Ketika Orang Mati Hidup Kembali

Ketika Orang Mati Hidup Kembali
Hantu Xi


__ADS_3


Xinxi tersenyum lembut di ambang pintu sambil menatap kelima anggota keluarganya itu dengan tenang.


“Selamat Pagi Semuanya.” Sapanya. “Hari yang indah dan menakjubkan, ya kan?”


“KYAAAAA!!!” Pekik Xinhua.


Ibunya, yaitu selir Jin langusng jatuh pingsan dan di tolong oleh pelayan. Nenek Jiao melotot kaget sambil memegang dada kirinya yang terasa sesak dan sakit.


“KAU?! Bagaimana BISA?? uhgh..” Ujar Nenek Jiao.


Xinping membantu sang nenek untuk pergi menjauh dari kerumunan.


Sedangkan Ertu terpaku di tempat dengan wajah yang shok.


“Gak mungkin, ini gak mungkin …” Kata Ertu.


Xinxi memiringkan sedikit kepalanya. “Apanya yang tidak mungkin?” Tanyanya. Pandangan matanya hanya tertuju pada Ertu dan itu terasa sangat dingin.


Ertu berjalan mundur dengan perasaan takut. Pikiranya berkecambuk ‘ini mustahil! Semalam … semalam aku membunuhnya. Ya, semalam aku membunuhnya dengan melempari kepalanya menggunakan cankgir porselen.’ ‘Dia kehilangan banyak darah, dia harusnya sudah mati!’


“Ayah dan yang lain, tumben sekali datang ke kamarku beramai – ramai begini. Apa ada hal penting yang ingin dibicarakan?” Tanya Xinxi lagi. Ia tersenyum manis “Tapi kenapa kalian melihatku seperti melihat hantu? apa riasan wajahku hari ini terlalu jelek? Tolong maklumi, sepeninggal pelayanku aku harus mengerjakan riasan wajahku sendirian.”


Ertu terjatuh ke tanah dalam posisi duduk. Matanya tidak berhenti menatap Xinxi yang baginya sudah tewas semalam.


“HANTU!!!” Teriak Xinhua. Ia lari terbirit – birit meninggalkan halaman kamar Xinxi.


“Nona!” Panggil pelayanya.


Mau tidak mau sang pelayan menggendong nyonyanya dengan dibantu oleh beberapa prajurit. Mereka meninggalkan Ertu dan beberapa prajurit di halaman kamar Xinxi.


“Hantu? Siapa Hantu?” Tanya Xinxi. Matanya memandang ke arah Ertu. “Ayah, tidakkah adik Xinhua menjadi kurang ajar sekarang? Tidakkah seharusnya ayah menghukumnya?”


Ertu tertegun. Tatapan mata Xinxi yang seperti memandang kebawah mengingatkanya pada tatapan mata kutukan Xinxi ketika mayatnya di bawa oleh 4 prajurit yang ia perintahkan semalam.


Tidak menerima jawaban dari ayahnya, Xinxi berjalan mendekat. “Ayah, kenapa kamu bengong? Katakan sesuatu padaku.” Ujarnya.


Langkah kaki Xinxi membuat Ertu takut. Ia langsung berdiri dan lari “Kembali!!” Perintahnya ke parajurit yang tersisa.


Para prajurit itu kebingungan, tapi mereka menuruti perintah. Mereka membungkuk kepada Xinxi dan berlari menyusul Ertu.


Xinxi terus memandangi mereka sambil bergumam. “Kembali, perintah, hantu, iblis. Mati.”


\~\~\~


Terang berganti malam. Tidak begitu larut, namun itu terjadi setelah jam makan malam. 6 Orang anggota keluarga Jiao yang berisikan Ertu, Nenek Jiao, Selir Jin, Selir Zhao, Xinhua, dan Xinping berkumpul di ruang kerja Ertu penuh perasaan takut.


“Dia hidup kembali, dia hidup kembali menjadi hantu dan akan membunuh kita semua untuk balas dendam!” Ujar Selir Jin.


Selir Zhao membantah “Konyol, tidak ada yang namanya hantu!” bantahnya.


“Zhao, kau tidak akan mengerti, dari pagi hingga malam kau tidak ada di rumah dan belum bertemu denganya secara langsung!” Tegur nenek Jiao. “Kami berlima yang melihatnya secara langsung!”


Xinping menarik baju ibunya penuh ketakutan. “Benar bu, kau tidak lihat bagaimana ia tersenyum dan menatap kita! Dia seperti iblis yang haus oleh darah kita semua!” Ujarnya.


Selir Zhao menarik selendang bajunya dari Xinping. “Kamu juga jangan ikut – ikutan!” Tegurnya. Xinping diam dengan perasaan takut. Lalu Selir Zhao menatap Ertu. “Tuanku, hal ini tidak bisa diterima begitu saja. Hantu itu tidak ada, barangkali 4 prajurit yang kita perintahkan untuk menaruh Xinxi di kamarnya membawanya ke tabib.”


Ertu menggelengkann kepala, terlihat bahwa ia sedang memikirkan sesuatu tadinya. “Sekalipun mereka memang melakukanya, bagaimana Xinxi masih bisa berdiri tegap?” Jawabnya.


“Ayah benar! Xinxi kehilangan banyak darah, bagaimana dia bisa bertahan hidup setelah kehilangan banyak darah begitu?” Sahut Xinping.


Xinhua menggigil ketakutan di sebelah ibunya. “Dia pasti hantu, dia pasti hantu …” Gumamnya.


Selir Zhao menahan diri untuk memukul mulut Xinhua. “Hantu itu tidak ada! Sekalipun memang hantu itu ada bagaimana bisa anak itu berdiri dibawah terik matahari?” Gerutunya. “Tidak bisakah salah satu diantara kalian berfikir jernih?”


“Lalu bagaimana kau bisa menjelaskan kenapa dia masih bisa berdiri seolah tidak kenapa – kenapa?” Ujar Nenek Jiao.


Ekspresi wajah Zhao kelihatan ragu. “Itu …” Balasnya.

__ADS_1


“Sudah! Tidak perlu di perdebatkan lagi.” Ujar Ertu. “Begini saja, kita kirim seseorang untuk mengetesnya apakah dia hantu atau masih hidup?”


“Kita suruh pelayan.” Ujar Xinping.


“Gak,” sahut Ertu “Xinhua yang akan melakukanya.”


Xinhua yang namanya di panggil menunjuk dirinya sendiri dengan kulit wajah yang pucat. “AKU?!” Sahutnya.


Ertu menyilangkan kedua tanganya “ya, kita gak boleh membuat banyak orang tahu soal ini.” Jawabnya.


“Aku gak mau!” Sahut Xinhua. “Ayah, wanita itu akan membunuhku jika aku datang!”


Selir Jin memelas “aku setuju dengan Xinhua, hantu itu akan langsung membunuhnya.”


Ertu menggosok keningnya “Xinping juga akan ikut bersamamu.” Katanya.


Xinping melotot “Aku?” Ujarnya gak ikhlas.


Selir Zhao menatap puteranya penuh teror dan anak remaja itu terpaksa setuju. “Ugh … baiklah.” Jawabnya.


“Kalau ada apa – apa kalian tinggal teriak memanggil prajurit.” Kata selir Zhao. “Untuk membuktikanya, kalian harus melihat ke kepala Xinxi apakah ada luka atau tidak. Kalian mengerti?”


“Iya bu.” Jawab Xinping. Sedangkan Xinhua menatap selir Zhao ketakutan.


Setelah berdiskusi, kedua anak itu keluar dari ruang kerja Ertu. Mereka lalu berjalan ke kamar Xinxi yang terpisah dari gedung utama. Baru setengah jalan, mereka melihat seorang pelayan yang membawa keranjang berisi cucian. Pelayan itu yang melihat Xinping dan Xinhua, membungkuk hormat dan berjalan lagi.


Tapi tiba – tiba Xinping berucap “nanti kamu yang mengecek kepalanya ya?”


Xinhua menatap adiknya itu dengan marah “aku? Kamu–lah! Aku kan lebih tua, kamu harusnya yang menurutiku.” Sahutnya.


Xinping mengumpat “dasar! kalau aku yang mengeceknya kan jadi aneh. Aku anak laki – laki dan lagi aku gak dekat dengan Xinxi.”


Xinhua membalasnya “kau pikir aku dekat denganya?!”


Xinping langsung membekap mulut Xinhua. “Kecilkan suaramu, bagaimana kalau dia dengar?”


Xinhua menyingkirkan tangan Xinping dengan perasaan kesal. “Dengar, kamu yang akan mengecek kepalanya dan aku akan menjagamu dari belakang.” Ulang Xinping.


“Terima atau ku tinggal?” balas Xinping.


Wajah Xinhua berubah pucat. “Uhgh… baiklah.” Jawabnya pasrah.


Mereka berdua lanjut berjalan hingga sampai di depan pagar halaman Xinxi. Kebetulan sekali ada seorang pelayan yang membawa baskom berisi air. Xinhua yang melihatnya langsung menghentikan sang pelayan.


“Eh, eh tunggu.” Panggil Xinhua.


Gadis pelayan itu menatap Xinhua dengan kosong.Xinping tidak bisa berhenti menatap wajah pelayan itu karena ia merasa asing dengan wajahnya. ‘Pelayan baru ya?’ pikirnya.


“Apa kak Xi ada di dalam?” tanya Xinhua.


“Nona ada di dalam, nona Hua dan tuan Ping apa anda ingin masuk?” Balas sang pelayan.


“I-iya, kak Xi tidak sedang tidur kan?” sahut Xinping.


Pelayan itu menggeleng dengan tatapan kosong. “Tidak, nona Xi sedang menyisir rambutnya. Saya akan memberitahukan kedatangan anda sekalian terlebih dahulu kepada nona Xi.” Katanya.


Dengan lembut pelayan itu membuka pintu dan berjalan masuk. Sedangkan Xinping dan Xinhua diam di luar pagar pintu dengan perasaan bingung.


“Suasananya jadi … agak seram.” Ujar Xinhua.


Xinping mengintip kedalam halaman kamar Xinxi yang luas. Sebagai puteri pertama dari kediaman Jiao memiliki kamar dan halaman pribadi adalah salah satu privilenge-nya. Tapi akan percuma jika tidak ada pelayan untuk merawat halaman luas tersebut.


“Uhgh … lihat halamannya ini. mengerikan.” Ejek Xinping.


Xinhua memukul lengan kiri Xinping “Ya itu salahmu dan ibumu, setiap pelayan yang melayani Xinxi kalian tuduh sebagai pencuri lalu menjadikan mereka objek untuk mengetes senjata tajam.” Balasnya. “Bagaimana bisa halamanya tidak sejelek ini?”


Xinping menggosok tangan kirinya “Daripada aku pakai pelayanmu, memang kamu mau?”


Tidak lama, pelayan Xinxi datang kembali. Ia lalu membuka pintu lebar – lebar dan berucap. “Nona Xi mengijinkan anda sekalian untuk masuk.”

__ADS_1


2 Anak remaja itu berjalan masuk dan pergi ke rumah yang sebenarnya merupakan sebuah kamar. Di dalamnya, ada Xinxi yang duduk didepan meja cermin besar dengan ukiran yang indah. Di sampingnya ada pelayan lain yang sedang menyisir rambut panjang hitamnya.


“Jarang sekali kalian mengunjungiku malam – malam begini.” Kata Xinxi dengan perasaan senang. “Apa kalian membutuhkan sesuatu? Atau ayah memanggilku?”


Xinhua kelihatan gugup sehingga Xinping yang harus menggantikan kakanya itu untuk menjawab. “Ah, tidak ada apa – apa. seperti kata kakak tadi, kami jarang datang jadi kami menggunakan waktu luang ini untuk datang berkunjung.”


Xinhua mengangguk cepat. Sedangkan Xinxi terdiam “Oh, begitu ternyata.” Jawabnya.


Xinping lalu menyenggol tangan Xinhua ‘sekarang waktu yang tepat, coba kamu minta gantian dengan pelayan itu untuk menyisir rambutnya.’ Bisik Xinping


Xinhua membalas dengan takut “a-aku gak mau, aku takut.” Jawabnya.


“Duh apa yang harus ditakutkan? Ada aku dan pelayan – pelayan itu disini."


“Tapi—“ kata Xinhua yang di potong.


“Hm, apa yang kalian bicarakan?” tanya Xinxi.


Dua anak remaja itu terkesiap kaget. “Ah itu kak, Xinhua bilang dia ingin menyisir rambutmu.”


Mata Xinhua membelot kaget mengarah ke adiknya. ‘Apa yang kau katakan ini?’ batin Xinhua lewat kode mata.


Xinping membalas kode mata Xinhua. ‘Buruan! Atau kita akan terus disini sampai fajar.’


“Bing, berikan sisirnya ke adikku.” Kata Xinxi ke pelayanya.


Pelayanya yang menyisir rambut Xinxi memberikan sisir tersebut ke Xinhua. Disaat yang sama, Xinping duduk di kursi depan meja makan saat Xinhua berjalan mendekat ke Xinxi.


“Ngomong - ngomong aku merasa bingung, kenapa makan malam tadi semua orang sangat diam? Apa terjadi sesuatu?” tanya Xinxi.


Xinhua menyentuh rambut Xinxxi agak takut dan mulai menyisir rambutnya perlahan. “M-mungkin karena mereka lelah. Kakak tahu sendiri hampir setiap dari kita memiliki pekerjaan masing – masing.”


Xinxi tersenyum senang dan menatap dirinya lewat pantulan cermin. “Benar juga.” Jawabnya. “Tapi pagi ini kalian semua datang ke halamanku dan kalian seolah kaget melihatku. Aku masih tidak mengerti apa yang sebenanrya terjadi.”


Wajah Xinhua berubah pucat.


“Tadi pagi prajurit bilang ada perampok yang masuk ke kediaman Jiao dan mengarah ke kamarmu kak. J-jadi kami beramai – ramai datang untuk cek keadaanmu.” Jawab Xinping.


“Tapi selir Jin sampai—“ balas Xinxi yang langsung di potong oleh Xinping.


“Ohya kak, bagaimana dengan perjodohanmu? Apa istana belum memberikan seserahan?” tanya Xinping.


Xinxi tersenyum malu “mereka belum mengirim apapun, tapi pangeran Liyan mengirimku pesan kalau setelah ia kembali dari luar kota dia akan datang menemui ayah dan memberikanku hadiah pertunangan.” Jawabnya.


Seketika perasaan Xinping dan Xinhua menjadi lega. ‘Siapa sangka dia banyak tanya.’ Gumam Xinping dalam hati.


“Rasanya sangat tidak sabar untuk menunggunya datang. Walau ini adalah pertemuan kita yang ke 4 kali setelah beberapa acara besar di istana.” Lanjut Xinxi.


Xinping menatap Xinhua dan memberinya kode untuk mulai melakukan rencananya. Xinhua kelihatan masih takut - takutan, tapi ia menurut.


“Oh kak, ada kumbang kecil yang nyangkut di rambutmu.” Ujar Xinhua.


“Eh? serangga? Ah! tolong singkirkan serangganya!” balas Xinxi.


Dengan gercap Xinhua mulai meraba kepala Xinxi.


“Bagaimana? Apa sudah dapat?” tanya Xinxi.


“Belum kak, susah dicari.” Jawab Xinhua. Ia terus meraba kulit kepala Xinxi dan sesekali membuka helai rambut Xinxi. ‘Luka berdarah, dimana luka berdarahnya?’ gumam Xinhua dalam hati.


Beberapa detik meraba kulit kepala Xinxi, Xinhua merasakan sesuatu yang licin dan dingin di kulit kepala Xinxi. Ia menyentuhnya dan lalu mencabutnya.


“AW!” jerit Xinxi.


Xinhua menatap benda yang baru saja ia cabut dan membelalak kaget. Benda itu adalah serpihan dari cangkir porselen biru yang berlumuran darah. Tangan Xinhua langsung gemetaran melihatnya dan ia memandang Xinxi di pantulan cermin.


Tapi yang duduk di depan cermin sudah bukan Xinxi lagi, tapi seorang wanita berambut hitam acak – acakan yang memiliki kulit putih seperti kapur, biji mata hitam yang kecil, serta senyum yang lebar sampai ke telinga.


“ITU SAKIT LOH.” Kata wanita itu.

__ADS_1


Xinhua langsung berteriak “Aaaaaaaaa!!!!”


__ADS_2