
Sekar menyampaikan perkembangan niatnya untuk cuti kuliah dulu dan akhirnya diterima kerja diperusahaan hanya kepada adiknya yaitu Putra. Putra sangat mendukung keputusan yang dibuat kakaknya itu.
"Rahasia lo terjamin sama gue pokoknya kak. Lo bersikap seolah olah lo masih kuliah, biasa aja jangan tegang. Lo alesan apakek kaya telponan sama Lala atau siapa aja yang ada dikampus lo buat ngomong tugas, ngombrol atau semacamnya. Sisanya lo serahin aja ke gue, gue yang urus gue bakal bantuin lo deh."
Sekar pun tersenyum." makasih lho dek lo emang adek gue yang paling baik sedunia lope you."
" Ya iyalah kan adek lo coman gue doang, siapa lagi yang mau dukung lo coba selain gue, hah." Ucap Putra menyombongkan diri.
" Gak nyangka gue dek sekarang lo udah bener bener bener dewasa aww makin sayang gue..." Ucap Sekar memeluk adeknya itu.
" Ada syaratnya kak."
" Hah apaan dah?" Sekar bertanya.
" Lo harus wajib ngasih gue cokelat besok gue lagi pengen cokelat ya...ya kak lo kan udah gue bantuin masa lo nggak mau beliin secuil cokelat untuk adek lo yang lucu dan tampan ini. kan kalo lo ngasih gue, gue juga lebih kenceng and bersungguh sungguh, ya ya ya kakakkkk." Ucap Putra sambil memelas.
Sekarpun berpikir lagi dia menyesal menganggap adeknya itu sudah dewasa. Kelakuannya masih bocah kayak gitu girain Sekar adeknya itu menolongnya dengan tanpa pamrih eh tau taunya.
"em...oke oke gue bakalan ngasih lo cokelat dua batang entar. biar gigi lo bolong."
Sekar langsung pergi meninggalkan Putra yang sepertinya masih sangat girang dikasih cokelat dua batang dari Sekar.
Saat masuk ke dalam kamar, Sekar melihat kamarnya yang sangat rapi, siapa lagi kalau bukan mamahnya. Sekar kagum dengan mamahnya yang sangat sabar merawat Sekar dan Putra, merapihkan rumah. Sudah begitu harus membuat kue kue yang sudah dipesan oleh langganan mamah untuk menambah penghasilan dirumah.
Sekar Langsung menaruh tas tentengnya di gantungan tas dan langsung turun untuk menemui mamahnya dibawah. Sekar ingin bercerita kepada mamahnya bahwa dia sudah diterima di perusahaan dan ingin meminta doa dari mamahnya agar selalu dilindungi dari segala macam bahaya dan semoga Sekar dapat membanggakan mamah sama ayah.
Tidak perlu ditunggu sampai kejadian duluan, biasanya mamah sudah dapat menebak apa yang sedang di cemaskan anak anaknya.
"Hmm....mah.." Ucap Sekar menggantung. " Sekar mau ngomong."
"Ya kenapa?" mamah mengangguk.
Mamah mendekati Sekar dan berbisik lirih." Mau ngomong di kamar Sekar atau mamah? Ayah lagi ada di ruang keluarga soalnya. Nanti Ayah denger rahasia Sekar dan langsung berbuntut kemana mana."
Tuh kan bener!! padahal Sekar belum mengomong satu kata pun yang merajuk pada hal itu tapi mamah dengan sangat baik dan sangat tepat menebak hal itu.
" Di kamar Sekar aja deh mah." Ucap Sekar.
" Oke, Sekar kekamar duluan aja entar mamah nyusul, nanti Ayah bisa curiga kalo kita berbarengan pergi keatasnya."
"oke mah." Sekar mengangguk
__ADS_1
Mamah tersenyum melihat anak nya menaiki tangga.
" Yah...gunting kemana ya kok nggak ada sih." keluh mamah sambil pura pura mencari gunting.
Ayah yang sedang mengisi TTS pun menoleh pada mamah." nggak apa mah."
" waduh dimana ya yah?"
" Coba mamah cari di kamar Sekar atau putra. mau Ayah ambilin?" Tanya papih pada mamah.
" nggak usah yah. biar mamah aja yang ngambil." Mamah tersenyum pada ayah dan berjalan menuju tangga dan naik keatas.
Sekar yang sedang menunggu mamah di kamar dengan hati senang yang sedang duduk di sofa yang ada di kamar Sekar.
Begitu pintu diketuk, Sekar menoleh dengan terkejut . Mamah menutup pintu kamar dan berjalan mendekati Sekar yang sedang duduk di sofa.
" Ada apa sih dengan anak mamah yang cantik ini? kenapa coba cerita sama mamah." Tanya mamah dan ikut duduk di sofa samping Sekar.
" mah...Sekar mau ngomong sama mamah."
"Oke mamah mau dengarin, mau ngomong apa?"
" Tergantung itu merugikan atau nggak."
eh cuti kuliah itu ngerugiin apa nggak ya. Sekar jadi bingung sendiri. Memperkirakan soal rugi dan tidaknya keputusan yand Sekar buat. Tapi keputusan ini sudah bulat.
" Gini mah, Sekar akan cuti kuliah dan Sekar sudah diterima diperusahaan itu mah." Ucap sekar memandang muka mamah.
" Ohya... Syukurlah kalau gitu tapi mamah masih khawatir sama kamu, dan apa kamu udah ngurus surat cuti kuliahnya?"
"Sudah kok mah, jadi mamah mau kan tanda tanganin surat cuti Sekar dan Sekar kerjanya besok jam delapan sudah harus tiba disana, mamah mau kan bangunin sekar?"
Mamah menatap anaknya lamat lamat sepetinya mamah sedang membayangkan muka Sekar saat bayi, saat kecil, saat pertama kali masuk SD dan lihatlah anaknya sekarang telah dewasa Sekar sangat cantik sekarang, mamah tidak kuat menahan tangis harunya.
" mah kok nangis mah Sekar punya salah ya mah maafin Sekar mah."
" Nggak kok Sekar nggak salah mamah ini sedang nangis bahagia sekarang Sekar sudah besar mamah sangat senang dan Sekar juga sekarang sudah dewasa... mamah tidak menyangka putri mamah telah tumbuh menjadi anak yang cantik, dan pintar." Ucap mamah.
"ya mana surat cuti itu sini mamah tanda tangan."
Sekar meraih sebuah kertas dalam tas nya dan mengasihkannya pada mamah." ini mah."
__ADS_1
Mamah menanda tangani surat itu." Tapi Sekar juga harus ingat, gunung yang akan kita daki bersama sangat tinggi dan terjal. tidak akan mudah sampai di puncak tanpa lecet dan luka.
"Asal mendakinya bersama sama Sekar mau kok kapan pun dan dimanapun." Sekar tersenyum manis.
Mamah merentangkan tangannya pada Sekar. Putri cantiknya itu langsung membalas pelukan mamah. Sekar membenamkan kepalanya pada dekapan mamah yang paling Sekar banggakan di dunia.
Tidak sengaja Putra melihat mamah dan kakaknya sedang berpelukan.
"ih...kenapa sih pelukan nggak ngajak ngajak aku? Dedek kan juga mau dipeluk mamah.
"Kalian kan sudah besar tapi sifatnya masih sama kayak anak kecil masih pada mau di manja sama mamah." Keluh mamih, tapi tetap tersenyum.
"Biarin aja?!" Ucap Putra dan Sekar berbarengan.
"Anak i ni tau kar?" tanya mamah melirikkan matanya pada Putra.
Sekar langsung mengangguk." justru gara gara dia ngasoh lowongan di perusahaan yang akan jadi tempat Sekar kerja.mah."
Putra tersenyum banggga. Mamah mengusap rambut anak laki lakinya itu.
"Putra itu sayang banget sama Sekar tapi kalo lagi nggak akur..ih amit amit dah kayak setan yang mau saling bunuh tau nggak." Ucap mamah
Sekar dan Putra tertawa.
" Habisnya dia duluan yang mulai mah." Icap Sekar menunjuk Putra.
Putra nggak mau mengalah." ah apaaan sih orang kakak duluan juga yang ngajak tempur."
"tapi kan gara gara lo duluan yang mulai."
"yee gue lagi siapa coba yang iseng duluan hah. lo tau nggak...lo tau yang iseng."
"itu juga gara gara lo yang kemaren maren dah ngisengin gue duluan."
Mamah menghela napas berat." Udah ah baru aja mamah bilangin malah ribut beneran. mamah pergi deh."
" jangan dong mah." Ucap Sekat dan Putra sambil mengetatkan pelukannya.
" Dasar anak anak manja yang bobrok ini...."
Mereka pun tertawa.
__ADS_1