
“ITU SAKIT LOH.” Kata wanita itu.
Xinhua langsung berteriak “Aaaaaaaaa!!!!” dan lalu jatuh dalam posisi duduk di lantai.
Suara teriakanya mengejetukan dua pelayan Xinxi serta Xinping yang ketiduran. “Xinhua?” Panggil Xinping.
Xinxi ikut berdiri dan membalikkan badan dengan ekspresi khawatir. “Adik Hua, ada apa? kenapa kau berteriak?” Ujarnya.
Xinhua yang ketakutan langsung berdiri dan lari. Xinping berusaha menahanya pergi, tapi ia terdorong sampai menyenggol meja.
“Aw! Hei! Kau ini kenapa sih?” tegur Xinping.
Xinxi diam memandang Xinhua dari posisinya. Xinping yang mulai merasa tidak nyaman karena ditinggal sendirian di kamar Xinxi, langsung ijin pamit kepadanya.
“Kak, aku akan menyusulnya dan bicara kepadanya.” Katanya.
Xinping pun lari menyusul Xinhua yang ternyata kembali ke ruang kerja ayahnya sambil menangis ketakutan.
Di dalam ruang kerja Ertu yang masih ramai oleh 6 anggota keluarga Jiao, Xinhua menceritakan pengalaman yang ia lihat saat menyisir rabut Xinxi. Ia tidak berhenti menangis sambil memeluk ibunya sedangkan Xinping terdiam karena dia tidak melihat apapun yang seram.
“Sudah dengar kan? Kau hampir membuat puteriku terbunuh oleh hantu!” gerutu selir Jin kepada elir Zhao.
“Hei! Hanya dia saja yang melihat, puteraku tidak melihat apapun disana! bagaimana bisa kami mempercayai ucapan bodoh anak ini?” sahut selir Zhao.
“Diam kamu! ini semua karena rencanamu!” geram nenek Jiao. “Kalau bukan karena kamu yang mengusulkan untuk membunuhnya, kita tidak akan di teror oleh hantunya sekarang!”
Selir Zhao hampir mengeluarkan pedangnya tapi Ertu langsung menahan tanganya. Nenek Jiao terkejut bukan main saat itu terjadi.
“Sudah, sudah! Kau sudah gila ya ingin menguhunus pedangmu di depan mertuamu sendiri?” tegurnya.
Selir Zhao mengumpat “kalau bukan karena terpaksa, aku gak sudi punya mertua seperti nenek peyot ini.” “Kerjanya hanya bisa menyalahkan saja tanpa memberi saran. Giliran ia menerima saran dari orang lain dan gagal, malah orang lain yang di salahkan!”
“Kurang ajar!” balas nenek Jiao.
“Sudah cukup!” potong Ertu. “Pertengkaran kalian tidak akan membawa kita keluar dari masalah ini. Yang sudah berlalu ya sudah berlalu, lagipula keputusan ini sudah kita sepakati bersama sebelumnya.”
Selir Zhao menyarungkan pedangnya lagi. “Besok aku akan menginterogasi 4 prajurit sialan itu, dan akan ku buktikan kalau anak ****** itu belum mati!” ujar selir Zhao.
“HUH!” gerutu sang nenek. “Kalau kau tidak bisa membuktikanya, kita pakai caraku, kita panggil biksu dan memusnahkan hantu itu.”
Setelah berkata demikian, selir Zhao dan puteranya pergi dari ruangan tersebut. Begitupula dengan nenek Jiao yang berjalan menggunakan tongkat jalanya. Setelah mereka bertiga pergi, Ertu pun menghela nafas.
“Kenapa jadi begini …” Gumamnya.
Selir Jin berusaha menghibur Ertu “tuanku, ini sudah terjadi, kita pasti bisa melewatinya.” Katanya.
Tapi Ertu tidak mempedulikanya dan hanya diam di meja kerjanya.
Waktu berlalu 11 menit dimana nenek Jiao bersama asisten pribadinya kembali ke kamar sang nenek. Akibat dari pertengkaran sebelumnya antara nenek Jiao dengan selir Zhao, rasa kesalnya sampai dibawa ke kamarnya.
“Wanita bar – bar kurang ajar!” Gerutunya. “Inilah sebabnya kenapa aku gak setuju dia menikahi wanita bar – bar itu!”
Nenek Jiao membuka pintu dengan menendangnya dan berjalan masuk sambil menggerutu. Pelayan yang mengikutinya dari belakang segera menutup pintu kamar dan membantu sang nenek duduk di tempat tidurnya.
Pelayan itu lalu menyalakan lilin yang ada di samping meja tulis. Tapi gerutuan sang nenek masih saja berlanjut.
“Aku bertanya padamu, kalau seandainya ada hantu di rumahmu apa kamu akan kolot berkata dia manusia atau memanggil biksu untuk mengusirnya?” tanya sang nenek ke pelayanya.
Pelayanya itu kelihatan bingung dengan pertanyaan nenek Jiao, tapi tetap ia jawab. “A-aku akan memanggil biksu. Kalau memang sudah terlalu parah lebih baik aku pindah rumah.”
__ADS_1
“Tepat!” jawab si nenek. Ia kembali bersungut – sungut sambil menunjuk – nunjuk. “Orang – orang itu di sekolahkan oleh pelajar terbaik di negeri ini, tapi tidak ada satupun bagian dari otaknya yang jalan!”
Pelayan itu menuangkan air hangat ke dalam cangkir berisi obat bubuk. Ia lalu memberikan obat itu pada sang nenek. “Nenek Jiao, maaf atas kelancangan hamba. Tapi anda harus minum obat dan memperhatikan kesehatan jantung anda.” Ujar sang pelayan.
Nenek Jiao berdecih kesal sambil menerima obat yang harus ia minum sebelum tidur. “Gak perlu kau ingatkan aku juga tahu.” Jawabnya “lagipula aku sudah sangat tua sekarang, paling umurku tidak lama lagi.”
Pelayan itu hanya diam ketika sang nenek berkata demikian. “Pergilah ke dapur dan ambilkan aku air hangat. Aku ingin membasuh wajahku dengan air hangat.” Katanya.
“Baik Nenek Jiao.” Jawab sang pelayan, ia bergegeas pergi.
Setelah sang pelayan pergi, nenek Jiao menaikkan kakinya ke atas tempat tidur dan menyender pada bantal yang empuk. Namun tidak lama kemudian terdengarlah suara benda yang pecah.
Nenek Jiao menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Ia melihat jendela kamarnya terbuka dengan seekor urung gagak disana. Vas bunga yang ia taruh di sana jatuh ke lantai dan pecah. Nenek Jiao lalu mengambil tongkat jalanya dan mengibaskan-nya ke arah sang gagak.
“Hush! Hush! Pergi.” Katanya.
Gagak itu melompat dan lalu membuka mulutnya mengeluarkan suara. “KAAK!”
Nenek Jiao terkejut mendengar suara keras gagak itu. Tidak lama kemudian asisten pribadinya kembali membawa basko air hangat.
“Nenek Jiao, kebetulan sekali pelayan Selir Jin memasak air terlalu banyak jadi hamba meminta yang tidak terpakai untukmu.” Kata sang pelayan.
Nenek Jiao kaget mendengar si pelayan yang tiba – tiba masuk. “Uhgh, ketuklah pintu terlebih dahulu! Kau membuatku kaget.” Tegurnya.
“Ma-maaf, hamba terlalu bersemangat.” Jawabnya.
Nenek Jiao menghela nafas sambil mengelus dada. “Lupakan saja, bawa kesini airnya lalu kamu usir burung gagak dan tutup jendela.” Katanya. “Bisa – bisanya jendela kamar belum di tutup.”
Pelayan itu terdiam “Tapi nenek Jiao, jendela kamar memang tertutup.” Katanya.
Nenek itu terhenyak dan kembali melihat ke arah jendela. Pelayan itu benar, jendela kamar tertutup rapat dan tidak ada burung gagak disana. Tidak hanya itu, vas bunga yang sebelumnya ia lihat pecah di lantai, masih utuh diatas meja.
“Nenek Jiao, hamba rasa sudah saatnya anda istirahat.” Jawab sang pelayan. Ia memberikan baskom berisi air hangat itu.
“Kau benar, sepertinya memang aku kelelahan setelah kejadian hari ini, harusnya aku istirahat lebih awal.” Sahutnya. Nenek Jiao lalu membasuh wajahnya dengan air hangat.
“Nenek Jiao bolehkah aku bertanya sesuatu pada anda?” tanya si pelayan.
“Hm.” Gumam sang nenek.
“Kenapa anda membiarkan puteri Xinxi mati kehabisan darah di kamarnya?” tanya sang pelayan.
Nenek itu membelalak kaget dan memandang pelayanya penuh kemarahan. “Darimana ka—“ ucapanya terhenti ketika ia melihat sosok di depanya bukanlah pelayanya lagi.
Tapi seorang wanita berwajah seram yang kulitnya putih seperti kapur, memiliki biji mata hitam yang kecil, serta senyum yang lebar sampai ke telinga.
“KENAPA AKU DIBUNUH?” tanya wanita seram itu.
“AHHH!!!” Teriak nenek jiao.
Ia menjatuhkan baskom air itu ke arah sang wanita berwajah seram, tapi baskom dan airnya menembus sosok tersebut. Lantas itu membuat sang nenek semakin panik, ia menunjuk ke arah wanita seram itu.
“Ha-hantu!! Hantu Xinxi!!!” jeritnya.
Sakit jantung yang ia derita seketika kumat. Ia menyentuh dada kirinya yang sekarang terasa sakit dan juga sesak.
“Jantung … jantungku …” katanya.
“KENAPA AKU DIBUNUH?” ulang wanita seram itu.
__ADS_1
Nenek Jiao terjatuh diatas lantai, tanpa henti meremas baju pada dada kirinya dengan sesak. “Er—ertu… Ertu!” jeritnya sekali lagi.
Ketika ia ingin menjerit sekali lagi, ia merasakan jantungnya tiba – tiba berhenti. Ia membelalak kaget dan seluruh tubuhnya kaku seketika. Tepat setelahnya sosok wanita seram itu hilang dan kemudian pelayan asli sang nenek masuk ke dalam kamar.
Pelayan itu langsung menjatuhkan baskom air hangat ketika ia melihat sang nenek sudah terbujur kaku di atas lantai.
“AAAA!!!” teriaknya.
Mendengar suara teriakan sang pelayan, prajurit yang berjaga di sekitar segera menghampirinya. Mereka membangunkan para tuan rumah dan memanggil tabib, namun nyawa Nenek Jiao sudah tidak tertolong.
Pagi menjelang, seluruh kediaman perdana menteri Jiao dihiasi oleh lentera dan kain putih pertanda berduka cita. Pintu kediaman di buka lebar – lebar, membiarkan orang – orang keluar dan masuk dengan pakaian polos berwarna putih atau berwarna hitam.
Suara nyanyian sutera buddha bergema di dalam ruangan utama, tempat dimana peti mati berisikan nenek Jiao di tempatkan. Di hadapan peti mati bertuan itu ada Ertu, Selir Jin, Selir Zhao, Xinhua, Xinping, dan Xinxi yang berlutut ikut menggiring doa.
Namun diantara 5 anggota keluarga lain, hanya Xinxi yang kelihatan tenang. Sisanya kelihatan takut dan hanya bisa bengong.
Di depan kediaman perdana menteri Jiao, seorang pria tampan yang pakaianya terbuat dari bahan sutera terbaik datang dengan kuda putih bersama 2 pengawalnya. Melihat kediaman perdana menteri Jiao yang ramai dengan orang melayat, sang pria turun dari kuda.
“Tuanku, sepertinya kediaman perdana menteri Jiao sedang berduka.” Ujar salah satu pengawalnya.
Sang pria memberhentikan salah satu pelayat untuk bertanya. “Apa yang terjadi? Siapa yang meninggal?” tanyanya
Pelayat pria itu menjawab “Nenek dari perdana menteri Jiao tuan. Beliau meninggal semalam akibat serangan jantung.”
Pria itu terdiam dan lalu mengangguk. “Terimakasih.” Katanya.
“Sama – sama tuan.” Jawabnya. Ia lalu berjalan pergi bersama isterinya.
Karena kondisi pakaianya yang cukup mewah, pria itu mengenakan jubah hitamnya lagi dan berjalan masuk ke dalam kediaman. Tepat di pintu masuk ruang utama, ia berpapasan dengan Xinxi. Wajah sang pria berubah cerah.
“Xi.” Panggil pria itu.
Pada awalnya Xinxi menatap pria itu agak bingung. Tapi ketika ia sadar ia langsung mengenalinya. “Ah! pangeran pertama.” ujarnya.
Pria itu tertawa “sudahku bilang untuk tidak memanggilku begitu, panggil saja dengan nama panggilanku Liyan.” Jawabnya.
Xinxi terkekeh kecil dan menatap Liyan dengan air mata. “Aku hampir lupa denganmu karena kamu berubah sekali.” Katanya. “Ah, tapi sayangnya ini bukan waktu yang bagus untuk memberikan hadiah pertunangan seperti yang kau bilang …” Xinxi menghapus air matanya.
Liyan menyentuh kepala Xinxi dan mengelusnya sambil tersenyum. “Memang bukan, tapi karena aku sudah terlanjur ada disini aku akan menemanimu dulu sebentar dan lalu pulang ke rumah untuk mengganti pakaian yang lebih pantas.” Katanya. “Aku sudah dengar tentang nenekmu.”
Xinxi tersenyum “terimakasih, Liyan.” Jawab Xinxi.
Dibelakang Xinxi, Ertu diam - diam memandang 2 orang tersebut. Hingga Xinhua berucap “Ayah bagaimana ini? nenek… nenek sudah meninggal. Pasti itu karena hantu Xinxi. Kita harus apa? aku gak mau mati.”
Ertu diam untuk berfikir.
“Bodoh, nenek tua itu meninggal karena serangan jantung. bukan karena hantu.” Sahut selir Zhao.
Selir Jin yang tidak terima pun membalas “jangan bentak anakku sembarangan.” “ini kalau bukan karena pengaruh darimu, ibu pasti masih hidup!” “Tuanku seperti pesan terakhir ibu, kita harus memanggil biksu untuk memusnahkan hantu itu.”
Xinping pun membalas “Selir Jin, jangan tergesa – gesa dulu anda tidak lihat tadi? dia ikut dalam upacara doa bersama biksu dan bahkan ikut mengucapkan doa. Dia bahkan tidak terbakar atau kepanasan saat melakukanya.”
Selir Jin terdiam ‘be-benar juga sih.’
Ertu menatap selir Zhao “Zhao, apa kau sudah menginterogasi 4 prajurit itu?” tanyanya.
“Belum tuanku, rencananya pagi ini aku ingin menginterogasi mereka. Tapi tidak disangka hal ini terjadi. Kalau anda ingin hasil yang lebih cepat, tolong ijinkan aku untuk melewati upacara pemakaman lainya.” Jawab Selir Zhao.
__ADS_1
“Baiklah, lakukan saja. Segera lapor aku kalau berhasil, selama mereka masih belum buka mulut aku akan membayar orang untuk mencari tahu kebenaranya.” Kata Ertu.