi lain, Xinping yang masih di ganggu oleh serangga berlari melewati ratusan pohon bambu tinggi.
Angin berhembus cukup kencang ketika Xinping lewat dan menggoyangkan batang bambu dengan kuat seolah menolak kehadiran Xinping. Tapi anak muda itu masih terus berlari hingga kakinya tersandung oleh sebuah tali tipis.
Kemudian 5 buah anak panah melesat dan menusuk tubuh Xinping. Ia pun terbaring di tanah tanpa bisa melakukan apapun dan hal terakhir yang ia lihat sebelum meninggal adalah Hantu Xinxi yang tertawa sambil meloncat – loncat bersama 2 pelayan hantu yang penuh luka sayatan.
Disisi lain, sekitar 3 menit yang lalu.
Xinhua terus menggaruk lehernya karena nyamuk. Selir Jin menutupi kepalanya dengan selendang hitam agar terhindar dari serangga.
Hingga tidak lama kemudian, terdengar suara teriakan Xinping dari dalam kamar Xinxi.
“HWAAA!!!” teriak Xinping. Suara teriakanya mengejutkan Selir Jin dan Xinhua.
“Itu, suara Xinping kan?” tanya Xinhua ke ibunya.
Selir Jin kelihatan ragu, tapi kemudian Xinping kembali berteriak.
“AAA!!! Pergi! Pergi!” teriak Xinping lagi “gaah!! Tolong aku!!”
Mendengar suara teriakan Xinping untuk kedua dan ketiga kalinya, Xinhua langsung keluar dari persembunyianya. Ia hendak masuk lewat jendela yang sama yang Xinping gunakan untuk masuk. Selir Jin juga mengikuti di belakang.
Tapi ketika mereka ada di depan jendela tersebut, mereka melihat Xinping sudah kabur lewat jendela lain. Tidak hanya itu, mereka juga melihat sosok hantu wanita yang kulitnya telah membusuk sedang mengelus kucing hitam sambil menatap mereka berdua.
“AAA!!!” teriak Xinhua dan selir Jin.
Mereka langsung kabur setelah melihat sosok menyeramkan itu dan lari ke arah hutan bambu untuk menyusul Xinping.
“HANTU!!!” Teriak Xinhua yang berlari di paling depan.
“Xinhua tunggu!!!” Teriak Selir Jin yang tertinggal di belakang.
__ADS_1
Setelah belasa meter dari pintu masuk hutan bambu, tiba – tiba kabut tebal menyelimuti hutan tersebut. Xinhua yang berlari di depan ibunya seketika menghilang akibat pekatnya kabut. Selir Jin pun terpaku di tempat karena kehilangan arah.
“Xi-Xinhua?” Panggil Selir Jin.
Xinhua yang ketakutan berlari tanpa henti sambil menangis. Disela – sela suara gesekan batang bambu yang tertiup angin, ia bisa mendengar suara cekikikan datar dari seorang wanita di telinga.
“KIKIKIKIKIKIKI!!!!”
Xinhua semakin takut dan menutup kedua telinganya. “PERGI!!! PERGI KAU HANTU JAHAT!! JANGAN GANGGU AKU!” ketusnya ketakutan.
Tapi suara itu malah semakin besar terdengar di telinganya. Hingga akhirnya ia tersandung batu dan terjerembab di atas tanah.
“Ow!” ketus Xinhua.
Ia mendonggakkan kepala dan hal pertama yang dia lihat adalah Xinping yang melotot dengan darah yang mengalir dari mulutnya.
“AAAA!!!” Teriak Xinhua.
Ia berdiri sambil mundur kebelakang. Hal kedua yang ia lihat adalah Xinping yang tertusuk 5 anak panah di tubuhnya.
“Ping?” panggil Xinhua.
Xinping tidak merespon karena sejatinya ia sudah tewas. Xinhua sadar akan hal itu dan ia menangis dengan lebih kencang.
“AAAA!!! Ayah! Ibu!” teriaknya.
Ia menjambak rambutnya sendiri sambil menangis. ‘Aku akan mati ini, aku pasti akan mati seperti nenek, selir Zhao, Xinping.’ Gumamnya. ‘Aku akan mati, aku pasti akan mati huhu … aku akan mati… aku gak mau mati … aku takut.’
“XINHUA …” panggil Xinxi dengan suara lembut.
Xinhua menatap ke arah depan, tapi hantu Xinxi menatapnya sejauh 1 centi dari wajahnya
“BUNGA CANTIK... KECANTIKAN YANG MENCENGANGKAN …” lanjut hantu Xinxi.
“Kyaaaa!!!!” teriak Xinhua.
Xinhua lari ke arah kanan-nya yang merupakan sebuah jurang pendek. Dia tidak sadar akan hal itu sehingga ia terjatuh dengan cepat dan menyakitkan.
“Argh!!!” gerutu Xinhua.
Kulit badan, baju, dan wajahnya dipenuhi oleh luka gores akibat ranting serta luka lebam akibat batu. Ia juga tidak sengaja membuat kaki kirinya terkilir dan pada akhirnya jatuh di atas lumpur.
“Augh!! Ow! Ow!” gerutunya.
Ia telah mendapati dirinya penuh oleh kotoran yang kotor serta rasa perih yang sangat menyengat. Sambil menahan rasa sakit, ia pun bangkit dan berlari lagi.
Sekitar beberapa meter, ia pun dihadang oleh sebuah tembok. Xinhua mulai panik dan meraba tembok tersebut berusaha menemukan celah, tapi tidak ada. Tidak lama hantu Xinxi pun sampai di belakang Xinhua.
Xinhua sadar, ia sangat ketakutan sehingga ia berlutut di tanah menghadap Xinxi dan bersujud.
“Aku minta maaf, aku minta maaf, tolong maafkan aku.” Ujar Xinhua sambil menangis “tolong jangan ganggu aku lagi huhu.. aku meminta maaf atas apa yang ku lakukan padamu huhu ..”
Suara cekikikan kembali terdengar di telinga Xinhua dan membuatnya semakin takut dan menangis sambil meraung.
Ketika ia menangis dan meraung – raung, ia teringat oleh perlakuanya kepada Xinxi. Dimana ia sering berebut pakaian dan perhiasan dengan kakaknya itu. Ia bahkan sering mencuri, merusak, dan bahkan menjebak Xinxi serta mempermalukanya di depan teman – temanya.
“Kau ingin pakaianmu kembali? Ingin perhiasanmu lagi? Uangmu? A-akan kukembalikan! Aku akan menggantinya.” Kata Xinhua. Ia melepaskan bajunya dan semua perhiasan yang ia kenakkan. “Aku kembalikan semuanya, masih ada di rumah, kau ambil saja semuanya. Tolong jangan ganggu aku lagi huhu …” katanya.
Suara cekikikan dari hantu Xinxi tidaklah berhenti, dan itu semakin membuat Xinhua gila. “Kenapa kau gak pergi juga?! kenapa?? aku sudah minta maaf, aku mengembalikan semua barangmu!” ketusnya.
“Pergi dariku! Jangan ganggu aku lagi!” lanjut Xinhua.
Tapi hantu Xinxi masih berdiri disana memperhatikan Xinhua dengan tatapan penuh haus darah. Suara cekikikan tersebut juga tidak berhenti.
“PerGI!” teriak Xinhua sambil melempar batu.
__ADS_1
Stres dan ketakutan yang Xinhua alami perlahan berubah menjadi depresi. Hal itu membuat kepalanya terasa sakit seperti di cengkram dan lalu pingsan dalam kondisi tanpa busana.
Tapi hantu Xinxi tetap berdiri disana, menatap Xinhua.