Kisah Sang Ketua

Kisah Sang Ketua
CHAPTER 6: HUKUMAN PERTAMA


__ADS_3

Gagan menepuk-nepuk bahu Ferdi yang tengah serius mengikuti upacara.


“Apa sih, Gan? Gak bisa diam amat.”


“I..itu ….”


“Apa?”


“Itu Leia sama Bu Dahlia.”


WHAT?


Ferdi segera menoleh. Benar saja. Leia terlihat mengikuti Bu Dahlia yang nampaknya sedang menceramahi. Tapi tunggu. Siapa siswa yang disebelah Leia?


“Satria?” Beo Gagan. Mulutnya terbuka saking tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tolong katakan, kalau ia sedang berhalusinasi!


“Kenapa ada Satria?”


“Gue, gak tahu Fer.”


Pada saat itu, Ferdi ingin cepat-cepat menyudahi upacara. Bagaimana bisa ia membiarkan Leia dan Satria bersama? Bisa babak belur.


Pitu ruang BK itu dibuka kasar. Dua siswa yang mengikuti Bu Dahlia terlihat biasa saja. Berbeda dengan siswa yang melihatnya. Mereka sudah menerka-nerka akan dibuat apa oleh Bu Dahlia.


Bu Dahlia duduk dengan angkuh. Wajahnya tidak ramah. Jelaslah, bagaimana dia bisa ramah dengan siswa yang kelakuannya membuat onar terus.


“Saya gak habis pikir sama kamu.” Mata Bu Dahlia tertuju pada Leia. “Harus seperti apa sih saya mendidik kamu? Apa perlu saya ajukan D.O?”


“Terserah,” ucap Leia yang membuat Bu Dahlia melotot.


Bu Dahlia ingin berkata kasar. Tapi ia tahan. Lalu pandangannya beralih pada Satria. “Kamu lagi! Baru pertama masuk malah terlambat? Mau jadi apa kamu?”


Satria tidak menjawab. Ia hanya mendengarkan saja ceramahan dari guru BK nya itu. Ah, ia terlau sering diceramahi seperti ini. Jadi ia sudah terlatih untuk mendengarkan. Cukup didengarkan nanti juga berhenti. Prinsipnya.


“Oke. Karena saya lagi program diet ….”


Leia dan Satria menatap Bu Dahlia tak percaya.


“Jangan menyela. Saya belum selesai bicara.”


Leia dan Satria pun menunduk lagi. Pasalnya, mengapa jadi bawa-bawa diet? Ada apakah gerangan dengan Bu Dahlia ini?


“Kita langsung saja. Bersihkan lapangan setelah upacara selsai.”


WHAT?


Mereka hanya bisa membulatkan matanya. Semoga saja mereka salah dengar. Astaga … mana mungkin mereka membersihkan lapangan di hari Senin yang menyengat ini?


“Apa?” sua Bu Dahlia karena tatapan Leia dan Satria seakan-akan menuntut penjelasan.


“Gak denger apa yang saya bilang tadi? Kalian tuli?”


Satria membuka suara. Mencoba untuk mejelaskan sesuatu, “Bukan. Tapi, Bu … bersihin lapang di hari yang …,” ucapan Satria tidak dilanjutkan dengan tatapan matannya. Semoga saja Bu Dahlia mengerti apa maksudnya.


Dan … sepertinya Bu Dahlia mengerti. Tapi tidak ingin memahami.


“LALU APA MASALAHNYA KALAU HARI INI PANAS?!”


Tubuh Leia dan Satria sedikit menegang. Kaget dengan suara Bu Dahlia yang seperti petir di siang bolong.

__ADS_1


“Mukulin orang aja kalian bisa? Membantah ke guru aja kalian bisa? Kenapa bersihin lapang gak bisa? Jangan banyak nawar hanya gara-gara panas matahari! Anggap aja latihan untuk nanti di padang mahsyar! Ngeyel banget jadi anak!”


Pada akhirnya Leia dan Satria hanya bisa merapatkan bibirnya serapat mungkin. Memang buang-buang waktu kalau bernegoisasi dengan Guru Bk yang satu ini. Terima nasib saja kalian…


“Apa? Kalian nyumpahin Ibu di dalam hati ‘kan? HAH! Ibu tahu itu. Kalian tahu azab yang suka nyumpahin orang dalam hati?”


Satria yang mendengar itu entah harus bereaksi seperti apa. Ia menoleh pada Leia. Sayang, Leia nampak tidak peduli. “Memang kenapa, Bu?”


“Jadi jomblo selamanya!”


Satria membulatkan matanya. Ia tidak habis pikir dengan jawaban yang satu ini. Memang adakah azab yang seperti ini? Kalu iya, ngeri juga.


“Kamu mau jadi jomblo selamanya?”


Spontan Satria menggeleng. Leia yang melihat itu, berdecak. Bisa-bisanya Satria meladeni Bu Dahlia. Semakin lama keluar dari sarang ini ‘kan jadinya.


“Ngapain kamu neleng-neleng, gitu?” tanya Bu Dahlia pada Leia.


Leia menoleh dengan polosnya. Ia menaikkan alisnya dengan telunjuk mengarah padanya sendiri, “Saya?”


“Lalu siapa agi? Kamu pikir saya ngobrol sama bangsa lelembut?”


Leia mengangguk, “Saya pikir gitu. Ini ‘kan bangsa lelembutnya?” tangan Leia menunjuk pada Satria.


Satria sewot, “Hey!!! Jangan ucapan lo, ya! Kalau gue bangsa lelembut lo bangsa kekeras?” Satria bekacak pinggang, “iya juga sih. Lo kan kasar.”


“Apa lo bilang?” Leia nyatanya tidak terima dibilang seperti itu. Ia berkacak pinggang juga.


“Apa? Bener ‘kan yang gue bilang? Lo itu kasar.”


Leia mencengkram kerah baju Satria. Bu Dahlia langsung berdiri melihat Leia yang akan menghajar Satria.


Leia dan Satria pun pergi setelah diusir seperti itu. Bu Dahlia menghembuskan napasnya. Ia berusaha menenangkan dirinya. Lalu ia meraih kipas kecil dan mendekatkannya ke wajah.


“Dasar anak zaman sekarang! Gak ada takut-takutnya sama guru. Heran.”


******


Maya duduk di koridor. Ia meletakkan satu botol minum berasa untuk Leia. Sedangkan Leia sendiri tengah menyapu lapangan dengan wajah tak keruan.


“Gue bilang juga apa Le—“


“Gak usah ceramahin gue lagi. Lo gak kasian sama gue apa? Bu Dahlia sudah mengambil semua jatah pendengaran gue buat ceramahan. Gak usah lo tambah lagi. Overload.”


Maya mencebik. “Lo nya sih. Susah dibilangin. Gue bilang ‘kan bangun pagi-pagi. Kenapa kebo banget sih jadi cewek. Kena musibah deh suami lo nanti kalau kelakuan lo begini terus.”


Leia menatap jengah, “Maya yang cantik jelita tapi bohong. Tolong ya jangan nambah lagi. Plis.”


Maya menahan napas. Lalu menghembuskannya, “Oke.” Sesaat, Maya menyadari sesuatu, “Eh ngomong-ngomong, Satria anak baru kemana?”


Leia mengedikkan bahunya. Fakta bahwa Satria memang benar jadi anak baru di sekolahnya, sudah cukup membuat dia malas berurusan. Sekarang, dia mau di Planet tak bernama pun, Leia tak mau tahu.


“Dia dihukum bareng lo ‘kan?”


“Gue gak tahu.”


Maya mengedarkan pandangan ke seisi lapangan. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Satria.


“Dia gak ada di lapangan ini. Kalian beda dihukumnya?”

__ADS_1


Leia menengadah. Awalnya sih tidak peduli. Tapi Leia menyadari satu hal.


“Ikut gue, May.”


“Kemana?”


“Udah, ikut gue aja. Jangan banyak tanya.”


“Eh bangsul. Lo lagi dihukum, ya! Jangan nyari gara-gara.”


Tanpa mau berdebat dengan Maya, Leia pergi begitu saja. Hal itu membuat Maya mau tak mau mengikuti Leia.


Leia berjalan ke arah toilet siswa. Leia tahu dimana Satria berada. Terakhir kali ia berbicara, Satria bilang mau ke toilet. Hal itu terjadi setengah jam yang lalu. Secara logika, mana mungkin selama itu di kamar mandi, bukan?


Benar saja. Satria nampak merebahkan dirinya di koridor dekat toilet siswa. Suasana yang tenang karena daerah ini jarang dilalui siswa membuat Satria terlelap semakin pulas.


“Dia malah tidur?" beo Maya ketika melihat Satria berbaring.


Leia tidak berkata apa-apa. Ia langsung saja masuk ke tolilet. Lalu keluar membawa segayung air.


Maya tak habis pikir melihat Leia yang nekat seperti ini. “Leia! Lo gila? Gak gitu juga kali!”


“Gak usah ikut campur.”


“Le!” tangan Maya meraih tangan Leia yang memegang gayung. Permukaan air meriak karena getaran yang terjadi.


“Manusia macam dia memang harus diginiin.”


“Astagfuirullah … Leia Iswara! Gak gitu juga kali. Lo bangunin baik-biak aja. Taruh tuh gayung!” titah Maya dengan gemas.


Bukannya ditaruh, Leia malah menyiramkan air itu tepat di wajah Satria. Otomatis, Satria yang bermimpi harus menyudahi mimpinya itu.


“ANJIR! SIAPA YANG NYIRAM GUE!”


Leia mendekatkan diri pada Satria. Dengan wajahnya yang angkuh, ia berujar, “Gue.”


Satria mundur satu langkah. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak habis pikir dengan kelakuan wanita satu ini. “Ada urusan apa lo sampai ngelakuin ini?”


Leia berdecak. Ia tak salah dengar ‘kan? Pertanyaan yang tak perlu di jawab.


Satria menaikkan alisnya. Sedikit heran dengan respon Leia. Sesat kemudian, ia sadar. Pertanyaannya yang memang tidak perlu di jawab.


“Urusan? Banyak. Lo gak perlu pura-pura ****.”


“Sebenci itukah lo sama gue?” tanya Satria.


Pertanyaan yang tidak perlu di jawab lagi.


“Lo emang ****, ya?” tanya Leia.


Maya yang sudah mencium bau-bau pertarungan, merangsek masuk di tengah-tengah Leia dan Satria. “Misi … mending kalian selesaikan hukuman dari Bu Dahlia, yuk. Kalau ketahuan malah seperti ini, bisa berabe.” Maya memasang senyuman khas guru TK. Kali aja mempan.


Untungnya, mempan. Satria nampak pergi. Begitupun dengan Leia. Maya menghembuskan napas. Rasanya lega bisa melerai mereka. Entah akan seperti apa deh kalau mereka berkelahi lagi.


“Leia … Leia … lama-lama gue kayak emak lo yang setiap saat harus misahin anak-anaknya yang berantem. Bandel amat lo jadi anak,” gumamnya seraya pergi mengikuti Leia dan Satria. Tentunya ia tidak bisa membiarkan mereka beduaan, bukan?


#####################


***Bdg

__ADS_1


280820***


__ADS_2