KISAH CINTA AKU DAN BOSS

KISAH CINTA AKU DAN BOSS
BAB 1 .MENCARI PEKERJAAN SAMBILAN


__ADS_3

 


Sekar dan Lala duduk bersebelahan di kantin fakultas ekonomi dengan wajah serius dan pandangan mata yang sama" menyipit sangat tajam. Di depan mereka, tergelar koran yang terbit hari ini, yang dibeli sekar tadi pagi.


Tangan kanan sekar langsung mencomot kerupuk pedas yang ada di samping kanannya. Sambil mengunyah, gadis itu tetap memperhatikan satu persatu iklan baris yang ada di dalam koran yang baru dibeli hari ini tersebut. Lala menolehkan kepalanya sebentar pada sahabatnya itu, lalu ikut"an mengambil kerupuk pedas yang ada di samping sekar. Dia juga meneruskan melihat iklan di koran itu dengan mulut mengunyah.


"Ck!" Sekar berhenti memperhatikan lembaran lemabran koran itu. Disandarkanlah punggungnya ke tembok.


"Nggak nemu yang bagus nih gue,La . Gimana,nih?"


Lala pun ikut"an menghentikan memperhatikan koran dan duduk menyandar juga lalu menyahut.


"Iya,sekar. Dari tadi gue liat juga kayaknya nggak ada yang cocok sama lo."


 


Gadis cantik beralis tebal itupun memandang sedih pada Lala sahabatnya itu seolah olah meminta pernyataan lain.


 


"Terus gue harus gimana lagi nih, La?"


"Itu dia yang gue pikirin dari tadi juga,Ta. Apa kira" yang dapat lo kerjain?"


Sekar sontak memandang Lala dengan muka sedih kembali.


"Cari kalimat yang lain dong,La. Jangan ngulangin terus apa yang tadi gue bilang. Kasih solusi baru gitu lho."


Cewek yang senang memakai jepit rambut itu hanya menyeringai geli melihat Sekar cemberut.


"Habis gimana,dong? Apa yang tadinya gue bilang, eh, udah lo bilang duluan. Jadi,kan kesannya gue ngoceh doang. Padahal, kan gak gitu tau." Lala membela diri.


Sekat angkat tangan. "Oke. Gue yang salah," katanya memilih mengalah saja pada Lala. Percuma soalnya kalau mau dilawan. Bisa panjang urusannya. Dia lalu menunjuk koran dihadapan mereka ini. "Menurut lo gue bisa ngelakuin apa untuk ini? Menurut pandangan lo sekarang, gue pantesnya kerja apa?"


Lalu Lala memperhatikan Sekar dengan serius. Kepalanya sampai miring kekiri dan kekanan demi memperhatikan wajah sahabatnya itu dengan lebih detail dan akurat. Selanjutnya, Lala memegang dagu Sekar seraya menengokkan wajahnya keatas dan kebawah.


"Lo lagi ngapain sih?" tanya Sekar mencoba bersabar pada tingkah sahabatnya yang satu ini.


"Lo memang memprihatikan, kar,"ucapnya sambil menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Hah? Maksud lo memprihatinkan?" Sekar semakin tidak paham.


"Kayaknya lo memang nggak bisa masuk semua kriteria bisnis yang bisa dikerjakan orang muda yang kita baca dikoran tadi deh Sekar"


 


"Kenapa begitu?" tanya Sekar tak terima. "Coba jelasin ke gue apa maksud pernyataan lo, kalo gue nggak bisa masuk di kriteria bisnis orang" muda dikoran ini? Coba? Apa?" Ucap Sekar memojokan Lala.


 


Lala mengangguk, lalu menunjuk koran didepan mereka,nih...coba liat ya!"


kemudian Lala mulai membaca apa yang tertulis disana dengan suara keras. Sampai beberapa orang yang duduk di sekitar mereka sempat menoleh untuk mengetahui ada apa. Lalu mereka tak acuh lagi ketika hanya melihat bahwa itu adalah dua cewek putus asa yang sedang mencari sambilan saja.


"Nomor satu, Anda bisa mencoba berbisnis dari hal yang paling anda sukai. Misalnya anda suka memelihara hewan, maka anda bisa meminjamkan hobi ini untuk mengurus dan menjaga hewan peliharaan mereka. Kesimpulannya, ide ini bisa dijadikan sebagai bisnis yang datangnya dari hobi anda sendiri." Lala menyudahi membacanya, lalu melihat sekar yang mendengarkannya sejak tadi.


"lo inget nggak kejadian waktu kita masih SMA, lo disuruh bokap lo jaga si Rembo, Ayam kesayangan bokap lo itu?inget nggak?" tanya Lala.


wajah Sekar kemudian berubah menjadi semakin serius. Dahinya mengerut dan bibirnya nampak berkomat kamit. Dari tampangnya, kelihatan si Sekar ini sedang mencoba mengingat peristiwa dua tahun lalu tersebut. Cuma Lala agak ragu untuk terlalu percaya,kalau Sekar sungguh sungguh mengingat seputar 'dosa'nya itu.


mungkin kekhawatiran Lala ini cukup beralasan juga sih. Apalagi mengingat masa lalu dirinya yang pernah membuat Rembo tak pernah kembali lagi kerumah. Sekar sendiri yakin, pasti sulit untuk orang dirumah mempercayainya. Apalagi Putra, adiknya yang sok tahu, tengil, sok dewasa dan pintar bicara itu. Meski mereka berbeda usia sampai lima tahun, nyatanya Putra tak menunjukkan rasa hormatnya sama sekali pada Sekar.


Putra pernah menceramahi Sekar."Lo tahu nggak sih kalo si Rembo itu udah jadi bagian dari keluarga ini. Bisa bisanya lo ngebiarin dia pergi sendiri. Harusnya lo awasin dia. Umur udah gede tapi kelakuan lo masih bocah banget!"


Ayahnya sendiri memiliki alasan kuat sampai kemudian memutuskan untuk memelihara ayam jago. Kedua anaknya itu kalau tidur sudah seperti bangkai. Nggak bergerak sama sekali. Ayah malah mikir, kalau ada bom meledak nggak jauh dari rumah, apa mereka masih nggak bergeming? Makanya, Ayah memelihara ayam jago di belakang rumah biar pas berkokok anak anaknya itu bisa bangun. Walau selama Rembo di pelihara tetap ayah juga yang bangunin Sekar sama Putra.


Putra juga ikut merawat dan membesarkan Rembo hingga dewasa. Tapi itu tetap bukan pembenaran untuk Putra bisa bicara kurang ajar padanya.


"Lo kalo ngomong sama gue yang sopan ya, gue kakak lo."


"tapi kelakuan lo ini sama sekali nggak pantes dibilang kakak." Lalu Putra mendengus sebal dan meninggalkan Sekar yang kembali ternganga.


Alasan Putra bisa sedongkol itu jelas banget. Sebab bukan cuma ayah yang selalu memberikan Rembo sarapan atau makan malam, tapi juga Putra. itu bisa jadi alasan kuat Putra tak terima dan sewot setengah mati.


ketika Sekar dengan teledornya sudah terkenal dari kalangan saudara saudara, teman sekolah, hingga tetangga. Membuat Rembo hilang begitu saja, ia masih bisa alasan. Sekar berkilah kalau saat itu dia hanya ingin memberikan Rembo udara bebas makanya dikeluarkan dari kandangnya.


Sekar jadi ingat lagi apa yang waktu itu ayahnya bilang. Wajah ayahnya yang biasanya kalem tapi murah senyum pada semua orang itu berubah jadi menyeramkan.


"Rembo itu ayam jago biasa, Sekar yang cantik! bukannya anjing." Ayahnya kelihatan geregetan sama Sekar."Rembo nggak pernah di lepasin sebelumnya. Makanya, mana dia inget buat pulang kerumah lagi kalo udah dilepasin gitu aja?" Ayah pun jadi mencak mencak ke Sekar." Sekali Rembo keluar kandang, mungkin udah ada orang yang keburu nangkep pas kamu lagi nggak merhatiin. Malah bisa jadi si Rembo udah dijadiin opor sekarang."

__ADS_1


Ya nggak terlalu salah juga sih kalau Rembo jadi opor. Dia kan ayam. Sudah menjadi kodratnya untuk menerima dirinya diopor, digoreng, dirica rica atau di semur.


"Lagian cuma ayam yah. Caribaja di pasar terus dipelihara sampe gede. Gampangkan?" Ucap Sekar berkata enteng.


Akibat dari kalimat seenaknya itu, Sekar mendapat jitakan manis dari ayahnya ditambah dengan wajah sebal Putra selama seminggu. Mama yang melihat Sekar di perlakukan seperti itu pun tak bisa berbuat apa". Memang Sekar yang salah.


"mah?" Sekar minta dukungan. Tapi mamahnya hanya mengangkat bahu sambil tersenyum, lalu pergi menyusul papi ke belakang.


tiga minggu kemudian ayah masih sering ke halaman belakang, ke kandang Rembo buat ngasih sarapan atau makan malam. Sekar jadi ngerasa bahwa keberadaan Rembo di rumahnya ternyata sepenting itu.


Lala menepuk bahu Sekar,mencoba mengembalikan Sekar ke saat ini. Sekar menoleh pada Lala dan mendapati sahabatnya itu mengangkat dagu,bertanya.


"Iya gue inget," jawab dengan wajah yang menyimpan rasa bersalah.


"Nah kalo lo masih inget peristiwa naas itu, maka apakah masih pantes lo mengajukan diri untuk ide bisnis ini?"


Dengan lemah Sekar menggeleng." Tapi setiap orang berhak dapet kesempatan kedua kan!"


Lala menggeleng prihatin."kayaknya ingatan lo agak di skip ke kejadian setelah ilangnya si Rembo deh, kar."


Wajah Selar kembali seperti mengingat sesuatu yang masih berhubungan dengan 'menjaga sesuatu'ini.


"Setelah Rembo hilang...ada apa lagi ya?" tanya seolah pada dirinya sendiri. Telunjuk Lala menunjuk nomor dua di koran tersebut."Apa?"


Cewek yang suaranya masih seperti anak SMP baru akil baligh itu lalu kembali membacakan nomor dua "Nomor dua, jadilah petugas layanan antar. Ada banyak orang yang tidak memiliki kelebihan waktu untuk mengambil atau mengirim barang mereka. Anda bisa memanfaatkan ini sebagai bisnis anda. Anda bisa membuka diri sebagai petugas layanan antar dimulai dari lingkungan sekitar anda."


Sekar mengangguk," Terus?"


Lala memandang Sekar putus asa."Lo neneran lupa lagi? lo itu paling gak bisa dipercaya kalo disuruh nganterin sesuatu. Ingatan lo payah dan lo gak pernah tahu prioritas."


Mulut Sekar terbuka, pertanda dia tak terima dan siap melakukan pembelaan diri lagi.


"lo kan pernah nyasarin paketan bibi lo harusnya paketannya ditulis bandung ehh lo malah ke bogor dan masih banyak hal lainnya." Beber Lala.


Sekar mengangkat tangannya. Oke gue akuin itu balik lagi ke topik semula.


"hmmm..kayaknya loh di bagian promosi aja dehh. Kan dulu bokap lo sakit dan lo gantiin promosiin produk produk jualan bokap lo dan hasilnya termasuk memuaskan...ya gak" ucap Lala penuh penghargaan.


"gitu ya...oke gue kerja sambilan di bagian promosi." ucap Sekar kegirangan.

__ADS_1


"Makasih La lo emang the best." Ucap Sekar berterima kasih.


 


__ADS_2