Kisah Sang Ketua

Kisah Sang Ketua
BUKAN AWALAN


__ADS_3

Kakiku terhenti di depan sebuah ruangan. Ruangan itu tak berubah. Aku melongok untuk memastikan apakah ada orang atau tidak.


"Kalian 'kan yang membuat pintu belakang jebol?"


Guru itu menuduh. Ah ya, bilang saja begitu. Karena nadanya terdengar seperti itu. 3 Siswa yang membelakangiku itu tak menjawab.


"Kenapa kamu diam?"


"Menyesal?"


"Hah ... Bapak harus seperti apa sih mendidik kamu? Kerjaanya bikin onar terus. Tawuran terus. Mau jadi apa kamu nanti? Sampah masyarakat?"


Aku terhenyak mendengar kata-katanya. 3 siswa itu tetap saja diam. Sepertinya mereka tahu bahwa sia-sia saja mereka menjawab pertanyaan gurunya. Toh, apapun alasannya mereka akan tetap jadi tersangkanya.


Aku merasa simpati pada mereka. Guru itu sepertinya tak mau mendengarkan alasan mereka. Alhasil aku hanya memandangi mereka. Rasanya de javu juga.


Rasanya ada yang salah. Sejak pertama kali guru itu bersuara, tidak ada pertanyanyaan benarkah kalian melakukan itu? Atau kenapa kalian melakukan itu? Aku pikir itu hal yang lebih penting ditanyakan. Setidaknya walaupun mereka benar pelakunya, kita tahu alasannya kenapa. Hingga di lain waktu kita bisa mencegahnya. Bukankah sesuatu itu terjadi karena ada alasannya?


Kenapa kita selalu luput dari kata alasan?


ANGKAT KAKI KALIAN!"


Teriakan itu memicu tungkai-tungkai kaki melipat. Semakin lama, sinar matahari yang masuk lewat celah jendela itu, malah semakin mencemooh. Sinarnya memanaskan ruangan, mendukung suasana saja. Guru BK berdiri siap melontarkan ucapannya lagi.


Pengang.


Itu yang selanjutnya aku rasakan. Bagaikan dimasuki lalat, rasanya aku tidak bisa mendengar dengan jelas. Aku hanya bisa melihat guru itu mangap-mangap. Mataku mengabur.

__ADS_1


Tentu saja aku kebingungan. Apa yang terjadi padaku?


Sesaat kemudian, telingaku berdengung. Lalu sebuah suara terdengar jelas.


"Le!"


Aku menoleh kesana kemari. Penasaran siapa yang bersuara. Tapi tidak ada siapapun. Aneh sekali. Aku melihat ke arah guru itu. Tetap. Aku tidak bisa mendengarnya.


"Le!!"


Aku menoleh lagi. Tapi tidak ada. Aku kembali lagi. Guru itu masih berceramah. Tapi aku tetap tak bisa mendengarnya. Ada apa sebenarnya ini.


"Leia!!!!!"


"Le! Kita diserang!!!"


Mataku membulat. Tubuhku bergetar mendengar kalimat itu. Mendadak, jantungku berdebar cepat. Ini ... ini tidak mungkin!


PRANG!!!


Mangkuk porselen itu pecah akibat senggolan. Salah satu dari mereka terkena imbasnya. Darahnya mengucur.


3 Siswa berbalik. Mataku bersiborok dengan mereka. Aku ... Aku melihat mereka. Aku terpaku.


Tolong katakan, bahwa semua ini ilusi!


Aku menggeleng tak percaya dengan apa yang aku lihat. Sedangkan mereka terus saja menatapku dengan tatapan dingin. Tatapan yang seolah-olah akulah penyebabnya.

__ADS_1


"Ja ... jangan!"


Teriakku. Aku memegang salah satu diantara mereka. Aku harus menghentikan mereka. Kalau tidak ...


"Terlambat."


Ucapnya. Aku menengadah. Ia menatapku dalam. Tidak. Ini tidak benar. Tidak boleh terlambat.


"Ja ... Jangan! Aku mohon jangan lakukan itu."


"Jangan pergi!"


"Aku Mohon!"


Tidak ada ucapan lagi. Dia ... pergi. Sama seperti saat itu. Aku mencoba meraih-raih tangan yang lain. Tetap tidak bisa.


Aku bangkit. Aku berusaha mengejar mereka. Mereka tidak boleh kesana. Hanya saja ucapannya benar. Aku terlambat.


Semua sudah usai. Tidak bisa aku ubah. Tidak bisa aku cegah


Aku menoleh. Dia tertunduk lesu dengan tangan berlumuran darah. Dia terdiam. Tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa gamangnya ia. Tangisnya pun tak mampu menyimbolkan itu.


Aku tahu apa yang dia rasakan.


Karena dia ... adalah aku.


*********

__ADS_1


27082020


Bdg. Dibawah kolong langit.


__ADS_2